"Aku akan membuatmu merasakan neraka di hidupmu!"
Demi membalas kematian adiknya, Dayan menikahi Runa, mantan kekasih Zion yang dianggap menjadi penyebab kematian sang adik. Dayan bersumpah pada dirinya sendiri untuk memberi penderitaan dan mimpi buruk pada Runa, dengan kekerasan fisik, mental, dan siksaan bertubi-tubi. Bagaimana Runa bisa terbebas dari pernikahan neraka itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candradimuka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
Dayan hendak bicara, bertanya ada apa sampai Aria memakai kursi roda, tapi Runa tak memberinya kesempatan. Yang Runa berikan justru tatapan curiga, tatapan trauma, masa lalu yang berkelebat seolah semua baru terjadi, yang memberitahu Dayan bahwa dua belas tahun bukan berarti membuat dosanya diampuni.
"Aku masih menyimpan salinan perjanjian perpisahan kita," ujar Runa seolah dia benar-benar sangat terancam sekarang.
Padahal Dayan diam.
"Akan kulaporkan ini pada Hestia. Kamu seharusnya tidak menemui Aria. Kamu seharusnya mematuhi kesepakatan dan kamu sengaja melanggarnya. Aku membayar mereka setiap tahun untuk sesuatu seperti ini jadi jangan pikir sekarang aku kalah darimu!"
Dayan tidak berniat begitu.
"Aria hidup sempurna." Runa menggigil ketika ketakutannya terus meningkat. "Aria tidak akan pernah merasakan neraka sepertiku jadi jangan pernah berharap menyentuh anakku! Jangan pernah, monster!"
Dayan tak sanggup menatapnya. "Aku tidak sengaja."
"Berhenti berbohong!"
"Aku bahkan tidak tahu kamu membuka kafe untuk Aria, Runa—"
"Jangan menyebut nama anakku seenaknya!"
Dayan terbelalak melihat Runa sesak napas. Tapi saat tangannya terulur membantu, Runa menepis itu sangat keras. Menutup wajahnya sendiri dengan tangan yang menggigil ketakutan.
"Menjauh dari putriku," racau dia tanpa kendali. "Menjauh darinya! Jangan berani menyakitinya! Akan kubunuh kamu jika berani! Aku tidak takut!"
"Runa, hentikan. Aria—putrimu akan tahu kalau keributan di sini menarik perhatian."
Perkataan Dayan setidaknya membuat Runa sadar. Walau tangannya masih menggigil, Runa menatap sekeliling. Beberapa orang mulai melihat dan nampaknya siap menolong kalau-kalau Runa pingsan di sana. Di mata mereka mungkin terlihat ini penindasan atau kekerasan.
Runa tidak bisa membiarkan Aria melihat sisi semacam ini.
"Pergi dari sini," ucap Runa setelah berhasil mengendalikan diri. "Jangan pernah menemui Aria lagi. Dan aku tidak bercand. Kamu melanggar perjanjian dengan menemui Aria jadi jangan pikir aku tidak akan menuntut."
Setelah mengatakan itu Runa bergegas pergi, benar-benar tak memberi Dayan kesempatan untuk bicara satu hal. Bertanya ada apa pun tak bisa.
Tapi Dayan merasa pantas saat melihat Runa begitu takut.
Dua belas tahun tidak cukup menghapus status monster Dayan di benak Runa.
*
Runa merasa kegelisahan menelannya tanpa ampun. Bahkan sekalipun ia sudah mengusir Dayan dan berkata akan melaporkannya karena berani menemui Aria, tapi Runa masih takut.
Runa masih merasa tidak aman. Ia merasa harus melakukan sesuatu untuk memastikan Aria tidak bertemu pria itu lagi.
Aria sangat pintar tapi dia juga masihlah polos. Dia bisa saja termakan pada kebaikan busuk Dayan. Dia bisa saja termakan pada perasaannya yang berkata Dayan baik, dia Papa, lalu akhirnya merasakan semua pedih itu.
Percayalah, otak yang terlanjur dirusak oleh kekerasan tidak akan sembuh seperti kulit yang terbakar lalu pelan-pelan pulih. Luka itu hanya akan terus seperti awalnya sampai kapan pun. Runa tidak mau anaknya merasakan ini.
"Mami, di mana Paman Dian?"
Runa tersenyum sambil diam-diam mengepal tangannya. "Dia bilang akan mencari di tempat lain. Lalu, ternyata putrinya sudah berusia 25 tahun jadi sepertinya kamu tidak bisa berteman. Maaf, Aria."
Gadis kecil itu tampak kecewa tapi mengangguk. "Jadi begitu. Sayang sekali."
"Kamu sudah menemukan semua bukunya?"
"Masih ada sedikit. Mami tidak ingin mencari juga? Mami bilang ingin membaca buku juga kemarin."
Runa tertawa canggung. "Ya, Mami juga—"
Kaki Runa yang lemas ternyata tidak bisa singkron dengan sikap pura-pura santainya. Wanita yang tadi baik-baik saja itu mendadak tersandung dan nyaris saja tersungkur jika pelayan toko tak buru-buru menangkapnya.
"Nyonya, Anda baik-baik saja?" tanya wanita itu cemas. "Haruskah kami menghubungi ambulans?"
Runa tahu bahwa ia sekarang terlalu panik dan kalau dirinya terlalu panik, Runa bahkan lupa cara membuat kopi.
"Tidak. Tidak perlu," tolak Runa halus. "Saya hanya lupa sarapan."
"Kalau begitu saya akan membantu Anda ke ruang istirahat dulu, Nyonya." Toko mereka memang sangat menjamu pelanggan karena itulah mereka tak mau membiarkan seseorang yang sakit keluar begitu saja.
Runa menerima kebaikan mereka sebab ia juga langganan toko ini. Menerima jamuan berupa sandwich dan jus segar.
Diam-diam Aria memerhatikan Runa. Gadis itu tahu bahwa Runa sudah sarapan dan Runa bahkan jarang sarapan. Waktu makan Runa itu siang hari jadi agak tidak normal ibunya bereaksi begitu cuma karena lupa sarapan.
Mami begini setelah bertemu Paman itu, pikir Aria mau tak mau. Wajah Mami juga pucat. Dan kalau dipikir lagi, tadi Mami bertingkah aneh. Mami bilang kita tidak boleh bersentuhan dengan lawan jenis bahkan jika kita teman, tapi Mami menyentuh tangan Paman itu tanpa izin.
Otak cerdas Aria menemukan kontradiksi. Dan selalu dalam kontradiksi ada penjelasan panjang.
Siapa sebenarnya Paman itu? Jangan-jangan dia dan Runa saling mengenal?
"Mami."
Runa menoleh. "Hm?"
Pertanyaan Aria tertahan di tenggorokan. Ia takut jika bertanya itu akan mengganggu. Mami bukanlah wanita yang menakutkan tapi ada misteri dalam dirinya yang bahkan Aria merasa tidak memahaminya.
"Tidak." Aria menepuk-nepuk lembut punggung tangan Runa. "Jaga kesehatan Mami."
*
Begitu pulang ke Indonesia malamnya, Runa memastikan Aria beristirahat sebelum ia pergi menemui Jenar. Jika tak mengambil langkah besar dalam hal ini Runa mungkin tak akan bisa tidur.
"Aku mau membeli tentara."
Jenar yang mendengar perkataan kakak ipar sepupunya itu seketika melotot. "Kakak barusan bilang apa?"
"Aku mau membeli tentara," ulang Runa tegas. "Tentara yang memastikan Dayan tidak mendekati Aria lagi."
Jenar tertegun. "Kenapa Kakak—"
"Aku bertemu badjingan itu di Singapur. Jadi kamu tahu dia menemui Aria?"
"Kak Dayan bilang tidak sengaja—"
"DUA KALI PERTEMUAN TIDAK SENGAJA ITU SENGAJA!" bentak Runa. Walau sesaat kemudian dia menutup wajahnya sendiri, sadar kalau dia bertingkah sangat menyebalkan pada orang yang salah.
"Maaf, Jenar. Maaf. Aku benar-benar panik."
"Kak Runa." Jenar datang mendekat, menyentuh punggung wanita itu untuk menyadari betapa gemetaran dia. "Baiklah, apa pun untuk ketenangan Kakak. Jika Kakak butuh tentara maka aku akan menghubungi organisasi bayaran yang akan melindungi Aria."
Runa mengangguk. "Pastikan organisasi itu bersih dari Dayan. Kalau bisa dia tidak mungkin lagi melihat Aria."
Jenar mengangguk setuju, tapi diam-diam setelah Runa pergi, Jenar menghubungi Dayan.
"Kak Runa ingin menyewa tentara untuk memastikan Kakak tidak mendekati Ariana."
Jenar bukan mau mengkhianati Runa. Sama sekali bukan. Tapi Jenar sudah memastikan bahwa Dayan tidak akan melukai Aria seperti ketakutan Runa.
Mereka tidak bisa memaksa Runa berhenti trauma karena dia mengalami hal yang benar-benar buruk di tangan Dayan, tapi setidaknya Jenar tahu Dayan tidak buruk untuk anaknya. Karena itulah Jenar ingin sedikit, walau hanya sedikit, memberi akses bagi Dayan pada anaknya.
"Tidak masalah," jawab Dayan setelah terdiam. Suaranya terdengar sangat lesu. "Bicaralah pada pemimpin Higanbana. Koneksiku dengan mereka tidak transparan jadi Runa tidak akan tahu."
"Kakak tidak mau mencoba lagi? Cobalah minta maaf berulang kali sampai Kak Runa mengerti. Dia sebenarnya pemaaf."
Dayan hanya diam dan sepertinya belum sanggup bicara apa pun mengenai maaf.
*