Hikaru berusaha mencari pelaku tabrak lari kakaknya, dimana pelakunya adalah salah satu geng motor ternama di Tokyo. Dia pun akhirnya bergabung dengan salah satu geng motor di Tokyo dan mencari tahu siapa pelaku sesungguhnya yang telah membunuh kakaknya.
Seakan puzzle terbuka perlahan, Hikaru pun semakin berambisi untuk menjadi ketua geng motor agar mudah menjangkau lawan yang sesungguhnya dan dapat membalaskan dendam kematian kakaknya.
Akankah Hikaru berhasil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jari Gatal Wie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 : ITSUKI DI MATA EIZEN
Mentari pagi menyeruakkan sinarnya dan menerobos masuk dari jendela yang tirainya tersingkap sedikit. Fumi terbangun menatap dengan menfokuskan pandangannya ada dada bidang di depannya. Suara dengus nafas Hikaru yang terdengar berbaur dengan nafasnya.
Fumi mendongakkan wajahnya menatap wajah pria pujaannya yang masih terpejam dengan memeluknya. Pertama kali baginya merasakan kehangatan tubuh Hikaru memeluknya. Disentuhnya dengan lembut wajah Hikaru sembari tersenyum getir, diingatnya kejadian malam pahit satu satun lalu. Betapa sakit hatinya, mendapati pria yang di cintainya mempermainkannya.
Dia mencoba melepaskan pelukan Hikaru akan tetapi Hikaru malah terbangun dan mempererat dekapannya. Dibuka matanya lalu menatap wajah Fumi dan berkata “Selamat pagi”.
Sapaan yang lembut itu tak pernah di dengar oleh Fumi, dia mencoba meyakinkan diri bahwa Hikaru memang datang kepadanya kembali untuk mencintainya. Meski relung hatinya terluka dalam namun cintanya lebih besar dan menutup semuanya.
“Selamat pagi” jawab Fumi.
Diciumnya kening gadis yang ada di pelukannya itu, Hikaru sadar cintanya masih tetap tumbuh meski dia mencoba memangkasnya karena rasa dendamnya teramat dalam.
“Aku mau pulang” kata Fumi.
“Aku akan mengantarmu pulang” sahut Hikaru.
“Tidak usah, aku bisa pulang sendiri” tolak Fumi.
“Kenapa, kamu takut ketahuan oleh tunanganmu?” tanya Hikaru menohok.
Terblesit perasaan cemburu yang sedari dulu mengakar di hati Hikaru.
Fumi melepaskan diri dari dekapan Hikaru, lalu terduduk di ranjang kemudian diikuti Hikaru. Keduanya saling menatap satu sama lain.
“Aku tidak mau menyakiti hati Itsuki lebih dalam, dia membantu keluargaku sejak lama. Kakakku ketergantungan olehnya, maka dari itu aku di paksa bertunangan dengannya. Di samping itu sikap Itsuki sejak dulu menyayangiku dengan tulus, namun entah kenapa hatiku tak pernah luluh” ungkap Fumi.
Hikaru geram mendengarnya, dia hanya terdiam lalu memalingkan wajahnya kemudian beranjak berdiri. Fumi tahu Hikaru juga terluka dengan sikapnya, namun tak ada cara lain untuk saat ini.
Fumi pulang nampak rumah kosong, dia naik ke lantai dua kemudian masuk ke kamar. Mengaktifkan ponselnya, sebuah pesan dari Itsuki muncul di beranda layar ponselnya.
“Fumi… aku menunggu pesanmu untuk bicara setelah dirimu membaik” pesan Itsuki.
Setelah membaca pesan Itsuki, ponsel yang di pegangnya lalu di letakkan di meja kemudian Fumi masuk ke dalam kamar mandi.
Di hari yang sama Eizen setelah dibombardir dengan banyak pertanyaan oleh para polisi yang menginterogasinya, akhirnya pengacara dapat mengeluarkan Eizen dari kantor polisi. Tuduhan yang menjerat dirinya sedang dalam proses penyelidikan lebih lanjut. Namun Eizen di bebaskan sementara, karena status yang di sandangnya masih menjadi saksi. Dikarenakan minimnya bukti untuk dapat menjerat Eizen menjadi tersangka dalam kasus perdagangan gelap barang import.
Itsuki menjemput Eizen di depan kantor polisi, keduanya lalu menaiki mobil sport milik Itsuki.
“Senang bisa melihatmu kembali saudaraku” kata Itsuki.
“Aku sudah meminta orang dalam untuk menyelidiki bocornya bisnis kita, sial sebagian asset kita disita dan kita harus menelan kerugian yang cukup besar” alih – alih menjawab sapaan Itsuki, Eizen menunjukkan kekesalannya.
“Sudahlah, untuk saat ini kita perlu calm down karena polisi mulai mengamati The Road Knight. Tenangkan dirimu, kita harus bertindak hati – hati” kata Itsuki mencoba menenangkan Eizen.
“Kita perlu menunjukkan gaung The Road Knight di mata para anggota geng motor lainnya. Kita masih kena sanksi ditambah dengan kejadian ini, pastinya para anggota geng The Road Knight mulai risau dan kisruh. Bang$at! Kita mengalami kesialan bertubi – tubi, huft” Eizen masih tak bisa mengendalikan dirinya.
“Sekarang pikirkan bagaimana kamu menjelaskan semua ini kepada Fumi. Nampaknya Fumi merasa terpukul dengan adanya kasus ini, kemarin dia nampak sangat kecewa atas apa yang dia dengar tentangmu” kata Itsuki.
“Fumi…kenapa dengan Fumi?” tanya Eizen bingung.
“Kemarin aku memaparkan segalanya, atas keterlibatanku juga dan semua yang kita lakukan untuk bisnis ini. Dia merasa sangat kecewa meski dia tidak mengatakan apapun, aku merasa resah dengan sikapnya” kata Itsuki yang masih fokus menyetir mobil.
“Aku akan mengurus Fumi, dia ada dalam kendaliku. Percayalah” kata Eizen meyakinkan.
“Waspadalah adikmu bisa diluar kendalimu, aku tidak ingin dia semakin jauh dari kita” ungkap keresahan yang dirasakan Itsuki saat itu.
Keresahan Itsuki sangat beralasan dengan adanya semua informasi aktivitas Fumi dimana dia masih berhubungan dengan Hikaru.
Flash On…
Itsuki mendapatkan sebuah amplop coklat di meja kerjanya, dimana beberapa lembar foto yang tercetak membuat Itsuki naik pitam. Di lemparnya foto – foto ini berhamburan di lantai, dimana nampak Fumi bertemu dengan Hikaru dan masuk ke dalam sebuah motel.
“Dia…dia…dan dia lagi!” kata Itsuki dengan geram sembari menggebrak meja.
“BRAKKKK!!!!”.
Flash Off….
Setibanya di pintu gerbang rumah Eizen, Itsuki menghentikan mobilnya.
“Kamu tidak masuk untuk bertemu Fumi?” tanya Eizen.
“Sepertinya Fumi belum siap untuk bertemu denganku” kata Itsuki dengan wajah kecewa.
“Kenapa, apakah kalian bertengkar?” tanya Eizen bingung dengan sikap Itsuki yang tidak biasa.
“Tidak, hanya saja ada kesalahpahaman diantara kami” jawab Itsuki.
“Tenanglah, aku akan membujuknya untuk berbaikan denganmu. Santai saja, aku akan memintanya menghubungimu segera” kata Eizen mencoba menenangkan Itsuki.
Itsuki tersenyum tipis mendengar kata – kata dari Eizen.
Eizen masuk ke dalam rumah, lalu mencari adiknya di lantai dua tepatnya menuju ke kamar Fumi. Didapati Fumi sedang membaca buku duduk di atas ranjangnya dengan pintu kamar terbuka. Eizen langsung nyelonong melangkahkan kakinya menghampiri adiknya itu.
“TAP…TAP…TAP…” suara langkah kaki Eizen.
Eizen duduk dengan tenang di sebuah sofa yang berada di sebrang ranjang dimana adiknya duduk membaca buku.
“Kamu bertengkar dengan Itsuki?” tanpa basa-basi dia langsung menembak pertanyaan.
Fumi mengalihkan pandangannya dari buku yang ada di tangannya ke arah kakaknya yang duduk di seberang sedang menatapnya.
“Apakah kakak baik – baik saja, bagaimana perkembangan kasusnya?” Fumi bertanya balik tanpa menghiraukan pertanyaan kakaknya.
“Seperti yang kamu lihat, aku pulang ke rumah jadi semua pasti baik – baik saja. Lantas bagaimana hubunganmu dengan Itsuki?” Eizen kembali bertanya ke pertanyaan awal.
“Kenapa Itsuki lebih penting untuk saat ini, apakah karena dia membantumu untuk memuluskan bisnis kotor itu?” Fumi memberikan pertanyaan menyindir yang membuat Eizen kesal.
“Jaga mulutmu Fumi, kamu hidup dari semua yang aku hasilkan. Berterima kasihlah atas segala yang aku lakukan untuk kita hidup seperti sekarang ini. Tanpa kerja kerasku, kamu akan hidup menjadi gelandangan di luar sana” ungkap Eizen yang merasa adiknya keterlaluan.
Fumi bankit dari duduknya lalu meletakkan buku yang di bawanya di atas ranjang. Kemudian berjalan menghampiri kakaknya, berdiri di depan kakaknya.
“Apakah kakak tahu, apa yang kakak lakukan sangat beresiko besar. Aku diam bukan karena aku tidak peduli tapi karena aku tidak tahu kecintaanmu terhadap motor melenceng sejauh ini. Kita bisa memulai hidup lebih baik lagi, aku akan bersamamu” kata Fumi yang tulus mendukung kakaknya menjadi lebih baik.
“Diam kamu, memulai lebih baik katamu? Menurutmu itu mudah, bahkan kamu saja tidak bisa mengorbankan cintamu untukku. Jangan berbicara omong kosong kepadaku, buktikan saja dengan bersikap baik menjadi tunangan sekaligus kekasih Itsuki itu lebih dari cukup membantuku” kata Eizen yang bangkit dari duduknya lalu berdiri menghadapi adiknya.
“Kamu memaksaku berada disisi Itsuki karena dia bisa meloloskanmu dari jeratan hukum kan? Berkat kekuasaannya, kamu merasa bebas melakukan tindakan melanggar hukum” sindir Fumi.
“Kalau kamu paham seberapa penting perannya untukku, maka tetaplah disisinya. Telepon dia lalu katakan kamu menyesal atas sikapmu kepadanya. Bagiku dialah yang menolongku dari segala masalah, hanya dia yang bisa aku andalkan dan ku percaya” kata Eizen dengan tegas.
XXXXXXXXXXX
gaskeun...