Indonesia
NovelToon NovelToon
The King Of Sin Candidate

The King Of Sin Candidate

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Romansa Fantasi
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: LeirMon

Zask Kive, seorang anak biasa, memulai kehidupannya sebagai murid di Academy Westia, akademi ternama di Kerajaan Hestia. Dengan izin ibunya, ia juga memilih menjadi seorang petualang, menjelajahi dunia luar sembari menjalani kehidupan akademi yang penuh persaingan.

Namun, hari-hari itu perlahan berubah. Tantangan di dalam akademi semakin berat, sementara ancaman nyata mulai muncul dari luar tembok sekolah—ancaman yang tidak seharusnya bersentuhan dengan dunia murid biasa.

Tanpa ia sadari, setiap langkah yang diambil Zask justru menyeretnya semakin dalam ke sebuah arus takdir yang berbahaya. Sebuah peran yang tidak ia pilih, namun tidak bisa ia hindari—dan kesalahan kecil saja dapat mengubah kehidupannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LeirMon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 27 – Berselisih Dengan Bangsawan

"Apakah ada yang bisa kami bantu?" tanya Zask dengan nada waspada.

Seorang pemuda berambut putih, yang berdiri di hadapan mereka, tersenyum tipis. "Tidak juga, kami hanya ingin tahu, material apa yang kalian cari di Gunung Elyria?"

Zask menatap pemuda itu sejenak sebelum menjawab, "Kami mencari bulu Elite Harpy. Memangnya kenapa?"

Pemuda itu tampak berpikir sejenak sebelum menghela napas. "Benarkah? Sayang sekali. Kami justru datang ke sini untuk mencari Core Elite Harpy."

Zask tersentak mendengar jawaban itu. Ia mencoba mengingat buku tentang monster sihir yang pernah ia baca, dan saat kesadarannya pulih, ia menyadari sebuah masalah besar.

"Hei, kalau begitu..." gumamnya, tatapannya mulai serius.

Yukina yang sejak tadi mendengarkan, mengerutkan kening. "Apa maksudnya, Kive?"

Zask menoleh padanya. "Apa kau tidak pernah mempelajari tentang monster sihir, Zamuki?"

Yukina menggeleng dengan polos. "Tidak, aku hanya mempelajari sihir dan ilmu berpedang saja."

Zask menghela napas. "Baiklah, biar aku jelaskan. Pernahkah kau melihat para petualang terkadang membawa Core monster, dan terkadang hanya material dari monster?"

Yukina mengangguk pelan. "Material pada tubuh monster tidak hanya berfungsi untuk melindungi atau menyerang. Material itu juga menjaga energi Kin yang dihasilkan oleh Core monster agar tidak bocor ke lingkungan sekitarnya. Bisa dibilang, seperti sebuah ember yang menampung air dengan ikan di dalamnya—jika embernya bocor, air akan habis dan ikan akan mati."

Yukina mulai mengerti. "Kalau kita mengambil material tubuhnya lebih dulu, maka kualitas Core-nya akan turun drastis. Tapi kalau kita mengambil Core lebih dulu, maka material lainnya akan lenyap menjadi debu. Dengan kata lain, salah satu dari kita pasti akan mengalami kerugian besar," lanjut Zask.

Seorang gadis berambut biru laut yang sejak tadi diam, kini tersenyum tipis. "Jadi, salah satu dari kita harus mengalah, ya?" katanya dengan nada ramah. Namun, ada sesuatu dalam senyumannya yang membuat Zask waspada.

Setelah beberapa detik berpikir, Zask akhirnya memahami maksud tersembunyi dari gadis itu. Ia mengangkat sudut bibirnya dan membalas senyumannya dengan cara yang sama.

"Aku pinjam pedangmu sebentar," ujar Zask tiba-tiba, menarik keluar pedang milik Yukina dari sarungnya.

Di saat yang bersamaan, gadis itu mencabut katananya sendiri. Dalam sekejap, dua bilah pedang beradu di udara, tapi mereka masih memasang senyuman mereka.

Klang!

Mereka berdua masih menahan pedang lawan masing-masing, terlihat juga urat di pelipis mereka berkedut karena kesal. "Siapa yang menang, dia yang berhak atas materialnya," ujar gadis berambut biru itu, suaranya dingin.

Zask menatapnya serius. "Jangan menahan diri, Nona."

Pertarungan pun dimulai. Mereka bergerak dengan kecepatan tinggi, saling menyerang dan menangkis tanpa henti. Pemuda berambut putih dan Yukina hanya bisa mengamati dengan saksama, meski mata mereka masih mampu mengikuti pergerakan keduanya.

Serangan demi serangan terus berlangsung, hingga gadis itu hampir mengenai tangan Zask—namun, ia dengan gesit menangkis serangan tersebut. Begitu juga sebaliknya.

"Ilmu pedangmu hebat juga," ujar gadis itu, sedikit tersenyum. "Tapi ada cacat dalam gerakanmu. Apa ini pertama kalinya kau menggunakan pedang?"

"Itu pertanyaan yang tidak perlu ku jawab pada seorang ahli pedang sepertimu," balas Zask, tetap waspada.

"Kau tahu, menyerang seorang bangsawan bisa menjadi masalah besar."

"Jadi, demi menunjukkan rasa hormatmu pada bangsawan, bagaimana kalau kau menyerah saja?" tantangnya.

Zask terkekeh. "Dari cara bicaramu dan juga cara berpakaian kalian, aku bisa menebak bahwa kalian berasal dari keluarga bangsawan atau setidaknya orang kaya. Tapi jujur saja, aku tidak peduli dengan status sosial lawanku."

Seketika urat di pelipis gadis itu menegang. Namun, alih-alih tersinggung, ada secercah kegembiraan dalam matanya. Ini pertama kalinya seseorang bertarung serius dengannya tanpa memedulikan statusnya.

Pertarungan semakin sengit. Mereka mulai menggunakan sihir untuk meningkatkan efektivitas serangan. Zask melapisi pedangnya dengan elemen angin, meningkatkan kecepatan dan ketajamannya. Sementara itu, gadis berambut biru melapisi katananya dengan sihir petir yang kuat dan cepat.

Tepat ketika pedang mereka hampir berbenturan, tiba-tiba—

BRUKK!

Sebuah kilatan petir menyambar tanah di antara mereka, memisahkan keduanya.

"Apa-apaan ini?!" seru gadis itu kesal.

Saat mereka menoleh, mereka melihat pemuda berambut putih itu mengangkat jari telunjuknya ke langit, masih ada aliran listrik kecil di ujung jarinya.

"Hei, rambut ubanan sialan! Apa yang kau lakukan?!" teriak gadis itu dengan marah.

Pemuda itu tetap santai. "Sudahlah, Arisa. Jika kalian terus bertarung, tidak akan ada yang menang. Yang ada, kalian hanya akan menguras energi Kin kalian sampai kelelahan."

Arisa mendengus kesal, tapi tidak membantah.

"Bagaimana kalau kita putuskan dengan cara yang lebih adil?" lanjut pemuda itu, mengeluarkan sebuah koin dari sakunya.

"Lempar koin?" tanya Zask.

"Benar. Kepala atau ekor?"

"Kepala!" seru Arisa lebih dulu.

Zask otomatis mendapatkan ekor. Pemuda itu melempar koin ke udara.

"Jika kepala, kalian harus mencari bulu Elite Harpy di tempat lain. Jika ekor, kami yang harus menerima core berkualitas rendah," jelas pemuda itu.

Semua mata tertuju pada koin yang berputar di udara. Pemuda itu menangkapnya dengan cepat, meletakkannya di punggung tangannya, dan perlahan membuka telapak tangannya.

Saat hasilnya terlihat, ia menghela napas kecewa. "Maaf, Arisa, tapi sepertinya keberuntungan tidak berpihak pada kita."

Arisa mengepalkan tangannya dan memukul pohon terdekat dengan kesal. Sementara itu, Zask dan Yukina saling bertukar pandang, lalu tersenyum lega.

"Yah, sepertinya kita yang menang," gumam Zask, menyarungkan kembali pedangnya.

Yukina tertawa kecil. "Untung saja kita tidak harus bertarung sampai habis-habisan."

Arisa hanya mendecak kesal, masih menatap pohon yang baru saja ia pukul.

1
Shou
bukankah yukina sudah memanggil zask dengan namanya knp skrg dipanggil dengan nama keluarga lagi?
RiellCh: karena masih canggung, Yukina manggil zask dengan namanya dengan suara lirih sampai-sampai Zask nggak denger
total 1 replies
Rafa
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!