Kondisi terdesak menyebabkan aku harus menikah dengan pria yang sama sekali tak pernah kukenal. Berawal dari jebakan teman yang membawa kabur uang atasannya dan akan menjualku sebagai jaminan pelunas hutangnya. Tapi, atasannya luluh saat aku menolak karena alasan dijebak. Hingga pada akhirnya dia membawaku ke rumahnya dan mengenalkanku pada istrinya. Supaya rahasia keburukan tidak diketahui oleh istrinya, akhirnya dia berniat menikahkanku dengan putranya sebagai bentuk balas budi.
.
.
Simak kisahnya dan jangan lupa tinggalkan jejak yaa sebagai bentuk dukungan menulis. terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Minarwati Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang Ke Rumah
Kami masih duduk di taman rumah sakit. Dirga menyuruhkan menunggu di sini dulu karena Mamah Hana tidak mau bertemu denganku.
Sembari menunggu, Dirga membelikan makanan untuk makan siang. Kami terakhir makan di bandara tadi. Rasa nafsu makan hilang setelah melihat perubahan sikap Mamah Hana kepadaku.
Setelah menunggu lima belas menit, Dirga datang membawa kantong plastik berisi makanan.
"Makanlah! Urusan Mamah, biar aku yang tangani. Kamu tidak usah muncul dulu. Mamah Hana sedang tidak mau bertemu denganmu."
"Aku harus bagaimana, Mas?" tanyaku bingung. Jika Mamah Hana sudah tidak mau melihatku apa tidak sebaiknya aku pergi saja dari rumahnya.
"Sudah ku bilang ini urusanku, 'kan! Makanlah, tidak usah pikirkan hal itu dulu," ucap Dirga memintaku untuk fokus.
Saat sedang makan, seseorang datang dengan terburu-buru sambil melihat jam di tangannya.
"Pah!" Dirga menghentikan langkah Papah Beni saat beliau berjalan melewati lorong rumah sakit.
Pria yang dipanggil menoleh. Papah Beni menuju sumber suara.
"Maaf Papah baru datang. Bagaimana kondisi Mamah mu, Dir?"
Dirga menarik nafas dalam
"Mamah kondisinya masih belum stabil, Pah. Oh ya, kenapa Papah baru datang?" selidik Dirga ingin tahu.
"Papah baru datang dari luar kota, Nak. Baru dapat kabar dari mbak Yanti tadi malam."
"Oh, keluar kota." Dirga mengulang pernyataan Papahnya seolah tidak percaya.
"Papah keluar kota bersama..." Dirga mau menyampaikan cerita yang sebenarnya namun cepat kusanggah. Belum tepat untuk cerita sekarang.
"Papah sebaiknya temui Mamah Hana dan menghiburnya biar kami tunggu disini." Perintahku meminta Papah segera pergi dari taman. Wajah Dirga sudah tak bersahabat seperti ingin melempar bom ke wajah Papahnya.
Papah menurut lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang pasien Mamah Hana.
"Kenapa kau menghentikan aksiku?"
"Belum saatnya, Mas. Semua harus diselesaikan dengan kepala dingin. Tidak dengan emosi seperti tadi."
"Cih! Dia keluar kota di saat Mamah lagi sakit. Aku yakin dia pasti keluar kota bersama perempuan bayarannya."
"Ya bisa jadi memang Papah beneran keluar kota, mengapa kamu curiga begitu, Mas?"
"Aku tau kebiasaan Papah sejak kecil. Caranya dia menipu mamah Hana dengan segala kesibukannya. Tapi, sudahlah! Kau orang baru tidak akan paham bagaimana keluargaku sesungguhnya."
Aku tidak menjawab lagi. Mungkin sebagian cerita Papah Beni ada hubungannya dengan kejadian barusan. Tapi aku tidak mau masuk terlalu dalam. Aku hanyalah orang luar yang tidak berhak ikut campur atas permasalahan keluarga Mamah Hana.
"Lebih baik kita pulang ke rumah dulu! Aku sudah gerah sedari tadi." Dirga mengambil kunci mobil di saku kantongnya. Semua barang sudah dibawa pulang Pak Ujang. Jadi kami hanya membawa tas selempang masing-masing.
Aku mengangguk tanda setuju. Perasaanku sudah gerah ditambah pikiran yang juga penat. Aku ingin istirahat.
☆☆
Setiba di rumah kami masuk ke kamar masing-masing. Aku menyimpan tas bawaan dan merapikan baju-baju yang gagal dipakai saat bulan madu.
Aku mulai tidak nyaman di rumah ini. Apalagi sikap Mamah Hana yang berburuk sangka denganku. Entah bagaimana meluruskan fitnah yang dituduhkan kepadaku. Mamah Hana bahkan tidak mau bertemu denganku lagi.
Baru saja hendak tidur, pintu diketuk sekali. Aku sudah menebak siapa yang ada di balik pintu.
Akhirnya aku tunda tidur siangku dan melangkah membuka pintu.
"Ada apa, Mas?" tanyaku lembut.
"Sepertinya kau harus pergi dari rumah ini untuk sementara waktu."
"Hah?! Tapi..." Aku terkejut saat Dirga tiba-tiba mengusirku.
"Tidak! Dia tidak boleh pergi!"
Dirga menoleh. Aku yang sudah tahu siapa orangnya ikut terkejut.
"Anna harus tetap disini apapun yang terjadi," ucapnya sambil menatap putranya tajam.
Hai readers ❤️
terimakasih sudah mampir dan membaca cerita author. Jangan lupa koment, vote dan beri gift yaa..