Di mata publik, Rania hanyalah anak bungsu Keluarga Baskara yang manja, dan menjadi beban keluarga. Semua orang lebih memuja kakaknya, Resti, yang merupakan model sukses. Padahal di balik layar, Rania adalah gadis mandiri yang membangun toko rotinya sendiri dari nol tanpa bantuan siapa pun.Malam pernikahan megah tiba, namun Resti justru kabur ke Prancis demi karier modelnya. Demi menyelamatkan nama baik Keluarga Baskara, Rania dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Rangga, CEO dingin pewaris Pratama Group.
Rangga murka karena merasa ditipu. Dia mengira Rania adalah gadis manja yang sengaja menjebak kakaknya demi harta. Namun, saat Rangga mulai tahu kemandirian Rania—dan aroma roti buatan Rania justru menyembuhkan penyakit mag kronisnya—sang CEO mulai cemburu buta dan gengsi untuk mengaku bucin.Sanggupkah Rania membungkam mulut semua orang yang dulu meremehkannya?
UP SETIAP HARI JAM 06.00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Fajar perlahan merekah di ufuk timur, mengusir pekatnya malam dan menggantikannya dengan bias cahaya keemasan yang menembus celah jendela kaca penthouse megah milik Rangga Pratama. Namun, cahaya pagi itu sama sekali tidak membawa kehangatan bagi isi kepala sang CEO. Rangga masih duduk di tepi ranjang tempat tidurnya, dengan posisi dan pakaian yang sama persis seperti semalam. Pria itu tidak tidur barang sekejap pun. Pikirannya berdengung keras, berputar pada satu titik kesadaran yang baru saja menghantam batinnya bagaikan palu godam.
Semalam, dalam keheningan labirin hatinya yang terbelah, Rangga mengira ia masih dikuasai oleh keraguan antara masa lalu dan masa kini. Ia mengira sisa-sisa perasaannya pada Resti masih memiliki daya tarik yang sama besarnya dengan ikatan batinnya bersama Rania. Namun, pagi yang sunyi ini membuka tabir ilusi tersebut dengan cara yang sangat telak.
Cahaya matahari yang semakin terang memperlihatkan sosok Resti yang keluar dari kamar tamu dengan wajah masam, rambut acak-acakan, dan langsung melontarkan omelan ketus karena pesanan kopi paginya terlambat diantar oleh pelayan rumah. Suara rengekan itu, yang dulu dianggap Rangga sebagai bentuk manja yang menggemaskan, kini terdengar begitu cempreng, memekakkan telinga, dan sangat menyebalkan.
Rangga mengamati wanita itu dari balik pintu kamar utamanya dengan tatapan mata yang kosong. Bayangan Resti yang dulu begitu sempurna, diagungkan, dan dipuja separuh mati di masa mudanya, kini tampak luntur seketika. Di mata Rangga yang sekarang, Resti hanyalah sosok wanita yang egois, penuh tuntutan, kekanak-kanakan, dan tidak bisa diandalkan dalam situasi apa pun selain menambah beban pikiran. Tidak ada keteduhan, tidak ada kemandirian, dan tidak ada ketulusan. Yang ada hanyalah daftar panjang tuntutan materi dan drama murahan yang melelahkan.
Sebaliknya, kepala Rangga langsung bergeser memikirkan Rania.
Wanita yang selama ini ia abaikan, wanita yang dinikahinya karena keterpaksaan dan utang budi. Senyuman langka Rania—senyuman tulus yang dulu sering ia saksikan di dapur kecil saat menyiapkan susu hangat—kini menjadi hal paling berharga dan paling ingin ia lihat setiap hari di dunia ini. Rangga menyadari, tanpa ia sadari sebelumnya, seluruh ruang di dalam hatinya telah sepenuhnya terisi oleh kehadiran Rania. Rania adalah rumah, tempat ia bisa bernapas dengan tenang di tengah kerasnya dunia korporat. Rasa cintanya pada Rania bukan lagi sekadar rasa nyaman yang terbentuk oleh kebiasaan, melainkan sebuah keterikatan jiwa yang mendarah daging.
Aku tidak menginginkan Resti, batin Rangga berteriak kencang dalam keheningan jiwanya. Aku hanya menginginkan Rania. Hanya dia.
Kesadaran itu datang meledak-ledak, memenuhi dadanya dengan gelombang kelegaan yang luar biasa, sekaligus mendatangkan rasa ngeri yang teramat sangat. Karena di detik yang sama ketika ia menemukan jawaban atas hatinya, Rangga juga menyadari satu kenyataan pahit: kesadaran ini datang terlambat.
Sangat terlambat.
Rania kini telah menutup hatinya rapat-rapat. Benteng es yang dibangun oleh istrinya bukan lagi dinding pembatas biasa, melainkan sebuah kubah besi yang tidak dapat ditembus oleh rayuan, penyesalan, maupun permohonan maaf apa pun. Setiap kali Rangga mencoba mendekat, yang ia temukan bukanlah kemarahan atau kebencian yang masih menyisakan emosi, melainkan ketidakpedulian mutlak. Tatapan mata Rania kosong, datar, dan memperlakukannya bagaikan angin lalu yang tak kasat mata.
Rangga mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa frustrasi yang membakar lambungnya membuat napasnya terasa sesak. Harga diri seorang CEO besar yang terbiasa mendapatkan segala hal dengan kekuasaan dan uang kini runtuh tak berbekas, berhadapan dengan kenyataan bahwa ia telah kehilangan kunci untuk membuka pintu hati istrinya sendiri.
"Tidak..." gumam Rangga pelan dengan suara serak, menggelengkan kepalanya lemah menolak takdir yang ia ciptakan sendiri. "Aku tidak akan membiarkan ini berakhir seperti ini. Aku akan memperbaikinya."
Dengan tekad yang membara namun diselimuti ketakutan yang luar biasa, Rangga bangkit dari tempat tidurnya. Ia melangkah keluar kamar dengan langkah pasti, bertekad untuk melakukan apa pun demi meruntuhkan tembok es yang telah dibangun Rania, bahkan jika ia harus menelan mentah-mentah ego dan harga dirinya di hadapan wanita yang kini telah menguasai seluruh hidupnya.
•
•
•
•
Jangan lupa like ya😉