Gadis kecil Ella yang hidup di sebuah panti asuhan pinggiran kota yang berada di ujung kekaisaran Reis yang megah, hanya bermimpi untuk lepas dari segala kesakitan dan perundungan yang ia alami di panti.
Kehidupan yang dihantui ketakutan, kelaparan, membuatnya terus bermimpi akan sebuah kangatan keluarga yang sangat terasa nyata.
Mimpi kecil itu yang membuatnya membulatkan tekad untuk lepas dari bangunan yang seolah terus memeluknya jauh ke dasar. Dengan kaki kecilnya yang penuh akan luka, ia melangkah menjauh dari panti menuju gelapnya malam yang terasa lebih aman dibanding bangunan tempat ia tinggal.
Akankah keluar dari kegelapan lama menuju kegelapan baru di depannya akan lebih baik? Atau justru, kegelapan di binar yang menyimpan keinginan untuk hidup di mata Ella, justru jauh lebih pekat dibanding yang ia tinggalkan?
♡♡♡♡♡
Jadwal Up:
Senin s/d Sabtu - Jam 20.00
Minggu - Double Up; 08.00 & 20.00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Only'Rra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rambut Merah khas Luelle
Hening, tidak ada yang terjadi. Rasa sakit atau seolah ada yang menyerang tubuhnya pun tidak ada.
Ella membuka kedua matanya perlahan untuk mengintip situasi sekitarnya. Sekumpulan kunang-kunang cantik melayang tepat di sekitar tubuhnya, mereka bergerak kesana kemari seolah tengah menyapa.
Perasaan Ella perlahan melunak.
“H-hai ... “ Telunjuk gadis kecil itu mencoba menyentuh salah satu kunang-kunang
di depannya. Seolah memang menunggu, makhluk kecil itu bertengger gembira di atas jari telunjuk Ella.
Senyuman riang terukir jelas di wajah Ella. "Ka-kalian, ingin, menemani ... Aku?”
Kunang-kunang lain yang berada di sekitar Ella sontak terbang ke arah depan dan kembali lagi mendekat ke tubuhnya sebagai jawaban.
“Hihihi, terima ... kasih.” Perasaan Ella menghangat. Baru kali ini dirinya merasa tidak sendirian.
Gadis kecil itu kembali meneruskan pelariannya. Berjalan pelan di pinggiran Hutan Cana, ditemani kunang-kunang yang seolah menjadi teman perjalanan serta penerang di tengah gelapnya malam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ella mulai mengangkat pandangannya lurus kala keramaian mulai muncul kembali di depan matanya.
Kini dirinya telah tiba di sisi tenggara Kota Ador; sisi yang berlawanan cukup jauh dari panti asuhan Greys yang berada di sekitar daerah selatan kota Ador.
Ador yang merupakan daerah Grand Duchy Luelle, dengan sisi tenggara kota yang dijadikan tempat tinggal pemimpin wilayah yang memegang kendali 2 sisi Kekaisaran Reis, Grand Duke Aghasa Luelle.
Sebuah mansion besar nan tinggi yang menjulang gagah dapat Ella lihat di ujung keramaian. Dirinya memutuskan tempat pertama yang akan ia kunjungi adalah mansion grand duke Luelle.
Dan lagi, informasi mengenai kediaman grand duke juga ia curi dengar dari para tetua panti.
Mungkin saja disana masih membutuhkan tenaga kerja, dan Ella berharap mansion grand duke mau menerima anak kecil sepertinya sebagai pelayan, setidaknya, ia masih bisa menyapu dan melakukan pekerjaan bersih-bersih lainnya.
Meskipun kemungkinan yang ada kecil, Ella hanya menginginkan sebuah pekerjaan yang menghasilkan, setidaknya ia dapat membeli sebuah roti per-harinya.
“Kita ber, pisah disini ... kunang-kunang,” ujarnya lesu. Ella memandangi kumpulan
kunang-kunang kecil yang mulai membentuk satu di depannya.
Meskipun Ella merasa baru saja ia menemukan teman pertama yang tidak menekan ataupun menyakitinya bahkan menemani dirinya di kegelapan.
Sayangnya Ella tidak mau memaksa para kunang-kunang untuk ikut dengannya dengan pergi meninggalkan Hutan Cana yang merupakan rumah mereka.
“Terima ... kasih banyak.”
Senyuman cantik merekah dari wajah Ella, mengantar kepergian kunang-kunang
kecil yang perlahan mulai masuk kembali kedalam hutan.
Kembali memandang keramaian perayaan, Ella menghembuskan napas sebelum mulai melangkah memasuki padatnya Pusat Kota Ador.
‘Tidak apa-apa, tidak perlu takut’ batin Ella kala tubuhnya mulai berbaur dengan orang-orang yang tengah menikmati perayaan.
Sudut mata Ella menangkap gerobak penjual roti-roti hangat yang terlihat lembut.
Dirinya memutuskan melangkah untuk membeli sebuah roti sebagai bekal terlebih dahulu sebelum kembali melanjutkan perjalanannya menuju tempat tujuan pertama, Mansion Grand Duke Luelle.
“PENCURI! TOLONG, ORANG YANG MEMAKAI JUBAH HITAM ITU MENCURI TASKU!”
“HEI, BERHENTI DISANA!”
Teriakan dari seorang wanita serta beberapa suara berat seperti ksatria? Mengambil atensi Ella. Gadis yang baru saja menyimpan sebungkus roti hangat ke dalam tas penyimpanannya itu melihat ke sisi yang menghasilkan teriakan.
Sekerumunan orang-orang bergerak cepat tak terhindarkan membuat tubuh kecil Ella bertabrakan dan masuk di antara kerumunan tubuh orang-orang dewasa.
Sedetik setelahnya tanpa jeda untuk mencerna situasi, semakin banyak orang yang berkerumun tidak beraturan untuk melihat pengejaran yang dilakukan oleh beberapa ksatria berzirah perak mengkilap menggunakan kuda.
“Per-permisi, a-ku ingin ... lewat.” Berusaha untuk keluar dari kerumunan yang berdesakan tanpa memedulikan siapa orang yang mereka himpit.
Raut wajah Ella mulai pucat. “Tolongh, permisi ...“
Pasokan oksigen disekitarnya menipis. Perasaan tak karuan mulai menyelimuti dirinya.
Tubuh Ella mulai kehilangan keseimbangan dan kedua kakinya tak lagi mampu menopang.
Seperkian detik setelahnya, Ella merasa bahwa ruang disekitarnya mulai terasa lebih luas karena orang-orang tersadar ada anak kecil yang tergeletak.
Setelahnya Ella hanya mendengar banyak langkah kaki yang melingkari dirinya, pandangannya sudah sangat mengabur.
Sesaat sebelum semua indranya terasa seolah ditarik ke kegelapan. Ella mendengar suara berat nan tegas, yang mampu membisukan seluruh perbincangan khawatir yang saling terlontar satu sama lain di sekitarnya.
SEMENTARA ITU -
Rambut merah bak bunga mawar khas keluarga Luelle. Terlihat tetap menawan dibawah cahaya rembulan dengan perpaduan keemasan dari lampion yang terpasang disetiap sudut kota.
Tubuh tinggi dan tegap terbalut zirah perak yang memiliki motif berbeda dari ksatria lain, dengan jubah merah pekat yang tersampir di pundaknya serta pedang panjang yang tersimpan rapih di pinggang.
Visualnya yang tak hanya sekedar dikenali namun sangat disegani. Tidak hanya di kota Ador yang merupakan wilayah utama Grand Duchy Luelle, tapi juga satu Kekaisaran Reis.
Bahkan namanya selalu terdengar di Kekaisaran lain,
Pedang Reis
Ksatria Darah dari Reis,
Grand Duke Aghasa Luelle. Yang juga merupakan adik dari permaisuri kekaisaran Reis.
“Bagaimana dengan bedebah itu?”
Raut wajah datar dengan pandangan tegas memandang ke depan. Tubuhnya tetap tegak di atas kuda meskipun telah cukup lama ikut turun langsung dalam memantau penjagaan keamanan di malam sebelum hari pertama perayaan cahaya.
Derix - Ajudan Pribadi sang Grand Duke, menundukkan kepalanya pelan. “Saya telah mengirim sejumlah ksatria berkuda untuk mengejarnya, Tuan.”
Dahi Aghasa mengernyit tidak suka. “Malam sebelum perayaan, bahkan belum hari utama perayaan itu sendiri sudah terjadi kekacauan?”
“Maaf, Tuan.” Derix dengan perasaan menyesal telah mengecewakan sang tuan hanya dapat menunduk dengan mengendalikan kuda hitamnya di belakang tubuh tegap Aghasa.
Berdecak pelan. “Setelah ini pastikan untuk meningkatkan latihan para ksatria Luelle.”
“Baik,” jawab Derix sontak.
Mendengus menahan amarah, Aghasa kembali memperhatikan keadaan malam sebelum perayaan. Terlihat jelas warga yang berkerumun menyaksikan penangkapan pencuri yang bernasib sial karena tidak mengira bahwa sang grand duke sendiri yang memimpin penjagaan malam ini.
Dahi Aghasa mengernyit kala menangkap sesuatu yang menarik atensinya di tengah
kerumunan yang terlihat cukup jelas dari atas kuda putih gagah yang ia naiki.
Jelas-jelas tadi ia melihat, helaian rambut bewarna merah terkibas angin pelan di tengah-tengah kerumunan. Rambut panjang namun terlihat kecil.
Apa itu seorang anak kecil perempuan dengan rambut bewarna merah? Tidak mungkin.
Rambut merah itu menghilang seolah tenggelam di kerumunan membuat Aghasa semakin menyipitkan pandangannya untuk memastikan.
Di Kekaisaran Reis bahkan satu Benua Astra, hanya keturunan Luelle yang mampu memiliki warna bak bunga mawar merah yang pekat, itupun hanya beberapa keturunan yang terpilih.
Bahkan tiga anak sang kakak – para pangeran Kekaisaran Reis, ketiganya tidak dapat memiliki warna rambut keluarga Luelle dan malah mengikuti sang ayah, juga dikarenakan gen keturunan keluarga kaisar yang merupakan Archmage, sangat mendominasi.
‘Tunggu sebentar! Anak perempuan dengan rambut merah?’ Tersadar sesuatu, Aghasa lantas meloncat turun dari atas kuda dan dengan cepat kakinya mengambil langkah lebar menuju titik yang menarik atensinya.
Derix yang melihat sang tuan tergesa juga mengikuti dengan posisi sigap mengeluarkan pedang dari sarungnya. Dirinya berpikir bahwa sang tuan melihat satu kejahatan lagi di malam sebelum perayaan.
‘Kenapa para ksatria sangat lalai sih?! Sampai membuat grand duke sendiri turun tangan lagi’ keluhnya dalam hati.
Sementara itu, jantung Aghasa berdegup kencang. Perasaan tegang dan mendebarkan ini bahkan tidak pernah ia rasakan meski saat dirinya memenangkan perang besar kala itu.
Ia berharap yang dilihatnya tadi bukanlah halusinasi. Namun ia juga memiliki sedikit rasa takut untuk mengetahui kenyataan setelahnya.
“Minggir.”
Bariton tegas Aghasa meredam kebisingan dari orang-orang disekitar. Sontak, seluruh raga membungkuk, memberi hormat akan kedatangan pemimpin wilayah mereka. Para warga serentak membuka akses jalan agar sang grand duke dapat dengan leluasa untuk masuk.
Tenggorokan Aghasa tercekat. Napasnya seolah tertahan untuk beberapa detik dengan tubuh mematung akan pemandangan di depannya.
Derix yang baru dapat menyusul langkah Aghasa menatap bingung kenapa sang tuan yang berhenti dan berdiri kaku. Ia lantas menelusupkan pandangannya ke samping untuk melihat pemandangan apa sebenarnya yang berada di depan mata sang grand duke.
Seorang gadis kecil dengan tubuh kurus yang menurutnya pandangannya berusia sekitar 5 tahun, tengah terbaring di atas tanah sembari terengah-engah seolah udara di sekitarnya menghilang.
Mata Derix terbelalak. Dirinya sudah terbiasa dan tidak terlalu terkejut kala melihat pemandangan seseorang tengah sekarat karena ia menghabiskan masa mudanya di medan perang.
Namun yang sekarat di depan matanya kali ini adalah seorang gadis kecil dengan rambut merah bak mawar, khas keluarga Luelle!
Derix berusaha kembali melihat ke arah sang tuan. Ingin memberitahunya apa yang juga telah di lihat oleh sang Grand Duke. “Tu-tuan ... Itu-“