Indonesia
NovelToon NovelToon
IBU MAFIA

IBU MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Single Mom
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Princess Catalunya

Amara pernah memiliki keluarga yang ia cintai. Namun setelah bertahun-tahun mendukung suaminya dari nol, ia justru dikhianati.

Sebagai ibu tunggal dengan tiga anak, Amara berusaha bangkit dari luka dan kehancuran. Takdir kemudian mempertemukannya dengan seorang pria mafia yang memberinya sebuah kerajaan.

Kini, di mata dunia, Amara hanyalah seorang ibu sederhana yang bekerja sebagai careworker.

Tidak ada yang tahu bahwa di balik sosok pendiam itu, tersembunyi seorang penguasa dunia bawah tanah.

Amara membangun kerajaan demi ketiga anaknya. Ia ingin mereka memiliki masa depan, tetapi tidak pernah ingin mereka tumbuh menjadi manusia yang bergantung pada kekayaan.

Karena seorang ibu akan melakukan apa pun untuk melindungi anak-anaknya.

Bahkan jika ia harus menjadi seorang mafia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princess Catalunya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Anak Perempuan dan Singgasana Madam A

Hidup terus berjalan setelah pernikahan Amara dan Leon. Bagi dunia, pernikahan itu mungkin menjadi salah satu peristiwa terbesar tahun tersebut. Dua nama besar telah bersatu dan dua kekuatan yang selama bertahun-tahun berdiri di balik bayangan kini berada dalam satu rumah.

Namun setelah pesta berakhir, kehidupan kembali berjalan seperti biasa. Perusahaan tetap bekerja. Rumah sakit tetap menerima pasien. Ribuan karyawan tetap datang setiap pagi. Dan anak-anak Amara kembali menjalani kehidupan mereka masing-masing.

Sementara, di luar lingkaran keluarga tersebut, ada dua gadis muda yang mulai memasuki babak baru dalam hidup. Mereka adalah Alya dan Celine. Dua anak perempuan Reza dan Clara.

Mereka tumbuh dalam kehidupan yang jauh lebih sederhana dibandingkan saudara-saudara mereka dari pihak Amara. Bukan kehidupan yang mengenaskan.

Mereka masih bisa bersekolah dengan baik dan memiliki rumah. Masih bisa makan dengan cukup. Namun hidup mereka tidak pernah benar-benar berlebihan.

Sejak kecil, Clara selalu berusaha memastikan kedua putrinya memahami satu hal. Jangan pernah merasa lebih tinggi daripada orang lain hanya karena memiliki sesuatu. Dan jangan pernah menganggap kebaikan seseorang sebagai hak.

Namun ada satu bagian dari masa lalu yang tidak pernah Clara sembunyikan. Tentang Amara dan Reza. Tentang kesalahan yang pernah dilakukan orang dewasa.

Clara tidak pernah berusaha membuat anak-anaknya membenci ayah mereka. Tetapi ia juga tidak pernah memutarbalikkan kenyataan. Karena suatu hari nanti, Alya dan Celine harus mengetahui sendiri mengapa kehidupan mereka berjalan seperti sekarang.

Malam itu, Alya sedang duduk di meja makan ketika sebuah pesan masuk ke ponselnya. Ia membaca layar beberapa kali. Kemudian mengangkat wajah.

“Ma.”

Clara yang sedang menuangkan air ke gelas menoleh.

“Kenapa?”

“Beasiswa kuliahku diperpanjang.”

Clara tersenyum.

“Itu bagus.”

Alya masih memandang layar.

“Bukan cuma diperpanjang.”

Celine yang duduk di sebelahnya ikut mendekat.

“Apa?”

Alya menunjukkan layar ponselnya.

“Biaya semester depan juga ditanggung.”

Celine terdiam.

Ia tahu siapa yang berada di balik yayasan pendidikan tersebut.

Namun Alya tetap bertanya.

“Ma…”

Clara meletakkan gelasnya.

“Apa?”

“Ini dari yayasan Madam A, kan?”

Clara tidak langsung menjawab.

Beberapa detik kemudian ia mengangguk.

“Iya.”

Suasana meja makan mendadak sunyi. Alya menundukkan wajah. Celine memainkan ujung bajunya. Mereka sudah tahu sejak beberapa tahun lalu. Namun semakin dewasa, semakin mereka memahami arti dari kebaikan tersebut.

Amara tidak memiliki kewajiban apa pun terhadap mereka. Bahkan sebaliknya. Ada alasan mengapa perempuan itu seharusnya tidak perlu peduli pada kehidupan mereka.

Namun Amara tetap membantu. Bukan karena hubungan keluarga atau ingin mendapatkan sesuatu. Justru itulah yang membuat Alya dan Celine merasa semakin tidak nyaman.

“Kenapa dia masih mau membantu kita?” tanya Celine pelan.

Clara tersenyum tipis.

“Karena dia tidak pernah menganggap kalian bersalah.”

Alya menatap ibunya.

Clara melanjutkan,

“Kesalahan orang tua bukan dosa anak.”

“Jadi Madam A tidak membenci kita?”

“Tidak.”

Clara terdiam sebentar.

“Tapi jangan salah mengartikan kebaikannya.”

Celine mengangguk.

“Sebagai apa?”

“Sebagai manusia.”

Jawaban itu sederhana. Namun cukup untuk membuat kedua gadis tersebut terdiam.

Clara menatap mereka bergantian.

“Amara tidak perlu menjadi keluarga kalian untuk berbuat baik kepada kalian.”

Kalimat itu tertanam kuat di kepala mereka.

Beberapa bulan kemudian, kesempatan lain datang. Aether Global Group membuka program magang bagi mahasiswa berprestasi. Alya yang mengambil jurusan bisnis internasional langsung mendaftarkan diri. Celine, yang mengambil komunikasi dan media, ikut mendaftar.

Keduanya tidak pernah menyangka akan diterima. Sampai sebuah email resmi masuk.

Congratulations. You have been selected.

Alya membaca email tersebut berulang kali. Celine bahkan sampai berteriak kecil.

“Kita diterima!”

Alya menatapnya.

“Serius?”

“Serius!”

Keduanya tertawa. Namun kegembiraan itu tidak berlangsung lama. Karena setelah mengetahui perusahaan tempat mereka akan bekerja, keduanya mulai gugup.

Aether Global Group.

Perusahaan yang namanya dikenal hampir di seluruh dunia. Dan perusahaan yang berada langsung di bawah kekuasaan Amara. Tempat yang oleh banyak orang disebut sebagai..

Singgasana Madam A.

Hari pertama mereka datang lebih awal. Mereka tidak ingin terlambat. Gedung utama Aether Global menjulang tinggi di hadapan mereka. Dinding kaca memantulkan cahaya pagi. Logo perusahaan berdiri besar di bagian depan.

Alya menarik napas panjang.

“Ini gila.”

Celine memegang mapnya erat.

“Aku takut.”

“Same.”

Mereka masuk bersama peserta magang lainnya.

Begitu berada di lobby, keduanya langsung menyadari bahwa tempat ini berbeda. Semua orang bergerak cepat. Tidak ada yang berjalan tanpa tujuan. Tidak ada karyawan yang terlihat santai.

Bahkan percakapan terdengar singkat dan profesional.

Alya menelan ludah.

“Jangan sampai kita bikin kesalahan.”

Celine mengangguk.

“Aku bahkan takut salah pencet tombol lift.”

Namun sebelum mereka sempat tertawa, suasana lobby tiba-tiba berubah. Beberapa staf berhenti berbicara. Sebagian langsung menepi. Lift khusus eksekutif terbuka. Seorang pria mengenakan jas hitam keluar dari lift. Wajahnya tenang dan langkahnya pun teratur.

Aura yang membuat orang-orang di sekitarnya otomatis memberikan ruang.

Alya dan Celine langsung terdiam. Pria itu adalah Arsen. Mereka mengenal wajah itu. Bukan hanya karena foto-fotonya sering muncul di berbagai berita bisnis. Tetapi karena mereka tahu satu fakta yang jauh lebih pribadi. Pria itu adalah kakak tiri mereka.

Arsen berjalan melewati mereka. Namun tiba-tiba ia berhenti. Asistennya menyerahkan daftar peserta magang. Arsen melihat daftar tersebut. Kemudian tatapannya naik.

Matanya berhenti pada Alya dan Celine. Beberapa detik terasa begitu panjang. Celine bahkan lupa bernapas.

Namun Arsen hanya berkata,

“Selamat datang.”

Tidak ada nada dingin, dan sikap berlebihan. Ia hanya mengangguk profesional. Kemudian berjalan pergi.

Alya menatap punggungnya.

“Astaga…”

Celine berbisik,

“Itu kakak kita.”

Alya mengangguk pelan.

“Dia lebih menyeramkan daripada dosen.”

Keduanya hampir tertawa. Namun mereka menahan diri. Karena mereka tahu. Mereka datang ke sini untuk bekerja. Bukan mencari hubungan keluarga.

Hari-hari berikutnya membuktikan bahwa Aether Global memang tidak mudah. Tugas diberikan dengan standar tinggi. Kesalahan kecil langsung dikoreksi.

Tidak ada perlakuan khusus hanya karena mereka menerima beasiswa dari yayasan Amara. Justru mereka berusaha bekerja lebih keras. Alya bahkan sering pulang paling akhir bersama beberapa peserta magang lain. Ia tidak ingin seseorang berpikir bahwa dirinya masuk perusahaan hanya karena belas kasihan.

Suatu sore, sebuah laporan terlambat dikumpulkan. Alya dipanggil ke ruang evaluasi. Ketika pintu terbuka, ia langsung membeku. Raka sudah duduk di dalam.

Pria itu sedang membaca dokumen.

“Duduk.”

Alya menurut. Tangannya dingin. Raka membaca laporan tersebut cukup lama.

Kemudian meletakkannya di meja.

“Analisis pasar kamu bagus.”

Alya berkedip.

Ia tidak menyangka akan mendapat pujian.

“Tapi…”

Raka menatapnya.

“Kamu terlalu ragu mengambil keputusan.”

Alya menundukkan kepala.

“Maaf, Pak.”

“Jangan minta maaf.”

Raka bersandar.

“Kalau datamu kuat, percaya pada analisismu.”

Alya mengangguk.

“Baik.”

“Jangan takut salah.”

Raka berhenti sebentar.

“Orang yang tidak pernah berani mengambil keputusan tidak akan pernah belajar menjadi pemimpin.”

Kalimat itu membuat Alya terdiam. Untuk pertama kalinya, ia melihat Raka bukan hanya sebagai kakak tirinya. Tetapi sebagai seseorang yang benar-benar sedang mengajarinya.

“Terima kasih, Pak.”

Raka hanya mengangguk.

“Perbaiki laporannya.”

“Baik.”

Alya keluar dari ruangan dengan perasaan berbeda.

Sementara itu, Celine memiliki pengalaman yang lebih hangat. Beberapa kali ia harus datang ke rumah sakit pusat milik keluarga. Di sana ia bertemu Nayla.

Berbeda dari Arsen dan Raka yang memiliki aura lebih formal, Nayla justru mudah membuat orang merasa nyaman.

“Kamu Celine, kan?”

Celine mengangguk gugup.

“Iya.”

Nayla tersenyum.

“Ibumu Clara?”

“Iya.”

“Aku ingat dia.”

Celine terdiam.

Nayla tersenyum kecil.

“Dulu dia sering mengirim makanan ketika aku masih kecil.”

Celine tidak menyangka Nayla masih mengingat hal sekecil itu.

Namun ia hanya tersenyum.

“Terima kasih.”

Nayla menggeleng.

“Kamu tidak perlu berterima kasih untuk sesuatu yang dilakukan ibumu.”

Kalimat itu membuat Celine kembali terdiam. Perlahan, rasa takut yang selama ini mereka simpan mulai berkurang. Mereka memang bukan keluarga. Namun mereka juga tidak diperlakukan sebagai musuh.

Arsen tetap profesional, Raka tetap tegas dan Nayla tetap ramah.

Tidak ada yang pernah menyalahkan mereka atas masa lalu orang tua mereka. Dan mungkin itulah bentuk penghormatan paling besar yang bisa diberikan kepada seseorang.

Sampai suatu hari, Alya dan Celine menerima sebuah panggilan. Mereka diminta datang ke lantai tertinggi gedung utama. Itu adalah lantai pribadi Madam A.

Keduanya langsung saling memandang.

“Kenapa kita dipanggil?” bisik Alya.

“Aku tidak tahu.”

“Jangan-jangan kita melakukan kesalahan.”

Celine menggeleng cepat.

“Jangan berpikir begitu.”

Mereka akhirnya berdiri di depan pintu besar.

Asisten membuka pintu.

“Silakan masuk.”

Keduanya menarik napas bersamaan. Di dalam ruangan, Amara duduk di belakang meja besar. Dokumen berada di hadapannya. Tidak ada ekspresi marah, atau senyum berlebihan.

Hanya ketenangan seorang perempuan yang telah bertahun-tahun memimpin dunia bisnis dari balik meja tersebut.

Alya dan Celine berdiri.

“Duduklah,” ujar Amara.

Mereka duduk.

Amara memperhatikan keduanya cukup lama.

Lalu berkata,

“Kalian tumbuh baik.”

Celine menundukkan kepala.

“Terima kasih, Madam.”

Amara mengangguk.

“Aku mendengar laporan mengenai kalian.”

Alya menegang.

“Tidak buruk.”

Keduanya mengangkat wajah.

“Teruskan kerja kalian.”

Amara kemudian berhenti sejenak.

“Aku membantu pendidikan kalian karena kalian pantas mendapatkan kesempatan.”

Tatapan Amara tenang.

“Bukan karena kalian anak siapa pun.”

Alya dan Celine terdiam.

“Aku tidak menyalahkan kalian atas masa lalu orang tua kalian.”

Celine menahan napas.

“Tapi jangan pernah menganggap kebaikanku sebagai hubungan keluarga.”

Keduanya mengangguk perlahan.

Amara kembali mengambil dokumen.

“Bangun nama kalian sendiri.”

Kemudian tatapannya terangkat sekali lagi.

“Suatu hari nanti, kalau kalian berhasil, aku ingin orang mengenal kalian karena kemampuan kalian.”

Alya dan Celine berdiri.

“Baik, Madam.”

Mereka keluar dari ruangan dan pintu tertutup perlahan.

Di lorong panjang itu, keduanya saling memandang. Tidak ada rasa sakit atau penghinaan.

Justru ada sesuatu yang baru yaitu kesadaran.

Amara tidak membuka pintu keluarganya. Namun ia membuka pintu kesempatan.

Dan sekarang, Alya dan Celine harus membuktikan bahwa mereka mampu berjalan melewati pintu itu dengan kaki mereka sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!