Jika kau jatuh cinta padaku selama dua tahun ini, kau tidak akan mendapatkan satu sen pun saat bercerai nanti."
Demi membiayai operasi sumsum tulang belakang adiknya, Aura Dania terpaksa menandatangani perjanjian pernikahan kontrak dengan Evan Adijaya seorang CEO dingin dan kejam yang hanya memanfaatkan Aura untuk merebut takhta perusahaan keluarga.
Di atas kertas, mereka hanyalah orang asing. Tanpa cinta, tanpa sentuhan, dan tanpa pesta. Tugas Aura sederhana: berpura-pura menjadi istri yang manis di depan kakek Evan yang sedang sakit.
Namun, ketika mantan kekasih Evan kembali membawa niat jahat dan rahasia besar terungkap, pernikahan rahasia mereka berubah menjadi pusaran rasa sakit dan hasrat. Bisakah Aura bertahan tanpa menyerahkan hatinya pada sang CEO berdarah dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melania-1623, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadiah Terindah Adijaya
Selamat membaca
...
Bulan-bulan berlalu dengan sangat indah. Kekalahan telak Helene Vance di bursa bisnis internasional membuat posisi Adijaya Group makin kokoh di kancah global. Namun, bagi Evan Adijaya, pencapaian tertinggi dalam hidupnya bukanlah angka-angka triliunan rupiah di laporan keuangan, melainkan kedamaian yang ia rasakan setiap kali pulang ke rumah dan melihat Aura menunggunya.
Pagi itu, sinar matahari hangat menerobos tirai tipis di kamar utama kediaman Adijaya. Aura terbangun dengan rasa mual yang mendadak menyerang perutnya. Wanita itu terburu-buru berlari ke kamar mandi, membungkuk di depan wastafel dengan wajah yang memucat.
"Aura?!" Evan yang baru saja selesai mengenakan kemeja kerjanya seketika panik. Pria itu menyusul ke kamar mandi, mengusap tengkuk istrinya dengan lembut seraya memijat bahunya dengan penuh rasa cemas.
"Huek..." Aura membuang napas tersengal, membasuh mulutnya dengan air bersih. Tubuhnya terasa begitu lemas hingga harus bersandar penuh pada dada bidang Evan.
"Kita ke rumah sakit sekarang," tegas Evan tanpa kompromi, matanya memancarkan kekhawatiran yang amat sangat. "Aku akan minta Bimo membatalkan semua rapat hari ini."
"Evan, tidak perlu sampai membatalkan rapat," cicit Aura lembut seraya memegang tangan suaminya. "Aku hanya sedikit lelah dan mungkin masuk angin karena beberapa hari ini kurang tidur mengurus laporan keuangan."
"Tidak ada perdebatan untuk kesehatanmu, Aura," potong Evan posesif. Pria itu langsung menggendong tubuh Aura gaya bridal style menuju ranjang, tak membiarkan kaki istrinya menyentuh lantai dingin.
Satu jam kemudian, suasana di ruang pemeriksaan VIP Rumah Sakit Internasional Medika begitu hening dan penuh ketegangan. Evan berdiri di samping ranjang tempat Aura berbaring, tak pernah melepaskan genggaman tangannya dari jemari sang istri.
Dokter spesialis kandungan senior yang memeriksa Aura tersenyum hangat seraya mematikan layar monitor USG di samping tempat tidur.
"Selamat, Tuan dan Nyonya Adijaya," ujar sang dokter dengan nada suara gembira. "Nyonya Aura tidak sedang masuk angin atau kelelahan biasa. Usia kandungannya saat ini sudah memasuki minggu keenam."
Aura membelalak kaget, tangannya yang berada dalam genggaman Evan seketika bergetar pelan. "D-dokter... saya hamil?"
"Benar, Nyonya. Janinnya tumbuh dengan sangat baik dan detak jantungnya sudah mulai terdeteksi dengan jelas," terang dokter seraya menyerahkan lembaran foto USG hitam putih.
Evan membeku di tempatnya. Pria yang biasanya selalu bersikap dingin, tegas, dan tak tergoyahkan di hadapan ribuan pengusaha dunia itu kini menatap foto kecil di tangannya dengan mata yang berkaca-kaca. Air mata haru yang sangat jarang terlihat akhirnya menetes membasahi pipi tegas sang CEO.
"Evan... kau menangis?" bisik Aura terharu, mengusap lembut pipi suaminya.
Evan menundukkan tubuhnya, merengkuh Aura ke dalam pelukannya yang teramat erat namun sangat hati-hati. Ia mengecup kening, kedua mata, dan bibir Aura berulang kali dengan rasa syukur yang membuncah memenuhi dadanya.
"Terima kasih, Aura... Terima kasih banyak, Sayang," bisik Evan dengan suara parau menahan tangis bahagianya. "Kau memberiku hadiah paling berharga di dunia ini."
Kabar kehamilan Aura disambut dengan sukacita yang luar biasa di kediaman Adijaya. Kakek Surya bahkan sampai meneteskan air mata bahagia saat memeluk cucu menantu kesayangannya itu di meja makan malam, sementara Laras tak henti-hentinya bersorak gembira karena akan segera menjadi seorang tante.
Malam harinya, di balkon kamar utama yang dingin, Evan menyelimuti bahu Aura dengan kain rajut hangat dari belakang. Pria itu merangkul pinggang Aura, meletakkan kedua telapak tangannya yang besar dan hangat di atas perut datar istrinya yang kini menyimpan kehidupan baru mereka.
"Mulai besok, aku akan memindahkan seluruh pekerjaanku ke rumah," ujar Evan lembut di telinga Aura.
Aura terkekeh pelan, memutar kepalanya menatap wajah tampan suaminya. "Evan, kau ini CEO Adijaya Group. Masa bekerja dari rumah hanya karena aku hamil muda?"
"Perusahaan bisa diurus oleh direksi dan Bimo," sahut Evan santai tanpa beban. "Tapi melihatmu tumbuh bersama anak kita adalah hal yang tidak akan pernah bisa aku lewatkan walau cuma satu detik pun."
Aura tersenyum manis, membalikkan tubuhnya lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang Evan, mendengarkan detak jantung pria yang sangat dicintainya itu.
Dari sebuah awal pernikahan kontrak bernilai dua miliar rupiah yang sarat akan penderitaan dan ketakutan, takdir telah menuntun mereka melewati badai intrik, pengkhianatan, dan persaingan dunia hingga berlabuh di muara cinta sejati yang sempurna.
Evan mengangkat dagu Aura, menatap iris mata jernih istrinya di bawah sinar rembulan yang indah, lalu mendaratkan ciuman yang paling hangat, lembut, dan penuh cinta. Sebuah janji suci untuk selalu menjaga permaisurinya dan calon buah hati mereka selamanya.
...
Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa tinggalkan Like & Komen...