Karena memiliki masalah keluarga yang cukup rumit, membuat Ranaya melampiaskan hidupnya di lantai disko. Motonya: Boleh nakal, asal tahu batas. Sayangnya, malam itu, batasnya benar-benar terlewati. Sebuah kecelakaan brutal membuat tubuhnya koma, sementara rohnya malah asyik gentayangan!
Sialnya, jadi arwah itu enggak segampang di film-film. Niat hati melompat elegan masuk kembali ke tubuhnya, Ranaya malah nyungsep di kolong ranjang. Masalah bertambah pelik ketika ia tau apa penyebab kecelakaan yang menimpanya. Ternyata ada udang di balik bakwan.
Berbekal status hantu amatiran dan bantuan seorang cowok indigo yang super cuek bebek, Ranaya harus menyelamatkan nyawanya sendiri. Kalau gagal? Ya wassalam, siap-siap saja jadi Kuntilanak Gen-Z selamanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha Annisa Amanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tertampar
Arka mengerti apa yang Ranaya rasakan oleh karena itu, dia berkata, "Mungkin lu ngerasa kayak gitu karena lu takut ngecewain dia? Lu pernah cerita, kalau lu minta bantuan gue supaya Agatha enggak terus-terusan ngerasa bersalah dan nangis seharian, kan? Menurut gue, dia pasti enggak ngerasa direpotin ataupun anggep lu sebagai beban. Dia sayang sama lu. Dan seseorang pasti rela ngelakuin apa pun demi orang yang dia sayang. Sama kayak lu, lu rela, kan ngejar-ngejar gue buat minta bantuan, itu semua demi siapa? Demi Agatha juga, kan?"
Ranaya menatap Arka lekat. Tidak menyangka kata-kata sepanjang dan sebijak itu keluar dari seorang Arka yang selama ini selalu irit bicara dan terkesan cuek. Dan semua yang Arka katakan memang benar. Ranaya merasa menjadi beban dan selalu merepotkan Agatha karena takut gadis itu kecewa olehnya. Benar juga apa yang Arka katakan, kalau dia juga rela melakukan apa pun untuk Agatha, bukan sebagai bentuk balas budi, tapi karena dia sayang dan ingin yang terbaik juga untuk Agatha.
"Tapi gue..." Ranaya menunduk. Tetap saja ia masih merasa tidak enak, seolah-olah jawaban Arka belum bisa menenangkan hati gadis itu sepenuhnya.
"Lu kenapa? Lu ngerasa enggak pernah lakuin apa pun buat dia?" tanya Arka tepat sasaran, membuat kepala Ranaya kembali terangkat dan menatapnya.
"Percaya deh, itu cuman perasaan lu aja. Gue yakin, Agatha juga punya alasan kenapa dia sesayang itu sama lu. Dan dia, mungkin enggak pernah berharap balasan apa pun dari lu, dia tulus. Dia cuman mau liat lu baik-baik aja dan hidup lebih bahagia dari hari-hari sebelumnya."
Arka menarik napas pelan sebelum melanjutkan ucapannya.
"Sekarang, seharusnya lu enggak perlu ngerasa kayak gini, karena itu bisa ngehancurin hubungan lu dan Agatha. Lu akan jauhin dia karena ngerasa cuman jadi beban dia selama ini. Yang perlu lu lakuin sekarang adalah komunikasi, lu bisa omongin semua yang lu rasain langsung ke Agatha, bukan malah nyimpen dan nyimpulin semuanya sendiri, atau bahkan pergi tanpa penjelasan apapun kayak tadi. Lu beruntung punya Agatha di hidup lu. Begitupun sebaliknya, Agatha juga pasti beruntung punya lu di hidupnya."
Ranaya tak mampu mengatakan sepatah kata pun. Air matanya jatuh, dadanya terasa sesak. Ternyata benar, selama ini dia selalu memendam dan menyimpulkan semua hal sendiri. Sehingga tanpa sadar, ia menyakiti dirinya atau bahkan orang-orang di sekitarnya.
Setiap kata yang Arka ucapkan menyadarkan Ranaya akan satu hal. Kalau selama ini, dia sebenarnya berharga, dia juga layak mendapatkan perhatian dan kasih sayang secara tulus, bukan transaksi timbal balik seperti yang ia pikirkan. Ranaya terlalu memandang rendah dirinya sendiri, hingga tidak sadar, seberapa berharga ia bagi orang-orang yang menyayanginya.
"Terima kasih." Ranaya menyeka air matanya. Ia menatap Arka dalam. "Terima kasih udah nyadarin gue. Mungkin ini alasan kenapa gue harus ada di sini sekarang. Supaya gue sadar dan lebih menghargai kehidupan yang gue punya. Selama ini gue terlalu fokus sama luka gue, sampai gue lupa, kalau gue juga punya cerita bahagia. Gue punya mama yang selalu sayang sama gue, mama yang nerima gue apa adanya, mama yang tetap nerima gue setelah sekian kali gue kecewain. Gue punya Agatha yang selalu ada buat gue, selalu berusaha hibur gue."
Arka tersenyum. Senyum yang belum pernah Ranaya liat sebelumnya, bukan juga senyum yang Arka tunjukkan pada Agatha. Senyumnya terlihat tulus, sangat tulus. Dan senyuman itu dia tujukan pada Ranaya. "Sama-sama. Udah, jangan nangis lagi, lu keliatan jelek dan serem kalau nangis!"
"Ish... Apaan, sih!" Ranaya membuang muka, ia tersenyum tipis, entah mengapa ada bagian dari hatinya yang merasa lega setelah melihat senyuman Arka.
lnjut kk, aku makin penasaran, ditunggu bab selanjutnya nnti malem
🏃♀️