Ada rasa yang tak pernah benar-benar mati, ia hanya bersembunyi di balik nama yang enggan kita sebut lagi.
Sera percaya bahwa pergi adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan sisa jiwanya yang hancur karena Adrian. Ia telah meruntuhkan harapannya dan mengunci rapat pintu perasaannya.
Tetapi benang merah tak pernah bisa dipatahkan.
Ketika waktu membawa Adrian kembali, pria itu tak lagi menawarkan duri. Ia hadir bagai sudut paling aman di tengah bisingnya dunia, menawarkan pulih di atas luka yang pernah ia goreskan sendiri.
Di antara bayang-bayang ragu, riuh penyesalan dari masa lalu, dan kehangatan yang kembali merekah... bisakah Sera mempertaruhkan hatinya sekali lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MIKHACINTA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisi Lain Adrian
Terik matahari siang itu terasa begitu menyengat di atas trotoar depan tempat penitipan motor. Adrian masih berdiri membeku di bawah naungan pohon, memandangi kotak kertas cokelat berisikan gelang SL di atas telapak tangannya dengan raut wajah yang amat pucat dan frustrasi.
Tepat di hadapan Adrian, Kania memegang erat lengan kiriku. Sama sekali tak dihiraukannya keberadaan abangnya yang masih menatap kami dengan pandangan memohon.
"Sera, Nia ikut ke rumah kamu ya siang ini?" ucap Kania cukup keras, sengaja menekankan suaranya agar terdengar oleh Adrian. "Nia mau maen ke rumah Sera, mau ngobrol banyak hal."
Aku menatap Kania sejenak, lalu mengangguk mantap. "Boleh, Nia. Yuk."
Tanpa memedulikan Adrian yang hendak membuka suara untuk menahan kami, aku dan Kania membalikkan badan lalu melangkah masuk ke dalam area parkir. Kami menaiki sepeda motor Scoopy merahku, meninggalkan Adrian yang berdiri kaku seorang diri di tepi jalan di bawah terik siang yang terik.
Sepeda motor matic-ku melaju membelah jalanan kota di bawah pendar sinar matahari siang. Kehadiran Kania di boncengan belakang memberi sedikit pencerahan dan rasa hangat, mengikis rasa hampa yang sempat membekukan dadaku.
Tak butuh waktu lama hingga kami tiba di rumah. Saat kami memarkirkan motor di garasi dan melangkah menuju teras depan, Ayah tampak sedang duduk santai menikmati suasana siang.
"Assalamu’alaikum, Ayah," sapaku pelan.
"Wa’alaikumsalam. Eh, Sera sudah pulang," sahut Ayah ramah seraya meletakkan korannya. Matanya kemudian beralih menatap Kania yang berdiri di sampingku.
Kania melangkah maju dengan sikap yang teramat sopan dan sedikit manja. Ia menyodorkan tangannya seraya menyunggingkan senyum manis. "Selamat siang, Om. Saya Kania, temannya Sera di sekolah."
Ayah membalas jepitan tangan Kania dengan senyum hangat. "Oh, ini yang namanya Kania? Sera sering cerita soal kamu. Ayo masuk, Nak. Anggap saja rumah sendiri ya."
"Terima kasih banyak, Om," balas Kania santai namun tetap penuh hormat.
Aku menuntun langkah Kania menuju kamar tidurku. Setelah menutup pintu dan meletakkan tas sekolah di meja belajar, kami duduk berhadapan di tepi kasur empuk.
Aku menarik napas panjang, memutuskan untuk membuka seluruh rahasia yang selama ini kusembunyikan dari sahabatku.
"Nia..." panggilku pelan, menunduk memandangi jemariku sendiri. "Sebenarnya... awal mula aku bisa dekat sama Mas Adrian itu karena dia diam-diam nyuri nomor telepon aku dari HP kamu... waktu kelas sepuluh dulu."
Kania membelalakkan matanya terkejut. "Hah?! Mas Iyan nyuri nomor kamu dari HP Nia?!"
Aku mengangguk pelan. "Iya. Setelah itu dia rutin nge-WhatsApp aku, dia sering datang ke rumah, sampai-sampai dia bisa seakrab itu sama Ayah dan main catur bareng. Dulu... Mas Adrian selalu nyuruh aku buat enggak cerita apa-apa ke kamu."
"Kenapa dia melarang kamu cerita sama Nia?" tanya Kania dengan alis bertaut bingung.
"Dia bilang... kamu tuh ribet," jawabku polos. "Terus tiap kali dia telat jemput kamu sekolah, Mas Adrian selalu beralasan ke aku kalau kamu yang bangunnya suka kemalaman dan bikin dia ketularan telat."
"Ya ampun, parah banget!" seru Kania menepuk paha seraya menggelengkan kepala tak percaya. "Bisa-bisanya dia salahin Nia! Padahal mah dia sendiri yang langganan bangun kesiangan!"
Kania menghembuskan napas gusar, lalu bersandar di kepala tempat tidurku. Raut wajah cantiknya berubah menjadi teramat serius saat ia mulai membeberkan sisi lain dari abangnya.
"Sera perlu tahu..." tutur Kania dengan suara yang memelan. "Mas Iyan tuh sebenarnya orangnya emang liar banget, enggak bisa diatur. Kuliahnya aja berantakan setengah mati."
"Berantakan gimana, Nia?" tanyaku menyimak lekat-lekat.
"Dia pernah tiba-tiba pulang ke rumah, nemuin Bunda, terus bilang kalau dia mau berhenti kuliah," ungkap Kania menggeleng lelah. "Bunda panik banget kan, akhirnya Bunda diskusi sama Ayah. Waktu itu Ayah langsung manggil Mas Iyan dan nasehatin dia habis-habisan."
Kania menirukan nada tegas ayahnya. "Ayah bilang ke Mas Iyan, 'Ayah tuh enggak cukup kaya buat nanggung hidup kamu seumur hidup, Mas. Apalagi kalau nanti kamu sudah menikah dan punya keluarga sendiri. Kamu harus tetap lanjutin kuliah buat bekal masa depan kamu.' Karena omongan Ayah itu, akhirnya Mas Iyan nurut dan mau lanjutin kuliahnya lagi."
Aku tertegun mendengarkan cerita Kania. Di mataku selama ini, Adrian selalu tampak sebagai sosok pria dewasa yang mandiri dan matang. Aku tak pernah menyangka ada masa-masa di mana ia begitu kekanak-kanakan dan hilang arah.
"Terus soal bangun kesiangan..." lanjut Kania lagi seraya memiringkan kepalanya, "Nia tuh sering banget dengar dia teleponan di kamarnya sampai subuh sama seseorang. Nia tahu pasti yang di telepon itu cewek, tapi Nia yakin banget itu bukan Kak Sabrina."
Rasa ingin tahuku seketika membuncah. "Kak Sabrina?"
"Iya," Kania mengangguk cepat. "Kak Sabrina itu sebenarnya teman SMA Mas Iyan dulu. Nia juga akuin dia cantik banget. Dulu mereka memang sempat pacaran."
Aku menyimak setiap kata yang meluncur dari bibir sahabatku.
"Tapi ya gitu..." sambung Kania mendesah pelan. "Mas Iyan tuh dari dulu memang nakal, suka dekat-dekat sama cewek lain di belakang Kak Sabrina. Tapi Kak Sabrina tuh tipe cewek yang enggak pernah menyerah. Kadang kalau cewek yang didekati Mas Iyan itu dikenal sama Kak Sabrina, Kak Sabrina dengan sangat percaya diri bakal datang dan melabrak cewek itu langsung."
Aku terdiam sejenak, mengingat kembali potongan obrolan singkatku bersama Adrian di masa lalu.
"Tapi, Nia..." potongku pelan. "Mas Adrian pernah bilang ke aku kalau dia sama Kak Sabrina tuh sebenarnya sudah putus."
Kania mengangguk-angguk paham. "Bisa jadi sih, Ser. Soalnya mereka kan memang beda agama. Lagian keluarganya Kak Sabrina juga dari dulu agak kurang sreg sama Mas Iyan."
Aku menghembuskan napas panjang, merasakan potongan-potongan teka-teki tentang sosok Adrian kini akhirnya tersusun utuh di dalam benakku.
"Pantesan..." bisikku lirih seraya menatap ke luar jendela kamar. "Makanya sekarang mereka cuma berteman biasa."
Di dalam kamarku yang tenang siang itu, percakapan bersama Kania perlahan mengikis sisa-sisa bayangan indah tentang Adrian. Pria yang dulu kuanggap sempurna kini telah kehilangan pesonanya sepenuhnya, meninggalkan kenyataan bahwa aku telah mengambil keputusan paling tepat untuk melangkah pergi dari kehidupannya.
Kania mendadak menatap mataku lekat-lekat, raut wajahnya berubah terheran-heran.
"Tapi anehnya ya, Sera..." tutur Kania dengan nada suara bingung, "sebenarnya semenjak Mas Iyan dekat sama kamu, dia tuh berubah banget. Dia enggak pernah bangun siang lagi! Dia selalu bangun pagi, buktinya Nia kan sekarang udah jarang banget kesiangan ke sekolah. Terus dia juga jadi rajin banget kuliahnya..."
Kania mendesah pelan, memegang kedua jemariku di atas kasur. "Makanya Nia bener-bener heran... kenapa coba pas dia udah berubah sejelas itu, dia malah berulah lagi?!"
Pertanyaan polos dari Kania itu menggantung di udara. Aku menatap keluar jendela kamar, menyadari bahwa perubahan positif seseorang ternyata tidak serta-merta menjamin kejujuran dan kesetiaan di dalamnya.