Indonesia
NovelToon NovelToon
Tukang Ojek Online Bisa Melihat Masa Depan

Tukang Ojek Online Bisa Melihat Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Dirga, seorang office boy dan pengemudi ojek online, rela berutang belasan juta rupiah demi membahagiakan kekasihnya, Eri. Namun, ketulusannya dibalas pengkhianatan kejam. Eri membuangnya demi Leon, putra konglomerat kaya. Harga diri Dirga diinjak-injak, diusir calon mertuanya, dan dipecat secara tidak hormat dari PT Nusa Investama.

Dalam kondisi terpuruk dan kelaparan, Dirga ditabrak sedan mewah milik Lisa. Di ambang kematian, leluhurnya hadir membuka Mata Batin yang memberinya kemampuan melihat penglihatan masa depan. Bersama Lisa dan kekuatan barunya, Dirga siap bangkit dari penderitaan demi membalas setiap hinaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Pengujian Kebenaran

Dering jarum jam dinding di dalam ruang kerja megah Larasati Group bergema samar menembus keheningan malam. Jarum pendek telah menunjuk ke angka sebelas, namun Lisa Larasati masih terduduk kaku di balik meja mahoni berukir milik sang ayah. Keheranan dan keraguan yang membuncah sejak pertemuannya dengan Dirga di kedai kopi tadi sore sama sekali belum surut. Sebaliknya, misteri mengenai sosok pemuda berjaket kusam itu makin menghantui pikirannya.

Bagaimana mungkin seorang pengemudi ojek online, yang dulunya hanya seorang petugas kebersihan biasa, mampu menyebutkan rincian akuisisi rahasia PT Arisandra Karya? Dari mana ia tahu nama Direktur Keuangan, kode enkripsi server, hingga transaksi gelap di Bank Swasta Singapura? Apakah ucapan Dirga hanyalah gertakan licik, ataukah sebuah peringatan nyata yang sedang menentukan nasib kekaisaran bisnis keluarganya?

Lisa menghela napas panjang. Logika rasionalnya sebagai lulusan manajemen korporat terkemuka menolak mempercayai hal ajaib. Namun, ingatan tentang insiden perselingkuhan mantan kekasihnya di Kamar 808 Hotel Grand Paramita menjadi hantaman keras yang tak bisa ia abaikan. Dirga tidak pernah salah.

Dengan jemari yang sedikit bergetar, Lisa meraih ponsel pintarnya dan menekan tombol panggilan cepat.

"Halo, Pak Reza?" panggil Lisa begitu sambungan terhubung. Suaranya ditekan serendah mungkin, memancarkan kewaspadaan yang tinggi.

"Selamat malam, Bu Lisa," jawab Reza, Kepala Divisi Teknologi dan Keamanan Informasi Larasati Group, dari balik telepon. Suaranya terdengar kaget menerima telepon di larut malam. "Ada yang bisa saya bantu, Bu? Apakah ada masalah darurat di kantor?"

"Saya butuh bantuan Anda malam ini juga, Reza. Ini sifatnya sangat rahasia dan tidak boleh diketahui oleh siapa pun, termasuk jajaran direksi lain," tegas Lisa dengan nada bicara formal dan dingin.

"Baik, Bu Lisa. Saya mendengarkan. Apa yang harus saya lakukan?"

"Saya ingin Anda membuka akses log transaksi internal server pusat untuk akun Direktur Keuangan, Pak Surya. Saya butuh data lalu lintas transfer antar bank dalam kurun waktu dua bulan terakhir, khususnya yang menggunakan jalur enkripsi khusus menuju luar negeri."

Hening sejenak di seberang telepon. Reza tampaknya terkejut dengan permintaan yang tak biasa tersebut. "Bu Lisa... memeriksa akun Pak Surya secara diam-diam? Beliau adalah Direktur Keuangan senior. Jika beliau mengetahui saya membuka log aksesnya tanpa persetujuan tertulis—"

"Saya yang bertanggung jawab penuh atas perintah ini, Reza!" pangkas Lisa tanpa ragu. "Saya memegang kewenangan penuh atas nama keluarga Larasati. Lakukan verifikasi identitas saya sekarang jika Anda ragu, lalu berikan saya akses baca langsung ke terminal kerja saya dalam sepuluh menit."

"Baik, Bu Lisa. Berikan saya waktu delapan menit untuk membypass otorisasi sekunder," jawab Reza patuh.

Lisa mematikan sambungan telepon. Ia menyandarkan punggungnya, menatap layar monitor komputer di hadapannya yang masih menampilkan logo perusahaan. Hatinya bertarung hebat. Di satu sisi, ia merasa bersalah karena telah mencurigai Pak Surya, sosok paman yang telah mengabdi belasan tahun bagi keluarganya. Namun di sisi lain, ketegasan dan bola mata Dirga yang begitu jernih tanpa cela terus terbayang di benaknya, seolah menuntut pembuktian atas harga diri dan kebenaran.

Delapan menit berlalu tepat waktu. Layar monitor Lisa berkedip cepat sebelum akhirnya menampilkan antarmuka hitam berpola garis hijau, akses terminal khusus server pusat.

Lisa menarik napas dalam-dalam, mengingat kembali setiap kata yang diucapkan Dirga dengan sangat detail. Pencarian transaksi tersembunyi dengan kode enkripsi akun khusus menuju rekening penampung di Bank Swasta Singapura atas nama PT Arisandra Mega Pratama.

Jemari Lisa menari cepat di atas papan ketik. Ia memasukkan parameter pencarian yang persis seperti petunjuk Dirga. "PT Arisandra Mega Pratama... Enkripsi khusus... Bank Swasta Singapura..."

Layar komputer memproses data selama beberapa detik. Baris-baris kode berkejap cepat. Lisa memegang dadanya yang berdetak kencang. Ia berharap dalam hati agar sistem menampilkan hasil kosong, agar tuduhan Dirga terbukti salah dan ia bisa bernapas lega.

Namun, harapan itu hancur berkeping-keping.

sebuah jendela pop-up merah menyala di tengah layar. Sistem berhasil menemukan satu berkas tersembunyi berlabel 'Audit_Internal_Draft_Valuation'.

Napas Lisa tercekat. Tangan kanannya yang memegang mouse terasa begitu dingin dan kaku. Dengan jantung yang berdegup kencang, ia membuka berkas tersembunyi tersebut.

Rangkaian angka, tabel akuntansi, dan salinan dokumen otorisasi bank terpampang jelas di layar monitor. Lisa membelalakkan matanya, membaca baris demi baris dokumen rahasia itu dengan rasa tidak percaya yang amat sangat.

Di sana, terlampir laporan keuangan ganda milik PT Arisandra Karya. Laporan resmi yang diajukan ke meja akuisisi Larasati Group menyatakan bahwa perusahaan tersebut bersih dari utang luar. Namun di dalam berkas tersembunyi ini, terungkap bahwa PT Arisandra Karya memiliki beban obligasi bermasalah bernilai lebih dari tiga ratus miliar rupiah yang sengaja ditutupi.

Lebih mengerikan lagi, di lembar berikutnya terdapat salinan instruksi transfer dana taktis bertanggal tiga minggu lalu. Dana sebesar sepuluh miliar rupiah telah ditransfer dari rekening penampung PT Arisandra Mega Pratama di Singapura menuju sebuah rekening swasta atas nama istri muda Pak Surya, Direktur Keuangan Larasati Group.

"Tidak mungkin..." bisik Lisa, suaranya bergetar hebat. Air mata kebingungan dan kekecewaan mulai menetes di pipinya. "Pak Surya... dia benar-benar melakukan ini?"

Ponsel di atas meja kembali berdering, mengejutkan Lisa. Nama Reza muncul di layar. Lisa mengangkatnya dengan tangan yang gemetar.

"Halo, Reza..." suara Lisa terdengar amat lirih.

"Bu Lisa! Anda sudah melihatnya?" suara Reza di seberang telepon terdengar sangat panik dan terguncang. "Saya ikut memantau pergerakan data dari terminal pusat! Ini... ini gila, Bu! Pak Surya merancang skema akuisisi ini untuk melimpahkan utang obligasi bodong PT Arisandra Karya ke Larasati Group! Jika dokumen utama ditandatangani besok siang, perusahaan kita wajib menanggung utang tiga ratus miliar tersebut, sementara Pak Surya mendapat komisi sepuluh miliar di Singapura!"

Lisa memejamkan matanya rapat-rapat. Rasa mual dan pusing mendadak menghantam kepalanya. Kebenaran yang sangat pahit itu kini telanjang bulat di depan matanya.

"Reza..." ucap Lisa, mencoba mempertahankan sisa-sisa ketegaran kepemimpinannya. "Amankan seluruh bukti transaksi ini ke dalam drive terenkripsi pribadi saya. Kunci akses Pak Surya ke server keuangan mulai detik ini, tetapi buat seolah-olah sistem hanya sedang mengalami gangguan teknis biasa agar dia tidak curiga."

"Baik, Bu Lisa! Lalu bagaimana dengan rapat penandatanganan akuisisi besok siang bersama dewan komisaris dan pihak PT Arisandra Karya?"

"Rapat besok akan tetap berjalan sesuai jadwal," kata Lisa dengan intonasi yang mendadak berubah menjadi dingin dan tajam. "Tapi jalannya rapat tidak akan pernah sama seperti yang mereka rencanakan."

Setelah mematikan telepon, Lisa bersandar pada kursi kerjanya. Tubuhnya gemetar, bukan lagi karena rasa panik, melainkan karena perpaduan antara kemarahan yang membakar dan rasa takjub yang tak terlukiskan.

Pandangan Lisa tertuju pada pulpen sederhana milik Dirga yang tadi sore diletakkan di atas meja kedai kopi, yang kini telah ia bawa dan di letakkan di samping monitornya.

Setiap perkataan pemuda berjaket kusam itu... setiap rincian teknis, nama anak perusahaan, kode enkripsi, hingga fakta pengkhianatan Direktur Keuangan... semuanya terbukti seratus persen presisi tanpa ada kekeliruan sedikit pun.

Lisa menggenggam pulpen milik Dirga erat-erat. Pikiran dan logikanya runtuh total. Ia memikirkan bagaimana sosok Dirga yang selalu dipandang rendah oleh masyarakat, diputus hubungan oleh kekasihnya, dihina oleh keluarga kaya, dan dipecat sebagai petugas kebersihan, justru menyimpan kekuatan serta kearifan luar biasa yang tak sanggup dijangkau oleh siapapun.

Dirga tidak hanya memiliki kemampuan melihat masa depan yang melampaui nalar manusia, tetapi juga memiliki harga diri yang sangat agung. Pemuda itu bisa saja meminta imbalan puluhan miliar atas informasi berharga ini, namun ia menolak uang ganti rugi lima puluh juta rupiah dan memilih pergi meninggalkan peringatan demi menyelamatkan Larasati Group dari kehancuran.

"Siapa kamu sebenarnya, Dirga...?" gumam Lisa lirih di tengah keheningan ruang kerjanya yang luas.

Airmata Lisa menetes menimpa pulpen di genggamannya. Di dalam dadanya, rasa bersalah, penyesalan atas perlakuan buruknya di masa lalu, dan rasa hormat yang mendalam mulai tumbuh membesar, menggantikan keangkuhan status sosial yang selama ini menyelimutinya.

Pengujian kebenaran malam itu telah selesai. Ucapan sang pengemudi ojol terbukti sebagai kenyataan yang menyelamatkan perusahaan keluarganya. Kini, Lisa menyadari bahwa takdirnya telah terikat rapat dengan sosok pemuda yang teramat misterius itu.

Di balik layar monitor yang masih menampilkan bukti transfer ilegal Direktur Keuangannya, Lisa membulatkan tekad, besok, setelah membereskan para pengkhianat di perusahaannya, ia sendiri yang akan datang berlutut dan memohon ampun di hadapan Dirga.

1
Adelina Lin
thor, balaskan kehancuran Dirga pada dua orang manusia yang sudah menginjak injak harga dirinya, kasihan Dirga
Rizky Fadillah: Kalo sampai naif mc nya ini author nya yg sebagai pembuat karakter dan jalan pikiran mc nya bodoh tolol
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!