Indonesia
NovelToon NovelToon
Serpihan Dirimu

Serpihan Dirimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Lari Saat Hamil / Anak Genius / Hamil di luar nikah / Menikah Karena Anak
Popularitas:56.1k
Nilai: 5
Nama Author: KyGe

Mimpi Davina Sandrina hanya dua: menjadi pelukis terkenal dan menikah dengan Kenandra Hammasta, kekasihnya yang sudah dipacarinya selama dua tahun. Tapi takdir tak pernah memihaknya pada mimpi manapun.

Kemalangan menghampirinya kala kekasihnya ketahuan selingkuh dengan wanita lain. Belum juga meminta putus, Kenandra malah memerkosanya saat mabuk hingga hamil.

Tapi benci sudah terlanjur mendarah daging, Davina tak sudi mengandung anak dari kekasih brengseknya. Setelah gagal menggugurkannya, Davina memilih pergi ke Hungaria, jauh dari radar kekasihnya.

Lima tahun kemudian, segalanya telah berubah. Davina yang tak jadi menggugurkan kandungannya kini telah memiliki seorang anak lelaki tampan, dingin dan jenius dalam seni. Dan disaat hidupnya mulai bahagia, dia kembali bertemu dengan kekasihnya.

Tapi kebenaran mulai terungkap kala ayah dari anaknya bukanlah kekasihnya melainkan kembarannya, Keandra Hammasta. Dengan Dave, anak Davina yang menghubungkan takdir kedua orang tuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KyGe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28. Keluarga di atas kanvas Dave

Seorang anak lelaki dengan celemek coklat tengah berada di kamarnya yang penuh dengan kanvas dan alat lukis. Dave, sang pelukis cilik duduk tenang di depan kanvas, kuas di tangan mungilnya menari-nari dengan semangat yang sulit dibendung. Senyum terukir jelas di wajahnya, mengiringi setiap sapuan warna yang ia letakkan di atas kain putih itu. Hari ini, untuk pertama kalinya, Dave melukis sesuatu yang cerah—penuh warna, harapan, dan kehangatan.

Gambaran suasananya hari ini.

Biasanya, ia butuh waktu berjam-jam untuk menyelesaikan satu lukisan. Namun kali ini, hanya satu jam. Satu jam yang penuh kegembiraan, dan itu menjadi waktu tercepat sepanjang ia dikenal sebagai pelukis cilik.

Tiba-tiba, ponsel kecilnya berdering. Layar memperlihatkan nama yang dirindukannya setelah kembali ke Indonesia—Linda, pelatih lukisnya di Hungaria. Dave segera mengangkatnya.

"Szia, Linda! Hogy vagy?" sapa Dave riang.

(Halo, Linda! Apa kabar?)

"Szia, Dave! Jól vagyok, és te? Rég hallottam rólad." balas Linda di seberang sana.

(Halo, Dave! Aku baik-baik saja, dan kamu? Sudah lama tidak mendengar kabarmu.)

"Nagyon jól vagyok! Tudod mit? Mama már jobban van!”beritahu Dave.

(Aku sangat baik! Kau tahu? Mama sudah membaik!)

"Ez fantasztikus hír! Nagyon örülök neki.”Linda mendesah lega.

(Itu kabar yang luar biasa! Aku sangat senang mendengarnya.)

"És képzeld! Mama és Papa… összeházasodnak! Most már teljes családom van.”ucap Dave bahagia. Di seberang sana, Linda terdengar kembali bersorak kencang.

(Dan coba tebak! Mama dan Papa menikah! Sekarang aku punya keluarga yang lengkap.)

"Ez csodálatos, Dave! Tudtam, hogy erős kisfiú vagy. Nagyon büszke vagyok rád." pujinya.

(Itu luar biasa, Dave! Aku tahu kau anak yang kuat. Aku sangat bangga padamu.)

"Köszönöm, Linda! És nézd! Készítettem egy festményt csak ma reggel. A leggyorsabban amit valaha festettem!”Kini Dave beralih memamerkan lukisannya pada Linda.

(Terima kasih, Linda! Dan lihat! Aku membuat lukisan pagi ini. Yang tercepat yang pernah kubuat!)

"Alig várom, hogy lássam! Küldj egy képet, jó?”pinta Linda. Terdengar nada bangga dalam suaranya.

(Aku tak sabar ingin melihatnya! Kirim fotonya, ya?)

"Igen! Most azonnal!”balas Dave.

(Iya! Akan kukirim sekarang juga!)

Setelah percakapan singkat namun penuh makna itu berakhir, pintu kamarnya diketuk pelan. Wulan, pengasuhnya yang di berikan Keandra untuk mengurus segala kebutuhan anak itu menampakkan wajah ramah di ambang pintu.

“Dave, Mama dan Papa sudah datang,”ucapnya lembut.

Mata Dave langsung berbinar. Tanpa berkata apa pun, ia meraih lukisan yang masih segar dan penuh warna itu, lalu berlari kecil dengan langkah ringan menuju tempat orang tuanya. Hatinya dipenuhi kebahagiaan sederhana: ia akan menunjukkan lukisan itu kepada orang-orang yang paling ia cintai di dunia. Mama dan Papa—yang kini dengannya menjadi satu keluarga utuh.

***

Keandra terdiam mendengar ucapan Davina. Satu kamar bersama? Jelas dia tak ingin. Dia tak pernah mencintai perempuan itu. Tapi mengingat bahwa Davina selama ini mengira dia adalah Kenandra, kekasihnya yang mencintainya jadi dia harus berpura-pura cinta pada Davina.

"Kak Andra, kok bengong?" tegur Davina.

"Mmm, kita tidur bersama. Tapi mengingat kamu mungkin kurang nyaman dengan interior di rumahku yang sangat terlihat laki-laki, makanya kusiapkan kamar lain dengan nuansa lebih terang dan indah. Jadi bagaimana?" tanya Keandra.

"Mm, mau tidur di manapun juga boleh. Asal aku dan kamu." balas Davina.

Keandra menganggukan kepalanya.

"Kamu lelah? Mau istirahat sebentar? Nanti aku bangunkan untuk makan siang." ucap Keandra lembut. Dalam hati dia cukup kesal karena harus terus berpura-pura seperti ini.

Davina menggeleng, "Aku cuma mau sama Kak Andra saja." balas Davina manja.

Keandra hanya tersenyum kaku. Kesal.

Langkah kecil Dave menginterupsi mereka. Anak kecil itu memeluk Davina yang duduk di kursi roda dengan sebelah tangannya tetap memegang kanvas. Davina membalas pelukan anaknya.

"Mama, Dave kangen." lirih Dave. Dia senang ibunya kembali.

"Mama juga, Dave." meski agak aneh bahwa Davina tak mengingat anaknya sendiri tapi Davina memutuskan untuk menyayangi Dave agar ingatannya segera pulih.

Keandra hanya diam melihat interaksi manis ibu dan anak tersebut. Lelaki itu lalu melirik kanvas lukisan buatan Dave.

"Kamu melukis, Dave?" tanya Keandra.

Dave menoleh pada papanya lalu mengangguk dengan semangat. Anak itu lalu memperlihatkan hasil lukisannya.

Davina dan Keandra sama-sama terpukau dengan hasil lukisan Dave. Terlebih Keandra, ini pertama kalinya melihat lukisan Dave secara langsung di depan empunya. Jadi papa muda itu nampak sangat terpukau. Sementara Davina tak menyangka bahwa anak kandungnya itu mewarisi kemampuan seninya.

"Kamu bisa melukis, sayang? Kamu benar-benar anakku." gumam Davina terharu. Dia tak perlu meragukan apapun lagi soal Dave karena seni mengalir pada kedua darah berbeda generasi ini.

"Ini adalah kali pertama aku melukis dengan banyak warna seperti ini. Mama dan papa, aku senang karena kita bisa berkumpul bersama. Sama seperti di lukisan ini, ayo kita piknik!" ujar Dave riang.

Davina tersenyum lantas mengangguk, "Ayo, Dave. Kak Andra mau kan?" tanya Davina mengalihkan tatapannya pada suaminya.

Keandra mengangguk, "Papa nanti atur semuanya, ya." balas Keandra mengelus rambut anaknya sayang.

Davina tersenyum. Setelah penderitaan panjangnya, kini dia telah menemukan muara bahagianya. Dia hanya berharap bahwa ini bukanlah kehidupan semu.

***

Tapi nyatanya, asa Davina tak sesuai dengan realita yang ada. Davina yang terbuai dengan perlakuan manis Keandra di masa-masa awal, lupa bahwa penderitaan adalah nama belakangnya.

Senja merambat pelan di langit barat, menyinari rumah berarsitektur minimalis yang berdiri tenang di ujung perumahan elit. Udara terasa sejuk, menembus tirai-tirai tipis yang menggantung di ruang tamu. Di sudut ruangan, Davina duduk di kursi roda, mengenakan gaun tidur lembut berwarna gading. Rambutnya yang setengah kering disisir rapi ke belakang, dan wajahnya terlihat lelah, namun tetap menyimpan harapan.

Sudah beberapa minggu sejak ia keluar dari rumah sakit. Ingatannya belum pulih tetapi semangatnya untuk bangkit tetap membara. Terlebih kini ada dua penyemangat hidupnya. Davina tak ingin menyia-nyiakan hidupnya lagi, dia harus berlari mengejar kebahagiaannya.

Seiring waktu, sesuatu mulai berubah.

Pintu rumah terbuka. Keandra masuk, mengenakan kemeja abu-abu yang sedikit kusut. Tatapannya kosong, langkahnya berat. Ia tidak langsung menghampiri Davina, hanya meletakkan tas di atas meja, lalu membuka kancing atas kemejanya sambil berjalan menuju dapur.

Davina mengikuti dengan mata. Ia menghela napas pelan, lalu dengan gerakan lambat menggulirkan roda kursinya mendekat ke arah meja makan.

"Kamu lembur lagi ya?" Davina sudah tahu bahwa Keandra adalah seorang CEO perusahaan yang itu berarti suaminya tak lagi menjadi seniman seperti dulu.

Keandra hanya melirik sekilas. Lalu asik makan. Davina menghela nafas, lagi-lagi dia di acuhkan.

Keandra lalu membuka lemari es, mengambil sebotol air mineral, dan meminumnya langsung dari botol tanpa berkata apa-apa.

Melihat itu, Davina menuju pantry membawa segelas teh yang sudah dia siapkan. Davina menggigit bibir bawahnya. "Aku membuatkan teh seperti yang biasanya kamu suka. Dengan jahe sedikit."

Keandra melirik gelas tersebut yang diletakkan Davina di meja, uapnya mengepul ringan, lalu kembali menatap kosong ke arah jendela. "Tidak usah repot-repot."

Keandra tak suka teh jahe.

"Oh..." Davina menunduk. Jari-jarinya meremas pelan kain di pangkuannya. Ia mencoba tersenyum. "Tadi Dave cerita kalau kamu menjemputnya di sekolah. Dia sangat senang. Terima kasih, Kak Andra."

Keandra duduk di salah satu kursi makan, namun tidak berkata apa-apa. Matanya terus terpaku pada ponsel di tangannya. Wajahnya seperti menyimpan sesuatu yang tidak ingin dibagi.

"Itu sudah kewajibanku." balasnya acuh.

Davina memberanikan diri. "Kak, akhir-akhir ini kamu berubah. Kamu jarang bicara padaku. Kalau Dave ada, kamu tersenyum, kamu hangat. Tapi saat kita hanya berdua..." Ia berhenti sejenak, suaranya melemah, "Aku merasa asing." lanjutnya.

Keandra tidak langsung menjawab. Ia meletakkan ponselnya, kemudian menatap Davina dengan pandangan dingin yang belum pernah ditunjukkan sebelumnya.

"Kamu terlalu sensitif," ucapnya datar. "Aku hanya lelah. Jangan pikir macam-macam."

"Tapi..." Davina menelan ludah. "Kamu berbeda, Kak. Dulu kamu begitu sabar. Kamu yang menenangkanku saat aku tak bisa mengingat apa-apa. Kamu yang bilang kamu akan tetap di sini, meskipun aku lumpuh."

Keandra berdiri dari kursinya. Wajahnya tak menunjukkan simpati, hanya kelelahan dan kejengahan yang samar.

"Aku tidak pernah berjanji akan terus memanjakanmu, Davina," ujarnya. "Dan kalau kamu merasa aku berubah, itu adalah kenyataan yang harus kamu sadari dengan jelas."

"Maksud kakak apa?" tanya Davina bingung.

Keandra diam, dia salah bicara. Belum waktunya Davina tahu.

"Aku ke atas dulu." ujarnya menyudahi pembicaraan.

Keandra berjalan meninggalkan Davina sendiri. Dan naik tangga.

"Kenapa Kak Andra malah ke atas? Kamarnya kan dibawah." gumam Davina.

Benar, demi Davina yang mobilisasinya masih memakai kursi roda, mereka tidur di kamar bawah.

****

Gimana, Keandra kayaknya mulai nunjukkin sifat aslinya, nih. Dia kan emang gak tahan pura-pura padahal selama 5 tahun ini dia terus bermain peran di depan seluruh orang.

hmmmm

Aku up ini di jam 02.35 guys, asli ketiduran parah selama beberapa malam ini. Huhu.

Btw, mau lihat hasil lukisan Dave?

Judulnya : Család (Keluarga)

(Ucapannya: tʃɒlaːd)

Kan Dave orang Hungaria hihi, jadi banyak lukisannya judulnya dari Bahasa Hungaria atau Latin. Anaknya Keandra emang jenius yaa😭

1
mama
gk kaget lah,ujung2 pasti gini kan ceritanya🤣
Henik Irawati
sll dan sll berakhir dgn kecelakaan
Hariyanti
😒😒 bpknya sendiri yang kasih perintah untuk matiin anaknya tp salah sasaran 😤
mama
hadeeeh syg sekali,pdhl cerita bagus tp jarang up.sekali up cm 1x
KyGe: aku bakal up lebih sering kok kak. Tolong di nantikan yaa
total 1 replies
Reni Setia
aku heran lho thor,,, kok alur cerita mu berputar putar dari yg Keandra plin plan dan terus dekat dengan Vidya dan Davina yg selalu tersakiti tapi masih mau Terima Keandra
apa karena terlalu lama up ya jadi lupa ceritanya,,, konfliknya itu itu terus
mama
bojomu di bully semua org wooiii,masak seorang CEO gk tau.. bangetan oon ny jd suami
mama
up ny lama bgt,smpe lupa cerita ny.. mending tinggalin aja tu suami plin plan macam itu Dev..
Reni Setia
semakin susah di pahami nih Keandra yg plin plan dan lagi lagi Davina yg selalu tersakiti dan aneh nya kok ya harus bertahan di tengah tengah suami dan mertua yg tak bisa di harap
Hariyanti
😔😔😔😔 nanggung
KyGe: tenang kakak
total 1 replies
Hariyanti
yaaa nunggu lg🤦
Hariyanti
Thor... pertemukan Sindi dgn jodohnya.jgn dgn Elang... sama yg lain saja🤔
KyGe
siapp kakk
Hariyanti
jangan lupa Thor 😑
Hariyanti
hah....... siapa yang fitnah 🤔
Hariyanti
jadi kenandra kecelakaan hasil karya sang ayah yg salah sasaran 😐😐😐😬
Hariyanti
next
Hariyanti
wah kejutan 🙄
Dewi Sartika
seru thor...up yg banyak
Hariyanti
up.....up ...
Hariyanti
jgn lama up nya Thor. keburu lupa 😑
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!