Kainara Seroja Putri tidak pernah menyangka kematian akan membawanya kembali ke tahun 1972, terbangun dalam tubuh Seroja Ningsih, gadis desa lemah yang baru saja dibuang oleh ayah kandungnya sendiri.
Dengan bekal sistem game pertanian dan pengetahuan dari masa depan, Seroja harus menghidupkan tanah kapur tandus yang dianggap tidak berguna, mencari jalan untuk bertahan hidup, serta mengembalikan harga diri ibunya yang telah diinjak-injak.
Namun, ketika tanah buangan itu perlahan berubah menjadi sumber kekayaan, Seroja justru menarik perhatian orang-orang yang selama ini menyembunyikan rahasia kelam keluarganya. Sebuah rahasia yang dapat mengubah hidupnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Tembok Kemiskinan
"Barang lokal tidak punya tempat di meja jamuan Gubernur, Pak Subroto. Kami menjaga standar kelas atas."
Suara berat Pak Anton menggema di dapur Hotel Nusantara. Kepala Katering hotel termewah itu melipat lengan di depan dada. Ia menatap dua keranjang bambu di lantai dengan sebelah alis terangkat. Koki-koki bawahannya sibuk berlalu-lalang membawa nampan, tak mempedulikan kehadiran Seroja dan Pak Subroto.
Seroja berdiri diam. Hawa dingin dari lemari es raksasa menerpa tengkuknya. Ini pertama kalinya ia menembus batas bisnis tingkat tinggi. Hubungannya dengan Pak Subroto berhasil membawa gadis itu masuk lewat pintu belakang hotel megah ini.
"Bapak belum mencicipinya, Pak Anton," bujuk Pak Subroto sabar sambil menepuk bahu Seroja pelan. "Seroja merawat melon ini sendiri. Rasa dan teksturnya jauh di atas panen biasa."
Pak Anton mendengus. Ia menunjuk tumpukan kotak kayu berlogo luar negeri di atas meja besi. "Lihat kotak itu? Kami mendatangkan melon impor langsung dari Singapura. Buahnya seragam, kulitnya mulus, wanginya terjamin. Malam ini Bapak Gubernur menjamu tamu kementerian. Saya tidak mau ambil risiko menyajikan buah dari kebun kapur."
Seroja merapatkan bibir. Ingatannya berputar pada wajah lelah Danu yang menahan tiang bambu saat badai, dan jemari pucat Doni yang telaten merajut alas pelepah pisang. Keringat keluarganya direndahkan begitu saja hanya karena selembar label kertas luar negeri.
Seroja melangkah maju, mengikis jarak dengan Kepala Katering itu. Gadis berkebaya lurik tersebut mendongak, menatap langsung ke mata Pak Anton tanpa ragu.
"Standar kelas atas tidak dinilai dari cap di luar kotaknya, Pak Anton," ucap Seroja lugas. Suaranya tenang, membuat koki eksekutif itu mengerutkan kening. "Standar itu dinilai dari apa yang menyentuh lidah tamu Bapak."
Pak Anton mengangkat dagu, tersinggung. "Kamu berani mengajari saya menyajikan hidangan, Nduk?"
"Saya menawarkan solusi tanpa risiko untuk hotel Bapak," balas Seroja cepat, memotong ucapan pria itu.
Seroja berjongkok dan menyingkirkan daun pisang penutup keranjangnya. Wangi manis melon seketika menguar, mengalahkan bau mentega cair di dapur itu. Seroja mengangkat satu buah melon berukuran kepalan tangan orang dewasa lebih. Kulitnya hijau kekuningan cerah, padat, dan bersih.
"Saya tidak minta kontrak pasokan hari ini," lanjut Seroja. Ia meletakkan melon itu di atas meja besi tepat di depan Pak Anton. "Saya tawarkan uji coba sepuluh buah melon madu terbaik saya. Gratis. Bapak bisa mengirisnya dan menyajikan potongan itu khusus di meja Bapak Gubernur malam ini, bersebelahan dengan melon impor Bapak."
Pak Subroto menoleh menatap Seroja. Ia takjub mendengar cara gadis itu bernegosiasi. Tidak ada nada mengemis. Seroja langsung menantang ego koki kepala tersebut.
"Kalau Bapak Gubernur menyisakan melon saya dan lebih memilih buah Singapura, Bapak tidak rugi sepeser pun. Saya akan angkat kaki dan tidak akan kembali ke dapur ini," tegas Seroja mengalahkan suara denting panci. "Tapi, kalau Bapak Gubernur memuji buah ini, Hotel Nusantara harus membayar pasokan saya berikutnya dengan harga premium. Jauh di atas harga pasar."
Pak Anton terdiam. Matanya lekat menatap melon di atas meja. Wangi buah itu merayap naik, memancing air liurnya. Puluhan tahun menjadi koki, ia langsung mengenali kualitas barang di depannya. Buah itu padat, menjanjikan daging yang renyah dan banyak air.
Tawaran sepuluh buah gratis itu terlalu sayang ditolak. Ia bisa mengamankan hidangan penutup dan panen pujian kalau buah itu benar-benar memuaskan lidah gubernur.
"Tinggalkan sepuluh buah di sini," putus Pak Anton akhirnya. Ia melambaikan tangan memanggil dua asisten koki. "Cuci bersih dan potong dadu. Kita lihat apa ucapanmu sebanding dengan rasanya."
Seroja tersenyum tipis. Ia mengangguk hormat, lalu berbalik dan berjalan keluar lewat pintu belakang.
Di area bongkar muat yang remang, Bagas duduk menunggu di atas lori tebu. Pemuda itu terus mengusap belakang lehernya, gelisah. Ia langsung melompat turun begitu melihat Seroja dan Pak Subroto keluar.
"Gimana, Nduk? Mereka mau beli?" tanya Bagas penuh harap.
"Mereka mengujinya malam ini, Mas," jawab Seroja pelan.
Seroja bersandar pada dinding bata hotel. Matanya menatap jalanan kota yang mulai diterangi lampu kuning. Jantungnya berdebar kencang menunggu hasil. Ia mengingat senyum ibunya tadi pagi. Ia melakukan ini untuk mengangkat derajat Siti. Ia akan membuktikan pada Hardiman dan Ningrum, bahwa tembok kemiskinan bisa dihancurkan lewat otak dan kerja keras.
Malam merangkak turun menyelimuti kota. Lampu-lampu kristal raksasa di ruang perjamuan Hotel Nusantara menyala terang. Suara gamelan halus mengalun, menyatu dengan denting sendok garpu dari puluhan meja bundar.
Seroja duduk di bangku kayu parkiran belakang. Ia merapatkan kebaya luriknya menahan embusan angin malam. Bagas tertidur bersandar pada roda besi lori.
Di dalam ruang perjamuan, Gubernur Jawa Tengah duduk di meja utama, dikelilingi bupati dan pejabat tinggi. Pria bersafari gelap itu baru selesai menyantap daging sapi lada hitam. Ia mengangkat tangan, memberi isyarat agar hidangan pencuci mulut segera disajikan.
Pelayan berseragam rapi mendekat membawa nampan perak. Di atasnya terletak potongan buah melon dadu di dalam mangkuk kristal beralas es serut. Separuh mangkuk berisi melon impor, separuhnya lagi melon madu Seroja yang berwarna hijau cerah.
Gubernur mengambil garpu kecil. Ia menusuk satu potong melon madu Seroja dan memakannya.
Kunyahannya berhenti mendadak.
Mata pria itu sedikit melebar. Rasa manis dan segar langsung menyapu lidahnya. Daging buahnya renyah, berair, dan wangi. Rasa lelah sehabis rapat seharian terasa menguap. Ia menelan potongan pertama, lalu cepat-cepat menusuk potongan kedua, berlanjut ke potongan ketiga. Ia sama sekali tidak menyentuh melon impor di sisi mangkuk yang lain.
Ajudan yang berdiri di belakang kursinya maju selangkah. "Ada yang kurang pas, Pak?"
Gubernur meletakkan garpunya. Setengah isi mangkuk kristal itu ludes tanpa sisa. Ia menyeka bibir dengan serbet kain putih.
"Panggil manajer hotel dan koki kepalanya ke sini sekarang," perintah Gubernur tenang, tapi nadanya menuntut kelincahan.
Dua menit kemudian, Pak Anton dan Manajer Hotel berjalan tergopoh-gopoh mendekati meja utama. Keringat membasahi dahi Pak Anton. Ia menunduk hormat. Jantungnya berdebar kencang, bersiap menerima teguran di depan para pejabat.
Gubernur menatap kedua petinggi hotel itu. Ia menunjuk mangkuk kristalnya.
"Buah ini sangat wangi dan manis. Beda dari biasanya," puji Gubernur. Suaranya membuat para bupati di meja itu ikut menoleh. "Siapa pemasoknya? Saya mau tahu dari mana buah ini berasal."
seroja nggak bisa bela diri kah...?