Indonesia
NovelToon NovelToon
Jodoh Dadakanku

Jodoh Dadakanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Romansa Fantasi
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Wulan Antya

Hidup mati seseorang tidak ada yang tahu.
Begitupun dengan jodoh.

Hawa yang memberontak karena dijodohkan dengan kakak kelasnya akhirnya mencoba menerimanya, dengan perjanjian agar di rahasiakan. mengingat mereka masih duduk di bangku sekolah, tapi qodarullah ibu Hawa sakit dan meminta Hasby mengucap ijab kabul secara rahasia di tempat ibu Hawa dirawat. ibunya meninggal dengan tenang karena Hawa tidak sendiri lagi, sudah ada Hasby dan keluarga barunya.

Dengan berat hati Hawa menerima status barunya itu serta mencoba menjalaninya. Entah mampu bertahan atau berhenti ditengah jalan, Hawa tak tahu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wulan Antya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 25

Udara pagi yang segar ia hirup dalam-dalam untuk mengisi paru-parunya. Sangat bersih dan segar.

Hawa berjalan pelan tapi pasti menuju halte di depan perumahan itu. Sesekali matanya menatap kagum pada bunga yang bermekaran disepanjang jalan perumahan. Terkadang wanginya tercium karena terbawa angin pagi yang sejuk.

Sesampainya di halte ia duduk sembari melihat kendaraan yang lewat. Menunggu memang menjenuhkan, tapi Hawa menikmatinya. Suasana yang adem membuatnya tak merasa jenuh.

Tak lama sebuah motor berhenti di depannya, dia membuka helm dan tersenyum cerah. Hawa tersenyum lalu menghampirinya. Ya, dia Asrina, teman yang ia minta untuk menjemputnya.

Asrina menyanggupi menjemput Hawa di halte depan perumahan mertuanya itu. Lumayan jauh memang bila di tempuh berjalan kaki. Tapi Hawa tetap melakukannya, demi untuk menghindari suaminya. Ia masih belum tahu harus bersikap bagaimana.

Mereka menaiki motor milik Asrina, lantas bergabung dengan kendaraan yang lain. Tak lama melajukan motornya, Asrina membelokkannya di warung soto langganannya.

Mereka memesan soto ayam lengkap dengan sate telur puyuh dan tempe hangatnya, tak lupa es teh manis favoritnya.

Kuah soto yang mengepul itu menghangatkan perutnya yang terasa dingin. Karena ia belum sarapan. Melihat pemandangan berbagai macam kendaraan yang melintas di jalanan, mereka menghabiskan sarapan dengan tenang.

Hawa melihat jam di handphonenya dan segera bergegas dengan Asrina, takut terlambat masuk sekolah.

Mereka menaiki motor lagi dan melaju ke sekolah. Asrina dari tadi menahan diri untuk tidak bertanya kepada Hawa. Dia melirik temannya itu lewat spionnya.

Tidak seperti biasanya, Hawa sangat tidak mau merepotkannya, tapi pagi ini Hawa memintanya untuk dijemput. Tanpa pikir panjang, Asrina langsung meng_iya kan. Motor milik Asrina mau berbelok ke gerbang sekolah tapi di kejutkan oleh suara klakson mobil hitam yang juga hendak berbelok juga. Mereka sama-sama mengerem kendaraanya sendiri. Hawa langsung menoleh dan melihat siapa dibalik kemudi mobil hitam itu. Mereka saling tatap. Asrina sudah emosi karena dikejutkan. Takut dirinya dan Hawa kenapa-napa.

Sorot tajam dari balik kemudi yang menyorot Hawa, seolah mengisyaratkan 'kenapa nggak bareng aku?' itu membuat Hawa langsung memutuskan pandangannya segera.

"Udah ayo cepat masuk As!" selanya menyuruh Asrina segera menjalankan motornya ke tempat parkir sekolah.

Mau tak mau Asrina segera berlalu dari sana. Sebenarnya dia ingin memarahi pemilik mobil hitam itu. Tapi karena dia menutup jalan dan terjadi antrian panjang jadi dia memutuskan pergi.

"Awas aja kalau ketemu,, mau tak hajar aja tadi. Bikin orang jantungan aja," Asrina ngedumel setelah memarkirkan motornya.

Hawa tersenyum tipis. Merasa tak enak kepada temannya itu. Karena Hawa tahu pemilik mobil hitam itu Hasby, suaminya.

"Udahlah As, kan nggak sengaja. Maafin ya As," Hawa memberi pembelaan bagi pemilik mobil hitam itu.

"Kenapa kamu yang minta maaf? Kamu tahu siapa yang punya mobil tadi?" Sungut Asrina melotot pada Hawa.

"Mobil kak Hasby itu As?!" bisiknya pelan di telingan Asrina.

Seketika Asrina melotot dan mulutnya dibekap sendiri "Astaghfirullah,,, suami kamu ternyata," gumamnya pelan "Pantas aja kamu yang minta maaf. Huft," lanjutnya menghembuskan napas cepat.

Hawa tersenyum canggung. Asrina hanya geleng-geleng kepala.

Mereka berjalan menuju kelas sembari mengobrol random. Sampai di depan tangga seseorang menghadang mereka. Tian orangnya. Karena dia sudah tahu apa yang tengah terjadi semalam.

Mereka berhenti dan menatap Tian sekilas. Hawa menarik lengan Asrina ke kanan dan Tian mengikutinya ke kanan, ke kiri juga mengikuti ke kiri. Sungguh menyebalkan sekali. Masih pagi tapi sudah membuat orang naik darah.

"Mau apa hah?" Asrina langsung nyolot kepada Tian sembari berkacak pinggang.

"Aku ada urusan sama temenmu, bukan kamu," ucapnya datar, tidak terpengaruh oleh Asrina.

"Aku nggak ada urusan sama kakak, permisi," sela Hawa cepat, menarik Asrina berjalan bahkan sedikit berlari supaya tidak di kejar Tian.

Tian terdiam menatap datar pada Hawa. Sebenarnya dia malas menemui adik kelasnya itu. Tapi teringat cerita Hasby tentang kejadian semalam, dia akhirnya berusaha membantu.

Dia kembali ke kelas, membiarkan Hawa belajar terlebih dahulu. Nanti akan di temuinya lagi.

Hawa bernapas lega ketika menoleh dan tidak menemukan Tian di belakangnya. Ia pikir Tian akan mengejarnya. Hawa segera duduk dan menyiapkan buku pelajarannya. Asrina yang masih kesal dengan kakak kelasnya itu, menghela napas berulang kali untuk menetralkan rasa kesalnya. Hawa pura-pura tak memperhatikannya.

•••

Kantin siang ini seperti hari-hari biasanya, selalu ramai dan bising. Hawa mengajak Asrina duduk di pojok belakang supaya tak terlihat oleh Hasby.

Mereka hanya memesan satu porsi siomay dan dua air es. Saking asyiknya menikmati siomay dengan temannya, sampai tak tahu kalau Dika duduk di sampingnya. Tetap menjaga jarak yang seharusnya dijaga. Asrina yang melihatnya memutar bolanya dengan malas.

"Assalamu'alaikum, hy As,Wa," salamnya ramah.

"Wa'alaikumsalam," jawabnya ramah. Tersenyum sopan.

"Boleh gabung kan?" tanyanya melihat Hawa.

"Nggak, Cari tempat duduk lain sana!" suara bariton itu menyela cepat sebelum Hawa membuka bibirnya. Membuat mereka bertiga menoleh serentak, Hasby orangnya.

"Kenapa? ini tempat umum ketos, jadi siapa saja boleh duduk disini," matanya menatap ramah pada Hasby, seolah tidak tersinggung atas protes tersebut.

"Pindah aja kak, dari pada ribet," ketus Asrina pada Dika.

"Ribet gimana? aku cuma mau duduk. Apa salahnya sih?" Dika menatap Asrina sekilas, tetap di tempat duduknya tanpa menghiraukan Hasby lagi.

Hawa yang merasa itu semua karena dirinya, segera beranjak dari duduknya "Aku duluan As, maaf ya," Hawa berlalu tanpa menghiraukan mereka.

Melihat hal itu Hasby mengikutinya dan tetap menjaga jarak. Tapi bagi penglihatan mereka semua terlihat jelas jika Hasby tengah memburu Hawa. Dan desas-desus negatif terhadap Hawa mulai mencuat lagi.

Hawa berjalan ke taman belakang sekolah, tempat favoritnya, dibawah rindangnya pohon besar. Duduk di rumput yang seperti karpet tebal berwarna hijau. Hasby duduk di balik pohon. Bersandar pada pohon besar itu.

"Wa, aku minta maaf atas kejadian semalam," Hasby memulai berbicara lembut, tangannya memainkan daun yang jatuh dari atas.

"Kak, nggak perlu minta maaf,,, aku yang seharusnya minta maaf, tadi nggak pamit sama kakak," Hawa memandang langit biru cerah yang menyilaukan mata itu.

"Kamu tentu tahu apa yang aku maksud. Pulang nanti tolong tunggu aku!" jelas Hasby tegas "Nanti aku akan menjelaskan semuanya Wa, jadi aku minta tolong kamu pulang bareng aku," tambahnya lagi.

"Insyaa allah kak, aku masuk kelas duluan kak," Hawa berpamitan pada Hasby.

"Iya, uang saku mu masih?" tiba-tiba Hasby berdiri dan memandang punggung Hawa.

"Masih kak, makasih. Ya udh aku duluan," Hawa berlari ke bangunan sekolah, meninggalkan Hasby sendirian.

Dia tak bergeming sedikitpun, pikirannya entah melayang kemana. Sampai tepukan di bahunya menyadarkannya. Tian orangnya, Hasby menoleh padanya, tersenyum miris.

Tian tidak berkata apa-apa, hanya menepuk bahu Hasby beberapa kali. Mereka kembali ke kelas, berjalan beriringan dalam diam, sesekali membalas sapaan dari teman atau adik-adik kelas.

•••

Waktu pulang sekolah adalah waktu yang di tunggu-tungu para siswa-siswi, tapi tidak dengan Hawa. Ia seolah malas dan tidak mau pulang. Karena pasti ketemu dengan Hasby. Ia masih enggan berbicara dan akrab seperti kemarin-kemarin.

Hawa menunggu semua teman-temannya pulang, kini tinggal dirinya sendiri. Sebenarnya Asrina mau menemaninya tapi Hawa beralasan mau menunggu Hasby. Padahal ia ingin menata hati dan pikirannya.

Merasa lelah ia menelungkupkan kepalanya diatas meja. Matanya ia pejamkan.

Hasby menunggu di parkiran,tapi Hawa tidak bisa d hubungi. Segera ia menuju kelas Hawa. Melihat pintu kelas masih terbuka ia melongok dan tatapannya tertuju pada gadis berhijab dengan kepala tertelungkup diatas meja.

Dia mendekatinya, terdengar bunyi napas yang teratur, segera dia melepas jaketnya dan menyampirkannya di bahu Hawa. Hawa sama sekali tidak terusik.

Hasby melihatnya sebentar dan ikut meletakkan kepalanya diatas meja berbantal tangannya. Pandangannya terarah pada Hawa.

Ting...

[Jadi kapan kita mau ketemu dan bicara By?]

Pesan singkat dari Tiar membuat Hasby memejamkan mata, merasa jengah.

Segera dia mengetik balasan cepat. Takut mengganggu tidur istri kecilnya.

[Nanti jam 16.30 di cafe Tian, tunggu saja dan Tian akan menemaniku]

[Ok, nggak masalah By]

Hasby memasukkan handphonenya ke saku celananya. Melihat Hawa yang masih setia terlelap membuatnya tidak tega untuk membangunkannya.

Dirinya menunggu lagi, sekitar setengah jam menunggu akhirnya Hawa terbangun. Hawa terkejut melihat ada jaket yang menyelimutinya.

Netranya membola ketika melihat Hasby yang tengah menatapnya datar.

"Kak Hasby, maaf aku ketiduran," segera Hawa melepas jaket dan memberikannya pada suaminya.

"Pakai aja, ayo pulang. Apa kamu mau cuci muka dulu?" Hasby melihat wajah Hawa dengan gemas, tapi wajahnya tetap datar. Sehingga Hawa tidak tahu kalau suaminya tengah gemas padanya.

Bare face Hawa terlihat polos dan cantik di mata Hasby. Dia tidak bosan memandang wajah polos Hawa. Sampai-sampai wajah istrinya memerah karena malu.

"Kak, aku cuci muka sebentar ya," Hawa memakai jaket suaminya itu, karena badannya terasa hangat, seperti hendak meriang.

Mereka jalan beriringan ke toilet didekat tangga turun. Hasby menunggu Hawa di dekat tangga, sembari melihat halaman sekolah sudah lengang. Tinggal beberapa murid yang mengikuti ekstrakurikuler di dalam ruangan atau ada yang di halaman belakang sekolah.

"Ayo kak,,, kak, nanti tolong mampir apotik bentar ya," Hawa berucap pelan, rasanya lemas sangat.

"Beli obat apa?

"Obat demam kak,"

"Untuk siapa? Kamu?" desak Hasby.

"Iya kak,"

"Ke dokter aja!" Hasby berkata tegas.

"Nggak mau, kalau kakak nggak mau mampir ya udah aku pergi sendiri aja," Hawa langsung cemberut dan terlihat tengah merajuk pada Hasby.

"Iya nanti mampir, nggak usah cemberut," putus Hasby.

Hasby segera mengemudikan mobilnya menembus padatnya jalanan siang menjelang sore ini. Apotik terdekat langsung menjadi tempat tujuannya. Hawa tidak turun, ia diminta tetal di dalam mobil. Kali ini Hawa menurut tanpa protes. Karena badannya terasa panas dan lemas. Hasby tidak lama-lama, segera kembali dan melajukan mobil pulang ke rumah.

Sebelum sampai rumah dia sudah memberi tahu Bik Im untuk membuatkan bubur dan teh hangat untuk Hawa.

Selama perjalanan Hawa kembali tertidur, sampai di rumah ia belum bangun. Hasby berinisiatif menggendong Hawa ala bridal style. Bik Im sudah siap membukakan pintu rumah dan membuntuti di belkang Hasby menaiki tangga menuju kamar Hawa.

Bibik membuka pintu perlahan dan merapikan bantal Hawa supaya nyaman di tempati. Hasby dengan perlahan meletakkan Hawa diatas ranjang yang empuk dan nyaman tersebut. Hawa tidak terusik dengan semua itu. Hasby memakaikan selimut pada Hawa, Bibik membantu melepas sepatu dan kaos kakinya.

Bibik dan Hasby keluar dari kamar Hawa, menutup pintu perlahan.

"Bik, aku titip Hawa ya, aku mau keluar bentar," Hasby berkata pelan pada Bik Im "Tolong kalau dia sudah bangun, suruh makan bubur dan ini obatnya, aturan minumnya sudah tertulis disitu," hasby menyerahkan bungkusan plastik dari saku celananya pada Bibik.

"Iya Den, tenang saja, Neng Hawa sudah seperti anak bagi Bibik, sama seperti Aden," ucap Bibik lembut. Menyimpan bungkusan obat dari Hasby dan memasukkan dikantong celemeknya.

"Makasih Bik, oiya kalau ada apa-apa cepat kabari aku y Bik!" jelas Hasby.

"Siap Den, udah Aden siap-siap sana!" Bibik mengacungkan jempolnya, tersenyum lembut pada tuan mudanya itu "Oiya Den, tadi Tuan Damar nitip pesan, malam ini Tuan menginap di rumah Tuan Besar,"

" Iya bik, makasih ya bik,"

Bibik turun ke dapur, sedangkan Hasby ke kamarnya sendiri dan mandi sebentar lanjut sholat dan siap berangkat untuk menyelesaikan permasalahan yang timbul kembali.

Sebenarnya Hasby tidak tega meninggalkan Hawa yang tengah sakit, tapi dia harus segera menyelesaikan masalah ini.

Hasby sudah menghubungi Tian, karena Tian yang akan menemaninya menemui Tiar.

Hasby mengenakan celana panjang hitam, jaket kulit hitam dan kaos putih. Ia mengendarai motor sport warna Hitam dengan helm full face hitam. yang sangat jarang ia kendarai. Ia mengendarai motornya menuju Cafe milik Tian. Suara raungan motornya membelah jalanan yang ramai sore itu.

1
devita yudhayanti
bagus...lanjut
Wulan Antya: terimakasih kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!