Viona dan Zio bertunangan sejak kecil akibat perjanjian balas budi yang dilakukan oleh kakek Zio kepada kakek Viona di masa lalu. Di hadapan keluarga dan semua orang mereka berakting seperti sepasang kekasih yang saling mencintai. Namun, nyatanya di belakang itu mereka hanya orang asing yang tidak memiliki perasaan satu sama lain dan berjanji tidak akan mencampuri urusan satu sama lain.
Suatu hari pertemuan Viona dengan Keita mengubah jalan hidupnya. Ia jatuh cinta kepada pria itu dan ingin hidup bahagia bersamanya.
Viona bertekad ingin mengakhiri pertunangan bodongnya dengan Zio, tetapi sebuah fakta mengejutkannya. Tiba-tiba Zio mendesak dirinya dan semua keluarga untuk segera melangsungkan pernikahan mereka saat Arumi, ibu Viona menanyakan perihal pernikahan tersebut kepada pria itu.
Lalu, mana yang akan Viona pilih? Kebahagiaan bersama Keita atau pernikahannya dengan Zio yang selama ini diimpikan semua orang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RyeoNae93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan dari Pramudya
Alinka terbangun dari tidurnya dan mendapati ranjang di sebelahnya telah kosong. Ia menghela napas dan menyentuh bagian itu yang telah dingin. Dia pasti telah pergi pagi-pagi sekali, pikirnya. Wanita itu kemudian menyingkap selimut yang menutupi seluruh tubuh polosnya dan bangkit dari kasur. Tangannya mengambil satu persatu pakaian yang berserakan di lantai.
Sebelum memutuskan untuk membersihkan diri, Alinka menatap sebentar pantulan dirinya di depan cermin. Bekas kemerahan tercetak jelas di tubuhnya. Bagian yang bersih hanya di leher, karena tadi malam ia memang melarang pria itu untuk membuat tanda kepemilikannya di sana.
Alinka lagi-lagi menghela napasnya seolah mengisi kekosongan yang selalu saja hadir setiap mereka selesai bercinta. Ia dan pria itu melakukan kegiatan panas tersebut atas dasar suka sama suka, mau sama mau. Namun, yang membuatnya sedikit agak kecewa ialah, pria itu selalu meninggalkannya tepat sebelum Alinka membuka mata.
Apakah wanita itu lebih penting dibandingkan dirinya? batin Alinka bertanya iri.
Apa kelebihan wanita itu hingga membuat mereka harus menjalankan hubungan ini diam-diam?
Alinka menatap tajam ke arah cermin. Menyaksikan bagaimana rahangnya mengeras menahan kesal karena harus mengalah demi wanita itu. Menyaksikan bagaimana lelahnya harus berpura-pura manis di depannya.
Suara bel apartemennya yang berbunyi nyaring membuyarkan semua pikiran Alinka. Sepertinya ia tahu siapa sosok yang datang sepagi ini. Malam kemarin ia sempat menghubunginya untuk membelikan beberapa barang yang Alinka perlukan. Wanita itu segera mengenakan baju lalu cuci muka sebentar. Ia menyisir rambut menggunakan jemarinya sambil berjalan untuk membuka pintu.
“Kamu ya! kalau nggak nyusahin temen, bukan Alinka namanya,” protes seorang perempuan bernama Nina ketika Alinka membuka pintu.
Wanita yang memiliki tinggi sekitar 170 cm itu langsung menerobos masuk tanpa meminta izin kepada pemilik apartemen. Kedua tangannya penuh membawa tas kain berisikan barang-barang yang diperlukan oleh Alinka.
“Ngapain sih suruh aku beli banyak barang seperti ini di toko oleh-oleh, huh?” Nina mengeluarkan semuanya barang tersebut. Ada kaos berwarna-warni dengan tulisan I Love Lombok, syal, dodol serta beberapa makanan kering.
“Buat oleh-oleh.” Alinka mengambil satu baju kaos tersebut, mengecek siapa tahu ada tempelan harga yang belum dicabut. Setelah memastikan tidak ada, ia menjatuhkan kembali barang itu ke atas sofa dan mengambil yang lainnya.
“Harusnya kamu membeli oleh-oleh khas Bali, bukan ini. Jangan bilang nggak punya waktu, ya! Waktu yang kamu punya di pulau Dewata itu cukup banyak buat beli oleh-oleh kayak gini.”
Alinka mengedikkan kedua bahunya ke atas, enggan menjawab. Ia memilih menyibukkan diri untuk menyeleksi barang-barang tersebut lagi.
***
Pagi ini Viona sangat bersemangat untuk kembali ke kantor. Rasanya sudah lama sekali ia tidak masuk kerja, padahal cuti hanya sehari saja. Wanita itu juga berdandan lebih dari biasanya. Biasanya ia tidak menggunakan bulu mata palsu. Kali ini ia menggunakannya, tetapi tidak yang heboh sih, bulu mata ala Douyin, gitu loh! agar terkesan natural.
Setelah melihat penampilannya telah sempurna di depan cermin, Viona memutuskan segera bergabung dengan Verrel yang beberapa saat lalu telah mengetuk pintu kamarnya untuk sarapan bersama.
“Ibu mana, Yah?” tanya Viona begitu sampai di ruang makan. Ia melihat ayahnya tengah meletakkan telur dadar dan meletakkan di atas piring milik Verrel. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh arah, bahkan ke belakang taman, tetapi tidak melihat batang hidung ibunya, Arumi.
Dapur mereka memang jadi satu dengan meja makan. “Sarapan hari ini dengan telur dadar saja, ya.” Pramudya yang telah lengkap dengan seragam kekinya memberikan pernyataan alih-alih menjawab pertanyaan Viona.
“Ibu pagi-pagi sekali telah pergi. Katanya ada zumba dengan teman-teman komunitasnya.” Itu jawaban Verrel yang duduk di samping Viona.
Pramudya menyerahkan sepiring telur untuk Viona dan juga dirinya. Melihat ayahnya menyiapkan sarapan seorang diri untuk mereka membuat wanita itu cukup kesal. Ibunya lebih mementingkan ikutan zumba dibandingkan melayani suami dan juga keluarga. Viona tidak pernah berkomentar apa pun tentang hobi ibunya itu asalkan tidak meninggalkan kewajibannya.
“Ayah nggak ngelarang ibu pergi sepagi ini?” tanya Viona penasaran.
“Walaupun dilarang, ibu kan bebal, Kak.” Lagi-lagi Verrel yang menjawab. Adik laki-lakinya mengenakan seragam putih abu-abu.
Viona menelisik penampilan adiknya itu. “Dasi kamu kemana?” Seragam atasnya juga tidak dikancing. “Rambut kamu juga sudah panjang itu. Cepat dipotong! Jangan sampai dipotong guru BK, baru tahu rasa!”
“Berisik!” Verrel memilih berdecak lidah tanpa menggubris sama sekali pertanyaan ataupun perintah sang kakak.
Pramudia berdeham untuk menarik atensi kedua anaknya serta meredakan adu mulut yang mungkin sebentar lagi akan muncul. “Cincin tunangan kamu mana, Viona?”
Tubuh Viona sontak menegang. Ia tidak pernah berpikir kalau ayahnya akan bertanya tentang benda itu karena ia tahu Pramudia adalah tipikal ayah yang cuek. “Eh??? Hm … aku jadikan bandul kalung, Yah.” Viona mengeluarkan kalung tersebut dari balik blus berkerahnya. “Ukurannya sudah nggak muat di jariku.” Viona meringis dalam hati karena harus berbohong lagi.
“Bagaimana hubunganmu dengan Zio? Sudah hampir seminggu dia tidak berkunjung ke sini, ya?”
“Baik, Yah. Dia cukup sibuk akhir-akhir ini. Bolak balik Bali Jakarta karena harus mengurusi bisnis propertinya.” Diam-diam Viona melirik ke arah Verrel. Tiba-tiba saja perkataan adik lelakinya kemarin malam tentang Pinokio terlintas di otaknya. Ia tahu maksud Verrel dengan menyindirkan seperti itu. Namun, adik laki-lakinya justru tampak tidak perduli dan sibuk menyantap sarapannya.
Pramudia menganggukkan kepala tanpa bersuara. Viona memilih untuk menyibukkan diri dengan memotong telur dadarnya menjadi potongan kecil dan dimasukkan ke dalam mulut bersama nasi yang telah dibaluri dengan sedikit kecap. Jujur saja Viona merasa lebih deg-degan jika Pramudia yang bertanya tentang hubungannya dengan Zio dibandingkan Arumi.
“Ayah harap kamu tidak bermain-main dengan hubungan ini, Viona.”
“Eh?” Viona mendongakkan kepalanya. Kaget? tentu saja! Ia belum pernah mendengarkan ayahnya berkata seperti ini.
“Iya … Ayah ingin hubungan kamu dengan Zio sampai ke pelaminan dan kalian hidup berbahagia. Bukankah kalian saling mencintai dan sudah berkomitmen akan hidup bersama? Ayah dan Ibu hanya ingin kamu bahagia.”
Seketika perut Viona melilit. Cinta? Komitmen? Tidak pernah terlintas sedikit pun dalam pikiran Viona untuk mewujudkan dua kata itu dengan Zio.
Viona memilih untuk memalingkan wajahnya ke samping hanya untuk memikirkan jawaban apa yang harus ia lontarkan.
Tanpa Viona duga, rupanya Verrel ikut menatap ke arahnya. Wanita itu menelan ludah. Sepertinya Verrel juga ikut menanti jawaban yang akan keluar dari mulutnya.
“Kamu juga Verrel! Belajar yang rajin agar bisa lolos kuliah kedokteran.” Suara Pramudya terdengar memberikan nasehat kepada putranya.
Verrel—yang tetap menatap lurus ke arah Viona dengan sigap menjawab, “Iya, Yah.” Setelah itu, dengan wajahnya ia seolah berkata kepada Viona ‘ayo cepat jawab! Aku tahu kamu berbohong!’
Viona rasanya ingin menghilang dari meja makan saat ini juga.
semangat berkarya...