Jatuh ke cinta yang lain ketika sudah ada cincin yang melingkar di jari manis, Allan dihadapkan pada pilihan sulit.
Sarah, wanita muda yang sangat cantik itu kembali mencuri perhatian Allan dari istrinya, Allan terdorong kembali ke pelukan cinta masa lalunya.
Rianti, sang istri yang telah memberikan anak lelaki manis bernama Saka padanya tak mungkin ditinggalkan. Allan membutuhkan Rianti.
Ketika Allan tertarik dua magnet, tak disangka ada pisau yang tengah tergerak. Perselingkuhannya menghasilkan darah! Allan hanya harus memilih, jika tidak ingin pisau itu dilumuri darahnya.
Namun, tidak ada yang mudah dalam memilih jika sesungguhnya..., Allan tak mengenal Sarah dan Rianti sama sekali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DumbDumb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembunuhan Lagi
Rianti meninggalkan saka yang kini tengah menonton televisi dan memakan makanan ringan yang tadi dibelinya di supermarket. Ia menuju ke ruang tamu untuk bergabung dengan Sarah dan Jimmy. Rupanya mereka tengah membicarakan warisan, jimmy membutuhkan tanda tangan Sarah untuk menerima warisannya.
“Aku rasa aku akan menyumbangkan seluruhnya untuk lembaga sosial," kata Sarah sembari mengukirkan tanda tangannya.
“Kau bisa menggunakan itu untuk usaha, Sarah," kata Rianti yang kemudian duduk di samping pengasuh anaknya itu.
"Dia tidak perlu membuka usaha, Rianti," ujar Jimmy, “aku akan membelikan apa pun yang dia inginkan setelah kami menikah,” tambahnya dengan nada senang.
“Bagaimana keadaan Josse dan Melly?” tanya Sarah untuk mengalihkan pembicaraan.
“Josse sudah kembali sekolah, dia tidak begitu terpengaruh dengan kasus yang menimpa orang tuanya. Sedangkan Melly, dia terus-terusan mengurung diri.
Dia seperti orang gila, dia menginginkan bukti bahwa kau yang membunuh kakakku. Tentu saja, dia tidak punya bukti,” jelas Jimmy.
"Remaja memang seperti itu, kau harus meyakinkannya, Jimmy!" kata Rianti.
"Mama, ada Tante Gila!" teriak Saka dari ruang tengah.
"Nanti, Mama ke sana!" teriak Rianti menyahuti teriakan anaknya.
"Ada apa?" tanya Jimmy bingung.
"Dia sedang menonton televisi,” kata Rianti, “anak itu memang senang sekali menunjukkan sesuatu yang ia lihat," tambahnya.
"Aku seharusnya membelikan mainan pada anakmu," kata Jimmy dengan nada sedih.
"Tidak usah, dia sudah punya banyak mainan," sahut Rianti.
"Dia sudah membuat tunanganku tidak sedih lagi, seharusnya aku berterima kasih padanya," kata Jimmy memandang ke arah Sarah.
“Aku sudah menandatangani surat-surat itu, sepertinya kau sudah boleh pergi, Jimmy," ketus Sarah.
"Baiklah, aku juga akan kembali ke kantor. Ada sesuatu yang ingin kuurus,” kata Jimmy yang kemudian berdiri.
"Terima kasih, Jimmy! Kau sudah mau membawakan barang-barang belanjaanku,” kata Rianti yang kemudian mengantar Jimmy ke pintu.
"Senang bisa mampir, Rianti,” ucap Jimmy tersenyum.
"Dia hanya butuh waktu, kau harus sabar,” kata Rianti menasehati Jimmy.
Rianti kemudian mengunci pintu setelah Jimmy pergi. Ia segera membalik dan melangkah menuju ke arah ruang tengah, namun suara keras mengagetkannya. Rianti berlari ke arah suara berasal. Dilihatnya di dapur isi kantong-kantong belanjaannya berantakan di lantai.
"Kau harus segera mati di tanganku," ucap seseorang di ujung dapur.
Rianti melihat Melly dengan penampilan berantakan, membawa sebuah pisau di tangannya. la tengah menatap Sarah yang berdiri ketakutan di ujung dapur yang lain. Rianti segera ingat teriakan Saka. Tante Gila yang diteriakan anaknya bukan ada di televisi, tetapi memang ada di sini. Ia pun segera lari ke ruang tengah.
"Saja! Kau harus sembunyi!" kata Rianti yang membopong anaknya menuju kamarnya.
Walaupun Saja memberontak, Rianti tetap menguncinya di dalam kamar. Sedangkan ia segera menuju kembali ke dapur sembari menaruh kunci kamar anaknya di sakunya.
"Bagaimana kau bisa masuk?" tanya Sarah.
"Seharusnya aku yang bertanya, kenapa rumah ini begitu mudah dimasuki,” kata Sarah dengan ketus.
"Melly, tolong hentikan, taruh pisau itu dan kau boleh kembali ke rumahmu," kata Rianti dengan pelan.
“Jangan bertindak bodoh, Melly! Polisi akan menangkapmu,” kata Sarah.
“Aku belum menelepon polisi, jadi sebelum itu aku lakukan, kau bisa mengurungkan niatmu untuk membunuhnya,” kata Rianti baik-baik.
Melly mengangkat ujung meja di dapur itu dan membantingnya ke samping. Sarah dan Rianti tampak terkejut. Gadis itu kemudian tertawa begitu keras.
"Aku sama sekali tidak takut dengan polisi,” kata Melly yang melangkah menuju ke arah Sarah.
"Telepon polisi, Rianti, "bisik Sarah menoleh pada Rianti.
Rianti mengangguk dan segera berlari menuju telepon rumah, namun ia baru ingat bahwa telepon rumahnya mati. la segera berlari menuju kamarnya, ia mencabut ponselnya yang sedang diisi daya. Ia menelepon polisi dan memberitahukan apa yang terjadi.
"Melly!" teriak Sarah.
Rianti mendengar suara teriakan Sarah dan suara hentakan kaki. Melly tengah mengejar Sarah.
Suara barang-barang dijatuhkan terdengar. Rianti bersembunyi di balik pintu dan mengawasi apa yang tengah terjadi. Sarah melempar-lemparkan apapun yang bisa ia gapai. Wanita itu berhasil melempar sebuah kotak ke wajah Melly sehingga gadis itu terjatuh dan pisau yang ia genggam terlepas.
"Melly, kau tidak apa-apa,” kata Sarah yang ketakutan melihat Melly terbaring di lantai dengan kepala sedikit berdarah.
Rianti mengawasi di mana posisi pisau yang terlepas itu. Ia membuat panggilan pada Allan, namun matanya terbelalak saat Sarah mendekati Melly yang terbaring dan seketika pengasuh anaknya itu dicekik oleh si gadis gila. Sarah mencoba berontak, namun Melly tampak sangat kuat. Mulutnya mengeluarkan kata-kata kasar pada korban yang sedang ia cekik.
...
Ponsel Allan bergetar, ada panggilan masuk untuknya. Allan yang tengah berada di dalam mobil mengangkat ponselnya, namun hanya ada suara-suara acak. Ia tahu panggilan itu dari Rianti, namun karena tidak ada jawaban yang masuk ia menutup panggilan itu. la memilih menuliskan pesan pada istrinya bahwa dia akan pulang terlambat.
Sekarang Allan tengah duduk di dalam Mobilnya yang berhenti, ia memerhatikan sebuah rumah. Dengan mengatur napas, ia keluar dari mobilnya dan menuju rumah itu. Ia mencari-cari bel, namun Karena ia tak menemukannya ia memilih mengetuk pintu.
Seorang wanita membukakan pintu, wanita berumur kita-kita tiga puluhan akhir itu terkejut melihat Allan.
"Rosa, apakah Ima ada di dalam?” tanya Allan. "Kau mencari Ima?” tanya Rosa terlihat bingung.
"Ya," jawab Allan, "kalau begitu apakah Elsa ada bersamamu?" tambahnya bertanya.
"Ima pergi, dia membawa Elsa. Aku tidak tahu kakakku ke mana, dia tidak memberitahu apa pun, padaku," kata Rosa.
"Kapan dia pergi?" tanya Allan.
"Selasa malam lalu, hampir tengah malam. Saat itu dia masuk dan membawa Elsa tanpa menjelaskan apa pun padaku. Dia hanya mengatakan bahwa dia akan kembali," jelas Rosa.
"Kautahu dia pergi dengan siapa?” tanya Allan lagi.
Rosa menunjuk ke arah mobil yang terparkir di jalan depan rumahnya. "Mobil itu, maksudku mobil seperti itu yang membawanya pergi," kata Rosa.
Allan segera sadar. Ia kemudian berpamitan dengan Rosa dan segera pergi. Di mana Rianti membawa Bi Ima? Itulah pertanyaan yang sedang berada di otak Allan. Ketakutan muncul di wajah tampannya. la seharusnya tahu bahwa istrinya bisa melakukan sesuatu yang diluar perkiraannya. Kecurigaan Allan pada istrinya demikian besar. Alasan bertemu Fiona untuk membeli karcis tidak bisa diterima, Allan beranggapan ada sesuatu yang Rianti lakukan selain memberi karcis pada malam itu.
Bunyi sirine polisi terdengar begitu keras. Allan panik bukan main saat melihat rumahnya dipenuhi banyak orang dan juga polisi. Ia segera keluar dari mobilnya dan berlari ke arah Sarah yang duduk termenung dengan wajah ketakutan di depan rumah.
"Apa yang terjadi?" tanya Allan. "Istrimu menyelamatkanku, dia telah membunuh Melly untuk menyelamatkanku, " kata Sarah lirih. "Pisau itu tepat menusuk lehernya,” sambungnya yang membuat Allan sangat terkejut.
...****************...