Indonesia
NovelToon NovelToon
Dum Spiro, Spero

Dum Spiro, Spero

Status: tamat
Genre:Angst / Identitas Tersembunyi / Bad Boy / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Teman lama bertemu kembali / Romansa / Tamat
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: nowitsrain

Ini adalah perjalanan Baskara dan Sabiru di tahun ke-empat pelarian mereka. Saat identitas mereka yang asli tak lagi bisa digunakan, mereka terpaksa hidup menggunakan nama orang lain agar bisa bertahan.


Lalu di tengah upaya mereka untuk bertahan hidup meski rasanya teramat sulit, hadir seorang gadis bernama Kumala Lintang yang semakin membuat semuanya rumit. Lintang yang telah jatuh cinta sejak pandangan pertama kepada Baskara terus berada di sekitar mereka, membuat pergerakan mereka terbatas dan identitas asli mereka rawan terbongkar.


Bagaimanakah perjalanan Baskara dan Sabiru selanjutnya? Bisakah mereka tetap bertahan di kota asing itu dengan identitas palsu, ketika Lintang terus datang mengganggu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nowitsrain, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

How Can I Say Good Bye

“Mas Abi!!!”

“Halo halo Mas Abi!!! Ada Mas Abi ndak ya di rumah?!!!”

“Mas Abi! Yuhuuuu! I miss you!!!”

Teriakan cempreng Lintang yang sudah lama tidak ia dengar membuat senyum Baskara melebar. Dengan raut wajah semringah dan ayunan langkah ringan, lelaki itu berjalan menuju pintu depan, siap menyambut bocah cerewet yang sudah beberapa hari tidak tandang.

“Mas Ab—“ teriakan Lintang terhenti di tenggorokan, sebab pintu tak berdosa yang sejak tadi ia gedor dengan brutal telah dibuka dari dalam. Kemudian, pada lelaki tampan dengan senyum menawan yang muncul dari dalam rumah itu, ia melebarkan senyum. “Hai, Mas Abi.” Sapanya, memamerkan deretan giginya yang rapi.

“Hai juga, cah ayu.” Baskara menyapa balik, dengan sapaan khas yang tidak pernah gagal membuat semu merah muncul di pipi Lintang dengan tidak tahu malu. Gadis itu senyum-senyum sendiri, salah tingkah hanya karena sebuah sapaan sederhana. Yang mana, hanya Abimanyu seorang yang bisa melakukannya.

“He-he-he, Mas Abi tahu aja kalau Lintang lagi kangen dipanggil begitu.”

Baskara hanya tersenyum tipis mendengar pengakuan Lintang tersebut. “Ada apa ke sini sore-sore begini?” tanyanya kemudian.

Sang gadis seketika mengangkat sebuah paper bag yang ia genggam erat-erat, menyodorkannya hingga ke depan dada Baskara. “Mau anterin oleh-oleh buat Mas Abi sama Mbak Anin. Lintang habis liburan ke Bali, loh. Sekadar informasi aja, sih, soalnya selama Lintang ndak ada kabar selama lima hari, Mas Abi sama sekali ndak nyariin.” Tuturnya, diakhiri gerakan mencebik yang lucu.

Baskara gemas, jadi setelah dia menerima paper bag yang diulurkan Lintang, lelaki itu lantas mengusak rambut sang gadis hingga membuat sang empunya semakin kegirangan. Rona merah di pipi semakin menjadi, pun dengan senyum yang kini sudah melebar hingga ke telinga.

“Mas Abi tahu kamu lagi holiday, makanya Mas Abi nggak mau ganggu.” Ucapnya setelah menarik kembali tangannya dari kepala Lintang.

Sang gadis sok-sokan memicing tak percaya, lantas bertanya dengan nada curiga, “Masa sih?”

Baskara mengangguk, “Iya. Mengganggu orang yang sedang liburan itu hukumnya haram buat Mas Abi.”

Bagai baru saja mendengar sebuah motivasi hidup paling berharga dari motivator ternama, Lintang menatap Baskara dengan tatapan kagum. Bahkan, seperti muncul kilauan dari kedua bola matanya, berbinar seperti lampu pijak yang baru dinyalakan.

“Wah, Mas Abi tahu ndak sih kalau Mas Abi itu keren banget?”

Terkekeh, Baskara menjawab, “Tahu,” dengan nada bercanda.

“Bagus.” Lintang setengah berseru. Entah apa yang membuatnya begitu antusias. “Mas Abi emang harus sadar kalau Mas Abi keren, supaya Mas Abi bisa mengurangi kadar kerennya Mas Abi sedikiiiiittttt aja.”

Baskara menaikkan sebelah alisnya, tanda ia tak cukup mengerti hendak dibawa ke mana obrolan ini. “Kenapa harus diturunin?”

“Ya supaya Mas Abi ndak bikin cowok-cowok lain di luar sana semakin insecure karena ada manusia sekeren Mas Abi di muka bumi ini.” Ucap Lintang, seraya tersenyum penuh arti.

Lagi-lagi Baskara dibuat gemas oleh tingkah Lintang. Ia jadi mengingat masa lalu, ketika pertama kali datang ke Jogja bersama Sabiru. Dulu, Lintang ini masih malu-malu. Bocah gemas ini awalnya sulit untuk berinteraksi dengan dirinya dan Biru yang merupakan orang baru. Obrolan mereka tidak akan pernah berlangsung lama. Hanya sekadar basa-basi yang berakhir pada suasana canggung yang kentara.

Namun, lihatlah sekarang. Bukan hanya telah mampu membangun suasana yang menyenangkan, anak ini juga sudah mulai berani melontarkan gombalan. Yang pada akhirnya membuat Baskara sadar bahwa waktu ternyata begitu cepat berlalu. Rasanya baru kemarin ia mulai meniti kehidupan di Jogja, tetapi pada kenyataannya, ini sudah hampir satu tahun sejak kedatangan mereka pertama kali.

“Mas Abi,” Lintang memanggil dengan suara lembut.

Baskara berdeham pelan, sedang netranya masih beradu dengan sang gadis di hadapan.

“Lintang sebenernya punya satu permintaan, tapi ndak tahu apa boleh Lintang bilang atau ndak ke Mas Abi.” Entah hanya perasaan Baskara saja, atau sorot mata Lintang memang berubah menjadi agak sendu.

“Permintaan apa, cah ayu? Bilang aja, kalau bisa, Mas Abi akan kabulkan.”Jawab Baskara. Setidaknya, biarkan dia mendengar lebih dulu apa yang hendak diminta oleh gadis ini. Asalkan bukan minta dipacari seperti yang sudah-sudah, sepertinya ia bisa memenuhinya.

“Lintang....” Lintang menggantungkan ucapannya, terlihat berpikir lebih banyak untuk sampai pada keputusan apakah ia akan betulan menyampaikan niat atau tidak.

Melihat Lintang yang ragu-ragu, Baskara lantas kembali mengulas senyum lembut. “Bilang aja, cah ayu.” Ia berusaha meyakinkan.

Diberi lampu hijau, Lintang pun meyakinkan diri untuk tetap melanjutkan niat. Gadis itu tampak menarik napas begitu dalam, lalu mengembuskannya secara perlahan sebelum kembali melanjutkan ucapan.

“Lintang ... boleh ndak minta peluk sama Mas Abi? Kangen, he-he-he.” Tutur anak itu diakhiri kekehan canggung.

Baskara kira, apa yang akan Lintang minta adalah hal yang cukup sulit untuk dikabulkan sehingga gadis itu tampak ragu-ragu untuk mengutarakan. Ternyata, hanya sebuah pelukan.

“Boleh.” Baskara menjawab tanpa ragu. Lantas kedua lengannya merentang lebar, siap menyambut tubuh kecil Lintang masuk ke dalam pelukan.

Disambut begitu, Lintang tidak serta-merta menghambur. Gadis itu malah mendongak, menatap Baskara dengan sorot mata tidak percaya. Seakan terlalu sulit baginya untuk meyakini bahwa pelukan yang ia minta benar-benar diberikan oleh lelaki yang dia taksir berat tanpa diikuti embel-embel pertanyaan ‘kenapa?’.

“Kok malah bengong? Katanya mau dipeluk?” Baskara semakin melebarkan rentangan tangannya. Senyumnya juga kembali merekah, netranya menatap Lintang demi meyakinkan gadis itu bahwa pelukan yang ia tawarkan adalah nyata.

“Beneran boleh?” tanya Lintang lagi. Masih ragu-ragu, tetapi kakinya mulai melangkah maju. Dan ketika Baskara menganggukkan kepala, barulah gadis itu mendekap Baskara dengan kedua lengannya.

Hangat merambat cepat. Bukan hanya pada tubuhnya, melainkan juga sampai ke hatinya tatkala lengan Baskara turut melingkupi tubuh kecilnya. Lintang memejamkan mata, mengistirahatkan kepala di dada bidang sang pujaan hati, diam-diam menguping irama detak jantung lelaki itu untuk kemudian dia simpan di dalam memori.

Aroma parfum Baskara yang khas memenuhi rongga pernapasan Lintang. Dengan serakah gadis itu menghirup napas begitu dalam, seakan ingin menyedot wewangian itu agar bisa dia simpan untuk dirinya sendiri.

“Mas Abi,” panggilnya lagi, masih dengan mata yang terpejam menikmati hangat pelukan Baskara.

“Kenapa, cah ayu?”

“Jangan pergi, ya. Ndak apa-apa kalau Mas Abi ndak bisa jadi pacarnya Lintang, tapi tolong jangan pergi.”

Mendengar permintaan itu, hati Baskara mencelos. Bagaimana dia bisa memenuhi keinginan Lintang untuk tidak pergi, sementara di dalam kepalanya sudah ada rencana untuk kembali ke Jakarta bersama Sabiru dalam waktu dekat ini? Bagaimana dia harus menjelaskan kepada Lintang, bahwa ia dan Sabiru tidak bisa selamanya berada di sini karena kehidupan mereka yang sebenarnya ada di tempat lain?

Baskara tidak ingin membuat Lintang kecewa, tetapi ia juga tidak tega untuk membuat sebuah janji yang sudah jelas-jelas dia tahu tidak akan bisa dia tepati.

“Mas Abi?” sadar permintaannya tak direspons, Lintang menarik diri. Hanya untuk dibuat tidak mengerti dengan ekspresi yang terlihat di wajah Baskara saat ini. “Mas Abi Kenapa?”

“Nggak apa-apa.” Baskara menjawab cepat. Ia usahakan sebuah senyum untuk menutupi perasaan gundah, berharap Lintang cukup polos untuk bisa membaca bahwa senyumnya itu hanya pengalihan.

“Yakin?”

“Iya.” Demi menghindari pertanyaan lebih lanjut, Baskara kemudian menarik Lintang masuk ke dalam rumah.

“Mbak Anin sebentar lagi pulang, kami diem aja di sini nonton tivi, Mas Abi mau siapin makan malam dulu. Nanti kita makan malam bertiga, ya.” Ujar Baskara usai mendudukkan Lintang di ruang tamu.

“Lintang boleh bantuin masak ndak?”

“Nggak usah, kamu tunggu di sini aja.”Baskara menolak halus, lalu melesat pergi ke dapur sambil membawa kegundahannya sendiri.

...****************...

Dari kejauhan, Biru sudah bisa melihat keberadaan mobil Lintang yang diparkir di depan pagar rumah kontrakan. Sekian lama tak melihat kedatangan gadis itu rupanya membuat reaksi Biru menjadi sedikit berbeda. Tidak ada rasa kesal, tidak ada cemburu, tidak ada keinginan untuk menjambak rambut ikal Lintang yang lucu. Sebaliknya, ia malah ingin cepat-cepat memarkirkan Vero agar bisa bertemu dengan si cerewet itu.

Roda Vero berhenti berputar, Biru turun sebentar untuk membuka pagar sendiri, lalu langsung tancap gas membawa Vero ke tempat parkir yang biasa.

“Terima kasih udah nemenin gue pulang-pergi dengan selamat hari ini, Vero. Ayo kita kerja sama lagi besok.” Bisiknya seraya mengusap bagian setang Vero. Itu adalah ritual wajib. Dia sudah menerapkannya sejak hari pertama dia mengajak Vero berkelana menjelajahi jalanan dari rumah ke tempat kerja. Supaya Vero merasa diapresiasi, katanya.

Selesai melakukan ritual wajib, Biru bergegas masuk ke dalam rumah. Pintu depan terbuka lebar, sepertinya Baskara sengaja melakukannya demi menghindari datangnya fitnah Dajjal mengingat ia sedang bersama dengan Lintang sekarang.

“Oi,” Biru menyapa dengan gayanya sendiri begitu melihat Lintang sedang asyik duduk di sofa ruang tamu, menonton tivi sambil nyemil keripik pisang.

Lintang menoleh, lalu tersenyum pada Biru yang berjalan ke arahnya—juga dalam keadaan tersenyum.

“Welcome home, Mbak Anin.” Sapa sang gadis centil seraya menyodorkan sekeping keripik pisang.

Biru mencebik sebentar, namun tetap menyambar keripik yang Lintang sodorkan dan mengunyahnya dengan sabar.

“Mas Abi ke mana?” tanya sambil mencari posisi duduk yang nyaman.

“Di dapur, lagi siapin makan malam.” Lintang menjawab sambil menyodorkan satu keping keripik lagi.

Biru menggeleng, enggan menerima satu suapan lagi. “Tumben jam segini udah masak makan malam, biasanya juga nunggu gue pulang dulu.” Ujarnya keheranan.

Itu bukan pertanyaan yang dia tujukan kepada siapa pun, namun Lintang malah menyahut dengan santainya, seolah jawaban yang ia berikan adalah benar dan tidak ada yang bisa membantah.

Kata gadis itu, “Mungkin karena ada Lintang di sini. Tadi Mas Abi bilang mau makan malam bertiga.”

Sabiru jelas mendecih, “Lo kira lo sespesial itukah?”

Sialnya, Lintang mengangguk dengan percaya diri. “Adik bungsu biasanya emang paling spesial, kan?”

“Adik bungsu?” Biru mengerutkan keningnya bingung.

“Iya, adik bungsu. Lintang kan adik bungsunya Mas Abi sama Mbak Anin.” Ujar Lintang sambil cengengesan.

Untuk pertama kalinya, Biru merasa gemas atas tingkah tak lazim bocah itu. Maka, ia mengulurkan tangan, mencubit hidung bangir Lintang hingga membuat bocah itu memekik heboh.

“Ih! Apaan sih, Mbak!”

“Lo menggemaskan.” Biru menarik hidung Lintang sekali lagi, kemudian cepat-cepat melarikan diri.

“MBAK ANIN NGESELIN!!!!”

Teriakan Lintang yang membahana tertutup oleh tawa Sabiru yang tak kalah menggema. Dengan kaki yang masih terus melangkah menuju dapur, gadis itu terbahak-bahak, menertawakan ekspresi wajah kesal Lintang yang sempat terekam di dalam ingatan sebelum ia kabur meninggalkan gadis itu sendirian.

Sementara itu, Baskara yang sudah hampir selesai dengan kegiatan memasak sontak membalikkan badan dengan wajah keheranan. Tidak biasanya dia menemukan Sabiru bisa tertawa begitu puas ketika sedang berinteraksi dengan Lintang seperti sekarang. Seringnya, dia anak hawa itu bertengkar hingga adu bacot dan saling ngotot. Memusingkan.

“Kesambet apaan pulang-pulang ngakak begitu?” tanya Baskara. Ekor matanya berusaha mengawasi pergerakan Sabiru, sebab ia juga harus fokus menuangkan sayur ke dalam mangkuk besar untuk kemudian dia sajikan di meja makan.

Biru menyeka bulir bening yang rembes di sudut matanya. Tawanya pun perlahan mereda. “Adik bungsu lo lucu.” Ucapnya di tengah-tengah usaha meredam tawa sepenuhnya.

“Adik bungsu?” sama seperti Sabiru beberapa saat lalu, Baskara juga terlihat kebingungan.

“Lintang,” kata Biru. “Katanya dia adik bungsu kita berdua. Lucu, ya, ada-ada aja tingkahnya.”

Baskara tidak menjawab, malah tampak melamun dengan tatapan yang menerawang jauh ke depan. Seakan tatapannya bisa menembus tembok pembatas dapur dan menemukan Lintang yang masih duduk di ruang tamu. Entah kenapa, bukannya merasa senang, dia malah sedih sekarang. Membayangkan betapa nelangsa raut wajah Lintang ketika mereka harus berpisah nanti membuat Baskara menjadi tidak tega untuk mengucap kata pamit.

“Heh! Malah bengong!” gebukan di lengan menyadarkan Baskara dari lamunan. Sedikit tergagap ia mengalihkan pandangan kepada Sabiru.

“Mandi gih, abis itu kita makan malam bertiga.” Ucap Baskara berusaha mengalihkan pembicaraan.

Meksipun merasa aneh dengan sikap Baskara, Biru tetap melaksanakan apa yang lelaki itu perintahkan. Segera ia masuk ke dalam kamar, untuk keluar lagi tak lama kemudian sambil membawa handuk dan baju ganti.

“Lo temenin deh adik bungsu kita, kasihan tuh nonton sendirian.” Ujarnya terakhir kali, sebelum tubuhnya menghilang di balik pintu kamar mandi. Meninggalkan Baskara yang malah sibuk dengan isi kepalanya sendiri.

1
bunga cinta
ceritanya bagus, aku suka
Melancholia
luar biasa
Raudatul zahra
sayang nya Babas sama Biru nggak milih nikah yaa..
nikah siri kek..

agak aneh siih aku bacanya kalau nggak nikah tapi serumah gini. walaupun ttp tidur beda kamar.
Raudatul zahra
maasya Allaah 🥰🥰🥰 Sabiru udah bisa masak ????
Raudatul zahra
habis Juan, ke Baskara dulu dehh.. habis itu baru Fabian ..
Lily
menarik
nowitsrain: Terima kasih sudah mampir ❤️
total 1 replies
Zenun
🩷🩷🩷
Zenun
Kok Bas bisa tidur sih😁
Zenun: gak bisa tidur kalo bgtu, pasti ada kebangun terus
total 2 replies
Zenun
heh lah
Zenun: iyeess
total 8 replies
Zenun
iya bang iya
Zenun
dan laki-laki makhluk ciptaan Tuhan yang kurang peka
Zenun: hehehehe
total 2 replies
Zenun
gak, cinta ya cinta aja gak ada benci-bencinya
Zenun: iyaaaaa
total 2 replies
Zenun
kirain yang manggil sabiru
nowitsrain: Bukan dong
total 1 replies
jully
apa akan hadir di Fabian...
nowitsrain: Yess. Sampai ketemu di sana ya
total 1 replies
Larasati
couple satu ini emang agak lain kelakuan nya
nowitsrain: terabsurd sedunia
total 1 replies
Larasati
lucu amatt sih yg lagi nahan cemburu
nowitsrain: 😌😌 percayalah itu tidak enak
total 1 replies
jully
aku masih belum ngeh,duluan Fabian atau baskara yang di jakarta kak?
nowitsrain: Hehe, bingung ya... Aslinya duluan Baskara. Cerita ini pakai latar tahun ke-4, cuma buat nyeritain dia ke mana selama kabur sama Biru. Kalau di cerita Fabian (ambil latar tahun ke-5), Baskara aslinya udah ada di Jakarta, cuma mereka belum sempet ketemu.

Biar nggak bingung baca yang ini aja dulu kak, yang Fabian tinggalin aja dulu wkwk emang harusnya cerita ini duluan yang up, tapi karena ada kesalahan teknis jadinya up duluan dan yaaaa emang rawan bikin bingung 😌😌 maapkan
total 1 replies
Fenti
🌹 mendarat
Fenti
perhatian baskara ya
jully
baskara darimana aja ..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!