Taufan Ravael, seorang pemuda yang selalu menebar senyum dan keceriaan pada orang orang di dekat nya. Setidaknya itu yang orang lain lihat dari nya, tanpa mengetahui jika itu hanyalah topeng belaka.
menyembunyikan duka dan rasa sakit karena kehilangan kedua orang tua nya, dan menghabiskan 6 tahun hidupnya tanpa kasih sayang.
Orang tua nya meninggal akibat kebakaran di rumah nya dan kedua saudara nya membenci nya sejak saat itu.
Harus terus bertahan melawan penyakit yang semakin lama kian menggerogoti dirinya, apa Taufan bisa terus bertahan dan kembali mendapatkan kebahagiaan dan kehangatan keluarga seperti apa yang selalu ia impikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilaura Callisto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Selama Itu Tidak Melukainya
Ruangan itu tak sepenuh nya gelap dengan cahaya remang dari lampu tidur yang terjaga bersama malam.
Seseorang meringkuk di sofa, memeluk selimutnya yang tersingkap. Nampak begitu nyenyak dengan dengkuran halus. Sementara di satu sisi, seorang lagi terbaring tak nyaman di ranjangnya. Terlihat begitu gelisah dalam pejam nya, dengan peluh dingin yang membasahi pelipis dan hembusan nafas yang terasa berat untuk dihela.
Pemandangan yang kontras namun menyentuh, mengundang rasa nyeri tersendiri dari sosok yang baru berani menampakan batang hidungnya saat langit menggelap dan seisi kota terlelap.
Mengendap-endap membawa kakinya melangkah lebih jauh. Mendekati Arga yang sudah terlalu dalam tenggelam di alam mimpi, membuat Hali tak sampai hati untuk membangunkannya. Sepertinya ia benar-benar kelelahan setelah seharian penuh menemani Taufan.
"Arga, bangun."
Goncangan pelan di bahunya berhasil mengusiknya, memaksa kesadarannya kembali ke permukaan hanya untuk kemudian ia dapati keberadaan Hali di sana.
"Ng? Kak Hali? Ada apa?" Arga mengucek mata sipitnya.
"Pulang sana. Lanjutin tidurnya di rumah. Aku udah minta Khai buat jemput. Taufan biar aku yang jagain." Masih dilanda kantuk berat, Arga menguap lebar. Masih mengumpulkan sebagian nyawanya yang mengawang.
la kemudian menurunkan kakinya, meregangkan tubuhnya yang terasa pegal di beberapa bagian karena salah posisi tidur.
"Beneran ditinggal gapapa?"
Hali mengulas senyum. "Iya, tenang aja."
"Kalau ada apa-apa, kabarin."
"Iya. Kau hati-hati, melek dulu. Jangan salah masuk kamar jenazah." Hali terkekeh geli melihat sahabat adiknya itu yang berjalan gontai, nyaris menabrak pintu.
Hingga sosok itu sepenuhnya menghilang dari pandangnya, dan sepi yang sempat terusir kembali bertahta. Ia juga tak bisa sepenuhnya melimpahkan penjagaan Taufan padanya, meski Arga sendiri yang menawarkan.
Untuk sesaat, ia biarkan beku merengkuhnya. Menjeda waktu dalam tatap yang ia paku pada perawakan yang masih hanyut di bawah alam sadar. Menghabiskan satu putaran penuh jarum detik dalam bimbang.
Sebelum akhirnya ia memutuskan untuk memangkas jarak, meski itu berarti merobek kembali lukanya. Rasa bersalah itu masih membelitnya, terasa kian mencekik setiap kali dihadapkan dengan kondisi Taufan yang tidak baik.
Taufan terluka, lebih dari yang Hali kira. Semenjak terakhir ia tak sadarkan diri, Taufan menolak untuk menemui siapapun. Awalnya, ia kira amarah anak itu akan padam ketika fajar menyingsing. Nyatanya memang tak pernah semudah itu untuk memaafkan. Jemarinya terangkat, menyibakkan poni Taufan yang mulai memanjang.
Dan baru ia sadari anak itu terserang demam, mungkin lebih dari 38 derajat. Diambilnya handuk kecil di laci kabinet dan baskom untuk menampung air. Dengan gerakan lembut. Hali mengusap pelan, menghapus keringat di sekitar pelipis dan leher. Kemudian mencelupkannya lagi, memerasnya sedikit sebelum menaruhnya di kening Taufan yang berkerut dalam. Bahkan dalam tidurnya, sakit itu tak membiarkan Taufan beristirahat dengan nyaman.
Andai ia bisa memindahkannya, pasti sudah Hali lakukan. Ditatapnya lekat, rupa yang selalu bertabur tawa itu. Selain pucat yang setia melekat, tak pernah lagi ia temukan binar di sana.
Sekarang ia merindukan bagaimana anak itu menghangatkan sudut-sudut rumah hanya dengan leluconnya yang picisan atau pertengkaran kecil yang berujung omelan entah dari dirinya atau Ken. Rupanya secandu itu gelak dan senyum si pemilik iris langit, sampai-sampai suara tawa khasnya terus terngiang di ingatan.
Hali tersenyum getir. Ia tak menyalahkan Taufan atas perubahan sikapnya. Hanya saja, jika diizinkan, jika diberi kesempatan, ia ingin memperbaiki semuanya. Hubungan yang regang ini, kepercayaan yang telah luntur. Segalanya. Hingga tak akan ada lagi tangis di keluarga mereka.
*****
Malam beranjak, subuh pun menjelang. Hali yang baru menemukan kantuknya beberapa waktu lalu, tiba-tiba tersentak dari tidurnya. Teringat, tak seharusnya ia di sana. Niatnya hanya untuk mengecek kondisi Taufan sebentar.
Kendati ia tahu hadirnya di sana adalah tabu, tapi rintihan yang bibir kering itu gumamkan sepanjang malam membuatnya tak tega dan justru membuatnya ingin menetap lebih lama. Tapi malah berujung ketiduran.
Waktu sudah menunjuk pukul empat. Ia harus segera pergi sebelum Taufan terbangun dan mengusirnya seperti yang sudah-sudah. Tapi sebelum beranjak, ia ingin memastikan kondisi Taufan sudah membaik.
Saat ia mengambil kain yang semalaman bertengger di kening adiknya, tak lagi terasa panas seperti yang ia khawatirkan di awal.
Syukurlah demamnya sudah turun. Raut wajahnya pun sudah jauh lebih tenang, meski pucat masih tersisa di sana. Sekarang ia benar-benar nampak tertidur pulas.
Sejenak, Hali termenung. Ada rindu bercampur sendu di balik manik ruby itu. Rasa yang tak mampu ia rangkai dalam kata, hanya bisa ia urai melalui belaian lembut surai legam Taufan.
"Maaf belum bisa memberimu kebahagiaan. Tapi kau nggak perlu ragu tentang seberapa besar rasa sayangku. Kau adikku, sampai kapanpun akan tetap seperti itu. Cepet sembuh, Dek. Jangan sakit-sakitan terus."
Kalimat itu mengudara tanpa ada harap untuk mendapat balasan. Bagi Hali, bisa berada di dekat Taufan tanpa harus berkonflik saja sudah lebih cukup. Meski kesempatan itu hanya datang setiap kali Taufan hanyut dalam bunga tidur dan keberadaannya tak disadari.
Tak masalah bagi Hali, selama itu tidak melukai Taufan. Dan itu menjadi kalimat terakhir Hali, sebelum ia memandu langkah nya, meninggalkan ruang yang tak mungkin menerima hadirnya dengan hangat selama pemiliknya masih membentangkan jarak di antara mereka.
Kemudian berganti lorong-lorong sepi yang menyambutnya. Tentu saja. hari masih petang, bahkan di ufuk timur belum nampak semburat jingga yang menjadi pertanda pagi mulai menyingsing.
Hali mendudukan diri di sebuah kursi panjang di dekat kamar Taufan. Memejam sejenak guna melepas sisa kantuk yang mendera. Ia bingung harus kemana setelah ini. Ia tak bisa pulang, setidaknya ia harus tetap di lingkungan rumah sakit agar tetap bisa memantau Taufan.
Hingga sebuah sapaan di kejauhan mengetuk gendang telinganya. Kelopak matanya tersibak dan ia dapati seorang gadis yang kini berjalan menghampirinya. "Loh? Kak Hali?" Senyum Hali terulas, menyambut kedatangan gadis berkuncir twintail itu. "Kak Hali ngapain di sini?"
bonchap ya thor
beneran ini Taufan meninggal...
koq pemeran utamanya meninggal
di satu sisi boleh kah taufan egois dengan apa yg pernah dilakukan Hali dan ken... apa yg pernah ia rasakan dulu tak pernah sebanding dengan kata maaf dari mereka...