Alena sama sekali tak menyangka akan terseret ke dalam hidup seorang Alvaro,seorang actor dan pewaris tunggal perusahaan Thewil,perusahaan yang sangat besar dan terkenal di negeri ini.
Ia yang lagi mencari perlindungan dari keluarganya yang mau mencelakainya,denan terpaksa menerima tawaran nikah kontrak dari Alvaro.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alfiazza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Press Conference
Alvaro tengah berbicara lewat telepon bersama asistennya. "Riko siapkan press conference dan undang semua media, aku akan datang ke kantor bersama Alena," pinta Alvaro kepada Riko di seberang sana.
Alvaro yang sudah siap dengan pakaian kantornya tutun mencari keberadaan Alena dengan maksud menyuruhnya bersiap-siap.
Alvaro menuruni tangga dengan semangat, ia berharap hari ini bisa berjalan sesuai rencana. Ia melakukan ini tak lain untuk membersihkan nama Alena di publik, ia panas mendengar semua caci maki orang kepada gadis itu, meskipun Alena mengatakan baik-baik saja, tapi ia tahu kalau semua itu menyakitinya.
Alena tengah menata makanan di meja makan tepat saat Alvaro turun, ia pun langsung menyapanya.
"Pagi!" ucap Alvaro menyapa. Alena langsung melihat ke arahnya.
"Pagi, ayo sarapan dulu, aku sudah menyiapkannya," ucap Alena.
"Hm baiklah." Alvaro bergegas duduk di salah satu kursi di meja makan, tepat di hadapan Alena.
Alvaro mulai memakan nasi goreng yang telah disediakan Alena. "Ikut aku hari ini ke kantor," ucap Alvaro di tengah makannya.
Alena mendongak, ia menaikkan sebelah Alisnya merasa tidak mengerti.
"Kenapa tiba-tiba kau mengajak ku ke kantormu?," tanya Alena.
"Aku hari ini akan mengadakan press conference, dan kau harus ada di sana," ucap Alvaro menjelaskan.
"Kok aku?." Alena merasa heran dan belum mengerti, kenapa dia harus ikut?.
"Ikut saja percaya pada ku, setelah ini semua akan membaik," ucap Alvaro meyakinkannya.
"Hem baiklah, aku percaya padamu."
Alvaro mengulur senyum, ia merasa lega karena Alena tidak banyak protes kali ini.
Alvaro dan Alena telah sampai di depan gedung kantor. Sesuai rencana awal hari ini mereka akan mengadakan press conference untuk mengenalkan Alena sekaligus klarifikasi atas semua yang telah terjadi.
"Ayo masuk," ajak Alvaro. Digenggamnya tangan Alena yang nampak ragu-ragu.
"Ada aku yang akan melindungi mu, kamu cukup temani aku, berada di sampingku," kata Alvaro lembut. Ia sedikit merubah nada bicaranya.
Alena mengangguk, ia menatap mata Alvaro untuk meyakinkan diri. Jujur ada sedikit ketakutan di hatinya. Ia takut orang makin membencinya.
Setelah diyakinkan oleh Alvaro, Alena pun akhirnya mulai berani keluar. Ia tak salah apa-apa, jadi kenapa harus takut disalahkan, ia juga bukan orang jahat yang harus di benci, ia tidak pernah menyakiti orang lain.
Alvaro keluar lebih dulu dan ia pun membukakan pintu untuk Alena.
Seketika orang di sekitar menatap ke arah mobil Alvaro dan turut menunggu kira-kira siapa yang dibukakan pintu oleh Tuan mereka itu.
Alena menerima uluran tangan Alvaro dan keluar dengan anggun. Gaun di bawah lutut dengan motif bunga-bunga kecil terkesan anggun di tubuhnya. Semua orang seketika terpesona dengan penampakan di depan matanya. Tak hanya penampilan gadis itu yang begitu anggun, tapi juga terpesona dengan sikap manis tuan mereka yang sangat jarang ia perlihatkan, bahkan mungkin tidak pernah.
"Aaa manis sekali."
"Dia sangat cantik, Tuan Alvaro ternyata bisa semanis itu,"
"Aku jadi pengen di posisi nona itu."
"Tuhan aku juga mau diperlakukan begitu."
Orang-orang tak henti menatap kagum dua manusia itu. Alena terhanyut dalam tatapan mata Alvaro, ia sampai tak menyadari tatapan orang sekitar. Seketika dunianya hanya berpusat pada mata indah lelaki itu.
Alvaro menggandeng mesra tangan Alena dan membawanya masuk menuju ruangannya.
"Riko apakah semua sudah siap?," tanya Alvaro ketika berpapasan dengan asistennya itu.
"Aman tuan, tempat dan para media sudah sedia. Nanti akan dimulai sekitar satu jam lagi ," jawab Riko.
"Bagus terima kasih, aku akan menunggu di ruanganku sambil menyelesaikan beberapa pekerjaan."
"Baik Tuan silahkan," ucap Riko mempersilahkan Alvaro dan juga Alena untuk lebih dulu menaiki lift menuju ruangannya.
"Ok kamu santai saja dulu di ruangan ini, lakukan apa pun yang kamu mau, aku harus mengerjakan beberapa pekerjaan dulu," ucap Alvaro ketika mereka telah samapi di ruangannya.
Alena hanya mengangguk, ia pun memilih duduk di sofa ruangan itu dan memainkan handphonenya. Alena tengah asik berbalas pesan Lika, ia pun larut dalam percakapan itu.
Tak terasa waktu telah beranjak dan sebentar lagi press conference akan segera dimulai. Alvaro sudah duduk di salah satu kursi dan Alena berada di sebelahnya.
Para wartawan, media sudah datang dan hampir memenuhi bangku yang telah disediakan di sana.
Akhirnya acara itu dimulai, Riko memandu acara itu agar lebih teratur. Dimulai dari memperkenalkan dirinya dan juga Alena sampai sesi tanya jawab.
"Siang semua para media dan semua yang telah hadir di acara hari ini. Sebelum di mulai supaya lebih formal,perkenalkan saya Alvaro William, seperti yang kalian tahu hari ini aku ingin memperkenalkan secara langsung kepada kalian istriku, wanita yang akhir-akhir ini banyak dibicarakan dan dipertanyakan. Ini lah saat yang tepat kalian untuk bertanya dan aku akan berusaha menjawabnya," ucap Alvaro memulai pembicaraan.
"Baiklah, perkenalkan wanita cantik di sampingku ini adalah istriku, Alena Putri Jaya. Dia adalah sesuatu yang aku syukuri, memilikinya adalah sebuah keberuntungan tersendiri untukku," ungkap Alvaro melanjutkan.
"Baiklah silahkan untuk semua rekan media jika ada yang ingin dipertanyakan," ucap Riko mengambil alih.
"Saya mau bertanya. Perkenalkan nama saya Mentari dari xxxxxmedia. Yang mau saya tanyakan adalah, apakah benar pernikahan kalian terpaksa, seperti pemberitaan yang telah beredar, Dan bisa ceritakan bagaimana kalian pertama kali bertemu," tanya salah seorang wartawan.
Alvaro seketika menarik nafasnya panjang sebelum bicara, diraihnya pinggang Alena dan ia peluk posesif.
Ditatapnya Alena sebelum berbicara." Aku mencintainya sungguhan, jujur dia membuat banyak perubahan di hidup ku. Semua jauh lebih berwarna karenanya. Tidak ada keterpaksaan dalam hubungan kami. Aku sungguh mencintai ya."
Alena sedikit tertegun dengan ungkapan Alvaro, ia sangat sadar Semua nya itu hanya kebohongan belaka. Tapi mengapa hatinya berdesir mendengar nya dan mengapa tatapan matanya seakan begitu jujur.
Alvaro melepaskan pegangan pada pinggang Alena dan beralih menggenggam erat tangannya.
"Kami bertemu secara tidak sengaja, waktu itu aku tidak sengaja menabraknya hingga jatuh, jujur aku jatuh cinta pada pandangan pertama waktu itu," lanjut Alvaro seraya terkekeh. Meski sedikit dilebihkan, namun begitu adanya bukan?.
Pertanyaan demi pertanyaan di jawab dengan tentang oleh Alvaro, hanya dia sendiri. Hingga tanpa terduga seorang wartawan wanita mengangkat tangan untuk bertanya.
"Maaf Tuan, aku mau bertanya," ucapnya .
Alvaro pun mempersilahkan dia untuk bertanya.
"Sedari tadi aku melihat kau sendiri saja yang berbicara Tuan, apakah dia bisu sampai sedari tadi hanya diam." ungkap wartawan itu.
"Apa maksudmu, bertanya seperti itu?" sentak Alvaro.
"Aku cuma bertanya, tidak bermaksud apa pun," jawab nya.
"Kau sama saja menghinanya dengan berbicara seperti itu."
"Tapi perkataanku benar bukan, dia bisu!" tuduh wartawan itu.
"Jangan sembarang berbicara." Emosi Alvaro meninggi, ia sampai berdiri dari duduk nya.
Melihat perdebatan itu membuat Alena sedikit gatal untuk ikut berbicara. Sembarangan sekali wanita itu mengatakannya bisu.
Alena tersenyum penuh arti,tiba-tiba ide cemerlang terlintas untuk membungkam mulut wanita itu.