Indonesia
NovelToon NovelToon
Born To Love You

Born To Love You

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Teen School/College / One Night Stand / Persahabatan / Romansa / CEO
Popularitas:15.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mrlyn

Anna dan Zeno sudah bersahabat sejak lama tapi persahabatan mereka berubah begitu insiden percobaan penculikan Anna terjadi dan Zeno menyelamatkannya tapi karena obat yang sudah di suntikkan oleh penculik itu membuat Anna dan Zeno hilang kendali hingga akhirnya mereka tidur bersama. Ketakutan akan kehamilan yang menghantui membuat persahabatan mereka renggang tapi ada hal lain yang lebih menyulitkan karena mereka harus menerima kenyataan jika orangtua mereka memutuskan untuk menikah.
Apa mereka akan memilih menjadi saudara atau justru menjadi egois?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrlyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Merah pekat

Anna masih berusaha keras untuk mengatur ekspresinya agar tidak terus-menerus tersenyum, tapi sialnya ia tidak bisa.

Zeno selalu saja mampir ke dalam pikirannya, menerobos masuk dan mengacaukannya. Membuat Anna mulai berangan-angan, bila kelak ia memang berjodoh dengan Zeno apa mungkin Zeno akan berbeda dengan ayahnya?

Jika saja ibunya tidak menceritakan betapa ayahnya dulu mencintainya hingga ia diperlakukan seperti ratu maka Anna mungkin akan berani menerima Zeno.

Tapi karena cinta bisa berubah kapan saja menjadi menakutkan, Anna takut cinta itu juga mengubah Zeno dan akhirnya menghancurkannya.

Tok ... Tok ...

Suara ketukan pintu yang terdengar memecah lamunan Anna. Ia lantas bangkit dari atas tempat tidurnya dan membuka pintu itu.

"Zeno!" harusnya Anna tidak perlu terkejut melihat Zeno kini berada di depan pintu kamarnya karena di rumah ini hanya ada mereka berdua tapi tetap saja jantung Anna malah berdebar kencang tidak terkendali melihatnya memakai baju yang kebetulan berwana biru langit yang sama dengannya layaknya piyama couple terlebih Zeno terlihat lebih lembut menggunakan warna itu karena aura yang Zeno miliki begitu kuat dan mendominasi.

"Loe kenapa belom tidur?" tanya Anna, ia memilih keluar dari dalam kamarnya daripada mengijinkan Zeno untuk masuk ke dalam kamarnya.

Sejujurnya sikap Anna membuat Zeno sedikit kecewa tapi ia mengerti. "Gue takut loe mimpi buruk kayak kemarin."

"Ah itu... Sebenernya gue gak bisa tidur sih jadi kayaknya gak akan mimpi buruk deh." jawab Anna tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuknya pelan, bukan tanpa alasan kegugupannya kini karena setelah itu Zeno langsung menariknya memasuki kamarnya.

"Loe bisa sakit kalau gak tidur!" Zeno mulai mengomel sambil mendudukkan Anna di atas tempat tidurnya.

"Ya gak apa-apa, Zen...."

"Gak apa-apa, apanya? Mau jadi zombie loe?"

Anna akhirnya hanya diam, membiarkan Zeno memarahinya.

Zeno lantas keluar dari dalam kamarnya, Anna mengira Zeno marah padanya dan meninggalkannya begitu saja tapi pria itu balik lagi tidak lama kemudian dengan membawa segelas susu hangat di tangannya.

"Nih minum, abisin!"

Anna menerima susu pemberian Zeno tapi tidak lantas meminumnya, ia hanya memandangi susu itu lalu kemudian menatap Zeno sesaat. "Loe gak taro obat tidur, kan?"

Zeno menarik nafas kesal setelah mendengar pertanyaan Anna yang penuh curiga, ia lantas mengambil kembali susu di tangan Anna lalu meminumnya hingga sisa setengah lalu mengembalikannya lagi padanya.

"Kok diminum sih?" Anna protes sambil cemberut, mungkin dia tidak sadar tapi ekspresinya yang menggemaskan membuat wajah Zeno seketika terasa panas.

Ada sesuatu yang berdesir di hati Zeno, yang membawa sinyal yang menyebar ke seluruh tubuhnya yang seketika membuatnya merasa gugup terlebih ketika melihat Anna mulai meminum susu tepat disudut dimana ia meminumnya lebih dulu.

Dengan cepat ingatan tentang ciuman mereka langsung terlintas di kepalanya, berputar-putar membuat Zeno pusing karena dia mulai mendambakannya lagi.

"Nih udah, makasih...." ucap Anna sambil mengembalikan gelas yang sudah kosong itu pada Zeno.

Zeno mungkin menerima gelas itu tapi matanya menatap ke arah yang lain.

Dengan hati-hati Zeno mulai mengangkat tangannya, menyentuh permukaan bibir Anna dan menyeka sisa susu yang membekas di sana sontak tindakannya membuat Anna mematung seketika.

"Siap-siap tidur gih, gue taro gelas dulu sekalian ambil air putih nanti gue balik lagi," ujar Zeno sambil tersenyum dan membelai wajah Anna yang sudah merah padam karena ulahnya dan Zeno menikmati itu.

"Maksudnya gimana? Loe balik lagi cuma buat ambil air putih aja kan, Zen?" tanya Anna ketika Zeno sudah berada di ambang pintu kamarnya.

"Gak, gue tidur disini malam ini," jawab Zeno sebelum akhirnya pergi meninggalkan kamar Anna.

Anna masih mencerna ucapan terakhir Zeno saat pria itu kembali memasuki kamarnya dengan membawa segelas air putih di tangannya sesuai dengan ucapannya sebelumnya.

"Kenapa masih belum tidur? Mau gue bacain dongen?" tanya Zeno menghampiri setelah meletakkan air yang dia bawa ke atas nakas.

Zeno lantas duduk tepat di sebelah Anna, tersenyum lembut padanya sambil merapihkan rambutnya. Semua ini membuat hati Anna kalang-kabut tidak karuan. Ketegangan mulai menghimpitnya hingga Anna merasa gugup.

"Zen, emang boleh tidur bareng? Nanti khilaf lagi gimana?" tanya Anna dengan hati-hati, ekspresi khawatirnya kembali membuat Zeno gemas sekaligus terbakar.

"Tenang aja, gue gak akan khilaf lagi kali ini."

Dia berbohong!

Zeno jelas sedang membual sekarang karena caranya bicara dengan nada rendah tepat di ujung telinga Anna justru seolah mengisyaratkan hal lain sementara Anna semakin tidak berkutik di buatnya.

"Zen, serius... Nanti gue bisa hamil," sekali lagi Anna mengingatkan.

Oh ayolah, kisahnya baru memasuki fase remaja tapi kenapa situasinya seperti ini? Seakan ini adalah kisah romance yang erotis!

Duh pikiran gue mulai terkontaminasi!

Anna menjerit dalam hatinya, pikirannya mulai menjadi liar, merasa jelas jika mereka mulai membangun atmosfer yang tidak biasa, begitu pekat yang kapan saja mampu menyulut gairah.

Zeno masih berada begitu dekat, wajahnya tepat di sebelah tengkuk Anna sementara Anna mulai kesulitan mengatur nafasnya meskipun ia sudah berusaha dengan keras mengatur postur tubuhnya agar tetap duduk dengan tegak.

Tapi deru nafas Zeno yang hangat mulai menerpa tengkuknya, memberikan sensasi yang sulit untuk Anna gambarkan karena tubuhnya mulai bereaksi.

Dia mulai penasaran dengan bagaimana rasanya bercinta disaat sebelumnya ia tidak sepenuhnya sadar tapi Zeno mulai tertawa.

Tawa Zeno langsung memecah atmosfer merah pekat yang sebelumnya menyelimuti mereka, menjadi terang seterang cahaya bulan purnama yang menerobos masuk ke dalam kamarnya melalui kaca jendela yang tidak tertutup tirai.

"Hayo mikir jorok ya?" goda Zeno meledak sambil mencolek dagu Anna dan terus menertawakannya.

"Ih apa sih? Mikir jorok apa?" Anna mengelak dengan tegas sambil memalingkan wajahnya. Sialnya ia masih belum sepenuhnya berhasil meredam kegugupannya dan pikiran nakalnya masih beradu dengan akal sehatnya.

"Terus kenapa muka loe merah gitu?"

"Ya namanya kulit gue cerah, wajar kalau merona!"

"Ah yang bener?"

"Bener lah!"

"Yakin?"

"Yakin lah, Zeno...."

Zeno menyipitkan kedua matanya, dia masih menatap Anna dengan curiga sementara Anna masih berusaha menghindari tatapannya.

"Ya udah tidur deh daripada nanti gue diapa-apain sama loe, kan?"

Eh!!!

Anna seketika menoleh karena tidak terima dengan ucapan Zeno.

"Kepedean!" serunya kesal sambil merangkak naik ke atas tempat tidur dan berbaring dengan tenang di sana.

"Udah sana gue bisa tidur sendiri!" usir Anna dengan nada ketus, ia bahkan sudah memejamkan kedua matanya sekarang.

Sedikit lagi...

Zeno menarik rambutnya kebelakang karena frustasi. Ia hampir saja melakukan kesalahan besar lagi dengan nyaris hilang kendali jika saja akal sehatnya tidak langsung meronta mengingatkannya.

Dengan ketegangan yang masih tersisa, Zeno merapihkan selimut Anna agar gadis itu tidak kedinginan, melihat buku-buku jari mereka yang sama-sama merona membuat Zeno kembali tersenyum, sepertinya bukan hanya dia yang berada dalam kesulitan karena situasi ini tapi juga Anna.

Ia lantas turun dari atas tempat tidur Anna lalu duduk di dekat jendela sambil memandangi wajah gadis itu yang masih gelisah.

"Yakin nih gak mau gue bacain dongen?" Zeno kembali memulai percakapan, berharap ketegangan diantara mereka berangsur-angsur pudar.

"Ya udah, tapi awas aja kalau ngelantur!" sahut Anna mengancam.

Sekali Zeno memandangi wajah cantik itu dari jarak yang cukup jauh, jarak aman bagi Zeno karena ia akan langsung memilih melompat keluar jendela jika ia kembali terhasut suasana untuk menerkam Anna dan menjadikannya sekali lagi miliknya yang sempurna.

"Dahulu kala ada seorang putri yang sangat cantik, namanya Anna..."

***

1
* bunda alin *
lanjut Thor ❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!