Chintia atau yang kerap disapa Cici itu termenung dengan tatapan datar menghadap ke arah lelaki di hadapan nya sambil menyilangkan tangan nya di bawah dada.
"Dari banyak nya insan manusia di muka bumi ini, kenapa yang di nikahin sama gue itu harus lo??"
....
fyi : autor ga pernah copas/menyalin karya orang lain! semua karya yang autor buat murni dari khayalan+kisah nyata yang di alamin oleh teman-teman autor.
kalau tidak menyukai karya ini atau karya ini terlalu kaku, tolong beri saran bukan makian. tks.
langsung baca aja ya! biar nggak penasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hanisanisa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Like nya jangan lupa.. Happy Reading💐
"Gue mau pulang aja, udah ngga kuat gue. Bendera putih telah berkibar" seru Cici benar-benar merasa jantung nya ingin meledak.
"Ya sorry Ci, lo harus di biasain nonton yang seram-seram. Biar lo ngga takut lagi" ujar Aeri meminta maaf.
"Gue ngga butuh tontonan Aeri.. Gue lebih baik nonton komedi atau romantis, terserah mau ending nya gimana daripada harus nonton yang seram-seram, efek nya bakal ke bawa mimpi" jelas Cici dengan panjang lebar.
Aeri menggaruk tengkuk nya bingung harus merespon apa. "Terus gimana malam ini lo? Gue temenin tidur deh, sebagai permintaan maaf gue" usul Aeri ingin menebus rasa bersalah nya.
Cici dan Raffi sempat saling lirik dengan raut panik. "Ngga usah Ri, gu-gue bisa tidur kok.. Mimpi seram-seram udah ngga pernah muncul, aman aja" kilah Cici gelagapan.
Tak mungkin kan Aeri ikut tidur dalam satu kamar dengan nya dan juga Raffi, secara mereka tidak tidur terpisah.
"Kalau lo kenapa-kenapa gimana?" tanya Aeri dengan khawatir. Cici tetap menggeleng dengan tegas.
"Gue fine-fine aja kok Ri, ngga ada masalah.. Gue bisa atasi mimpi buruk gue sekarang" jawab Cici menolak dengan wajah mencoba menyakinkan Aeri.
Aeri memicingkan mata nya curiga. "Jangan-jangan lo tadi di dalam cuma modus takut? Padahal sebenarnya lo udah berani?" tebak Aeri menuding Cici.
Cici menelan ludah dengan kasar kemudian mengangguk canggung. "Gu-gue cuma mau keliatan lemah aja di depan lo" elak Cici membuat Aeri mencebik.
"Sia-sia dong gue minta maaf, gue tarik kata maaf gue, ngga berguna ternyata" cebik Aeri dengan wajah polos nya percaya begitu saja.
Cici memberi cengir kuda canggung sembari melirik Raffi yang juga menatap nya.
"Gue langsung pulang ya, takut kemaleman" pamit Cici tak ingin berlama-lama lagi. Dia takut Aeri semakin curiga dengan nya dan Raffi.
"Gue anterin deh, Ci.. Lo sendiri kan ke sini nya?" usul Aeri menahan lengan Cici untuk tidak langsung pergi.
"Ngga usah Ri, gue udah di jemput sama sopir pribadi gue kok, dia nungguin di parkiran" tolak Cici dengan alasan yang cukup spesifik.
Aeri manggut-manggut. "Hati-hati ya, bilangin ke sopir pribadi lo buat hati-hati nyetir mobil nya" pesan Aeri.
Cici tersenyum dan mengangguk. "Gue duluan ya, bye" pamit Cici segera melangkah menjauh dari pengelihatan Raffi dan Aeri.
Raffi terus memperhatikan Cici yang berjalan sendirian ke arah kerumunan orang yang berlalu lalang.
Saat hendak melangkah menyusul Cici, Aeri sempat bercetus yang membuat Raffi menoleh sejenak.
"Jaga Cici baik-baik ya, lo ngga tau gimana kehidupan Cici yang sebenarnya" cetus Aeri sebelum melenggang pergi tanpa pamit.
Raffi mencerna baik cetusan Aeri yang seolah-olah pesan untuk nya menjaga Cici dari apapun.
Bagi nya terserah orang lain mau tau hubungan nya dengan Cici bagaimana, status mereka bagaimana, asal jangan mengusik ketenangan mereka saja.
Raffi segera melangkah menyusul Cici yang sudah mondar-mandir di samping pintu mobil.
Cici nampak gelisah tak karuan sembari menggigit kuku jari nya saking gelisah nya.
"Ngapain mondar-mandir? Mau jadi setrika?" tanya Raffi saat tiba di hadapan Cici. Cici menghela napas.
"Aeri ada ngomong sesuatu tentang gue?" tanya Cici tak menghiraukan pertanyaan Raffi.
Raffi terdiam dan memberi gelengan kepala. "Ngga ada" jawab Raffi berbohong.
"Serius? Jangan bohong!" hardik Cici sembari menunjuk wajah Raffi dengan telunjuk nya.
Raffi menatap telunjuk Cici yang berada di depan hidung nya. Dan menghela napas. "Tenang aja" balas Raffi membuat Cici bernapas lega.
"Tenang aja gue bakal nyari tau kehidupan lo di belakang gue, Chintia Maizar" batin Raffi melanjutkan ucapan nya.
"Yaudah yuk pulang, gue udah ngga kuat diri. Cape" ucap Cici sembari membuka pintu mobil dan langsung masuk.
Di susul Raffi di bagian kemudi.