Zora Naladhipa seorang siswa kelas menengah atas yang sering mewakili sekolahnya untuk berbagai perlombaan sejarah.
Suatu hari ia diminta oleh gurunya lagi untuk mengikuti sebuah lomba tentang sejarah. Ayahnya memberikannya sebuah buku kuno yang beliau dapatkan dari pasar loak. Zora selalu membawanya kemanapun karena isi di dalamnya membuatnya tertarik untuk terus membacanya.
Suatu hari saat jam sekolah telah usai, Zora memilih pergi ke toilet tak lupa dengan buku yang berada di genggamannya. Ia mendengar suara dua orang sedang berbicara orang tadi tak lain adalah pacarnya dan seorang wanita. Matanya memanas, ia kemudian pergi dari toilet tadi dengan air mata yang membanjiri pipinya.
Saat sampai di rumah ia lalu merebahkan dirinya di kasur sambil menggenggam buku kuno itu. Tak terasa air matanya menetes mengenai buku tadi lalu ada sebuah cahaya yang menariknya menuju tempat lain. Ia kemudian bangun dengan kepala yang berdenyut.
"Ahh, dimana aku?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Cerita ini terinspirasi dari serial drama love destiny. Stay tune dan lanjutkan membaca ya:))
ig: @chiccacaaa
tidak update setiap minggu ;))
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiccacaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kado- 28
"Jika kau yang tidak mempersilahkannya masuk maka ia tidak akan berharap lebih bodoh" ucap Zora sambil memukuli lengan pangeran Auriga sedangkan pangeran Auriga hanya tertawa geli.
•••
Lusa adalah hari ulang tahun pangeran Rafandra dan pangeran Ravindra. Hari ini istana sedang disibukkan dengan seluruh pelayan yang menyiapkan dekorasi agar pesta ulang tahun kedua pangeran kembar itu bisa terlihat meriah.
Sedangkan Zora sedang merenung di kamarnya. Ia bingung ingin memberikan hadiah apa kepada dua pangeran itu. Di tengah keheningan yang melanda tiba-tiba ada orang yang mengetuk pintu kamarnya, ia melihat sekeliling dan teringat jika Ambar ia minta untuk mengisi teko air yang berada di dalam kamarnya. Zora kemudian bangkit, ia membuka pintu kamarnya dan terlihatlah pangeran Auriga yang sedang menunggunya di depan pintu.
"Ada apa?" tanya Zora dengan datar.
"Ehm, apakah kau sudah menyiapkan kado untuk pangeran Rafandra dan pangeran Ravindra?" tanya pangeran Auriga.
Zora menggeleng, ia bahkan belum memiliki ide untuk membeli kado yang akan ia berikan untuk kedua pangeran kembar yang menurutnya menyebalkan itu.
"Belum, aku bingung ingin membelikan kado apa untuk dua orang itu" ucapnya.
"Bagaimana kalau kita membeli kado bersama? Aku juga belum membelikan kado untuk mereka berdua" ucap pangeran Auriga sambil menatap Zora.
Zora terlihat menimbang-nimbang. Tak lama kemudian ia menganggukkan kepalanya.
"Aku bersiap dulu" ucap Zora sambil memasuki kamarnya.
Tak lama kemudian Zora kembali keluar dari kamar dengan penampilannya yang terlihat sedikit berbeda karena ia nampak lebih rapi dari sebelumnya.
"Ayo" ucap Zora sambil menarik lengan pangeran Auriga.
"Kita berjalan saja ya" pinta Zora saat mereka akan keluar dari gerbang istana.
"Kenapa? Apa kau nanti tidak lelah? Aku sudah mempersiapkan kereta kuda untuk kita" ucap pangeran Auriga.
Zora mendecakkan lidahnya kesal. Ia hanya ingin berjalan kaki karena ia ingin sesekali berhenti saat melewati pedagang-pedagang kecil yang ada di pinggir jalan sebelum mereka nanti memasuki pasar.
"Naik keretanya nanti saja jika pulang. Sekarang kita berjalan kaki dulu ya, please" rengek Zora kepada pangeran Auriga.
"Plis?" tanya pangeran Auriga.
"Iya. Maksudnya aku mohon kita berjalan kaki saja ya, ya ya" ucapnya lalu memeluk manja lengan pangeran Auriga.
"Zora, apa yang kau lakukan" ucap pangeran Auriga yang tiba-tiba membeku.
"Kita berjalan saja ya" pinta Zora sekali lagi.
"I-iya" ucap pangeran Auriga. Setelah itu Zora melepaskan lengan pangeran Auriga begitu saja kemudian ia berjalan mendahului pangeran Auriga.
"Huh, apa yang ia lakukan tadi" gumam pangeran Auriga sambil mengelus dadanya. Ia kemudian meminta kus Ia lalu menyusul Zora yang sudah berjalan mendahuluinya dengan santainya.
Zora sesekali berhenti untuk melihat dagangan-dagangan yang dijajakan di pinggir jalan sebelum mereka sampai ke pasar. Pangeran Auriga hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Zora yang menurutnya sangat lucu itu.
"Zora, ayo kita segera pergi ke pasar. Jika kau terus mengunjungi pedagang di pinggir jalan nanti hari akan semakin siang" ucap pangeran Auriga yang mulai lelah menunggu Zora yang tidak ada puasnya itu.
Bibir Zora mencebik kesal tetapi apa yang dikatakan pangeran Auriga memang benar adanya. Jika sudah siang, pasar akan segera tutup dan ia tidak akan mendapat kado yang ingin ia cari untuk kedua pangeran kembar.
"Tapi kapan-kapan kita kesini lagi ya dan kau yang harus membelikanku apa yang aku inginkan" ucap Zora.
Pangeran Auriga sedikit terkekeh, ia lalu mengangguk.
"Baiklah, ayo sekarang kita pergi" ucapnya kemudian berjalan mendahului Zora.
Mata Zora berbinar saat ia sudah memasuki pasar. Ia mengajak pangeran Auriga berkeliling untuk mencari kado yang ia inginkan untuk pangeran Rafandra dan pangeran Ravindra.
"Apa kau sudah tau hadiah apa yang akan kau berikan kepada duo kembar itu?" tanya Zora kepada manusia yang berada di sampingnya.
"Sudah" jawab pangeran Auriga singkat.
"Apa yang akan kau berikan kepada mereka?" tanya Zora ingin tau.
"Rahasia, nanti kau juga tahu" ucap pangeran Auriga sambil terkekeh karena ia melihat Zora yang sedang menekuk wajahnya karena sebal.
Zora lalu menatap sebuah toko kain yang tidak sengaja ia lewati. Ia kemudian masuk ke dalam sana diikuti oleh pangeran Auriga di belakangnya.
"Selamat datang tuan dan non-a maksud kami selamat datang pangeran Auriga dan putri Zora" ucap pelayan tadi sedikit tergagap.
"Ya, apakah pemilik toko ini ada disini?" tanya Zora.
"Ada putri akan hamba panggilkan" ucap pelayan tadi kemudian ia pergi memanggil majikannya.
Tak lama kemudian datanglah seorang wanita cantik yang sepertinya memiliki ras timur tengah yang mendatangi Zora. Ia tersenyum lembut kemudian bertanya kepada Zora.
"Ada apa tuan putri memanggil hamba?" tanyanya dengan sopan.
"Bisakah kita berbicara berdua saja?" tanya Zora.
"Tentu bisa, mari putri" ajak wanita itu sambil menuntun Zora untuk memasuki sebuah ruangan.
"Kau tunggu disini dan jangan mengikutiku" ucap Zora kepada pangeran Auriga.
Pangeran Auriga hanya pasrah. Ia menuruti perkataan Zora kemudian ia duduk di tempat yang disediakan oleh toko itu untuk para pelanggan yang ingin menunggu disana.
Setelah menunggu agak lama akhirnya Zora keluar dari ruangan itu bersama wanita tadi.
"Terimakasih ya Jalila, aku tunggu pesananku lusa dan aku harap pengirimannya tidak terlambat" ucap Zora kepada wanita yang bernama Jalila itu.
"Baik putri. Toko hamba akan mengusahakan yang terbaik untuk pesanan putri" ucap Jalila sambil berjalan bersama Zora.
"Kalau begitu kami permisi" ucap Zora kemudian ia mengajak pangeran Auriga untuk pergi dari toko yang dimiliki oleh Jalila.
"Auriga, Jalila itu memiliki sifat yang baik dan orangnya sangat lembut" ucap Zora saat mereka sudah keluar dari toko Jalila.
"Oh, namanya Jalila?" tanya pangeran Auriga dan Zora hanya mengangguk.
"Aku ingin sekali berteman dengan Jalila" ucap Zora tanpa memandang pangeran Auriga.
"Kau tinggal mengajaknya saja. Memang ada yang berani menolak ajakan putri Zora untuk berteman?" tanya pangeran Auriga sarkas.
"Kau ini" ucap Zora sambil memukul pelan lengan pangeran Auriga.
"Sekarang kita mau kemana? Aku malas pulang" ucap Zora kepada pangeran Auriga.
"Bagaimana jika kita makan terlebih dulu?" tanya pangeran Auriga yang membuat Zora menganggukkan kepalanya senang.
Mereka lalu mampir ke kedai yang biasa didatangi oleh pangeran Auriga saat ia keluar dari istana.
"Kau sering makan disini?" tanya Zora saat ia baru mendudukkan tubuhnya di kursi yang ada di kedai itu.
"Iya" jawab pangeran Auriga singkat.
"Permisi, pangeran dan putri ingin memesan apa?" tanya seorang pelayan.
"Makanan yang biasa aku pesan" ucap pangeran Auriga dengan datar.
Setelah pesanan datang mereka segera memakan makanannya. Selang beberapa saat makanan mereka habis kemudian Zora memuji pilihan makanan pangeran Auriga yang menurutnya sangat enak itu.
"Lain kali aku akan kesini" ucap Zora setelah makanannya telah habis.
"Ayo, kita pergi" ucap pangeran Auriga mengajak Zora untuk keluar dari kedai.
___
"Kenapa tidak dari dulu kau mengajakku naik perahu seperti ini" ucap Zora pada pangeran Auriga yang sedang mendayung perahu yang mereka tumpangi.
"Sudah pernah ketika kita masih kecil jika kau lupa" ucap pangeran Auriga sedangkan Zora hanya nyengir kuda.
"Kau kan tau jika aku lupa ingatan" ucap Zora dengan pelan.
"Iya, maaf aku lupa" ucap pangeran Auriga.
Pangeran Auriga lalu menghentikan dayungannya di tengah-tengah danau. Zora menatap bingung pada orang yang ada di belakangnya.
"Kamu capek?" tanya Zora.
"Apa?" tanya balik pangeran Auriga karena tidak mengetahui apa yang Zora maksud.
"Kau lelah?" tanya Zora sedangkan pangeran Auriga menggeleng.
"Lalu kenapa berhenti disini?" tanya Zora sekali lagi.
Pangeran Auriga hanya tersenyum. Ia lalu meminta Zora untuk membalik tubuhnya. Zora hanya menurut, ia duduk dan diam mengamati pemandangan di depannya. Zora benar-benar lupa waktu ternyata hari sudah sore, ia melihat kemilau jingga yang mulai menghiasi langit. Lama kelamaan kemilau jingga itu luruh dibarengi dengan pergantian langit yang mulai menggelap.
"Indahnya" gumam Zora yang masih bisa didengar oleh pangeran Auriga.
"Kita kembali ya" ucap pangeran Auriga lalu ia mendayung perahunya untuk sampai di tepi danau.
Sesampainya di tepi danau pangeran Auriga turun terlebih dulu, ia lalu membantu Zora untuk turun dari perahu yang mereka tumpangi tadi.
"Gelap" ucap Zora kepada pangeran Auriga.
"Ayo" ucap pangeran Auriga kemudian ia menggenggam tangan Zora agar mengikuti langkahnya menjauh dari danau.
Tak lama kemudian Zora melihat cahaya yang mulai menghiasi tempat mereka berpijak. Ternyata anak buah pangeran Auriga telah menunggu mereka sedari tadi. Pangeran Auriga lalu meminta Zora untuk masuk ke dalam kereta kuda kemudian diikuti oleh dirinya sendiri.
Di perjalanan mereka berdua hanya saling berdiam diri. Zora merasa lelah, ia akhirnya tidur dan kepalanya bersandar di bahu lebar pangeran Auriga. Pangeran Auriga hanya tersenyum kecil saat mengetahui Zora yang sudah tertidur di pundaknya.
Setelah beberapa saat akhirnya kereta sampai di pelataran istana. Pangeran Auriga sudah mencoba membangunkan Zora tetapi nyatanya Zora tidak bergeming. Akhirnya ia memilih menggendong Zora yang sedang tertidur itu menuju kamar milik Zora sendiri.
Lorong istana terasa sangat sepi, semua orang sudah masuk ke kamarnya masing-masing. Hanya ada beberapa prajurit yang memang bertugas untuk berjaga malam di beberapa titik istana seperti persimpangan lorong satu dentan lorong yang lainnya.
Sebelum sampai di kamar tiba-tiba Zora terbangun. Ia terkejut bahkan hampit berteriak saat pangeran Auriga sudah menggendongnya.
"Ini dimana?" tanya Zora sambil mengeratkan pelukannya ke leher pangeran Auriga.
"Jalan menuju kamarmu" ucap pangeran Auriga.
Setelah sampai di depan kamarnya, Zora segera turun dari gendongan pangeran Auriga.
"Terimakasih" ucap Zora kepada pangeran Auriga.
"Untuk?" tanya pangeran Auriga.
"Untuk hari ini, aku sangat senang" ucap Zora sambil tersenyum lebar.
"Sama-sama. Segeralah masuk ke dalam dan istirahatlah" ucap pangeran Auriga sambil mengacak gemas rambut milik Zora.
"Iya, aku masuk" ucap Zora kemudian ia masuk dan menutup pintu kamar miliknya meninggalkan pangeran Auriga yang masih tersenyum di depan kamarnya.
•••
jangan lupa vote komen rate dan like
Mampir yuk di novel pertama ku yang berjudul "KEKUATAN HATI WANITA"
Berkisah wanita yg bangkit dari penghianatan.
Mohon dukungannya, terimakasih🙏🏻🤗🌹
tp ngomong-ngomong,,, ceritanya bagus lho,,, cerita jaman dahulu kala
I love Indonesia😍😍😍😍
I love you thooor 😘😘😘😘