Indonesia
NovelToon NovelToon
DEKEKOUI

DEKEKOUI

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Matabatin / Vampir
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Muka Kanvas

Ketika penyihir dan Pemburu Penyihir bertemu dalam satu wilayah yang tak pernah mereka sangka. Satu berburu dan yang lain diburu, bagaimana jika akhirnya mereka jatuh cinta?

Dua makhluk Kekal bertikai sejak berabad-abad silam dan tak pernah mampu berdamai, berperang, bersembunyi dan akhirnya tertangkap, berulang tanpa pernah istirahat.

Apakah pada akhirnya mereka mampu bersatu? atau malah menjadi alasan peperangan terjadi lagi, seperti dulu Dekekuoi hancur lebur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muka Kanvas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 : Batuk Asti 11

Perjalanan ke rumah Rani persis seperti ke rumah Asti meski lebih jauh, mereka benar-benar tidak butuh khawatir yang berlebihan karena lengang, sepi seperti tak berpenghuni, semua orang memilih di rumah, mematikan lampu agar tak terlihat dan tak melihat keluar. Di saati seperti ini, kondisi yang panas dan mencekam, mereka semua percaya, rumah adalah tempat teraman.

Tentu ini keuntungan lagi dan lagi bagi dua penyihir dewasa dan satu penyihir kecil anaknya, mereka bisa berlarian tanpa takut ditangkap oleh Tentara.

Begitu sampai rumah Rani, papa kembali menendang pintu belakang rumahnya dan masuk, setelah masuk Lira berlari memegang tangan mamanya Rani yang kebetulan berada di dapur dia terkejut pintu belakang rumahnya jebol tiba-tiba dan tiga orang masuk, dia sedang menghangatkan air untuk Rani, seketika Lira membaca mantra sambil memegang tangan mamanya Rani, maka mama tertidur, seketika itu juga papa Yelak menyipratkan air dari botol ke tubuh Lira agar wangi Dekekuoinya tersamarkan, mama tidak mungkin bisa membantu seperti pada keluarga Asti, karena sihir tipisnya itu tetap terlalu berbahaya jika digunakan lagi.

Mama Rani tertidur, Mama menarik tubuh itu dan menyandarkannya di dinding dapur, sementara mereka harus mencari papanya Rani.

“Jangan terlalu keras membaca mantra,” bisik Mama.

Lira mengangguk.

Ia masih memegang ujung jubah hitam yang menutupi hampir seluruh tubuhnya. Jubah itu terlalu besar untuk tubuhnya, bagian bawahnya bahkan hampir menyentuh lantai. Namun justru itu yang mereka butuhkan.

Tidak ada bagian tubuhnya yang boleh terlihat.

Papa Yelak menutup pintu dapur yang baru saja mereka dobrak. Ia kemudian menoleh ke arah ruang tengah.

“Papanya di mana?”

Lira menggeleng. “Aku tidak tahu.”

Mama berjalan lebih dahulu, matanya menyapu seluruh ruangan. Rumah Rani cukup besar dan malam itu terasa jauh lebih sunyi daripada biasanya di rumah besar itu.

Hanya suara detik jam dinding yang terdengar dari ruang tengah.

“Cari di kamar,” kata Mama.

Papa Yelak mengangguk.

Mereka bergerak menyusuri rumah dengan hati-hati. Papa berada paling depan, sementara Mama menggenggam tangan Lira agar gadis itu tidak berjalan terlalu jauh.

Lira sesekali menoleh ke belakang. Ia masih takut, bukan karena rumah itu atau jam malam, melainkan karena khawatir ada orang lain yang melihat mereka.

Kalau sampai ada tetangga yang melihat seorang gadis berjubah hitam masuk ke rumah keluarga yang sedang menjalani isolasi, mereka tidak akan bisa menjelaskan apa pun. Apalagi jika orang itu mengenali Lira.

“Di sini,” bisik Papa.

Mereka berhenti di depan sebuah pintu. Papa memutar gagangnya, tetapi pintu itu terkunci, lalu ia menatap Mama.

“Jangan.”

Mama langsung memperingatkan sebelum Papa melakukan sesuatu. Karena mama tahu kalau papa bisa saja menendangnya dan itu akan membuat keributan, di dapur tadi sudah cukup ribut, beruntung tak ada yang datang, lagian siapa yang mau datang ke rumah orang yang sakit menular.

“Aku tahu.” Papa menarik napas panjang. “Sayang sekali, padahal menyenangkan menendang pintu.”

Lira hampir tersenyum.

Mama mengeluarkan sesuatu dari saku jubahnya, sebuah kawat tipis, lalu memasukkannya ke lubang kunci dan memutarnya perlahan.

Klik.

Pintu terbuka. Papa menatapnya.

“Katanya tidak boleh pakai sihir.”

“Ini bukan sihir.” Mama mengelak, karena ini adalah keliahaian.

“Baiklah.”

Papa tersenyum tipis. Mereka masuk. Di kamar itu ada seorang pria sedang tidur, mengorok halus, kelelahan sudah pasti, mencoba melupakan masalah mereka sejenak, saking lelahnya, keributan di dapur tidak membuatnya bangun, maka Lira memegang kaki pria itu, membaca mantra dan mengorok halusnya berhenti, tidurnya jadi lebih tenang dan nyenyak, setidaknya dia tak akan bangun.

Lira tiba-tiba mengangkat kepala.

“Tunggu.”

Mama menoleh.

“Apa?”

Lira diam.

Ia mencoba mendengarkan. “Ada satu kamar lagi, itu pasti kamar Rani.”

Mereka keluar dari kamar itu dan di bagian lebih depan lagi setelah lorong yang tak terlalu panjang, ada kamar, maka kamar itulah yang belum diperiksa, terdengar suara batuk pelan dari kamar itu sebelum mereka memasukinya.

“Itu Rani.”

Mereka bertiga bergerak cepat. Papa berjalan lebih dahulu menyusuri lorong. Suara itu terdengar lagi, batuk kecil, kemudian suara seseorang memanggil pelan.

“Ma?”

Lira mempercepat langkah.

“Rani!”

“Lira?”

Lira hampir berlari, tetapi Mama menahannya.

“Pelan-pelan.”

Mereka berhenti di depan pintu yang tidak terkunci. Mama membukanya perlahan, lalu mereka melihat seorang gadis duduk di atas ranjang.

Rani.

Wajahnya terlihat pucat. Rambutnya berantakan dan matanya sembap seperti baru saja menangis. Selimut menutupi sebagian tubuhnya.

“Dengar Rani, aku tahu kamu terkejut kenapa kami di sini dan bisa masuk rumahmu tanpa ketahuan, tapi aku dan orang tuaku tak punya waktu untuk menjelaskan, aku mohon Rani, aku tak mau kehilanganmu dan karena itu, kami akan mencoba menyembuhkanmu dengan cara yang paling berbahaya bagi kami, kamu mengerti sahabatku?” Lira berkata pada Rani yang terbaring di tempat tidur, dia tak bisa bangun lagi untuk duduk dan baru beberapa hari dia sudah sangat pucat dan enggan makan.

Lira memeluk Rani dan mamanya Lira bersiap untuk ritual penyembuhan menggunakan sihir.

Mama menggambar simbol berbentuk lingkaran di lantai kamar Rani menggunakan serbuk putih yang dibawanya dari rumah. Garis itu tidak terlalu besar, hanya cukup untuk mengelilingi tempat tidur Rani. Di dalam lingkaran tersebut, Mama kembali menggambar pola seperti angka delapan yang saling bertaut, Ananta, simbol yang mereka gunakan untuk membaca sesuatu yang terus mengalir di dalam tubuh.

“Lira, dudukkan Rani.”

Lira membantu sahabatnya bersandar pada kepala tempat tidur. Tubuh Rani terasa ringan sekali, jauh lebih ringan dibanding beberapa hari lalu. Wajahnya pucat, bibirnya kering, lalu batuk kecil kembali keluar dari tenggorokannya.

Mama segera mengangkat tangan.

“Jangan tahan batuknya.”

Rani terlihat bingung.

“Kenapa?”

“Batukkan saja.”

Rani menurut.

Uhuk.

Uhuk.

Mama bertanya pada Lira, apa yang dia lihat dari udara yang disemburkan Rani melalui batuknya, "Udara hitam yang pekat, ma."

Kemudian mama mengeluarkan mangkuk kecil berwarna hitam dari dalam tas yang dibawa Papa Yelak.

“Ini daun sirih yang sudah mama tumbuk nak, kau harus memantrai daun ini agar memiliki efek sihir, seperti aroma sihir dari musang itu masuk ke dalam paru-paru semua orang, maka serai ini memiliki efek pembersihan yang sama jika dimantrai.

Daun sirih mampu membersihkan residu aroma sihir yang dikeluarkan oleh musang yang dimantrai itu, karena mengandung berbagai senyawa aktif, beberapa senyawa tersebut memiliki aktivitas antimikroba. Jadi kalau ada bau yang berasal dari aktivitas mikroorganisme, ekstrak sirih bisa membantu mengurangi sumber bau tersebut melalui aktivitas antimikrobanya.

Sekresi musang mengandung molekul-molekul aroma yang mudah menguap. Dalam kasus biasa, molekul itu hanya menghasilkan bau. Namun musang yang digunakan sebagai media sihir memiliki residu sihir yang melekat pada komponen tersebut.”

“Ma, aku nggak paham!” Lira memang belum pada kemampuan tersebut, mengenali penyakit yang datang dari sihir.

“Bahasa mudahnya adalah, musang biasa mengeluarkan aroma itu karena berasal dari sekresi kelenjar, tapi berbeda dengan musang yang disihir oleh mantra, karena sihir akan melekat pada aroma musang itu mirip seperti mikroorganisme tapi sebenarnya adalah residu sihir.

Nah, musang menyebarkan residu sihir ini melalui aromanya, aroma yang sudah dilekatkan dengan residu sihir, masuk ke dalam tubuh manusia lebih khususnya adalah paru-paru, maka residu sihir yang sudah di paru-paru itu akan merusaknya dengan berbagai cara, salah satunya membuat produksi lendir terus meningkat, maka orang tersebut akan terus batuk untuk mengeluarkan lendir seolah itu adalah reaksi tubuh alami, padahal residu sihir yang terbawa dari aroma musang yang menyebabkan produksi lendir meningkat, karena bukan reaksi alami tubuh, maka produksi lendir ini bisa dibuat terus meningkat sampai ....”

“Target sihirnya meninggal dunia.” Yelak melengkapi penjelasan mama.

“Berarti ada yang menargetkan kematian dengan sihir.” Mama menambahkan kesimpulan.

“Baiklah, kita cari tahu itu selanjutnya. Sekarang Lira baca mantranya agar sihir dapat mengalir pada bubuk daun sirih ini dan membersihkan residu sihir di dalam paru-paru Rani, seperti yang tadi mama bilang, bubuk sirih bisa membantu mengurangi sumber bau atau residu sihir tersebut melalui aktivitas antimikrobanya yang tentu saja akan Lira mantrai hingga saat bubuk sirih tiba di paru-paru Rani, residu sihir akan dibersihkan bubuk sirih sihir ini, produksi lendir berkurang dan batuk pun akan hilang .”

“Mama pintar sekali, dengar kan Rani, kau akan sembuh, ibu dan ayahmu juga akan disembuhkan, semua orang juga akan sembuh Rani, kita kehilangan Asti tapi kita tak boleh kehilangan lagi ya.”

Lira memulai mantranya ....

1
Vie Vie Sue
/Good/
Vie Vie Sue: iya. sama2 kk. aku masih disini cuma nungguin karya² kk. sukses selalu ya
total 2 replies
Betri kardina
berarti jagabaya kasipin jahat ya
Muka Kanvas: nah, akhirnya ada yang ngeh
total 1 replies
Tini Nurhenti
alurnya maju mundur ea thor,😁🤭💪💪💪
Muka Kanvas: Iya nih, stuck di 1965 dulu yaaaa
total 1 replies
Tini Nurhenti
penuh misteri 👍💪💪💪
Tini Nurhenti
hadir thor, cepy story lanjutane to ??
Tini Nurhenti: ok kk
total 2 replies
Arla
mungkin Dani atau orangtuanya
Muka Kanvas: bukan kok, bukan.
total 1 replies
Dea Suci
zombie ya kak
Muka Kanvas: Hampir
total 1 replies
Dea Suci
mei
Dea Suci
wadidaw,,, ternyata ohhh ternyata,, Dani pun sama.
Zakia
sambil nunggu PKJ3 baca ini dulu, sebenarnya heran kok eps beda karena sebelumnya sudah aku baca semua thor
Muka Kanvas: Sudah ganti judul, setelah melalui pertimbangan yang cukup berat, akhirnya aku memutuskan membawa kisah Dekekuoi jadi novel yang panjang.
total 1 replies
Arla
kenapa dihapus kak thor,, pantesan error tadi pas aku mau like🤭
Yosh Pontoh: Pantesan barusan aku cari di rak buku gak ada.
total 2 replies
Damn Nwtch
curiga sama pamannya,Napa Dani g boleh ikut
Muka Kanvas: Lanjt ya, udah ada part selanjutnya
total 1 replies
Tini Nurhenti
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/
Arla
kasihannya dokter itu
Arla
ngeri jiwa psikonya...
Ayuk Witanto
hiii serem
Ayuk Witanto
gila dia
Ayuk Witanto
bagus
Ayuk Witanto
seru sih...tapi gantung🤭
Wahyu ningsing: lha yaitu...gak enak digantung....pastinya sakit
total 3 replies
Tini Nurhenti
kek cerpen kk👍💪💪
Muka Kanvas: Iya betul, tapi lebih tepatnya antologi horor
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!