Seorang gadis 14th merelakan masa remajanya demi bisa masuk ke organisasi Phantom agar bisa membalas dendam kematian kakaknya. Misi pertama mendekati empat cucu Alexander Starling Gruop.
Demi keberhasilan misi Irish menggunakan apa saja termasuk mempermainkan perasaan targetnya.
Dendam nomer satu, perasaan nomer sekian!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Usu dedek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan maut sang dokter bedah.
Otakku benar-benar kacau. Pilihan sulit antara hidup dan mati di depanku. Aku bingung, tidak ada jalan keluar yang aman dari tiga pilihan itu.
Markus terkekeh melihatku kebingungan.
"Ayo Irish... tunjukkan siapa dirimu!" ejek Marcus dengan mulut yang berdarah-darah.
Tubuhnya hampir rubuh di lantai ubin itu, tapi dokter bedah itu masih menunjukan kegigihan dan menunjuk ke arah kamera. Dia tertawa kecil melihatku yang tegang dan pucat.
Insting bertahan hidupku mencuat dan aku sudah tidak tahan lagi. Waktuku hanya tersisa kurang dari 1 menit 80 detik, waktu yang terus terhitung mundur ke belakang membuat jantungku semakin melemah dan berdetak kencang tapi lambat.
Aku melihat ke samping tempat tidur dan berusaha menggapai kunci di samping lemari besi tempat tidurku.
Aku menggapai nya sekuat tenaga menggunakan gigiku. Perlahan kunci itu aku arahkan ke tanganku yang terkunci rantai. Aku mencoba membuka gembok yang ada di tanganku. Untung saja gigiku sangat kuat, sehingga tak patah saat menekan kunci besi itu.
Krek ... krek ... krek ... tiga kali putaran kuci itu baru sanggup membuka satu belenggu rantai di tanganku. Waktu berdetik dengan cepat, seolah bom waktu terus mengaungkan kecepatan yang harus ku tembus.
Setelah gembok itu terbuka, dengan cepat aku membuka gembok yang lainnya di kaki dan perutku. Hanya butuh waktu dua puluh detik untukku melepaskan diri dari tegangan rantai itu.
Aku berlari ke depan dan mematikan kamera sialan itu. Ku ambil jam waker yang terus berdetik membuatku bising. Brangggg ... bunyi nyaring dari jam yang ku lempar ke lantai membuat Markus tersenyum lebar.
Detakan jam penganggu itu akhirnya terdiam, berderai di lantai berubah menjadi pecahan kaca yang berhamburan. Aku puas melihatnya, lalu mataku beralih ke kotak besi di depanku.
Aku berusaha membuka brankas dengan kunci yang ku pegang. Ku lihat di samping kirinya terdapat monitor kecil. Tapi aku tidak tahu sandinya.
"Katakan! Apa sandinya? Apa kau ingin mati?"
Markus tertawa lebar.
" hahaha ternyata benar, kau bukan orang biasa, kunci gembok itu sudah di desain ulang oleh perusahaan Caspian, dan itu hanya bisa terbuka dengan kunci ajaibnya yang memiliki putaran berlawanan arah. Tapi kau ... hanya butuh waktu dua puluh detik untuk membukanya, kalau benar-benar menarik Irish."
"Sial ... , kau benar-benar menjebak!" umpatku.
Aku berusaha beberapa kali memutar kunci ke lubang brangkas itu, tapi tetap saja pintunya terkunci rapat. Aku sama sekali tidak tau sandi apa yang harus ku masukan. Aku tidak mengenal Markus sedikitpun.
"Mike ... di saat genting begini kau kemana?"
"Tinggal tujuh puluh detik lagi, Irish. Kita berdua akan mati!"
Aku semakin panik dengan ucapannya Markus, hidungku berdarah, urat-uratku membiru. Dokter muda itu memuntahkan darah segar dalam jumlah yang banyak, aku jadi semakin panik karena tak mengetahui apa kode brankasnya.
Aku yang sudah tak punya waktu lagi untuk berfikir memusatkan kekuatanku yang lainnya. Aku meninjunya sekuat tenaga.
Braaaaaakkkk.
Lemari besi kecil itu terbengkas dengan satu tinjuanku, aku lalu menggapai jarum suntik berisi penawar di dalam brankas itu. Aku terhuyung, tanganku berdarah-darah. Aku memuntahkan cairan merah. Kepalaku sangat pusing. Mataku berkunang-kunang parah hampir tak bisa melihat apapun.
Aku buru-buru menghampiri Markus dan menyuntikkan penawar itu ke lehernya. Walau sebenarnya aku sangat membutuhkan penawar itu, aku memilih menyelamatkan Markus lebih dulu.
Perlahan terlihat cairan di dalam tabung suntik itu mulai meninggalkan jejak tabung yang kosong. Wajah pucat Markus mulai berangsur pulih, aku tersenyum tak berdaya. Tanganku gemetar.
Seketika aku merasa tubuhku sangat ringan, bagai melayang di udara, aku tak sadarkan diri, tubuhku tergeletak lemas, racun itu telah menyebar di seluruh tubuhku. Jantungku terasa berhenti.
3 jam kemudian aku tersadar di sebuah ruangan dingin yang terasa pengap. Tepatnya itu adalah ruang isolasi di dalam rumah sakit yang jauh dari ruangan pasien lain.
Markus duduk dengan sombongnya di sampingku, aku tak merasakan ada lagi racun yang tersisa di dalam tubuhku. Aku juga sudah tidak terikat rantai lagi, dan tubuhku benar-benar pulih.
Markus menyeringai, "Kau benar-benar luar biasa Irish, hanya dengan waktu delapan puluh detik, kau bisa menyelamatkan diri. Dalam waktu 80 detik hanya seorang agen yang terlatih yang bisa melakukan itu,"
"Apa yang ingin kau katakan?" Aku langsung memotong ucapan Markus.
"Bukankah kita sudah bertaruh? aku sudah menebak rahasiamu, sekarang katakan sejujurnya, siapa dirimu?"
Cuiiihhh .... aku meludah tepat ke arah wajah Markus. Tampak dia menahan amarahnya sambil mengelap ludahku dengan sapu tangan miliknya. Aku marah karena dia benar-benar seorang psycopat. Sorot mataku memerah, nada bicaraku melengking tinggi.
"Marcus, kau sengaja mempermainkan hidup orang lain, bahkan kau rela mempertaruhkan hidupmu hanya untuk mengujiku? apa kau gila? apa kau tidak pernah diajari oleh keluargamu, bahwa nyawa itu hanya ada satu, kau bukan kucing yang memiliki 9 nyawa. Jika kau mati, kau tidak akan bisa bangkit kembali, kesempatan hidup hanya akan ada selama kita masih bernyawa!"
"Bulsit!!! Jangan sok mengajariku tentang nyawa manusia, aku seorang dokter, aku lebih tahu darimu! Racun itu hanya akan bereaksi melemahkan organ, bukan untuk membunuh!"
"Lalu bagaimana jika kau tidak selamat? Apa yang akan kau lakukan?"
"Aku. .... aku, aku yakin kau akan..."
Aku bangkit berdiri dari ranjang besi itu, ku dorong tubuhnya menjauh, hingga dia terpojok.
"Apa kau pernah berfikir sedikit saja, eksperimen yang kau lakukan akan seratus persen berhasil? Apa tak terlintas di otakmu itu, bagaimana jika kau salah, bagaimana jika eksperimen racunmu itu tidak cocok di tubuhku. Apa kau pernah berfikir bahwa tak selamanya kau itu benaaaaarrr!!"
"Ti ... ti ..... "
Markus terbata-bata. Matanya linlung saat menatapku. Aku terus memojokannya dengan kata-kata yang mengintimidasi.
"Sebagai seorang dokter yang telah di sumpah untuk menyelamatkan nyawa orang lain, kau malah menodai karaktermu dengan eksperimen yang mematikan dan mengancam jiwa. Jika saja darahku tidak kebal seperti orang lain, lima menit saja aku pasti sudah berpindah alam. Jika aku mati, apa kau bisa menjelaskan kepada keluargaku? Apa jebakan dan ujianmu lebih penting dari nyawa manusia? Aku pikir menjadi seorang dokter adalah hal yang paling mulia, tapi kau malah membuatku muak dan membenci seragam putih itu!!"
Markus tergamam mendengar ceramahku. Dia sedikit merasa bersalah, karena ujiannya barusan sangat-sangat tidak masuk akal. Aku kembali berbaring di ranjang keras itu. Aku masih terasa pusing karena Anemia.
Tampak dokter itu berubah ekspresi, dia lalu datang menghampiriku dan memberikanku segelas air, aku baru sadar ternyata tubuhku terikat di atas ranjang besi itu, kaki tanganku diikat 4 sisi dan aku telah berpindah ke suatu ruangan yang sangat jauh di dalam rumah sakit. Sebuah ruangan pribadi yang terpencil dan kedap suara.
"Sejak kapan kau mengikatku?" teriakku.
"Saat kau berbaring, kunci otomatis di ranjang itu akan mengikat kaki tanganmu."
"Kurang ajar! apa yang kau inginkan?"
Markus lalu memberikanku air untukku minum, aku memang kehausan, jadi aku meminumnya dengan rakus, seluruh pakaianku basah ditumpahi air minum itu. Dokter bedah itu merobek pakaianku.
Sraaaaaakk .