Alexa tak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena sebuah novel dark romance yang ditulis oleh saudara kandungnya sendiri. Saat membaca bab terakhir, ia menggerutu karena merasa alurnya terlalu kejam dan tokoh utama perempuan diperlakukan tanpa belas kasihan. Namun, ketika tanpa sengaja terjatuh dari tempat tidur, Alexa membuka mata di dunia yang sama persis dengan novel itu. Yang lebih mengejutkan, ia bukan menjadi tokoh sampingan—melainkan Alexa, karakter utama dengan nama yang sama dengannya. Kini ia adalah istri dari Raiden Damon Alteir, seorang mafia paling berkuasa yang namanya ditakuti di seluruh dunia bawah tanah. Di balik wajah tampannya, Raiden dikenal sebagai pria yang dingin, kejam, dan tak mengenal belas kasihan. Setiap kali amarahnya memuncak, kedua matanya berubah menjadi merah, seolah memperlihatkan sisi tergelap yang bahkan para pembunuh bayaran pun takut hadapi. Dalam alur novel, Alexa hanyalah pion yang terus dipermainkan dan dikendalikan oleh sang mafia psikopat. Ia tahu bagaimana kisah itu seharusnya berakhir—tragis. Karena itulah, Alexa bertekad mengubah takdirnya dan keluar dari cerita sebelum semuanya terlambat. Namun, semakin keras ia berusaha melarikan diri, semakin Raiden Damon Alteir menolak melepaskannya. Di dunia yang dipenuhi rahasia, perebutan kekuasaan, dan bahaya di setiap sudut, Alexa harus memilih: mengubah akhir cerita yang sudah ditulis, atau tenggelam dalam takdir kelam yang menantinya bersama sang raja mafia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Suasana di ruang makan malam itu terasa jauh lebih hening dari biasanya. Aroma hidangan daging panggang bertabur rempah mengisi udara, namun Alexa sama sekali tidak menyentuh piringnya dengan penuh gairah.
Gadis itu duduk lemas di kursinya, menyandarkan siku ke meja dengan raut wajah yang merana. Efek dari lari belasan putaran tadi pagi baru benar-benar menghantam fisiknya malam ini. Setiap kali ia mencoba menggerakkan kakinya di bawah meja, otot paha dan betisnya terasa menegang hebat dan gemetaran tanpa bisa dikontrol.
CTAK.
Denting pisau makan Raiden yang bersentuhan dengan porselen memecah keheningan. Pria itu menyapu bibirnya dengan serbet kain, lalu menatap Alexa dengan iris mata hitamnya yang dingin dan tajam.
"Besok pagi. Jam lima tepat di tempat yang sama," perintah Raiden datar, suaranya mengalun penuh penekanan tanpa niat memberi kompromi. "Aku tidak menerima alasan terlambat lagi."
Mendengar kata 'besok jam lima', Alexa seketika menegakkan punggungnya dengan susah payah. Rasa trauma akan siksaan lari belasan putaran tadi pagi mengalahkan rasa takutnya pada sang penguasa mafia.
"Nggak mau!" potong Alexa cepat dan tegas, mengibaskan tangannya di udara. "Aku nggak mau latihan lagi! Biarlah... biarkan saja aku mati dibunuh musuh-musuhmu kalau memang sudah takdirnya!"
Raiden menaikkan satu alisnya, menatap Alexa dengan pendar mata yang berbahaya. "Kau menolak?"
"Iya, aku menolak!" cerocos Alexa bersemangat, menunjuk ke bawah meja. "Lihat ini! Kakiku sekarang saja masih gemetaran bagaikan diguncang gempa bumi! Mau berdiri saja susah, apalagi disuruh lari-lari lagi besok pagi? Bisa-bisa kakiku copot dari engselnya!"
Alexa menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi sembari menatap Raiden dengan raut wajah yang mendadak berubah percaya diri—mencoba mengingat-ingat potongan nasihat konyol dari ibu-ibu kantin rumah sakit tempo hari tentang 'menempel, manja, dan menyentuh sisi kemanusiaannya'.
"Lagipula..." Alexa memajukan tubuhnya ke meja, menopang dagu dengan kedua tangannya sembari menatap lurus ke dalam iris mata hitam Raiden dengan tatapan sok manis. "Aku nggak perlu capek-capek belajar bela diri. Aku kan punya kamu... kamu pasti bakal melindungiku, kan?"
DEG.
Kalimat itu meluncur mulus tanpa beban dari mulut Alexa.
Gerakan tangan Raiden yang hendak meraih gelas anggurnya seketika terhenti total di udara. Pria itu terdiam beberapa saat, seolah tidak percaya dengan kombinasi kegilaan dan keberanian wanita di hadapannya ini.
Raiden menaikkan sebelah alisnya lebih tinggi, menyunggingkan sebuah senyuman miring yang teramat remeh, dingin, dan sarat akan ejekan tajam.
"Kau..." Raiden merendahkan suaranya, memangkas jarak dengan menyandarkan badannya ke meja makan. "Sepercaya diri itu, Alexa?"
Pria itu menatap Alexa bagaikan menatap mangsa kecil yang konyol. "Kau pikir siapa dirimu sampai aku harus membuang peluru dan tenagaku hanya demi melindungimu? Kau hanya pajangan di rumah ini. Jika kau mati, aku hanya perlu mencari pengganti baru."
Ejekan dingin itu terasa begitu menohok, tetapi Alexa tidak menyerah. Mengingat nasihat ibu-ibu kantin bahwa pria sekeras apa pun hatinya pasti bisa diluluhkan jika ditekan terus, Alexa nekat melancarkan trik berikutnya.
Alexa menggeser kursinya, berdiri dengan kaki yang masih agak gemetaran, lalu melangkah mendekati posisi duduk Raiden. Pria itu hanya memperhatikan setiap gerak-geriknya dengan tatapan mata hitam yang makin meredup pekat.
Alexa berhenti tepat di samping kursi Raiden. Mumpung Raiden tidak langsung mengusirnya, Alexa memberanikan diri menyentuh pelan lengan jas tegap Raiden—sebuah sentuhan singkat yang membuat otot lengan pria itu seketika menegang keras.
"Aku tahu kamu itu dingin, kejam, dan suka mengancam mau bunuh orang..." bisik Alexa dengan nada suara yang dibuat selembut dan sedamai mungkin, menatap mata Raiden dengan binar ketulusan buatan. "Tapi aku tahu... bukan berarti kamu sama sekali nggak punya perasaan atau hati nurani, kan?"
Alexa menyunggingkan senyum tipis yang hangat, mencoba tampil semanja mungkin di hadapan pria iblis tersebut.
"Kamu memang kelihatan jahat dari luar, tapi buktinya kemarin kamu tetap suruh dokter terbaik obati aku, kamu bawa aku kembali ke kamar pas aku mau pingsan, dan kamu izinkan aku makan enak di rumah sakit. Jadi... aku yakin di balik sifat iblis kamu ini, kamu pasti nggak bakal biarkan istrimu mati konyol begitu saja."
Atmosfer di ruang makan yang megah itu seketika merosot hingga ke titik beku absolut.
Raiden mematung di tempatnya. Iris mata hitam legamnya mengunci penuh pada wajah Alexa dan jemari kecil wanita itu yang masih menempel di lengannya. Untuk pertama kalinya dalam hidup seorang Raiden Damon Alteir, ada seseorang yang berani menguliti sifatnya secara terang-terangan dan menyebutnya punya perasaan di depan wajahnya sendiri.
ok...let's play 🤣🤣
Alexa swaaaag🤣🤣🤣🫣
double up
takut Raiden nya kelamaan ngejelasinnya nya
Alexa main lompat aja🥹
anak orang udah diperawanin trus ilang
jangan salahin kalau ntar Alexa nya menghilang juga😔
ketagihan kan kan 🙊🙄🙄