Indonesia
NovelToon NovelToon
Rahasia Rumah Warisan Kakek

Rahasia Rumah Warisan Kakek

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Misteri / Fantasi
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Apa benar ini rumah yang dimaksud? "
wajah Raisa pucat pasif sambil membawa tasnya di pundaknya.
Raisa beberapa hari lalu mendapatkan warisan dari kakek pihak ayahnya sebuah rumah di pinggir kota, saat berada dirumah dekat hutan itu memang rumah mewah tapi suasananya aneh.
tapi Raisa tidak punya pilihan karena dia juga tidak punya tempat tinggal di kota, daripada dia menjadi tunawisma lebih baik tinggal di rumah hantu itu.
saat tinggal di dalam sana, kejadian aneh terjadi padanya.
dari mulai bayangan manusia hitam, setiap tengah malam.
saat tengah malam, Raisa dikejutkan dengan kenyataan ternyata dirinya hidup dengan makhluk halus dirumah ini dan pemimpin rumah itu adalah makhluk Banaspati bernama Arya.
Dan siapa Arya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 28.Pergi bersenang-senang.

Pelukan itu terasa begitu lama, begitu melepas segala rindu dan luka yang menganga. Saat Raisa perlahan melepaskan pelukannya, pipinya masih basah oleh air mata, namun ada cahaya baru yang bersinar di matanya—cahaya damai yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Arya berdiri diam menatapnya, jemarinya yang tadi mengusap punggungnya kini perlahan turun menggenggam jemari gadis itu dengan lembut namun tak tergoyahkan.

“Kau tidak langsung pulang?” tanyanya pelan, memecah keheningan di antara hiruk-pikuk orang yang lalu lalang.

Raisa menggeleng pelan, lalu tersenyum tipis. “Belum. Rasanya... aku ingin berjalan sebentar. Menikmati suasana kota sebentar sebelum kembali ke desa. Kau mau menemaniku?”

Arya tak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk pelan, membiarkan Raisa menggandeng lengannya, dan mereka pun melangkah berjalan santai menyusuri trotoar kota yang mulai ramai oleh orang-orang yang pulang beraktivitas. Sepanjang jalan, Raisa menceritakan semuanya—mulai dari perasaan canggung saat pertama kali bertemu Kakek Hasan, bentakan yang mengejutkan, hingga penyesalan tulus dan pemberian kotak berisi kenangan serta surat ibunya. Arya mendengarkan dengan saksama, matanya tak lepas dari wajah Raisa, merasakan setiap getaran emosi yang meluap dari cerita gadis itu seakan itu adalah bagian dari dirinya sendiri.

“...dan saat aku membaca surat itu,” ucap Raisa mengakhiri ceritanya dengan suara sedikit bergetar, “baru aku sadar bahwa selama ini aku begitu berharga untuk ibuku. Hanya saja orang lain yang membuatku merasa begitu,kata kejam yang disematkan sebagai pembawa sial.”

“Mulai sekarang jangan perdulikan ucapan mereka, jika ada yang berani berkata seperti itu aku akan bakar mereka sampai hangus. ”

Raisa pun tersenyum mendengar ucapan Arya yang terasa sebagai penghibur hatinya.

Lalu mereka berhenti sejenak di tepi jembatan kecil yang membelah sungai kota yang airnya mengalir tenang memantulkan cahaya matahari sore. Raisa menatap Arya lekat-lekat, tiba-tiba sebuah pertanyaan melintas di benaknya yang membuatnya mengerutkan dahi heran.

“Tunggu... bagaimana kau bisa ada di sini tepat?” tanyanya polos namun penuh rasa ingin tahu. “Kau tidak mungkin tahu kapan aku mau pulang, atau kamu membuntutiku.”

Arya tersenyum samar, tatapannya lembut menatap manik mata Raisa. “Tentu saja aku tahu kau ada di mana. Ke mana pun kau melangkah, aku bisa merasakan keberadaanmu.”

Raisa mendengus kecil seakan tak percaya, bibirnya mencebik lucu. “Lalu bagaimana caranya kau datang ke sini? Naik bus? Memangnya kau punya uang? Jangan bilang kau menyihir daun kering atau ranting kayu berubah jadi uang sungguhan? Itu namanya penipuan, Arya!”

Dengan santai namun penuh kelembutan, Arya menyentil pelan dahi Raisa hingga gadis itu sedikit meringis sambil tersenyum. “Aku tidak butuh kendaraan, dan aku tidak butuh uang untuk bisa berada di hadapanmu. Aku hanya perlu tahu ke mana arahmu, dan dalam sekejap aku sudah ada di sana.”

Mata Raisa seketika membelalak lebar, mulutnya sedikit terbuka tak percaya. “Wah hebat sekali! Jadi kau berteleportasi datang kemari begitu saja?”

“Tentu saja,” jawab Arya santai seolah hal itu adalah hal paling lumrah di dunia.

Raisa tertawa renyah, suara tawanya bergema indah menyapa angin sore. Ia kembali menarik lengan Arya mengajaknya berjalan kembali. “Kalau begitu, mumpung kita sudah sampai di sini,bagaimana kalau... kita ke taman hiburan?Sudah lama sekali aku pergi kesana.”

Arya sempat ragu sejenak, matanya melirik ke arah jalan raya yang menuju desa. “Lebih baik kita pulang. Hari sudah mulai sore.”

“Jangan begitu dong,” rengek Raisa manis sambil semakin erat menggandeng tangan besar itu. “Kau terlalu lama terkurung di rumah tua itu. Sekarang aku yang mengajakmu bersenang-senang. Ayo, sebentar saja!”

Tanpa menunggu jawaban, Raisa segera melambaikan tangan memanggil taksi yang lewat. “Pak, ke taman hiburan pusat kota ya!”

Mereka berdua pun masuk taksi ke taman hiburan kota yang dituju.

Sepanjang perjalanan naik taksi, Raisa terus bercerita dengan antusias tentang wahana apa saja yang ingin ia coba, sementara Arya hanya diam memperhatikannya dengan tatapan yang semakin hangat. Baginya, tempat hiburan itu tak penting, suara hiruk-pikuk orang tak penting, yang paling penting adalah wajah berseri gadis di sampingnya yang kini tampak begitu hidup dan berwarna.

Sesampainya di loket masuk, Raisa segera merogoh sakunya dan membayar tiket mereka berdua. Saat melirik ke arah Arya yang hanya diam menatapnya tanpa berniat mengeluarkan apa pun, Raisa tersenyum lebar. “Kau lihat kan? Kali ini aku yang mentraktir. Nanti kalau kau butuh sesuatu, bilang saja padaku.”

Arya hanya tersenyum tipis, matanya memancarkan rasa syukur yang tak terucap. Di mana pun kau berada, di situlah duniaku, batinnya berbisik pelan.

Mereka pun melangkah masuk ke area taman hiburan yang penuh warna dan suara tawa orang-orang. Awalnya Raisa ragu mengajak Arya naik wahana yang berputar cepat, namun ternyata Arya menurut saja begitu Raisa menarik tangannya. Mereka mencoba naik perosotan tinggi, komidi putar, hingga kereta maut yang melaju kencang melintasi rel yang berbelok tajam. Raisa berteriak kaget namun diiringi tawa lepas, sementara Arya hanya diam tenang, namun genggaman tangannya tak pernah lepas sedetik pun.

Saat masuk ke rumah hantu yang konon paling menakutkan di kota itu, Raisa justru tertawa kecil melihat penampakan hantu buatan yang berusaha mengejutkan mereka. “Apa ini saja? Di rumah kita saja jauh lebih nyata dan... lebih sopan menyapaku,” candanya sambil melirik Arya yang kini sedikit tersenyum melihat tingkahnya.

Selanjutnya mereka berhenti di arena permainan menembak. Raisa mencoba lebih dulu namun pelurunya meleset terus-menerus, membuatnya cemberut lucu. “Aduh, mana kena sekali!”

“Biar aku coba, ” ucap Arya pelan.

Ia mengambil senapan mainan itu, menatap sasaran dengan tenang, dan dalam sekali tembak sasaran paling jauh pun jatuh. Satu per satu sasaran yang susah pun tak luput dari bidikannya. Penjaga permainan itu sampai ternganga tak percaya, lalu memberikan seluruh hadiah berupa boneka-boneka lucu dalam jumlah banyak kepada Raisa.

“Wah hebat sekali kau!” puji Raisa gembira sambil memeluk tumpukan boneka itu. “Kupikir hanya aku yang bersenang-senang, ternyata kau juga menikmatinya ya?”

“Selama kau tersenyum seperti ini, aku menikmatinya lebih dari yang kau tahu,” jawab Arya pelan namun tegas.

Matahari mulai condong ke barat, menyisakan semburat jingga keemasan yang indah di langit. Raisa kini memakai bando berbentuk telinga kelinci putih yang lucu, sementara Arya dengan pasrah memakai bando tanduk iblis kecil berwarna merah yang diselipkan Raisa di kepalanya. Tangan kiri Raisa penuh dengan balon warna-warni, tangan kanannya digenggam erat oleh Arya, dan boneka-boneka itu tersusun rapi dalam satu karung yang mereka bawa bersama.

“Apakah kita pulang sekarang?” tanya Arya pelan memecah keheningan indah itu.

Namun Raisa tak menjawab seketika. Matanya menatap sekelompok siswa sekolah menengah atas yang berjalan beriringan sambil tertawa riang mengenakan seragam mereka. Ada kerinduan mendalam yang terpancar dari wajahnya—kerinduan pada masa muda yang sempat ia jalani namun penuh luka akibat perundungan dan tuduhan yang tak adil.

Arya mengikuti arah pandangannya, lalu bertanya lembut, “Kau ingin kembali bersekolah?”

Raisa mengangguk pelan namun senyumnya pudar seketika. “Sangat ingin sekali... tapi aku takut. Begitu mereka tahu siapa aku, atau melihat hal-hal yang tak biasa di sekitarku, mereka pasti akan kembali menyebutku monster. Mengucilkan aku seperti dulu.”

Jari-jari Arya meremas lembut jemari gadis itu, menatapnya lekat dengan keyakinan yang tak tergoyahkan. “Jangan khawatir. Di Desa Suka makmur,tak ada satu pun yang berani menganggapmu rendah atau mengucilkanmu. Kau adalah pemilik sah rumah itu, dan kau adalah Raisa yang kujaga. Tak ada yang berani menyakitimu.”

Wajah Raisa perlahan kembali cerah, senyum lebar kembali merekah indah di bibirnya. “Benarkah begitu?”

“Benar,” jawab Arya mantap. Ia lalu mengulurkan tangannya. “Ayo kita kembali ke rumah.”

Namun Raisa tidak langsung menyambut uluran tangan itu. Ia menggeleng pelan sambil tersenyum nakal. “Kali ini jangan teleportasi. Kita pulang naik bus saja seperti orang biasa. Rasanya pasti lebih seru dan tenang.”

Arya mengangguk setuju. “Baiklah. Sesuai keinginanmu.”

Mereka pun berjalan menuju terminal bus dengan langkah yang lebih santai. Sepanjang perjalanan pulang di dalam bus yang mulai sepi, Raisa yang kelelahan seharian bersenang-senang perlahan memejamkan matanya. Kepalanya perlahan terkulai lembut di bahu bidang Arya, napasnya teratur menandakan ia sudah terlelap nyenyak.

Arya diam mematung sejenak, merasakan berat kepala gadis itu di bahunya, merasakan hangatnya tubuh yang begitu dekat dengannya. Ada getaran aneh yang merambat dari ujung jari hingga ke seluruh tubuhnya—getaran yang sudah ratusan tahun tak pernah ia rasakan lagi. Jantungnya yang dulu berhenti berdetak saat ia berubah wujud, kini seakan kembali berdenyut pelan namun pasti.

Perasaan ini... batinnya bergumam tak percaya. Ini persis sama... perasaan yang kurasakan ratusan tahun lalu saat aku masih manusia biasa, perasaan yang pernah aku rasakan padanya.

Ia menatap wajah damai Raisa yang terlelap, dan perlahan satu senyum tulus yang jarang sekali ia tunjukkan terukir indah di bibirnya. Hari itu ia sadari satu hal yaitu takdir yang menyatukan mereka bukan sekadar soal warisan rumah atau janji lama, melainkan pertemuan dua jiwa yang sama-sama mencari tempat untuk pulang. Dan Arya tahu, mulai saat ini, ia tak akan pernah membiarkan gadis itu merasakan kesepian lagi.

 ​

1
sakura
...
Fatim Zahra
semangat kak, ditunggu ya update nya
vania larasati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!