Indonesia
NovelToon NovelToon
MENANTU MISKIN INI TERNYATA PRESDIR!

MENANTU MISKIN INI TERNYATA PRESDIR!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dian Mita

Tiga tahun menikah, Rendy selalu dihina, diperlakukan seperti pembantu, dan dibeda-bedakan oleh ibu mertua serta iparnya karena hanya dianggap seorang sopir miskin tak berpendidikan. Clarissa, sang istri, hanya bisa diam menahan tekanan keluarga besarnya. Puncaknya, saat bisnis keluarga mengalami krisis, Rendy difitnah mencuri, dipaksa menandatangani surat cerai, dan diusir di tengah hujan deras tanpa membawa apa pun.
​Namun, keluarga itu tak pernah tahu bahwa Rendy sebenarnya adalah satu-satunya ahli waris Pradipta Group—konglomerat terbesar yang sengaja menyamar demi menguji ketulusan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Mita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Sekretaris Khusus

Suara wanita bergaun mewah yang secara tiba-tiba menyela di ambang pintu membuat suasana di ruang kerja Presiden Direktur Pradipta Group membeku seketika.

Rendy Pradipta sama sekali tidak terkejut. Pria tegap itu berdiri anggun di balik meja kerjanya, menatap wanita yang baru masuk dengan pandangan yang amat dingin. Sementara itu, Clarissa yang masih berlutut di atas karpet sutra mendongak pelan dengan raut wajah pucat pasi.

"Ibu Melia," ujar Rendy dengan suara berat dan tenang, menyapa salah satu pemegang saham senior Pradipta Group tersebut. "Tidaknya ada sopan santun untuk mengetuk pintu sebelum masuk ke ruangan saya?"

Wanita bernama Melia itu melipat kedua tangannya di depan dada, melirik Clarissa yang terduduk lemas di lantai dengan tatapan merendahkan. "Saya hanya ingin memastikan kabar burung yang beredar di antara para direksi, Rendy. Tapi rupanya Anda sedang sibuk mengatur... urusan pribadi."

Rendy mengibaskan tangannya secara anggun. "Asisten Bagas, antar Ibu Melia ke ruang rapat direksi. Saya akan menyusul dalam lima menit."

Bagas yang berdiri di dekat pintu segera melangkah maju dan mempersilakan Melia keluar dengan gesture tegas tanpa kompromi. Setelah pintu kayu jati tebal itu kembali terkunci rapat, keheningan yang membakar kembali menyelimuti ruangan luas di lantai lima puluh tersebut.

Rendy memutar tubuhnya perlahan, melangkah mendekat hingga ujung sepatu kulit mengilapnya berhenti tepat di hadapan Clarissa yang masih berlutut.

"Berdiri, Clarissa," perintah Rendy pendek. Suaranya rendah, penuh daya tekan mutlak yang tidak membiarkan adanya bantahan.

Dengan jemari yang gemetaran dan persendian lutut yang lemas, Clarissa perlahan membangkitkan tubuhnya. Gaun pensil hitam pas badan yang membungkus ketat siluet rampingnya menegaskan lekuk tubuhnya yang indah, sementara dadanya yang membusung halus di balik kain hitam naik turun dengan cepat akibat napas yang terengah-engah panik.

Clarissa menyapu air mata yang menggenang di pelupuk matanya, menunduk rapat tak berani menatap langsung manik mata gelap mantan suaminya.

"Ambil dokumen kontrak di atas meja dan tanda tangani sekarang," lanjut Rendy dingin seraya melangkah mundur, menyandarkan punggung tegapnya pada pinggiran meja jati raksasa.

Clarissa melangkah gontai mendekati meja. Dengan jemari lentik yang gemetar hebat, ia menyambar pulpen mahal di atas meja dan membubuhkan tanda tangannya di atas lembaran kertas stempel tersebut. Setiap goresan tinta di atas dokumen itu seolah menancapkan stempel bahwa mulai detik ini, hidup dan raga Clarissa berada di bawah kendali mutlak Rendy Pradipta.

"Sudah... Mas..." bisik Clarissa dengan suara serak yang patah-patah, menyerahkan berkas itu kembali.

"Di kantor ini, sebut aku Tuan Presdir," potong Rendy cepat, suaranya datar namun menusuk ulu hati Clarissa. "Mulai hari ini, tugas pertamamu sebagai sekretaris khusus adalah melayaniku dan memastikan seluruh kebutuhan pribadiku di kantor terpenuhi."

Rendy perlahan menegakkan tubuh tegapnya. Pria itu mengangkat kedua tangannya, merapikan kerah kemeja kustom berwarna abu-abu gelap yang dikenakannya, lalu melirik dasi sutra hitam yang menggantung longgar di leher kokohnya.

"Sini," panggil Rendy pendek.

Clarissa mendongak pelan, ragu-ragu. "T-Tuan... Presdir...?"

"Pasangkan dasiku," perintah Rendy tanpa ekspresi, pandangannya mengunci raut wajah Clarissa yang rapuh. "Bukankah dulu kamu sangat mahir melakukan ini setiap pagi?"

Pernyataan itu menghantam dada Clarissa bagaikan tikaman pisau beracun. Ingatan masa lalu saat mereka masih tinggal di kontrakan kusam mendadak berputar kembali di benaknya—momen sederhana di mana ia selalu memasangkan dasi murah untuk Rendy sebelum pria itu berangkat bekerja.

Dengan langkah kaki yang amat berat dan dada yang bergemuruh heboh, Clarissa maju dua pijakan rapat mendekati Rendy.

Jarak di antara mereka seketika menguap.

Clarissa mengangkat kedua tangan gemetarnya, menjangkau lipatan kerah kemeja di leher kokoh Rendy. Dalam jarak yang begitu dekat, aroma parfum maskulin mewah berkarakter kayu cedar dan amber milik Rendy seketika menyergap seluruh indra penciuman Clarissa. Aroma mahal yang memabukkan itu berbaur rapat dengan hawa panas yang memancar dari dada bidang pria tegap tersebut.

Seketika itu pula, persendian lutut Clarissa mendadak melentur lemas. Desir panas yang amat dahsyat merayap naik dari perut bawahnya, menyebarkan rasa merinding yang membakar di sepanjang tulang belakangnya.

Clarissa memegang ujung dasi sutra tersebut dengan jari-jari yang kaku. Napasnya makin terengah-engah halus, membiarkan dadanya bergeser amat dekat—nyaris menyentuh dada keras kemeja Rendy.

Rendy tidak menggerakkan tubuhnya sedikit pun. Pria itu berdiri tegap bak patung agung, menundukkan wajah tampannya untuk menatap lurus ke dalam mata bening Clarissa yang sembap. Jarak wajah mereka kini hanya tersisa beberapa milimeter saja.

Ujung hidung tegap Rendy hampir bersentuhan dengan pipi halus Clarissa. Hembusan napas hangat dan berat yang berembus dari bibir Rendy mengusap lembut permukaan kulit leher sensitif Clarissa, membakar kesadarannya hingga titik terendah.

Clarissa menelan ludah dengan tenggorokan yang amat kering. Pandangannya tak sengaja bergeser menatap bibir tegap Rendy—bibir yang semalam menyesapnya dengan ciuman agresif dan sarat akan dominasi yang membakar. Rasa haus akan kasih sayang dan ingatan sensual tentang sentuhan fisik Rendy membuat jemari Clarissa di atas dasi makin bergetar hebat.

"M-Mas..." desah Clarissa lirih tanpa sadar, matanya terpejam rapat saat kehangatan tubuh Rendy makin menguasai seluruh indranya. "Aku... aku tidak kuat..."

Tubuh Clarissa hampir limbuh karena rasa lemas yang melumpuhkan kakinya, terbuai oleh aura keperkasaan dan dominasi mutlak dari mantan suaminya.

Namun, tepat saat Clarissa kepasrahan penuh dan hendak menyandarkan dahinya di dada bidang Rendy—

Jemari tegap Rendy mendadak terulur naik. Pria itu mencengkeram kedua bahu mulus Clarissa dengan ketegasan yang dingin, menahan tubuh wanita itu agar tidak makin merapat.

Rendy mendekatkan bibirnya tepat di samping cuping telinga Clarissa yang memerah panas.

"Jangan lupa batas profesionalismemu, Sekretaris Clarissa," bisik Rendy dengan suara berat, rendah, dan amat membekukan jiwa. "Kamu di sini untuk bekerja dan menebus kesalahan keluargamu, bukan untuk menggoda atasanmu."

Kata-kata dingin Rendy bagaikan siraman air es yang meremukkan seluruh buaian gairah di dada Clarissa. Tubuhnya menegak kaku dalam cengkeraman jemari tegap Rendy di bahunya.

Rendy melepas cengkeramannya secara perlahan, melangkah mundur satu pijakan untuk mengikis kehangatan intim yang baru saja membakar atmosfer di antara mereka. Pria itu merapikan ikatan dasi sutra hitamnya yang kini terpasang sempurna dengan gerakan amat elegan, seolah tak ada getaran fisik apa pun yang baru saja terjadi.

Clarissa menunduk rapat, meremas jemari tangannya yang terasa dingin dan kebas. Pipinya memerah menahan rasa malu dan kebas di ulu hati. Penghinaan terselubung itu menegaskan kembali posisinya: ia di sini bukan sebagai wanita yang dicintai, melainkan sebagai tawanan yang harus tunduk pada sang penguasa.

"Duduk di meja kerja sekretaris di luar," perintah Rendy datar tanpa memandangnya lagi. "Asisten Bagas sudah menyiapkan seluruh dokumen laporan bulanan yang harus kamu ketik ulang sebelum makan siang."

"Baik... Tuan Presdir," sahut Clarissa dengan suara patah-patah.

Dengan langkah gontai, Clarissa berbalik dan berjalan keluar dari ruang kerja mewah itu. Namun, baru saja kakinya menapak di luar pintu jati tebal, Siska sudah berdiri di balik meja sekretaris luar dengan menyilangkan kedua tangannya di dada. Senyum sinis terukir tajam di bibir bergincu merah menyala milik wanita itu.

"Selamat datang di neraka kecilmu, Sekretaris Clarissa," bisik Siska meremehkan saat Clarissa melewati mejanya.

Clarissa tidak membalas. Ia memilih duduk di meja kerja kecil yang ditunjukkan Bagas, berusaha fokus pada tumpukan berkas di hadapannya meski pikirannya terus dipenuhi bayangan wajah tegap Rendy.

Waktu berlalu hingga petang menjelang. Ketika seluruh staf kantor mulai bersiap pulang, lampu indikator di atas pintu ruang kerja Presdir mendadak menyala merah.

BZZZT!

Suara pengeras suara interkom di meja Clarissa berbunyi. Suara berat Rendy mengudara singkat.

"Clarissa, masuk ke ruanganku sekarang. Bawa dokumen evaluasi investasi."

Clarissa merapikan gaun pensil hitamnya, menyambar map yang diminta, lalu melangkah masuk ke dalam ruang kerja Rendy yang kini hanya diterangi pendar temaram lampu dinding keemasan.

Rendy berdiri di dekat dinding kaca raksasa, membelakanginya sambil menyesap segelas wine merah. Senja yang redup membiarkan siluet tubuh atletis pria itu terpancar begitu dominan dan misterius.

"Tuan Presdir, ini dokumen yang Anda minta," ujar Clarissa pelan seraya mendekat.

Rendy memutar tubuhnya perlahan. Namun, sebelum pria itu sempat menyentuh map di tangan Clarissa, pintu lift pribadi di sudut ruangan mendadak terbuka dengan bunyi denting halus.

Seorang pria paruh baya bertubuh tinggi besar dengan setelah jas kustom berwarna abu-abu tua melangkah keluar. Wajah pria itu sangat mirip dengan sosok di foto-foto lama keluarga kerajaan bisnis Pradipta. Di belakangnya, empat pengawal berbadan tegap mengawal dengan senyap.

Rendy seketika menghentikan langkahnya, matanya menyempit tajam menatap pria paruh baya tersebut.

"Ayah...?" gumam Rendy rendah, aura di dalam ruangan mendadak berubah sangat tegang dan berbahaya.

Pria tua itu menghentikan langkahnya, menatap Rendy lalu mengalihkan pandangannya pada Clarissa yang berdiri mematung. Pria itu menyunggingkan senyum dingin yang amat mengintimidasi.

"Jadi ini putraku yang hilang..." suara berat pria tua itu menggelegar tenang di dalam ruangan. "Kamu sudah kembali ke takhta, Rendy. Tapi sayang... kamu membawa kembali sampah yang dulu merusak namamu.

Pesan Author :

Ya Allah, 28 Bab... Rendy udah aku siksa dari jadi pembantu sampai difitnah nyuri jam tangan 😭

Aku capek nulisnya, tapi lihat Popularitas udah 1,54K rasanya terharu banget. Makasih 8 orang yang udah kasih Like, kalian penyemangatku.

Tapi jujur, aku lagi di ujung Eksposur Karya. Retensi Bab 20 ku masih kosong karena Like ku masih 8. Kalau gak sampai 50 Like, novel ini gak akan Lulus dan gak bisa dilanjut ke Bab 29 (adegan kopi tumpah yang kalian tunggu-tunggu itu).

Boleh gak... minta bantuan 1 detik aja?

Klik tombol ❤️ LIKE di atas dan komen "Rendy jangan jadi pembantu lagi!"

Kalau Like tembus 50 malam ini, aku janji jam 10 pagi langsung aku up BAB 29 : KOPI YANG TUMPAH

Tolong bantu Rendy jadi Presdir beneran ya 😭🙏

1
Dian Paramita Dewi
Semangat....terus berkarya ☺️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!