Indonesia
NovelToon NovelToon
Dukun Gadungan

Dukun Gadungan

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Mengubah Takdir / Epik Petualangan
Popularitas:541
Nilai: 5
Nama Author: Al-Ashar

Seorang Pemuda Pengangguran Terdesak pinjol ia pun nekat menjadi Dukun Palsu/Gadungan karena menemukan beberapa barang kuno lalu muncul ide menjadi Dukun..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al-Ashar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benih di Pelosok Negeri

Cahaya keemasan matahari fajar menyusup halus di antara celah-celah daun pohon perindang di pelataran Brajamukti Cultural & Mindset Center Umalas. Udara pagi Bali yang biasanya tenang hari itu diwarnai kesibukan yang luar biasa. Di pelataran parkir yang luas, lima unit kendaraan operasional bertuliskan Tim Ekspedisi Pendampingan Rakyat Brajamukti telah berjejer rapi dengan mesin menyala halus. Puluhan alumni Akademi Angkatan Kedua tampak cekatan memasukkan kardus-kardus berisi modul pelatihan, perlengkapan pencatatan keuangan digital sederhana, serta alat uji kualitas produk UMKM ke dalam bagasi.

Mereka adalah para pemuda-pemudi pilihan yang siap diberangkatkan menuju lima titik kawasan terpencil di pelosok Nusantara: pedalaman Malinau di Kalimantan Utara, pesisir Halmahera Selatan, pegunungan Mamasa di Sulawesi Barat, daerah terisolasi di Pulau Sumbawa, hingga wilayah perbatasan di Kepulauan Aru.

Mamat berdiri di teras utama mengenakan kemeja katun melayu berwarna putih bersih dan celana kain longgar. Di sampingnya, Darto memegang papan jalan berisi daftar manifest pemberangkatan dan alokasi logistik, sementara Bowo sibuk memeriksa kesiapan mekanis setiap armada serta memastikan pasokan perbekalan darurat terpenuhi.

"Semua tim sudah siap, Mat," ujar Darto seraya mengusap keningnya yang berpeluh tipis. "Masing-masing kelompok dipimpin oleh satu alumni senior dari Angkatan Pertama dan dibantu empat lulusan baru. Mereka bakal menetap di desa sasaran selama enam bulan penuh tanpa pulang."

Mamat melangkah turun dari teras, mendekati rombongan muda yang sedang berkumpul melingkar di tengah lapangan. Wajah-wajah muda itu memancarkan campuran antara rasa gugup dan semangat yang membara.

"Adik-adikku," panggil Mamat dengan suara yang tenang namun berwibawa, membuat seluruh anggota tim seketika menghentikan aktivitas dan menatap penuh perhatian. "Kalian berangkat bukan untuk menjadi pahlawan yang menepuk dada atau merasa lebih tinggi dari warga setempat. Kalian berangkat sebagai pelayan rakyat. Di tempat tujuan nanti, kalian akan menemukan orang-orang yang lelah karena berkali-kali ditipu oleh janji manis orang kota atau tercekik bunga lintah darat."

Mamat menatap mata para ketua tim satu per satu dengan pandangan yang dalam.

"Jangan pernah datang membawa kesombongan ijazah," lanjut Mamat. "Dengarkan keluhan mereka, pelajari adat istiadat setempat, dan mulailah dari hal terkecil yang bisa memperbaiki piring nasi mereka hari ini. Jika kalian menjaga kejujuran dan ketulusan, warga sendiri yang akan menjaga kalian melebihi keluarga mereka sendiri."

Rian, yang kini menjabat sebagai Koordinator Lapangan Tim Ekspedisi, melangkah maju dan memimpin doa bersama sebelum pemberangkatan. Suara doa yang mengalun khusyuk di tengah semilir angin pagi Bali itu menguatkan tekad lima puluh pemuda yang siap menjadi benteng ekonomi di pelosok Nusantara.

Saat iram-iraman mobil operasional bergerak pelan meninggalkan gerbang Umalas, Darto mendesah pelan seraya menyandarkan bahunya ke tiang teras.

"Rasanya aneh ya, Mat," gumam Darto. "Dulu kita bertiga lari dari kampung cuma naik bak pick-up sayur kubis tanpa tahu esok hari bisa makan atau tidak. Sekarang kita melepas puluhan anak muda naik mobil operasional resmi buat memajukan desa orang."

Mamat tersenyum tipis, menepuk pundak Darto. "Itulah bedanya roda kehidupan yang digerakkan oleh niat, To. Kalau dulu kita cuma memikirkan perut sendiri, langkah kita sempit. Tapi pas kita memikirkan perut orang banyak, jalan itu dibukakan lebar-lebar dari arah yang tidak disangka-sangka."

Dua bulan setelah pelepasan tim ekspedisi, Mamat memutuskan untuk melakukan kunjungan mendadak tanpa pemberitahuan (blusukan) ke beberapa pasar tradisional di Jawa Timur. Ia ingin melihat secara langsung bagaimana para alumni akademi menerapkan ilmu pendampingan di lapangan tanpa ada rekayasa laporan.

Di Pasar Besar Malang, Mamat berjalan mengendap-endap mengenakan kaus polos kusam, celana jeans longgar, dan topi pet yang menutup sebagian dahinya—penampilan sederhana yang membuatnya membaur sempurna dengan ribuan pembeli, pedagang kaki lima, dan kuli panggul pasar. Darto dan Bowo mengikuti dari jarak sepuluh meter, berpura-pura menjadi pembeli beras yang sedang mengecek harga.

Mamat melangkah menyusuri lorong bagian pedagang bumbu dan sayur mayur yang becek. Di salah satu lapak sempit berukuran dua kali dua meter, tampak seorang alumni Akademi Angkatan Pertama bernama Anisa sedang duduk berjongkok di samping seorang nenek penjual bawang merah.

Anisa tidak sedang memegang laptop atau memberikan ceramah tebal. Jemarinya yang cekatan tampak membantu sang nenek memilah bawang merah yang bagus dari yang busuk, seraya mencatat transaksi harian di sebuah buku saku kecil bersampul kain kusam.

Mamat mendekati lapak tersebut, berpura-pura menawar harga bawang merah.

"Mbak, bawang merahnya kiloan berapa ini?" tanya Mamat dengan suara diperberat.

Anisa mendongak, menyapu keringat di pelipisnya dengan lengan kemeja. Tanpa mengenali Mamat karena topi pet dan kacamata hitam yang dikenakannya, Anisa menjawab ramah, "Tiga puluh dua ribu satu kilo, Pak. Ini bawang murni dari petani Probolinggo, timbangannya pas tidak kita kurangi satu gram pun. Kalau mau yang agak kecil buat bumbu dapur, ada yang dua puluh delapan ribu."

Sang nenek penjual bawang menimpali dengan senyum ompongnya, "Iya Pak, tumbas di sini saja. Sejak disampingi Mbak Anisa ini, timbangan saya diperbaiki pakai timbangan digital dari koperasi. Pembeli tidak ada yang komplain lagi, dan saya tidak perlu pinjam uang ke rentenir pasar buat kulakan."

Mamat menarik napas dalam-dalam, merasakan kehangatan yang menjalar di dadanya. Ia melepas topi pet dan kacamata hitamnya perlahan.

Anisa seketika membelalakkan mata, melompat berdiri dari jongkoknya! "P-Pak Mamat?!"

Mamat tersenyum lebar, menganggukkan kepalanya dengan rasa bangga yang amat sangat. "Kerja bagus, Anisa. Kamu tidak cuma mengajarkan cara berdagang, tapi kamu mengembalikan kehormatan nenek ini di mata para pembelinya."

Anisa menunduk haru, matanya berkaca-kaca. "Terima kasih, Pak Mamat. Petuah Bapak waktu di akademi selalu saya ingat: kejujuran pedagang kecil adalah modal sosial termahal yang tidak bisa dibeli dengan modal besar mana pun."

Mamat memberi selipan amplop kecil berisi tambahan modal usaha untuk sang nenek penjual bawang, lalu melanjutkan langkahnya menyusuri lorong pasar dengan perasaan yang begitu lega. Di dalam lorong-lorong pasar yang padat dan berbau rempah itu, Mamat menyaksikan secara langsung bahwa benih-benih kejujuran yang ditanamnya telah tumbuh mekar menjadi pohon-pohon perlindungan bagi rakyat jelata.

Sekembalinya Mamat ke Bali pada akhir pekan, sebuah kabar mengejutkan datang dari Darto yang menyambutnya di bandara Ngurah Rai.

"Mat, ada tamu penting dari Kuala Lumpur yang sudah nunggu di villa sejak kemarin sore," kata Darto seraya mengambil alih tas travel Mamat.

"Tamu dari Malaysia? Siapa?" tanya Mamat curiga.

"Namanya Dato' Azman," jawab Darto pelan. "Dia pengusaha properti dan pengelola jaringan pusat perbelanjaan ternama di sana. Tapi yang bikin kaget, dia tahu identitasmu dari zaman 'Master Mamat' di Jakarta dulu."

Mamat mengerutkan dahi. Kenangan masa lalunya saat menjadi motivator gadungan yang digrebek warga di Jakarta kembali terbayang sekilas. Namun, Mamat yang sekarang tidak lagi merasa panik atau cemas. Ia telah memutus seluruh keterikatan dengan kepalsuan tersebut.

Satu jam kemudian, di ruang tamu Brajamukti Center yang sejuk, Mamat duduk berhadapan dengan Dato' Azman—seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan pakaian formal khas melayu eksekutif dan cincin bermata zamrud di jarinya.

Dato' Azman memandang Mamat dengan tatapan menilai yang sangat tajam sebelum akhirnya tersenyum tipis.

"Pak Eko Prasetyo... atau saya harus panggil Master Mamatya?" sapa Dato' Azman dengan logat Melayu yang kental.

Mamat tersenyum tenang, menyodorkan cangkir teh hangat kepada tamunya. "Panggil saya Mamat atau Eko saja, Dato'. Gelar 'Master' itu sudah lama saya kubur di masa lalu bersama ketidakjujuran saya."

Dato' Azman manggut-manggut, menyandarkan punggungnya ke sofa. "Saya mengagumi kejujuran Anda. Tiga tahun lalu, saya pernah melihat rekaman video seminar Anda di Jakarta yang berakhir keributan itu. Waktu itu saya pikir Anda hanyalah penipu ulung yang bakal masuk penjara atau hilang ditelan bumi."

"Lalu apa yang membuat Dato' jauh-jauh terbang ke Bali hari ini?" tanya Mamat langsung pada inti persoalan.

Dato' Azman merogoh tas diplomatnya, mengeluarkan seberkas dokumen proyek bernilai puluhan juta Ringgit.

"Saya mengikuti perkembangan Anda," papar Dato' Azman dengan nada penuh keseriusan. "Bagaimana Anda meruntuhkan kedok penipu itu, mengakui kesalahan di depan publik, lalu membangun gerakan pendampingan ekonomi rakyat yang bersih dari Bali hingga ke perbatasan. Itu menunjukkan bahwa Anda memiliki sesuatu yang jarang dimiliki para konsultan berpengalaman: pemahaman mendalam tentang kegagalan dan ketahanan mental manusia."

Dato' Azman menggeser dokumen tersebut ke hadapan Mamat.

"Saya ingin menyewa yayasan Anda untuk memimpin program pembenahan mentalitas dan pemulihan krisis bagi dua ribu karyawan serta mitra UMKM binaan jaringan mal saya di Malaysia dan Johor," tegas Dato' Azman. "Biayanya murni profesional, dan lima puluh persen nilainya bisa Anda alokasikan untuk dana Beasiswa Akademi Anda di Indonesia."

Mamat memandangi dokumen kontrak internasional tersebut. Darto dan Bowo yang berdiri di belakang Mamat menahan napas. Sebuah tawaran proyek besar yang tidak datang dari alasan klenik atau motivasi palsu, melainkan atas dasar pengakuan terhadap integritas dan rekam jejak transformasi hidup Mamat!

Mamat menatap Dato' Azman dengan senyum tulus yang mantap.

"Kami menerima tawaran kerja sama ini, Dato'," tegas Mamat. "Tapi dengan satu syarat mutlak: tidak ada materi motivasi omong kosong. Seluruh program akan fokus pada audit masalah nyata, perbaikan manajemen emosi, dan pelatihan strategi kerja yang jujur."

Dato' Azman menepuk meja dengan gembira, menjabat tangan Mamat erat-erat. "Deal! Itu justru yang memang kami cari!"

Kabar keterlibatan Brajamukti Center dalam proyek skala regional di Malaysia ternyata tidak hanya memicu kekaguman, tetapi juga menyulut cemburu dan dendam dari para pemain lama. Di sebuah klub malam privat di kawasan elit Jakarta Selatan, tiga orang pria berjas mahal sedang berkumpul di sudut ruangan yang remang.

Pria pertama adalah Bambang Utomo, pendiri lembaga pelatihan motivasi "Super Mindset" yang omzetnya merosot drastis sejak reputasi Mamat naik daun. Pria kedua adalah Kyai Fakhrudin, seorang praktisi supranatural komersial yang kehilangan ratusan klien kaya dari kalangan pejabat akibat gerakan pencerahan Mamat. Sedangkan pria ketiga adalah seorang pengacara licik bernama Pengacara Hartono.

"Ini tidak bisa dibiarkan," geram Bambang Utomo seraya menghempaskan gelas wiskinya ke meja. "Si Mamat itu dulu cuma dukun gadungan tidak lulus SMA! Sekarang dia mau main di level internasional dan mengangkangi bisnis kita?!"

Kyai Fakhrudin mengelus jenggot panjangnya dengan raut muka dengki. "Dia menggunakan isu 'kejujuran' dan 'rekonsiliasi masa lalu' untuk menarik simpati publik. Padahal dia menyimpan ribuan rahasia kelam. Kalau kita bongkar arsip-arsip lama penipuannya di Semarang dan Jakarta lewat media nasional, nama Brajamukti Center bakal hancur dalam semalam!"

Pengacara Hartono tersenyum licik, membuka sebuah map cokelat tebal di atas meja. "Saya sudah mengumpulkan berkas kasus-kasus lama, surat pernyataan mantan korban yang dulu pernah diproduksi Pak Bintoro, serta rekaman mentah siaran langsung Jakarta. Kita tidak perlu menggugat secara hukum—kita cukup menyerang reputasinya lewat kampanye media hitam (black campaign) tepat saat penandatanganan kontrak Malaysia minggu depan!"

Rencana jahat itu disusun dengan sangat rapi. Mereka berniat menghancurkan Mamat bukan dengan otot atau parang seperti yang dilakukan Bang Tato dulu, melainkan dengan senjata yang jauh lebih mematikan: pembunuhan karakter di media massa!

Seminggu kemudian, saat Mamat, Darto, dan Bowo sedang bersiap menuntaskan berkas administrasi proyek Kuala Lumpur, badai media yang dirancang konspirasi bandar lama meletus secara serentak di jagat maya!

Tagar #SkandalMamatya dan #DukunGadunganInternational menjadi topik hangat nomor satu di berbagai platform media sosial. Video-video potongan lama saat acara seminar Mamat dibubarkan di Jakarta diputar kembali dengan narasi yang diplintir secara jahat. Ditambah lagi, artikel-artikel berita bohong (hoaks) bermunculan di situs-situs berita abal-abal, menuduh Brajamukti Center sebagai kedok pencucian uang dan aliran sesat baru.

Di ruang kerja Umalas, suasana mendadak tegang. Darto sibuk menerima puluhan panggilan telepon dari wartawan nasional dan mitra bisnis yang meminta klarifikasi.

"Mat! Ini parah banget!" seru Darto dengan wajah pucat. "Beberapa sponsor lokal mulai ragu, dan ada kelompok massa yang mulai memprovokasi untuk mendatangi kantor cabang kita di Surabaya!"

Bowo mengepalkan tangannya murka. "Ini pasti ulahnya si Bambang Utomo sama dukun-dukun sakit hati yang bisnisnya bangkrut! Biar aku sama tim keamanan berangkat ke Jakarta buat selesaikan orang-orang itu, Mat!"

Mamat berdiri di dekat jendela, memandangi pekarangan villa yang tenang. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kepanikan. Keheningan batinnya yang telah tertempa membuat Mamat mampu melihat serangan ini dengan kepala dingin.

"Tenang, Bowo," panggil Mamat pelan. "Jangan lawan lumpur pakai lumpur, nanti baju kita ikut kotor. Mereka menyerang kita pakai cerita masa lalu yang diplintir. Senjata terbaik untuk mematahkan kebohongan bukanlah amarah, melainkan kebenaran murni yang dibuka seluas-luasnya."

"Maksudmu gimana, Mat?" tanya Darto bingung.

Mamat membalikkan badan, menatap dua sahabatnya dengan senyum mantap. "Kita tidak akan membuat klarifikasi tertutup atau menyewa pengacara buat membungkam media. Kita tahan penandatanganan kontrak Malaysia selama tiga hari, dan besok malam kita gelar Konferensi Pers Terbuka Nasional di Jakarta! Biarkan seluruh media, mantan korban, hingga para pengkritik datang dan bertanya langsung di hadapanku!"

Darto dan Bowo terperanjat mendengar keputusan nekat sahabat mereka. Mamat memilih melangkah langsung ke dalam kobaran api untuk membuktikan bahwa emas murni tidak akan pernah hancur oleh bakaran jerami!

Malam konferensi pers terbuka tiba. Hotel ballroom mewah di kawasan Senayan, Jakarta, dipenuhi oleh ratusan wartawan, kamera siaran langsung dari sepuluh stasiun televisi nasional, serta perwakilan dari berbagai organisasi masyarakat.

Di barisan depan, Bambang Utomo, Kyai Fakhrudin, dan Pengacara Hartono duduk dengan senyum kemenangan. Mereka yakin Mamat akan gagap, ketakutan, dan hancur di bawah tekanan pertanyaan tebas wartawan.

Mamat melangkah naik ke panggung tanpa didampingi pengacara berjas mahal. Ia hanya didampingi oleh Darto, Bowo, serta Pak Bintoro yang sengaja terbang dari Kalisari untuk berdiri sebagai saksi sejarah.

Mamat duduk di balik meja pembicara, menyesuaikan posisi mik di hadapannya. Kamera-kamera berita berkilat memancarkan cahaya lampu kilat (flash) tanpa henti.

Seorang wartawan senior dari majalah investigasi langsung berdiri dan menyodorkan pertanyaan menohok. "Pak Eko Prasetyo! Berdasarkan video lama dan dokumen yang beredar, Anda terbukti pernah melakukan praktik penipuan berkedok dukun di Kalisari dan konsultan aura palsu di Semarang! Apakah seluruh gerakan Brajamukti Center saat ini hanyalah strategi pencucian nama baik dan manipulasi publik skala besar?"

Suasana ballroom seketika hening pekat. Seluruh mata tertuju pada wajah Mamat.

Mamat menarik napas panjang, menatap lurus ke arah kamera siaran langsung nasional.

"Pertanyaan Anda seratus persen benar," jawab Mamat dengan suara bernada jujur, tegas, dan tanpa sedikit pun usaha untuk membela diri.

Seluruh ruangan gempar! Bambang Utomo dan komplotannya saling bertukar pandang kaget—mereka tidak menyangka Mamat akan langsung mengakui tuduhan tersebut tanpa perlawanan!

"Saya, Eko Prasetyo alias Mamat," lanjut Mamat seraya berdiri dari kursinya. "Memang benar seorang mantan penipu jalanan. Saya pernah menipu warga Kalisari pakai racun nyamuk aerosol dan petasan banting. Saya pernah membodohi orang-orang kaya di Semarang pakai minyak zaitun lima ribuan. Dan saya adalah pria yang lari dari panggung seminar Jakarta karena kebohongan saya terbongkar!"

Mamat memandangi seluruh wartawan di dalam ruangan.

"Saya tidak berdiri di sini untuk membela masa lalu saya yang hitam," tegas Mamat. "Masa lalu itu adalah fakta sejarah hidup saya yang buruk dan tidak bisa dihapus. Tapi jika ada yang menuduh Brajamukti Center saat ini sebagai manipulasi, silakan periksa seluruh pembukuan keuangan kami! Periksa ribuan pedagang pasar, nelayan, dan petani yang telah mandiri tanpa kami pungut sepeser pun! audit dana hibah kami sampai cent terakhir!"

Mamat lalu menunjuk Pak Bintoro yang berdiri di samping panggung.

"Pria di samping saya ini adalah Pak Bintoro, mantan polisi militer yang dulu membongkar penipuan saya di desa dan hampir menyeret saya ke penjara," kata Mamat penuh takzim. "Beliau ada di sini bukan untuk membela kebohongan saya, tapi untuk menjadi saksi bahwa seorang mantan penipu pun punya hak dan kesempatan untuk bertobat dan memperbaiki hidupnya!"

Pak Bintoro melangkah maju ke podium, mengambil mik dari tangan Mamat. Pensiunan tentara berwajah tegas itu menatap tajam ke arah kamera dan ke arah komplotan Bambang Utomo di barisan depan.

"Saya Bintoro!" seru Pak Bintoro dengan suara menggelegar khas tentara. "Saya orang pertama yang paling benci sama Mamat waktu dia jadi dukun gadungan! Tapi saya juga orang pertama yang menyaksikan bagaimana Mamat memeras keringatnya sendiri selama bertahun-tahun di Bali untuk membayar semua dosa masa lalunya! Jika ada di antara kalian yang tidak pernah berbuat salah seumur hidup, silakan lempar batu pertama pada anak ini!"

Kejujuran tanpa topeng dari Mamat dan kesaksian tegas dari Pak Bintoro menghantam ruangan ballroom bagaikan petir di siang bolong!

Para wartawan yang tadinya siap membedah Mamat mendadak tertegun haru. Tepuk tangan riuh perlahan-lahan mulai bergema dari sudut belakang ruangan, lalu menjalar kencang memadati seluruh isi ballroom!

Upaya pembunuhan karakter yang dirancang oleh Bambang Utomo dan komplotannya hancur berkeping-keping di hadapan panggung kejujuran murni Mamat!

Serangan media yang tadinya dirancang untuk menghancurkan Mamat justru berbalik menjadi panggung kemenangan moral terbesar bagi Brajamukti Center. Keberanian Mamat mengakui masa lalunya secara terbuka di siaran langsung televisi nasional dipuji oleh berbagai kalangan akademisi, pengamat sosial, hingga masyarakat luas sebagai contoh langka dari integritas sejati.

Komplotan Bambang Utomo dan Kyai Fakhrudin justru mendapat kecaman publik setelah persekongkolan jahat mereka terbongkar oleh tim investigasi media independen. Lembaga motivasi palsu milik Bambang ditinggalkan oleh para kliennya, sementara reputasi Brajamukti Center semakin meroket ke puncak kepercayaaan publik.

Dua hari setelah konferensi pers di Jakarta, penandatanganan kontrak kerja sama internasional antara Brajamukti Center dan jaringan usaha Dato' Azman resmi dilaksanakan di Kuala Lumpur, Malaysia, disaksikan oleh para pejabat kementerian perdagangan dua negara.

Sore harinya, di balkon hotel berbintang yang menghadap ke pemandangan Menara Kembar Petronas, Mamat duduk santai bersama Darto dan Bowo seraya menikmati cangkir teh hangat.

Darto menggeleng-gelengkan kepalanya seraya tersenyum lebar. "Asli, Mat... waktu di konferensi pers kemarin, jantungku rasanya mau copot pas kamu langsung ngaku kalau kamu mantan penipu."

Bowo ikut tertawa terkekeh. "Tapi taktikmu luar biasa, Mat! Orang kalau sudah tidak punya rahasia yang disembunyikan, tidak akan ada musuh yang bisa menjatuhkannya lagi!"

Mamat memandangi gemerlap lampu Kota Kuala Lumpur yang mulai menyala di bawah naungan senja.

"Bukan taktik, Wo," sahut Mamat pelan dan tulus. "Itu kebenaran. Kebohongan itu ibarat membawa beban berat di atas kepala sambil berjalan di atas tali licin. Sekali kita lepas semua beban kebohongan itu dan melangkah di tanah jujur, tidak ada lagi yang perlu kita takutkan di dunia ini."

Ia memandangi dua sahabat terbaiknya yang telah menempuh ribuan mil perjalanan bersamanya dari Kampung Kalisari. Perjalanan mereka masih sangat panjang. Rencana pembentukan cabang-cabang baru di perbatasan, ekspansi akademi, dan pendampingan ekonomi rakyat masih membentang luas di depan mata.

Mamat mengangkat cangkir tehnya, menyunggingkan senyum hangat seorang pejuang kehidupan yang telah menemukan takdir sejatinya. Perjalanan ini belum berakhir, dan lembaran-lembaran baru persahabatan serta pengabdian murni mereka baru saja dimulai menuju puncak-puncak kejayaan berikutnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!