18 Juni 2022, Di beberapa bagian bumi saat itu masih siang, namun tiba-tiba langit menjadi gelap. jutaan atau bahkan milyaran. Tidak, bahkan lebih dari milyaran organisme berbalut kulit metal dengan warna hitam legam, turun bagai hujan dan menderu permukaan bumi.
E.P (Energy Parasite), makhluk organisme yang menyerang dan memakan sumber-sumber energi listrik. Alat elektronik, kendaraan, menara pemancar, dan segala sesuatu yang mengeluarkan, menggunakan, dan menghasilkan energi listrik dilumpuhkan. Dalam sekejap semua energi lenyap dari muka bumi.
20 tahun berlalu, umat manusia beradaptasi dengan ketiadaan energi listrik. Sepintas semua tampak baik walau tanpa didukung teknologi canggih. Ditengah-tengah kepasrahan masyarakat, sekelompok unit khusus, E.D.F (Earth Defense Force) berjuang mengusir para parasit untuk mengembalikan manusia ke era kejayaannya.
Sanggupkah umat manusia mengakhiri lingkaran nasib akibat penjajahan makhluk organisme E.P (Energy Parasite) pada akhirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Venzuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 27 - Topeng
Hongkong, 07 Maret 2042
“Kamu ini sebenarnya siapa? Kemampuanmu benar-benar diluar akal sehat.”
“Itu…”
Aku berpikir sejenak, apakah aku harus memberi tahu kondisi khususku kepada wanita di depanku ini?
Memang, kondisiku bukan kondisi super rahasia, dimana tidak seorang pun yang tidak boleh tahu… Tapi, Giselle adalah seorang jurnalis, dengan kata lain info yang kuberikan akan tersebar. Memang tidak ada urgensi untuk menyembunyikan keadaanku, namun wajah dan kondisiku diketahui oleh sebagian besar orang-orang? Bukan ide yang bagus menurutku…
“Soal itu, gue ngga bisa ngasih tahu Sell…”
Gadis didepanku ini merespon jawabanku dengan cemberut, kemudian ia pun berkata pelan…
“Ok, off the record deh. Murni rasa penasaran aku aja…”
“Off the record?”
“Artinya aku engga akan merekam apapun. Murni tanya jawab biasa….”
“Iya gue tahu artinya, maksudnya jadi selama ini…”
“Ah….” Gumam Gissele pelan, kemudian terkekek riang.
“Kamu ngira aku nyeludupin recorder gitu? Kamu udah liat gimana ketatnya penjagaan di sini kan? Lagian gimana makainya dengan keadaan kaya sekarang?”
Iya juga sih…
”Terus maksud lu off the record?”
“Ya, jawaban kamu mengenai dirimu sebenarnya ngga akan ku publikasikan…”
“Yang sebelumnya?”
“Jelas, jadi bahan tulisanku selanjutnya…”
Kugelengkan kepalaku tak percaya.
“Jadi, kamu sebenernya siapa?”
Aku pun terdiam beberapa saat sambil menimbang-nimbang… “Kenapa gue harus percaya ama lu?” Tanyaku sengit.
“Aku punya kode etik jurnalistik, lagipula, aku ngga akan bohong sama orang yang udah nyelamatin nyawaku.”
Jadi kalau bukan orang yang nyelamatin nyawamu engga apa-apa gitu?
“Ok, gue pegang janji lu ya… Tapi ada syaratnya kalo lu mau tahu info mengenai siapa gue sebenarnya.”
“Syarat?”
“Kita dinner berdua.”
Dia menatapku kesal, kayanya dia engga nyangka kalau aku sekeras kepala itu.
“Fine!”
Yes, misi berhasil!
“Jadi?” Tanyanya pelan.
“Jadi begini…”
. . .
Kuceritakan semua yang ku tahu mengenaiku padanya. Soal jantung bionic, perlakuan spesial yang ku terima, bahkan soal masa hidupku yang mungkin hanya tersisa 1 tahun lagi.
“Waw, kisahmu benar-benar…”
“Benar-benar engga bisa di percaya?”
Giselle mengangguk pelan, kemudian melanjutkan…
“Jadi kalau kamu ngga berhasil menghentikan invasi E.P dalam setahun, kamu akan…”
“Itu kemungkinan terburuknya. Tentu kita harus mempertimbangkan waktu yang digunakan untuk pembangunan kembali fasilitas medis dan energi. Operasi jantung bukanlah hal yang mudah dilakukan, bahkan pada era lama.”
Giselle menatapku sedih, kemudian tersenyum menyemangatiku…
“Tenang aja, kamu pasti bisa kok! Kamu akan menghentikan invasi E.P, operasi, kemudian hidup sampai tua, menyaksikan cucu-cucumu tumbuh dan berkembang dengan sehat!”
“Makasih ya Sell…”
Giselle pun tersenyum manis, kemudian mengambil beberapa lembaran kertas dari tasnya.
“Ini deh, anggap aja kita tukaran informasi…” Ujarnya kalem.
“Tukaran informasi?”
“Iya, gini-gini aku juga dah nyari informasi kesana kemari…”
“Jadi, ini informasi mengenai apa?” Ujarku seraya melihat -lihat lembaran itu.
“Soal organisasi rahasia, yang kelihatannya anggotanya bisa mengendalikan E.P….”
Akupun tersentak kaget, mengendalikan E.P? berarti dugaan Prof. Indra benar? Ada ‘oknum’ yang berperan dalam invasi E.P, bahkan mereka bisa mengendalikan E.P…
“Sejauh mana yang lu tahu? Soal organisasi rahasia ini?” Tanyaku menyelidik.
Giselle pun menghela nafas berat, kemudian menjawab…
“Ngga banyak, mereka benar-benar tersembunyi dan hampir tidak pernah muncul di depan publik. Bahkan sebagian besar info yang kuperoleh hanya rumor.”
“Rumor?”
Ia pun mengangguk pelan, sebelum melanjutkan, “Meskipun hanya rumor, namun sumberku ini cukup bisa di percaya. Dari berbagai rumor dan kesaksian saksi mata, ada beberapa hal umum yang menjadi ciri khas organisasi ini…”
Akupun hanya bisa terdiam mendengar penjelasan Giselle. Lagipula, bagaimana bisa dia mendapatkan info yang bahkan masih belum diketahui E.D.F?
“Yang kuketahui, anggota mereka yang sering muncul di garis depan ada lima orang. Berdasarkan ciri-ciri fisik mereka, kemungkinan besar empat orang adalah pria dan satu orang wanita. Mereka selalu muncul menggunakan jubah putih yang bercorak sama, dan wajah mereka tidak pernah terlihat.”
“Wajah mereka tidak terlihat?”
“Ya, mereka juga selalu menggunakan topeng putih.”
Topeng ya? Jangan-jangan, mereka yang dimaksud kapten janggut hitam?!
“Ada lagi yang lu ketahuin Sell?”
Giselle mengeleng pelan, “Sejauh ini cuman itu yang aku tahu… Makanya aku mencari info tambahan darimu…”
“Info tambahan?”
“Ya, misalnya apa yang terjadi saat kau pergi ke ruang kapten…”
Ah, kenyataan memang ngga selalu seindah harapan ya?
“Saat gue pergi ke ruang kapten?”
“Apa ada yang kalian bicarain ngga saat itu?”
Ada yang tidak beres disini, aku bisa merasakannya…
“Ian? Kamu ngga apa-apa?” Tanya Giselle, kaget melihat perubahan tingkahku.
“Sell, jujur, dari mana lu dapat semua info ini?”
“Yah, aku punya banyak sumber.”
“Maaf sell…”
“Eh?”
Secepat kilat, ku ambil pistolku yang tersembunyi di balik selimutku. Sebagai seorang prajurit tentu aku tidak sebodoh itu untuk membiarkan diriku tanpa perlindungan.
“Jawab yang jujur sell, darimana lu dapat semua info ini!” Ujarku mendesak sambil menodongkan pistolku padanya.
Tak kuduga, air mata menetes pelan menyusuri wajah cantiknya…
“Aku Jurnalis Ian, aku ngga bisa gitu aja bocorin sumber informasiku. Mereka dalam bahaya kalau aku sampai ngelakuin itu…”
“Trus kenapa lu mau tahu soal kejadian di ruang kapten?”
“Aku dapat informasinya dari rekan-rekanmu, tapi engga sedetail kamu yang ngalaminnya sendiri kan?”
Apa ini? Giselle kelihatannya tidak punya niat jahat, apa aku hanya terlalu paranoid?
Perlahan, ku turunkan senjataku.
“Maaf…” Gumamku pelan…
Ia hanya mengangguk sambil menyeka air matanya, ah, aku merasa bersalah sekarang…
“Yah, engga banyak yang kami bicarakan sih. Dia cuman nyebutin soal pria bertopeng. Selebihnya, yah, pertarungan berat sebelah…”
Lagi-lagi Giselle hanya mengangguk pelan, hah… Suasananya jadi canggung sekarang.
“Kamu… Benar-benar seorang prajurit ya…”
“Ya, begitulah…” Ujarku sambil terkekeh pelan.
“Apa kamu selalu nodong cewe pakai pistol gini?”
“Ngga gitu juga sih…”
Dia pun kembali menatapku dengan mata basahnya.
“Susah ya buat percaya sama aku? Aku kelihatan kaya orang jahat ya?”
Aku pun hanya terdiam, tidak tahu apa yang harus kukatakan.
Memang sepertinya dia gadis yang baik, tapi entah kenapa, ada perasaan yang menganjal di hatiku. Apa ini karena insting prajurit terlatihku? Untuk saat ini, akan ku kesampingkan dulu perasaan ganjil ini.
“Iya deh, gue percaya deh…”
Seutas senyum pun terukir di wajahnya, yah, untuk sekarang akan ku coba mempercayainya…
“Percaya kok pistolnya masih di pegang?”
“Buat jaga-jaga aja…”
“Ian…”
Yah, akupun akhirnya mengalah. Ku letakan pistolku di atas meja, kemudian kembali bertanya pada Giselle.
“Tapi informan lu itu luar biasa banget, sampai bisa tahu informasi yang kita E.D.F aja engga tahu.”
“Yah, dengan uang semua urusan jadi gampang sih…”
Nyogok ya?
“Ortu lu sekaya apa sih? Penasaran gue, kayanya lu ngeluarin uang gampang banget gitu…”
“Kamu tahu perusahaan tambang batu bara, Forward Together?”
“Perusahaan tambang terbesar di Asia itu?”
Giselle mengangguk pelan, kemudian menjelaskan, “Perusahaan itu punya keluargaku…”
Pantas!
Disaat Era Tanpa Energi ini, mesin uap menjadi salah satu tumpuan untuk menopang industri. Tentu saja, batu bara menjadi komoditas yang nilainya melonjak berkali-kali lipat. Bisa dibayangkan, betapa besarnya penghasilan perusahaan tambang terbesar se asia, Forward Together?
“Gile, pantas aja uang berasa kaya daun buat lo…”
“Yang kaya papah aku, bukan aku…”
“Tapi lu tetep dapat jatah bulanan kan?”
“Iya sih…”
Bentar, bentar, terus kenapa dia milih jadi jurnalis? Bukannya dia bisa aja nerusin usaha keluarganya? Masalah internal? Sebelumnya juga dia sempat menyebutkan orang tuanya… Atau karena passion?
Ah, sudahlah. Aku tidak berhak mencampuri masalah orang lain. Sekarang yang lebih penting…
“Sell…”
“Hmm?”
“Sori ya soal tadi, kamu masih marah?”
Giselle mengeleng pelan, “Gapapa kok, prajurit kan emang harus selalu siaga.”
“Gini aja deh, gue bakal nebus kesalahan gue deh.” Bujukku lembut.
“Nebus kesalahan?”
“Iya, gue akan ngajak lu dinner mewah berdua, gimana?”
“Modus terus lu Ian…”
Kami pun tertawa riang, kemudian Giselle mengejekku pelan.
“Kamu segitu sukanya sama aku, tapi ngga mau percaya aku?”
Aku pun hanya mengaruk rambutku yang tidak gatal…
“Well, you know Rian. You should trust your instincs… (Kau tahu Rian, seharusnya kau mempercayai firasatmu...”
Eh…
Ttak…
Akupun berbalik ke arah senjataku tergeletak, yang kini berada dalam gengaman Giselle, teracung ke arahku.
“Sell?”
“Maaf Ian…”
DOR!
Bersambung
🤩🤩🤩🤩🤩