Novel ini menceritakan tentang ambisi seorang remaja perempuan bernama Liony atau biasa dipanggil dengan Lily yang berusaha keras untuk membuat bangga kedua orang tuanya. Dalam perjalanan meraih impiannya Lily mendapatkan godaan yang bertentangan dengan harapan orang tuanya, yaitu soal cinta. Hal itu membuat Lily akhirnya memutuskan backstreet dengan Rayyan namun tetap bersama-sama fokus untuk meraih impiannya masing-masing. Namun perjalanan mereka menjadi rumit setelah Rayyan menerima tantangan dari Messi tanpa diketahui oleh Lily. Bahkan lebih rumit dari yang dikira ketika Rayyan tidak dapat menahan godaan hawa nafsunya. Akankah mereka dapat meraih impiannya dan tetap bersama setelah menghadapi itu semua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brienna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta yang Tak Terbalas
“Gimana kalau Kita buat fake account untuk follow akun dia?” Tanya Lily.
“Lagi ngomongin siapa sih? Kenapa harus bikin fake account? Kalau akunnya private belum tentu orang mau konfirmasi akun nggak jelas.” Ucap Anthony yang baru saja datang.
“Eh bener lagi.” Celetuk Lily.
“Bukan apa-apa kok, urusan cewek.” Jawab Julia.
“Okay kalau nggak mau cerita, but let me know kalau kalian berubah pikiran.” Jawab Anthony.
Kalau boleh jujur, Anthony ini tipe cowok idaman cewek-cewek di sekolah. Udah ganteng, pinter, populer, tajir pula. Tapi karena dulu dekat dengan Ivana dan Jovanka mulutnya ikutan suka ngomong pedes nyelekit. Sekarang tiba-tiba Anthony malah bergabung dengan Lily dan Julia. Anthony masih suka ceplas-ceplos nyelekit kalau ngomong tapi ucapannya seringkali ada benarnya.
Siomay Pak Dadang pun diantarkan ke meja mereka. Lily dan Julia langsung melahap siomay milik mereka. Anthony justru ragu untuk memakannya.
“Kalian yakin ini enak? Siomay kan harus pakai bumbu kacang?” Tanya Anthony.
“Mau bumbu kacangnya? Nih Aku kasih sedikit.” Ucap Julia.
“Jangan, itu pedas.” Anthony menolak.
“Coba dulu aja pakai kecap, dulu pas Aku sakit dan nggak bisa makan pedas juga Aku makan siomaynya pakai kecap doang. Ternyata enak.” Jawab Julia.
Dengan ragu-ragu Anthony menyendok siomaynya. Julia pun dengan sengaja mendorong sendok itu ke mulut Anthony agar Anthony mempercepat gerakannya. Anthony pun mengangguk setuju jika siomay itu enak.
Namun tanpa mereka sadari hal itu terlihat berbeda bagi Jovanka. Jovanka melihat bahwa Julia sedang menyuapi Anthony. Tentu Jovanka kesal melihatnya dan segera kembali ke ruangan kelas dengan Ivana.
Anthony yang awalnya ragu kini mulai lahap memakan siomay yang hanya ditambahkan dengan kecap. Lily dan Julia tertawa melihat Anthony yang awalnya ragu menjadi lahap.
“Enak kan? Siomay Pak Dadang itu jajanan paling the best di kantin ini.” Ucap Julia.
“Lumayan.” Jawab Anthony.
“Bilang enak aja gengsi banget sih.” Sindir Julia.
“Ngomong-ngomong, makasih ya Anthony udah traktir Kita hari ini. Tapi lain kali nggak perlu kayak gini kok, Aku seneng Kamu mau belajar bahkan makan bareng Kita.” Lily berterima kasih.
“Makasih juga ya udah menerima Aku dengan baik padahal dulu Aku banyak salahnya ke kalian.”
“Yaudahlah, apa yang sudah berlalu biarlah berlalu. Ngapain juga saingan terus, tujuan Kita aja udah jelas-jelas beda.” Ucap Julia.
“Kita? Aku sama Anthony aja kali Jul, kalian kan masih rebutan bangku FK universitas XX.” Ucap Lily.
“Tidaaaakkk… Aku disini aja.” Julia menggigit jari.
“Kenapa? Takut saingan sama Aku? Kamu kan udah buktiin bisa lebih unggul dari Aku? Ngapain takut? Percaya dirilah sama otak kamu.” Anthony meyakinkan.
“Duuuhh.. Lihat nanti deh.” Julia mengernyitkan dahinya.
“Semoga Kita bertiga bisa keterima jalur prestasi ya..” Ucap Lily.
“Nah Iya, tadi Bu Diah ada bilang tentang itu. Kemungkinan besar kita bertiga bisa daftar lewat jalur prestasi. Apalagi nilai Kita grafiknya naik kalau dilihat dari kelas sepuluh.” Ucap Julia.
“Tapi peringkat Aku turun karena kalian.” Ucap Anthony.
“Memang nilai Kamu turun juga?” Tanya Julia.
“Sayangnya enggak sih.” Ucap Anthony dengan sombong.
“Oke, Kita optimis dulu aja. Yang penting sekarang Kita tetap fokus belajar setiap hari.” Ucap Lily.
“Makanya ikut kalau diajakin tambahan, jangan read doang chat nya!” Ucap Julia.
“Memang Kamu pernah ngajakin Aku?” Tanya Anthony.
“Pernah! Tapi Aku chat nya ke Ivana.”
Anthony hanya tersenyum, Ia tahu bahwa chat Julia diabaikan oleh Ivana karena dianggap mengganggu. Ivana dan Jovanka tidak menyukai Lily dan Julia. Apalagi ketika nilai Lily dan Julia yang melonjak tinggi. Mereka menjadi semakin kesal. Dan sekarang, Anthony malah berpihak pada Lily dan Julia.
***
Rayyan di hari pertama sekolahnya sangat bersemangat karena Ia akan bertemu dengan Lily di tempat bimbel. Messi terlihat sudah sembuh dari kecelakaan. Dito pun makin cerah karena makin mesra dengan Diana. Sedangkan Caesa terlihat sedikit menyedihkan.
“Kenapa Cae?” Tanya Rayyan.
“Dikerjain nih Aku sama Indira.” Ucap Caesa.
“Hahahahaaa… Kok bisa?” Tanya Dito menertawakan.
“Dia minta jemput jam 6.30, Aku telat sepuluh menit udah ditinggal berangkat ke sekolah aja. Padahal kan nggak telat juga kan ke sekolahnya.” Ucap Caesa.
“Makanya jangan telat dong Cae.” Ucap Dito.
“Indira kan suka iseng kayak Kamu Cae.” Lanjut Rayyan.
“Besok tungguin di depan rumahnya dari jam enam pagi dong.” Messi yang diam tiba-tiba ikut bersuara.
“Wah Bang Messi habis kecelakaan makin ngerti banget ya soal cewek.” Sahut Dito.
“Apaan sih enggak, Aku asal nyeletuk aja.” Messi menyangkal.
“Bang Messi jangan berani-berani deketin yang inisial L ya nanti ada yang marah.” Caesa ikut meledek.
“Kalau itu lihat nanti aja ya gimana.” Messi hanya ikut bercanda namun tak dihiraukan oleh Rayyan.
Rani yang masuk ke kelas melirik ke arah seseorang dan memastikan kondisi orang tersebut. Ia lega melihat seseorang yang disukainya itu dalam keadaan yang lebih baik. Orang itu adalah Messi.
Rani menyukai Messi sejak awal masuk ke SMA XZ karena Messi tidak seperti teman laki-lakinya yang lain. Messi tidak banyak berbicara namun berhati lembut. Walaupun tak sepandai Rani dalam hal bela diri namun Messi pernah menangkis sebuah bola basket yang hampir mengenai kepala Rani. Kejadian itu tidak pernah dilupakan oleh Rani karena sangat berkesan.
Mengetahui Messi yang kecelakaan Rani begitu khawatir. Bahkan, Rani adalah satu-satunya orang yang menjenguk Messi di rumah. Rani menunjukkan perhatiannya kepada Messi tanpa diketahui oleh orang lain. Oleh karenanya, di sekolah Rani hanya mampu melihat Messi dari kejauhan. Selama ini Rani memendam perasaannya sendirian, Ia tak pernah sedikitpun mencurahkan perasaannya kepada orang lain.
Beberapa kali berkunjung ke rumah Messi kemarin mengungkap sebuah fakta bahwa ternyata Messi menyukai sahabat Rani. Hal itu membuat Rani semakin tidak berani untuk jujur mengungkapkan perasaannya. Tidak seperti Messi yang justru terlihat lega setelah menceritakan perasaannya.
Rani tahu bahwa perasaan Messi terhadap Lily sama seperti perasaannya kepada Messi, sama-sama bertepuk sebelah tangan. Jadi Ia tetap setia berada di samping Messi sebagai tempat bersandar. Meskipun cintanya tak terbalas tapi Rani cukup senang bisa berada di dekat Messi.
Messi yang tidak mengetahui isi hati Rani menganggap Rani sebagai teman bercerita. Di mata Messi, Rani adalah teman yang baik yang selalu ada di saat dirinya mengalami kesulitan. Messi pun bisa meluapkan isi kepalanya ketika bersama dengan Rani. Ia pun menceritakan bagaimana awal mula dirinya menyukai sahabat Rani itu, namun Rayyan lebih dulu menyatakan perasaannya. Messi juga menceritakan tentang tantangan yang Ia berikan terhadap Rayyan, Ia tidak melakukannya untuk mengambil Lily karena Ia tahu hati Lily bukanlah untuknya. Messi hanya ingin membuat Rayyan lebih bersemangat belajar ada dan tidak ada Lily.