Kehidupan Rohan berubah ketika bayangan hitam misterius mulai menghantuinya, terus meneriakkan nama pangeran yang hilang. Ketakutan bercampur penasaran membawanya kembali ke tempat kelahirannya, di mana ia menemukan sebuah ramalan kelam tentang bencana besar yang hanya bisa dicegah oleh kebenaran di balik hilangnya seorang pangeran setelah perang besar.
Saat menyadari dirinya adalah reinkarnasi pangeran yang dicari oleh sosok bayangan itu, Rohan bersama dua sahabatnya, Ratih dan Riki, memulai petualangan melintasi waktu. Mereka terlempar ke masa lalu, ke zaman di mana pangeran itu masih hidup, membawa harapan untuk mencegah bencana atau mungkin mengubah sejarah selamanya. Namun, diperjalanan justru mereka menemukan pengkhianatan yang mengubah segalanya.
Akankah mereka berhasil memecahkan misteri yang terpendam atau justru terjebak dalam lingkaran takdir yang tak terhindarkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon myARTZOOM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KOTAK KECIL
Keesokan harinya, suasana di kerajaan Roulis dipenuhi ketegangan saat pernyataan perang dimulai. Kerajaan Roulis mengerahkan seluruh pasukannya untuk melindungi rakyatnya. Rakyat percaya sepenuhnya kepada Raja Dourli, karena selama ini kebutuhan mereka selalu dipenuhi, dan perlindungan diberikan dengan sepenuh hati.
Raja Dourli sudah mengenakan pakaian perangnya, siap untuk menghadapi pertempuran yang menanti. Di saat yang sama, Guru Tyos mendekatinya dengan membawa sebuah peta perang.
"Yang Mulia, ini peta jalur yang akan kita gunakan untuk mengelabuhi musuh," ujar Guru Tyos, sambil membuka lembaran peta yang terhampar.
Raja Dourli mengamatinya dengan seksama. Peta yang disusun sangat teliti dan bisa menjadi strategi gerilya yang efektif. Namun, perkataan Rohan yang masih terngiang di telinganya membuatnya ragu.
Untuk memastikan, Raja Dourli memutuskan untuk bertanya lebih lanjut mengenai jalur yang akan dilalui. "Jalur mana yang akan aku tempuh?" tanyanya.
Guru Tyos menunjuk jalur yang terletak di utara dekat sungai. "Jalur ini sangat aman. Musuh tidak akan menyadari jalan ini karena jauh dari medan utama," jelas Guru Tyos dengan penuh keyakinan, diikuti anggukan dari Raja Dourli. Namun, meski penjelasan itu terdengar meyakinkan, Raja Dourli tetap merasa waspada terhadapnya.
"Sungai itu langsung mengarah ke hutan kegelapan... Apa ada maksud lain di balik ini?" pikir Raja Dourli, sambil mempertimbangkan kemungkinan tersembunyi yang belum terungkap.
***
Mendengar suara hentakan kaki yang begitu banyak, Arashi dan dua prajurit yang bersamanya segera bersembunyi di antara semak-semak.
"Pasukan mereka begitu banyak. Ada sesuatu yang belum aku ketahui?" gumam Arashi, merasa semakin curiga.
"Kami tidak tahu pasti, Pangeran. Namun, kami dengar bahwa ada perdebatan besar antara kerajaan Roulis dan kerajaan Marim," jawab salah satu prajurit dengan suara pelan, mencoba menghindari perhatian.
Arashi menanggapi dengan ekspresi wajah yang kurang menyenangkan. Mungkin perang benar-benar sedang terjadi. Dan aku tidak bisa berada di sana untuk memimpin pasukanku. Walaupun Rohan di sana, dia pasti hanya tiduran saja, batin Arashi dengan rasa kesal yang memuncak.
***
Sementara itu, di tempat lain, tepatnya di kamar Arashi, seorang remaja laki-laki terlihat tertidur nyenyak. Suasana sangat hening, menciptakan ketenangan yang sempurna untuk mengistirahatkan tubuh dan pikiran.
Namun, ketenangan itu terganggu ketika seseorang yang tak asing lagi mendekat dan dengan kasar mencengkeram kerah Rohan.
"Arashi! Dimana Rohan?" tanya Riki dengan nada tajam.
Rohan yang masih setengah sadar, seperti orang yang linglung, membuka mata sedikit dan bertanya, "Aku dimana?"
Riki yang sudah geram mendorong tubuh Rohan yang masih tergeletak, mengira dia adalah Arashi, lalu dengan cepat menyiramkan air dari gelas yang ada di meja ke wajahnya.
Mbuuur...
"Cepat bangun Arashi! Jangan pura-pura linglung! Temanku masih dalam bahaya dan kau enak-enakan tidur?" seru Riki dengan suara marah.
Rohan akhirnya tersadar, tubuh bagian atasnya terasa basah. Dia menatap Riki dengan senyum lebar. "Riki, kau baik-baik saja? Syukurlah, pasti Arashi yang melepasmu, kan?"
Riki hanya bisa menatap bingung. "Sebenarnya dia Arashi atau Rohan? Apa jangan-jangan dia Rohan yang aku kenal, atau Arashi yang kepalanya terbentur hingga hilang ingatan? Tapi dari tubuhnya yang seumuranku dan gaya bicaranya sih, dia Rohan... atau lagi dia Arashi yang mencoba sok baik?" batin Riki, mengerutkan dahinya.
Rohan yang melihat Riki terdiam merasa aneh. Biasanya, Riki sangat cerewet, namun kali ini dia hanya diam, tatapannya penuh tanya, seolah-olah baru pertama kali melihatnya.
"Riki? Kau nggak apa-apa kan?" tanya Rohan, memecah keheningan.
Riki tersadar dan mengusap wajahnya kasar. "Kenapa kau terdiam saja? Apa ada masalah? Dimana Ratih?" tanya Rohan, baru menyadari ada seseorang yang hilang di antara mereka.
"A... nu, ehm... Arashi, apakah kepalamu sudah diperbaiki... maksudku, diobati?" tanya Riki, memastikan.
"Apa yang kau katakan? Aku ini Rohan, bukan Arashi. Bahkan dirimu saja juga tidak mengenaliku, bagaimana aku akan meyakinkan Raja Dourli?" jawab Rohan kesal.
Riki menghela napas panjang, tampak lega meski masih sedikit ragu. "Ohh, gue tahu kalau lu Rohan. Gue cuma memastikan saja," ujarnya, menyadari bahwa prasangka pertamanya adalah bahwa yang terbaring di depannya adalah Arashi, bukan Rohan.
"Hmmm, terserahlah. Dimana Ratih? Dia baik-baik saja kan?" tanya Rohan dengan cemas.
Riki yang sebenarnya juga bingung tentang keberadaan Ratih, hanya bisa terdiam sejenak. "A... nu, Ratih sudah tidak ada sejak kemarin. Aku kira dia dan Chandra pergi mencarimu di Hutan Kegelapan. Tapi kalau kau di sini, mungkin mereka masih di sana."
"Syukurlah masih ada Chandra yang menemaninya," ujar Rohan, merasa sedikit lega.
"Kau tidak takut kalau Chandra dan Ratih..." Riki mencoba bertanya, namun kalimatnya terhenti.
"Mana mungkin Chandra melakukan hal itu. Aku yakin hal seperti itu tidak menarik baginya," jawab Rohan, sambil berlalu ke arah jendela, matanya menatap jauh ke luar.
Riki terheran-heran melihat betapa mudahnya Rohan mempercayai Chandra. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan dari pandangannya. Chandra... orang yang suci? Tapi menurut firasatku, ada yang tak beres dengan dia... pikir Riki, tetapi dia menahan kata-katanya.
***
Chandra bersin-bersin saat berada di dalam reruntuhan Kerajaan Roulis generasi pertama, tepatnya di ruang perpustakaan.
"Padahal debu tidak terlalu banyak, mengapa kau bersin-bersin terus?" tanya Ratih, merasa tidak nyaman.
"Aku merasa ada seseorang yang sedang membicarakan tentang diriku," jawab Chandra, sambil duduk dan mengusap wajahnya dengan kasar.
Ratih hanya memperhatikan Chandra yang terduduk lemah, wajahnya terlihat sedikit pucat. Sambil berkeliling di antara rak-rak buku, Ratih teringat akan buku yang dia ambil di zamannya.
Tiba-tiba, pikirannya teralihkan pada kotak yang belum dia ketahui isinya. Ratih menghampiri tempat yang sama, namun tidak menemukan apapun.
"Apa yang kau cari?" tanya Chandra, yang sejak tadi mengawasi gerak-gerik Ratih.
"Aku mengingat ada sebuah kotak di sini, tapi di zaman ini tidak ada," jawab Ratih dengan bingung.
Chandra berdiri dan mengeluarkan sihirnya, hingga muncul sebuah kotak. Ratih yang melihat kotak itu terkejut, karena bentuk dan ukirannya persis seperti kotak yang ada di zamannya.
"Kotak ini akan kita isi dengan gulungan dan benda rahasia yang akan kita cari. Kemudian, kau akan mengambilnya di zamanmu nanti," jelas Chandra, sambil terduduk lemas.
Ratih mendekat untuk memeriksa keadaan Chandra, namun Chandra melarangnya dengan isyarat tangan.
"Kenapa dirimu? Apakah kau baik-baik saja?" tanya Ratih, khawatir.
"Aku tidak apa-apa. Tapi aku tidak bisa membantumu mencari benda yang dibutuhkan. Ada beberapa lubang kecil di tempat ini yang menyimpan barang yang kita cari. Aku akan menunjukkannya, dan kau yang akan mengambilnya," jawab Chandra, sambil memegang perutnya dengan rasa sakit. Ratih hanya mengangguk, berharap pekerjaan ini segera selesai agar Chandra bisa segera diobati.
Chandra mulai menunjuk-nunjukkan tempat-tempat yang dimaksud. Ratih pun mulai mengambil benda-benda yang tersembunyi di lubang-lubang itu satu per satu, hingga terkumpul sepuluh benda dan lima gulungan.
"Taruh semua itu ke dalam kotak ini," kata Chandra sambil menyerahkan kotak yang telah muncul. Ratih memasukkan semuanya ke dalam kotak dengan hati-hati.
Setelah semuanya terkumpul, Ratih menaruh kotak tersebut di tempat yang sesuai dengan posisi di zamannya. Chandra kemudian berdiri dan membuka portal aneh. Mereka berdua melangkah masuk dan tiba di suatu tempat yang asing.
"Dimana ini?" tanya Ratih, yang merasa sangat asing dengan sekelilingnya.
Tiba-tiba, tanpa peringatan, Chandra menerkam Ratih, dan mereka berdua jatuh ke tanah. Tubuh Ratih tertindih oleh Chandra, yang matanya kini mulai berwarna merah menakutkan.
"Anathema in Replica World: Lybrinth"
mampir lady devil ya ditunggu feedbacknya