Ini adalah lanjutan dari Kultivasi Raja Bayangan, jadi baca dulu jilid pertama dan kedua sebelum ke novel ini...
Liu Yuwen adalah seorang kultivator jenius yang pernah lahir di dunia, ia mencapai puncak beladiri sampai dijuluki sebagai kultivator tiada tanding karena hampir tidak ada yang bisa mengalahkannya.
Di puncak kekuatannya, Liu Yuwen tidak menyangka ia justru akan tewas oleh sebuah racun yang diberikan adiknya.
Racun itu membuat Liu Yuwen terbunuh, dalam kematianmya rasa marah dan dendam menguasai hatinya karena pengkhianat sang adik, Liu Yuwen berjanji akan membalas kejahatan adiknya jika diberi kesempatan.
Nyatanya kesempatan itu terwujud saat Liu Yuwen terbangun di tubuh seorang anak kecil berusia sepuluh tahun.
Liu Yuwen yang mengerti dirinya hidup kembali tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk berencana membalaskan dendamnya pada sang adik, meski kekuatan kembali kesemula namun selama dirinya terus berlatih, Liu Yuwen yakin bisa mencapai puncak kekuatannya sepert
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon secrednaomi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 29 — Sebuah Kesetiaan
Lan Hua menarik aura kultivasinya kembali setelah menyadari dirinya menjadi pusat perhatian banyak orang.
Lan Hua menatap Liu Yuwen dengan tajam, ingin sekali ia maju dan menyerang pemuda tersebut namun harus dirinya akui, Lan Hua harus mengerahkan beberapa kekuatannya jika ingin membunuh Liu Yuwen.
Hanya saja jika itu terjadi, rencana yang disusun mungkin akan gagal. Setelah mempertimbangkan banyak hal, Lan Hua memilih tidak melanjutkan pertarungan ini lebih jauh.
"Kali ini kau selamat, besok atau lusa jika kita bertemu lagi aku akan membunuhmu menjadi seribu bagian..." Lan Hua mendengus kesal sebelum kemudian menghilang dari pandangan Liu Yuwen.
Nu Bai menatap Liu Yuwen sekilas sambil tersenyum sinis, sedetik kemudian ia menyusul gadis itu.
"Bukankah katamu dulu semua kultivator disini hanya bisa mencapai Alam Kaisar saja, lalu bagaimana dengan dia? Jelas-jelas wanita itu memiliki kekuatan yang sama dengan pria pedang besar itu." Bai Huahua berkomentar.
Liu Yuwen mengetahui pria pedang besar yang dimaksud Bai Huahua adalah Quan Hu, Sang Pedang Kerakusan.
"Sejujurnya aku juga tidak mempunyai jawaban mengenai hal ini, satu-satunya dugaanku mereka berasal dari luar kekaisaran ini. Mungkin..."
Biarpun hanya beberapa detik, Liu Yuwen langsung mengetahui kekuatan Lan Hua berada di Alam Bintang ketika ia melepaskan aura kultivasinya.
Untungnya Lan Hua tidak melanjutkan konflik ini lebih jauh, atau kalau tidak keduanya akan bertarung hebat yang bisa menimbulkan kerusakan kota.
"Tapi seharusnya kau juga tidak boleh pesimis, dengan kekuatanmu yang sekarang setidaknya kau bisa mengalahkan wanita itu bukan?"
"Benar tapi dia juga akan menjadi lawan yang merepotkan bagiku..." Liu Yuwen menggeleng pelan.
Belum lagi dengan Nu Bai, meski tak bisa membaca kultivasinya, Liu Yuwen menebak kekuatannya tidak jauh dari gadis itu. Andai keduanya bertarung bersama, Liu Yuwen setidaknya harus menggunakan segenap kekuatannya untuk menghadapi mereka.
Liu Yuwen kemudian tersadar setelah Lan Hua dan Nu Bai pergi, dirinya yang menjadi fokus perhatian banyak orang. Liu Yuwen segera mengeluarkan bom asap lalu membantingnya ke tanah. Dalam waktu hitungan detik, pemuda itu sudah menghilang dari tempatnya berdiri, membuat banyak orang kebingungan.
***
Liu Yuwen muncul satu kilometer dari lokasi bertarung sebelumnya, ia menghela nafas panjang sebelum melanjutkan langkahnya kembali untuk mencari tempat berlatih.
Liu Yuwen akhirnya menemukan tempat yang cocok yaitu sebuah padang rumput yang berada tak jauh dari Kota Akasia. Tidak ada siapapun di sana sehingga Liu Yuwen langsung mengeluarkan tiga artefaknya.
Aura artefak itu segera menyebar dalam radius seratus meter, karena tiga artefak dalam satu tempat sekaligus membuat aura yang dikeluarkan jauh lebih pekat dibandingkan satu artefak.
Liu Yuwen tersenyum lebar sebelum duduk bersila dan menyerap aura itu kedalam dantiannya.
Sekitar dua hari Liu Yuwen melakukan latihan tersebut, ia sudah selangkah lebih dekat menuju Alam Kaisar Tahap 8.
Jika saja tidak mengingat rencana penyerbuan aliran putih dalam waktu dua hari lagi, mungkin Liu Yuwen akan terus berlatih sampai dirinya menerobos tetapi mempertimbangkan banyak hal, Liu Yuwen menghentikan latihannya segera dan kembali ke Kota Akasia.
Aruna dan gadis ras elf lainnya menyambut Liu Yuwen saat kembali ke penginapan, Liu Yuwen ingin menyampaikan rencananya untuk ikut serta dalam penyerbuan sekte aliran putih namun nyatanya Aruna sudah mengetahui dan menebakn rencananya.
"Jika kita pergi sekarang, butuh waktu sekitar delapan jam untuk tiba di pasukan aliran putih dengan menggunakan kekuatan penuh kita dalam berlari." Jelas Aruna.
Aruna telah mencari informasi lebih detil mengenai penyerbuan itu, ternyata disebut 'Penyerbuan' sebenarnya kurang tepat karena markas sekte aliran hitam yang diserbu juga sudah mengetahui rencana penyerangan aliran putih ini sejak awal.
Sekte aliran hitam yang diserang tentu tak tinggal diam, mereka juga tengah menyiapkan pasukan tempur mereka.
"Bukankah berarti kita akan melakukan pertempuran secara terbuka?"
"Benar Tuan, mungkin ini akan menjadi pertempuram terbesar yang pernah ada karena melibatkan banyak sekte bahkan klan."
Aruna menambahkan jika aliran putih dibantu oleh kelompok kuat seperti Sekte Nada Kehidupan maka aliran hitam akan dibantu Sekte Darah Naga selaku sekte terkuat di aliran tersebut.
"Sekte Darah Naga..." Gumam Liu Yuwen.
Liu Yuwen jadi teringat diawal-awal ia berpetualang di Kekaisaran Langit Utara, dirinya bergabung dengan serikat dan menjalankan berbagai misi.
Di salah satu misi, ia bertemu dengan gadis muda yang bernama Lan Shishi, putri langsung dari patriark Sekte Darah Naga dan sempat berurusan dengannya.
Liu Yuwen hampir membunuh gadis itu jika saja ada situasi yang membuatnya harus merelakan dia kabur. Pertemuannya dengan gadis pembunuh tersebut membuat kelompok serikat Liu Yuwen saat itu hampir semuanya gugur.
Liu Yuwen kemudian menanyakan pada Aruna seberapa banyak gadis elf di kota ini, Liu Yuwen ingin gadis itu mengumpulkan sebanyak yang ia bisa untuk nanti dibawa ke medan pertempuran.
Aruna tidak bisa memastikannya tetapi ia meminta waktu agar mengumpulkan pasukan terhebat.
Sekitar dua jam kemudian, Aruna membawa 70 gadis elf lain ke hadapan Liu Yuwen.
"Setelah diperiksa, ada sembilan puluh anggota asosiasi yang berkerja di cabang kota ini, aku hanya bisa membawa tujuh puluh diantaranya." Aruna menerangkan bahwa dua puluh sisanya tetap dikota untuk mengurusi toko asosiasi.
Liu Yuwen mengangguk pelan, ditambah dengan lima puluh gadis elf yang ia bawa sebelumnya maka jumlahnya menjadi seratus dua puluh orang.
Liu Yuwen kemudian memandang gadis-gadis elf itu, tidak semua dari mereka mengenalinya namun semua mengetahui identitasnya.
"Sebelum pergi ke medan perang, aku tidak memaksa kalian ikut jadi jika ada yang keberatan, kalian boleh mengangkat tangan..." Liu Yuwen berbicara pada mereka dengan nada yang lembut.
Meski Liu Yuwen bisa memerintah gadis-gadis elf itu tanpa membuat mereka menolaknya namun pemuda itu tidak mau melakukannya dengan cara demikian.
Setelah tiga menit berlalu tidak ada dari gadis elf itu yang mengangkat tangannya sampai Aruna kemudian bersuara. "Tuan, kami suka rela ingin membantumu dan andai kami gugur nanti, kami senang bisa berjuang sampai akhir bersamamu."
"Tuan tidak perlu khawatir, dibandingkan pertolongan Tuan pada ras kita, semua ini masih belum sebanding..." Gadis elf lain menambahkan.
"Jangankan membantu Tuan, kami bahkan siap merelakan nyawa kami ini untuk Tuan..."
Gadis-gadis elf itu satu persatu mulai mengutarakan kesetiaannya pada Liu Yuwen, membuat sang pemuda akui dirinya merasa terharu.
Liu Yuwen sebenarnya tidak merasa pertolongannya pada mereka bukan hal yang besar tapi dari sikap mereka, Liu Yuwen sadar mungkin dampaknya lebih besar dari yang dirinya perkirakan.
Liu Yuwen memejamkan mata beberapa saat, menarik nafas yang dalam sebelum membuka mulutnya. "Jangan khawatir, aku tidak akan membiarkan salah satu dari kalian gugur disini, aku akan melindungi kalian dengan sekuat tenaga-!" Ucap Liu Yuwen menggebu-gebu, dipenuhi dengan tekad.