Arisa Salsa Bila atau Acha adalah seorang pramuniaga minimarket yang ceria, rajin, namun terkadang egois dan kekanak-kanakan. Suatu hari ia bertemu dengan Andra Nathan Ardimana, pemuda pekerja keras yang merintis usaha percetakan sablon sandal. Di balik sikap keras kepalanya, Nathan memiliki hati yang lembut dan selalu mengalah demi orang lain.
Hubungan mereka tumbuh menjadi cinta yang tulus. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama ketika keluarga mereka menolak hubungan tersebut karena perbedaan latar belakang dan berbagai kesalahpahaman. Hinaan, penolakan, dan tekanan membuat hubungan mereka berkali-kali berada di ambang perpisahan.
Meski begitu, Nathan dan Acha memilih bertahan. Mereka belajar bahwa cinta tidak cukup hanya dengan rasa sayang, tetapi juga membutuhkan rasa hormat, kepercayaan, pengorbanan, dan penerimaan. Di tengah segala luka, mereka membuktikan bahwa perjuangan yang dilakukan dengan tulus tidak akan pernah sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28. Respect
Setelah Ranti dan Om Alex keluar untuk melanjutkan percakapan di teras depan, suasana di dalam kamar menjadi jauh lebih tenang.
Acha yang sudah berangsur pulih mencoba untuk bergerak pelan, bersandar pada bantal yang ditata rapi oleh Nathan di belakang punggungnya.
Meskipun tubuhnya masih terasa sedikit lemas, sorot matanya sudah tampak jauh lebih segar dibandingkan tadi pagi.
Melihat kekasihnya sudah mulai bisa duduk, Nathan dengan sigap mengambil segelas air hangat yang ada di nakas.
Dengan penuh kehati-hatian, dia membantu Acha meminumnya sedikit demi sedikit untuk membasahi tenggorokannya yang sempat kering.
"Pelan-pelan minumnya, Cha," bisik Nathan lembut, menatap Acha dengan penuh rasa syukur.
Setelah itu, Nathan teringat pada bungkusan bubur hangat yang sempat dia beli dalam perjalanan ke kosan tadi pagi, yang kini sudah dibawa pulang dan dihangatkan kembali oleh Ranti.
Nathan mengambil mangkuk bubur tersebut, lalu meniupnya perlahan sebelum menyuapinya secara telaten ke mulut Acha.
"Ayo makan dulu sedikit ya, biar tenaga kamu pulih dan infusnya bisa cepat dilepas," bujuk Nathan sambil tersenyum hangat, berusaha mengembalikan keceriaan di wajah kekasihnya yang sempat pucat pasi ketakutan.
Meskipun perutnya sebenarnya belum terlalu bernafsu untuk makan, Acha tidak kuasa menolak suapan demi suapan yang diberikan oleh Nathan.
Dengan bibir sedikit mengerucut karena malu dan lemas, dia menerima suapan bubur itu terpaksa demi menuruti permintaan sang kekasih.
Di sisi lain, Nathan justru terpesona dalam diam. Setiap gerak-gerik Acha yang sedang merajuk manja tampak begitu menggemaskan di matanya.
Terlebih lagi, karena Acha sedang sakit dan tidak mengenakan make-up sama sekali di wajahnya, Nathan bisa leluasa menikmati paras natural kekasihnya.
Tanpa polesan bedak atau lipstik, wajah Acha terlihat jauh lebih muda, polos, dan apa adanya, membuat rasa sayang di dada Nathan semakin membuncah hebat tanpa bisa dia sembunyikan dari senyuman hangat yang terus mengembang di bibirnya.
Rasa gemas yang sudah menumpuk di dada Nathan akhirnya mencapai puncaknya.
Melihat ekspresi Acha yang mengerucutkan bibirnya yang terlihat lucu sambil makan tanpa balutan make-up sedikit pun membuat pertahanannya runtuh.
Tanpa pikir panjang dan didorong rasa sayang yang begitu besar, Nathan mendekatkan wajahnya secara spontan, lalu mendaratkan sebuah ciuman pelan di bibir Acha.
Deg.
Acha terpaku seketika di tempatnya. Matanya membelalak kaget, sendok bubur di tangan Nathan nyaris terabaikan. Jantungnya berdegup kencang bukan kepalang.
Namun, di balik rasa terkejutnya itu, anehnya Acha sama sekali tidak merasa jijik atau berniat menolak.
Untuk beberapa detik pertama, tubuhnya lemas dan dia justru terbuai menikmati kehangatan ciuman pertama tersebut.
Namun, detik berikutnya, kesadaran Acha mendadak tersentak kembali. Wajahnya langsung merona merah padam hingga menjalar ke lehernya.
Dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki, Acha buru-buru mendorong dada Nathan untuk menjauh.
"A-Nathan...!" cicit Acha dengan suara bergetar, napasnya tersengal karena kaget dan malu luar biasa.
Dia langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam, menarik selimut tipis untuk menutupi separuh wajahnya.
Seketika itu juga, suasana di dalam kamar berubah menjadi canggung bukan main.
Nathan sendiri tampak salah tingkah, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil tersenyum canggung, merasa telah bertindak terlalu lancang di saat Acha sedang sakit.
Bagi Acha, situasi ini menjadi jauh lebih mendebarkan sekaligus membingungkan, terlebih karena ini adalah pengalaman pertamanya berciuman bibir seumur hidupnya.
Suasana canggung yang sempat menyelimuti kamar itu perlahan mencair ketika dering ponsel di saku celana Nathan bergetar.
Mau tidak mau, panggilan tersebut memecah keheningan di antara mereka berdua yang masih salah tingkah akibat kejadian barusan.
Nathan melirik layar ponselnya, lalu menghela napas pelan.
"Ah, maaf, Cha... Ini dari karyawan. Aku harus segera ke sana dulu buat ngasih uang makan buat para karyawan," pamit Nathan sambil menatap Acha dengan sorot mata penuh penyesalan karena harus meninggalkan kekasihnya di saat-saat seperti ini.
Meskipun pipinya masih terasa panas mengingat ciuman pertama mereka, Acha mengangguk pelan, mencoba menyembunyikan rasa malunya di balik selimut.
Sebelum beranjak pergi, Nathan sempat mengelus puncak kepala Acha dengan lembut.
"Tapi tenang ya, aku cuma sebentar kok. Nanti habis urusannya beres, aku janji bakal langsung balik lagi ke sini nemenin kamu," janji Nathan sambil tersenyum hangat.
Setelah Nathan benar-benar pergi meninggalkan rumah, kamar kembali sepi. Acha menghela napas panjang sambil menatap langit-langit kamar.
Karena seharian hanya berbaring terus di atas tempat tidur ditemani selang infus yang masih menancap di tangannya, rasa bosan yang luar biasa langsung melanda dirinya.
Pikirannya melayang-layang, mondar-mandir menanti waktu hingga Nathan menepati janjinya untuk kembali.
Jari-jari lentik Acha perlahan menyentuh bibirnya sendiri. Sentuhan ringan itu seolah memutar kembali detik-detik saat Nathan menciumnya secara tiba-tiba tadi.
Sensasi hangat dan debaran jantung yang menggila masih terasa jelas, membuat sekujur tubuhnya meremang panas dingin karena salah tingkah.
Alih-alih marah, Acha justru Acha malah tersenyum-senyum sendiri di balik selimut, menutupi wajahnya yang masih merah padam menahan malu sekaligus bahagia.
Tok, tok, tok!
Tiba-tiba, suara ketukan pintu kamar memecah lamunan manis Acha.
"Pasti Nathan balik lagi karena ada barangnya yang ketinggalan," gumam Acha dalam hati dengan mata berbinar-binar penuh harap.
Dengan gerakan cepat dan sisa-sisa tenaga yang ada, Acha segera merapikan posisinya, lalu menoleh antusias ke arah pintu. "Masuk, Aa—"
Kalimatnya seketika terpotong di udara. Pintu kamar memang terbuka, namun sosok yang muncul di balik pintu bukanlah Nathan seperti yang dia harapkan.
Seorang gadis berparas manis muncul sambil membawa piring kecil berisi mango sticky rice, ketan legit berbalut susu keju gurih dengan potongan mangga segar di atasnya. Gadis itu adalah Fitri.
Melihat ekspresi wajah Acha yang tadinya bersemangat lalu berubah drastis menjadi melongo kecewa, Fitri langsung terkekeh geli.
"Hahaha, mukanya jangan diteken begitu dong, Kak! Kelihatan banget lagi nungguin siapa hayo?" ledek Fitri dengan nada usil sambil melangkah mendekat dan meletakkan piring mango sticky rice di nakas sebelah tempat tidur.
"Kena tipu, ya? Kirain pacarnya yang balik, eh, malah aku yang datang!" sambungnya lagi sambil tertawa renyah.
Dia sukses membuat Acha salah tingkah setengah mati dan merenggut sebal karena kepergok sedang salah tingkah.
Tidak lama setelah gelak tawa dan canda gurau bersama Fitri dan adiknya mereda, suara deru motor yang familier terdengar berhenti di halaman depan rumah.
Acha yang mendengarnya langsung menoleh cepat ke arah pintu kamar, sementara Fitri melirik Acha penuh arti sambil tersenyum penuh godaan.
Benar saja, beberapa detik kemudian pintu kamar terbuka lebar. Sosok Nathan muncul dengan napas yang sedikit terengah-engah, namun kedua tangannya penuh dengan berbagai kantong plastik kresek berukuran besar.
"Aku balik lagi, sesuai janji!" seru Nathan sambil tersenyum lebar.
Nathan melangkah masuk dan langsung meletakkan bawaannya di atas meja nakas yang sudah penuh.
Tak tanggung-tanggung, dia membawa beraneka macam makanan favorit Acha, mulai dari sup ayam hangat, aneka buah-buahan segar, hingga camilan manis yang sengaja dia beli agar Acha tidak bosan selama harus beristirahat di kamar.
Melihat perhatian luar biasa yang diberikan Nathan, pipi Acha kembali merona hangat di hadapan Fitri, membuat suasana kamar seketika dipenuhi senyuman dan godaan kecil dari kedua tamu yang melihatnya.
Suasana kamar Acha seketika berubah menjadi meriah layaknya ruang pesta kecil berkat kantong-kantong makanan yang dibawa oleh Nathan.
Dengan sangat perhatian, Nathan membukakan satu per satu kemasan makanan tersebut agar bisa dinikmati bersama-sama.
Acha tampak begitu berbinar-binar saat Nathan menyodorkan sepotong tiramisu lembut yang sejak tadi memang diincarnya, disusul dengan donat manis beraneka topping kesukaannya.
Sambil terus disuapi sesekali oleh Nathan dengan penuh telaten, Acha melahap makanan tersebut dengan lahap, membuat rasa penat dan sakit di tubuhnya seolah terlupakan seketika.
Tidak lupa, Nathan juga menyiapkan porsi khusus untuk orang tuanya Acha. Dia mengeluarkan martabak manis yang tebal dan harum serta kue pukis empuk yang sengaja dibeli untuk Ranti dan Yanto agar bisa dinikmati bersama saat mereka nanti berkumpul di rumah.
Melihat bagaimana Nathan begitu memerhatikan bukan hanya dirinya, tetapi juga seluruh anggota keluarganya, hati Acha merasa sangat tersentuh dan berbunga-bunga.
Fitri yang ikut mencicipi kudapan tersebut pun tak henti-hentinya melempar senyum penuh godaan, membuat pipi Acha semakin merah padam karena salah tingkah di hadapan sang kekasih.
Suasana di luar rumah terasa begitu semarak dan penuh aroma sedap. Di halaman belakang, Fitri, Ranti, serta Yanto tengah sibuk menyiapkan arang dan membakar daging kurban karena hari ini adalah hari Idul Adha. Suara tawa dan canda gurau mereka sesekali terdengar sampai ke dalam rumah.
Sementara itu, di dalam kamar, suasana jauh lebih tenang dan intim. Acha masih berbaring santai di tempat tidurnya, menikmati waktu berdua ditemani oleh Nathan yang setia duduk di sisinya sambil mengupas buah.
Namun, di tengah obrolan ringan di antara mereka, atensi Nathan tiba-tiba teralihkan. Menatap wajah Acha yang manis dan merona di dekatnya, pertahanan Nathan kembali runtuh.
Tanpa aba-aba, Nathan mencondongkan tubuhnya dan kembali mendaratkan bibirnya ke bibir Acha.
Awalnya hanya ciuman ringan, namun detik berikutnya ciuman itu berubah menjadi lumatan yang dalam dan panas. Nathan menciumnya dengan penuh rasa gemas dan rindu, menuntut respons dari gadis itu.
Deg!
Acha terkesiap hebat. Matanya membelalak kaget bukan kepalang. Jantungnya berdegup kencang seolah mau copot dari tempatnya.
Ciuman kali ini jauh berbeda dan jauh lebih intim dari pada ciuman mereka sebelumnya.
Di dalam kepalanya, Acha dilanda kepanikan sekaligus kebingungan yang luar biasa. Selama ini, batasan fisiknya dengan lawan jenis sangat terjaga ketat.
Bahkan saat dia masih bersama mantan kekasihnya dulu, Raka, hubungan mereka paling pol hanya sebatas berpegangan tangan saja, tidak pernah ada ciuman, apalagi sentuhan intim seperti yang sedang dilakukan Nathan sekarang.
Kaki dan tangannya sempat lemas seketika. Meski ada debaran aneh yang merayap di dadanya, keterkejutan yang begitu besar membuat Acha langsung mendorong pelan dada Nathan untuk menghentikannya, napasnya tersengal-sengal menahan rasa kaget dan salah tingkah yang teramat sangat.
Melihat Acha yang terengah-engah dengan mata membelalak kaget, Nathan tersenyum lembut. Dia menggenggam jemari Acha yang terasa dingin, lalu menatapnya lekat-lekat dengan tatapan yang penuh bujukan.
"Sstt... Jangan takut, Cha. Nikmati saja, ya," bisik Nathan dengan suara serak yang begitu menghanyutkan, menenangkan debaran panik di dada kekasihnya.
Nathan kembali mendekatkan wajahnya, memandu Acha dengan sangat perlahan dan penuh kesabaran agar tidak tegang. Dia memberikan kecupan-kecupan lembut sebelum kembali memperdalam ciumannya.
Sentuhan tangan Nathan yang mengusup lembut tengkuk dan pipi Acha perlahan-lahan mencairkan pertahanan gadis itu.
Rasa takut dan bingung yang tadinya menguasai kepala Acha mulai memudar, tergantikan oleh gelombang kehangatan yang asing namun mendebarkan.
Sedikit demi sedikit, seiring bimbingan Nathan yang begitu sabar dan membuai, Acha mulai memberanikan diri untuk merespons.
Dia membuka bibirnya perlahan, membiarkan dirinya terbawa dalam ritme ciuman panas yang diciptakan oleh Nathan.
Untuk pertama kalinya seumur hidup, Acha benar-benar menyerahkan diri sepenuhnya pada pusaran rasa manis itu, terbuai dan hanyut dalam dekapan hangat sang kekasih di tengah riuhnya suasana Idul Adha di luar rumah.
Suasana romantis dan hangat di dalam kamar itu mendadak berubah menjadi kepanikan hebat ketika Nathan tanpa sadar mengeluarkan sebungkus rokok dan menyalakannya di dalam ruangan tertutup tersebut.
Acha yang kondisi pernapasannya masih belum pulih total akibat dehidrasi dan sisa-sisa sakitnya tiba-tiba saja mengalami sesak napas yang parah.
Tanpa sengaja, dia menghirup pekatnya asap rokok yang mengepul di udara kamar. Seketika itu juga, batuk hebat langsung menyerangnya, dadanya terasa seperti terbakar, dan pasokan oksigennya menipis dengan cepat hingga membuat wajahnya membiru lemas.
"A-Acha! Kamu kenapa, Cha?!" pekik Nathan panik luar biasa.
Dia langsung membuang puntung rokoknya ke lantai dan menginjaknya, menyesali kecerobohannya setengah mati.
Melihat kondisi Acha yang semakin mengkhawatirkan dan nyaris pingsan, Nathan tidak ingin mengambil risiko.
Dia langsung membopong tubuh Acha keluar rumah dengan tergesa-gesa di hadapan Ranti dan Yanto yang sedang sibuk membakar daging kurban, lalu melarikan Acha menggunakan sepeda motor ke puskesmas terdekat.
Sesampainya di UGD puskesmas, perawat dan dokter langsung bergerak cepat memberikan bantuan oksigen serta nebulizer untuk melonggarkan saluran pernapasan Acha.
Setelah beberapa saat ditangani, napas Acha akhirnya berangsur-angsur normal dan kembali teratur. Dia terbaring lemah di ranjang pasien UGD, ditemani oleh Nathan yang berdiri di sisinya dengan wajah pucat pasi penuh rasa bersalah.
"Cha... Maafin aku, ya. Sumpah aku bodoh banget tadi malah ngerokok di kamar, sampai bikin kamu drop kayak gini. Aku benar-benar minta maaf..." ucap Nathan dengan suara bergetar, menyatukan kedua tangannya tanda penyesalan mendalam.
Acha yang masih lemas hanya bisa menggeleng pelan, memaafkan kekasihnya itu.
Melihat ketulusan dan kepanikan luar biasa di wajah Nathan, hati Acha tersentuh.
Di tengah suasana UGD yang steril dan aroma obat yang menyengat, Nathan menatap Acha lekat-lekat, menggenggam tangannya erat-erat, lalu mengutarakan perasaan yang selama ini bergemuruh di dadanya.
"Cha, kejadian tadi bikin aku sadar betapa berartinya kamu buat aku. Aku janji bakal lebih jaga kamu ke depannya. Jadi... maukah kamu jadi pacar aku secara resmi?" tembak Nathan penuh kesungguhan.
Acha tertegun sejenak, menatap mata Nathan yang memancarkan ketulusan mutlak. Dengan senyum tipis yang tersungging di bibirnya yang masih pucat, Acha mengangguk pelan memberikan jawabannya.
Malam itu, di ruang UGD puskesmas, di tengah debar jantung yang belum sepenuhnya tenang, mereka resmi berpacaran.
Suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar mendekati tirai pembatas ranjang UGD. Ranti dan Yanto, yang tadinya sibuk mengurus bakaran daging kurban di rumah, langsung dibuat panik setengah mati begitu mendapat kabar bahwa putri bungsu mereka dilarikan ke puskesmas.
"Acha! Ya Allah, Nak, kamu kenapa bisa sampai sesak napas begini?" tanya Ranti dengan napas memburu, langsung merengkuh pundak Acha dengan mata berkaca-kaca penuh cemas.
Yanto yang berdiri di sampingnya tak kalah tegang, menatap tajam ke arah Nathan yang berdiri menunduk di sebelah ranjang.
"Iya, Nak. Tadi baik-baik saja di rumah, kenapa tiba-tiba bisa sampai drop dan dibawa ke sini?" timpal Yanto meminta penjelasan, sorot matanya menuntut jawaban dari Nathan.
Nathan menelan ludahnya kelat. Rasa bersalah yang teramat sangat membuatnya tidak berani mengangkat wajah.
Dengan suara parau dan gemetar, dia berniat untuk jujur mengakui kesalahannya.
"Om, Tante... Maafkan saya. Ini semua salah saya..." cicit Nathan, bersiap mengakui bahwa Acha sesak napas karena tak sengaja menghirup asap rokoknya di dalam kamar.
Namun, sebelum Nathan sempat menyelesaikan kalimatnya, Acha langsung menyela dengan cepat.
Dia menarik pelan ujung baju Nathan, lalu menatap kedua orang tuanya dengan senyuman dipaksakan agar mereka tidak curiga.
"Enggak, Ma, Pa... Nathan nggak salah kok," elak Acha cepat, mengatur napasnya yang masih sedikit berat.
"Tadi itu... Aku kambuh karena salah minum obat, terus tadi juga sempat makan sate kambing yang Fitri bawah ke kamar waktu di rumah. Lambung Acha langsung bereaksi, makanya dada Acha jadi sesak..."
Mendengar penjelasan itu, Ranti dan Yanto saling berpandangan sejenak. Mereka yang mengenal betul riwayat kesehatan lambung Acha langsung mengangguk-angguk percaya, sama sekali tidak menaruh curiga ke arah lain.
"Makanya, kalau punya maag atau sensitif sama daging kambing tuh jangan bandel, Cha! Bikin orang seisi rumah jantungan saja," omel Ranti lembut sambil mengelus dada, merasa lega karena putrinya sudah membaik.
Yanto pun menghela napas panjang, ikut mempercayai alasan tersebut dan sama sekali tidak tahu, atau sengaja ditutupi bahwa penyebab sebenarnya adalah asap rokok Nathan di dalam kamar.
Nathan yang mendengarnya merasa sangat bersyukur sekaligus kagum pada kebaikan hati Acha yang telah menyelamatkannya dari amukan calon mertuanya.
Dia balas menggenggam tangan Acha erat-erat, berjanji dalam hati untuk tidak akan pernah ceroboh lagi di dekat gadis yang kini telah resmi menjadi kekasihnya itu.
Ponsel di dalam genggaman Fitri bergetar pelan di tengah kesibukan mereka di rumah. Dengan cepat, dia menggeser layar hijau untuk menghubungi Alfian, kakaknya, guna mengabarkan kondisi rumah setelah insiden kepanikan tadi.
"Halo, A Alfian? Ini aku, Fitri. Aa bisa ke rumah sekarang nggak? Mama sama Papa lagi pada kumpul di rumah, nih," pinta Fitri melalui sambungan telepon dengan nada biasa.
Di ujung telepon sana, suara Alfian terdengar agak ragu dan kaku. "Duh, Fit... Maaf banget, ya. Aa lagi nggak bisa ke sana sekarang. Aa lagi ada urusan penting di Jakarta, nih, masih di luar kota," elak Alfian memberikan alasan.
Mendengar jawaban itu, Fitri mengernyit heran. Namun, sebelum dia sempat membalas, Fitri teringat kejadian menegangkan beberapa saat lalu.
"Hah? Di Jakarta? Padahal teh Acha baru saja dilarikan ke puskesmas dekat rumah gara-gara sesak napas, lho, A..." celetuk Fitri berniat memberi tahu.
Skakmat.
Seketika itu juga, suasana di ujung telepon berubah drastis menjadi senyap selama beberapa detik. Tak lama kemudian, suara napas Alfian terdengar memburu di seberang sana.
Panik luar biasa langsung merayap di dadanya begitu mendengar sang adik bungsu jatuh sakit hingga masuk UGD. Alasan sedang berada di Jakarta langsung buyar seketika.
"Apa?! Acha masuk UGD?! Di puskesmas dekat rumah?!" seru Alfian dengan nada suara yang meninggi, jelas-jelas panik bukan kepalang dan lupa daratan dengan kebohongannya sendiri.
"Ya udah, Fit! Tunggu di situ! Aa langsung ke puskesmas sekarang juga!"
Tut. Sambungan telepon terputus secara sepihak.
Tanpa membuang waktu lagi, Alfian yang tadinya mengaku sedang berada jauh di ibu kota langsung berlari terbirit-birit meninggalkan tempatnya, menyalakan kendaraan, dan melaju kencang menuju puskesmas tempat Acha dirawat demi memastikan kondisi adiknya baik-baik saja.
Be to continued