"Daddy, bagaimana bisa menjodohkan Lily dengan pria Arogan itu?" pertanyaan Lily meronta-ronta di hadapan Daddy-nya menunjuk Lucas yang duduk disofa dengan wajah datarnya.
"Lucas itu pria yang baik, Daddy sudah menjodohkan kalian sejak kecil" pernyataan Daddy menatap Lucas yang sejak kecilnya sudah dia anggap seperti anak sendiri.
"Sejak kecil apanya, Lily baru lahir dia sudah tua" komplen Lily, selain terkenal arogan Lucas juga beda 8 tahun darinya.
"Lily menolak perjodohan dengan pria Arogan itu" pernyataan Lily.
"Berani kamu menolak saya?" pertanyaan Lucas dengan suara beratnya.
Yuk baca cerita Lily.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35 Terluka
"Lucas mengapa dibiarkan saja istrimu tantrum," ucap Mami membantu Lily duduk dan memeluknya.
"Hwaaa, Lily mau pulang aja Mom," tangis Lily menggapai pada Mommy-nya.
Keempat orang tua mereka saling tatap lalu menarik napas panjang.
"Duduk," ucap Papi menyuruh mereka semua duduk di sofa.
"Papi, Daddy, Lucas harus meeting untuk 1 jam ke depan, ini benar-benar meeting yang tidak bisa ditinggal," ucap Lucas.
"Pergilah, kami tunggu," ucap Daddy menatap seisi ruangan Lucas yang benar-benar sudah berantakan sambil geleng kepala.
Setelahnya Lucas langsung pergi tanpa klarifikasi atau mengatakan pembelaan apa-apa.
"Lily, Lucas tidak menyakiti kamu kan Nak?" cemas Mami memeriksa kondisi Lily.
"Jangankan menyakiti Lily, Kak Lucas aja nggak mau bicara sama Lily," ucap Lily menangis tersedu-sedu.
Mendengar penjelasan singkat Lily saja keempat orang tua itu sudah paham situasi dan kondisi tanpa harus dijelaskan lebih lanjut.
"Kamu apakan Lucas sampai diam dan benar-benar tidak mau bicara dengan kamu lagi?" tanya Mommy pada putrinya sambil mengusap air mata Lily.
Mereka tahu Lucas itu pendiam, tapi kalau sudah diam tidak bicara sama sekali itu artinya Lily sudah melukai perasaannya.
"Lily nggak ngapa-ngapain Kak Lucas," jujur Lily.
"Coba cerita sama Mommy, terakhir kali kalian bicara kapan?" tanya Mommy.
"Seminggu yang lalu," jawab Lily yang membuat keempat orang tua itu langsung shock.
Ini artinya masalahnya sangat besar sampai Lucas mendiamkan Lily seminggu.
"Percakapan terakhir apa?" tanya Mami memeluk menantunya dengan perasaan tidak menentu.
Lily bercerita dengan jujur tentang apa yang terjadi malam itu, karena juga bingung harus menghadapi Lucas bagaimana lagi.
"Kamu menyuruh suami kamu menikah lagi?" tanya Daddy tidak menatap Lily tapi menatap istrinya.
Kelakuan Lily plek-ketiplek dengan Mommy-nya, yang dulu pernah menyuruh Daddy menikah lagi.
"Alasannya apa Lily?" tanya Papi, kalau Mommy Lily dulu menyuruh Daddy menikah agar segera mendapatkan keturunan tapi Lily apa motifnya.
"Jadi..."
"Sekarang kamu minta maaf pada Lucas," ucap Daddy begitu mendengar pengakuan Lily.
Daddy tahu bagaimana sakitnya hati, disuruh nikah sama istri sendiri!
"Lily udah minta maaf, tapi dia diam aja, nggak bicara sedikit pun sama Lily," ucap Lily.
"Itu karena kamu sudah menyakiti hatinya," kata Daddy yang bukan membela Lucas tapi Lily memang salah di sini.
"Tapi kata orang pria senang kalau disuruh nikah lagi," kata Lily dengan polosnya.
"Sepertinya Lucas mulai mencintai Lily," kesimpulan Papi.
"Jika memang begitu, Daddy nggak mau tahu kamu harus bujuk Lucas sampai dia mau bicara sama kamu," ucap Daddy dengan tegas.
"Enggak, Lily mau pulang aja," kata Lily yang tidak mau lagi tinggal dengan Lucas.
"Enggak, sampai Lucas mau bicara sama kamu, kamu nggak boleh pulang," tegas Daddy yang ingin membentuk mental Lily.
Jika Daddy terus menuruti semua yang Lily inginkan, itu membuatnya tidak akan dewasa dan berpikir matang sebelum mengambil keputusan.
"Kalian itu sudah menikah, jika punya masalah maka selesaikan berdua bukan justru minggat ke rumah Daddy," kata Daddy yang tidak akan pernah ikut campur urusan rumah tangga anaknya.
"Sini Mommy dan Mami ajarkan cara bujuk suami," ucap mereka memeluk Lily sambil menahan tawa.
"Kalian berdua seriuslah," ucap Papi yang geram juga melihat dua sekawan itu, malah tertawa cekikikan bukannya membantu anak.
.......
Malam harinya.
Lucas yang duduk di tepi ranjang langsung menutup bukunya dan berbaring begitu Lily masuk ke dalam kamar.
"Hubby, maafin Lily," kata Lily naik ke atas ranjang dan mencoba menyentuh tangan Lucas.
Lucas menepis tangan Lily dan berbaring memunggunginya.
"By, maafin, Lily," kata Lily memeluk Lucas dari belakang.
"Maaf, Lily nggak bakal, suruh By nikah lagi, maafin Lily," kata Lily hampir menangis terus membujuk Lucas.
"Lepas," kata Lucas menarik tangannya yang dipegang Lily.
"Ini bukan soal kamu menyuruhku menikah atau tidak, tapi kamu benar-benar tidak menghargai pernikahan kita dan menganggap aku tidak berharga," kata Lucas yang kecewa sekali.
"Hubby maaf," tangis Lily kembali memeluk Lucas.
"Bukankah aku tidak berharga, kamu tidak mencintaiku, pergilah," ucap Lucas dengan tegas dan duduk menatap Lily tajam.
Melihat tatapan Lucas membuat Lily yang ketakutan duduk bergeser ke belakang dengan sangat takut.
Prang.
Dua gelas berisi air putih di atas meja samping tempat tidur jatuh karena Lily yang terus bergeser tidak sengaja menyenggolnya.
"Lily kemari," ucap Lucas mengulurkan tangannya agar Lily tidak bergeser terus ke belakang.
"Akkkkh," Lily yang terus bergeser hingga jatuh ke bawah ranjang dan pecahan beling di lantai menusuk punggung dan pahanya.
"Lily!" teriak Lucas turun dari ranjang dan menggendong Lily dengan cepat keluar kamar begitu darah di punggungnya terlihat mengalir.
"Dave, bodyguard, cepat," teriak Lucas menggendong Lily menuruni tangga tanpa alas kaki dan darah yang berserakan di setiap langkahnya.
"Cepatlah," ucap Lucas yang duduk memeluk Lily di mobil menuju rumah sakit.
"Lily, bertahanlah Sayang," kata Lucas dengan wajah begitu panik memeluk Lily.
Begitu sampai di rumah sakit Lucas menggendong Lily dan menaruhnya di hospital bed untuk segera dibawa dan obati dokter di ruangan.
Lucas duduk di kursi tunggu depan ruangan sambil membenturkan kepalanya ke dinding.
"Lily," Lucas benar-benar tidak bisa memikirkan apa pun lagi selain Lily saat ini.
Beberapa saat kemudian keempat orang tua mereka datang.
"Daddy, aku..." Lucas akan menjelaskan sesuatu tapi Daddy sudah langsung pergi ke depan pintu ruangan di mana dokter sedang mengobati Lily.
"Dokter, obati kaki Lucas," ucap Mommy melihat darah yang terus mengalir di kaki Lucas yang sepertinya juga menginjak pecahan kaca.
"Mommy, percaya padaku, aku tidak menyakiti Lily," ucap Lucas ketika hanya Mommy yang menghampirinya.
"Iya, obati dulu ya kaki kamu," ucap Mommy mempersilakan dokter mengobati kaki Lucas.
Karena Lucas tidak mau dibawa ke ruangan akhirnya Daddy memerintahkan dokter untuk mengobati kaki Lucas di situ saja.
"Akkkkh," keluh Lucas berpegang pada Dave yang duduk di sebelahnya saat dokter mengeluarkan pecahan kaca cukup besar dari kakinya.
Lucas tidak merasakan apa-apa sejak tadi bahkan dia berjalan menggendong Lily menuruni tangga.
"Dave, apa Lily akan baik-baik saja?" cemas Lucas sampai menetes air matanya.
"Lily akan baik-baik saja," ucap Daddy memeluk menantunya yang terlihat begitu kacau itu.
Sementara Papi menatap Lucas dengan tatapan penuh intimidasi ketika untuk kedua kalinya Lily terluka saat bersama Lucas.
Sekitar 15 menit berlalu dokter keluar, "Lukanya tidak terlalu dalam, tapi ada beberapa luka yang lebar di punggung dan pahanya," ucap dokter lalu membiarkan mereka masuk.
"Lily, aku..." Lucas berjalan dengan kaki diperban dan memeluk Lily dengan penuh rasa bersalah.