Indonesia
NovelToon NovelToon
The Twin'S Price

The Twin'S Price

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Fantasi Wanita / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Vaestra

Bagi Kassa, Calista adalah saudara kembar terbaik yang dia punya. Hanya Calista yang dia percayai dan sayangi. Apapun akan dia lakukan untuk kebahagiaan saudara kembarnya itu. Namun, semua ketulusannya dibayar dengan pengkhianatan yang membuat Karisma dibuang dari keluarganya.

Dendam yang terpendam, membuat Kassa kembali bangkit menjadi sosok yang baru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaestra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29

Ruang tamu serta ruang keluarga yang berantakan adalah pemandangan yang menyambut kepulangan Callie dari sekolah. Para pelayan yang sedang membersihkan kekacauan itu sontak menundukkan kepalanya ketika melihat Callie.

"Apa yang terjadi?" tanya Callie pada salah satu pelayan.

"Itu, Non ... tuan sama nyonya..."

Pelayan itu tidak melanjutkan perkataannya, namun Callie jadi tau yang sedang terjadi. Gadis itu menghela napas panjang. "Mana mereka?"

"Tuan keluar, sedangkan nyonya ada di kamar."

Segera Callie melangkah menuju kamar Dewi yang berada di lantai dua. Sampai di depan pintu, Callie mengetuk dan, langsung membukanya. Keadaan kamar sama berantakan dengan ruang tengah.

Pemilik kamar berada di balkon. Callie melangkah mendekati wanita. Aroma tembakau yang dibawa angin, membuat langkah Callie sempat terhenti, alisnya mengernyit ketika melihat ada kepulan asap di sekitar Dewi.

Dia kembali melanjutkan langkahnya. "Mama gak apa-apa?"

Dewi meliriknya, lalu mengangkat tangannya yang ternyata ada sebatang rokok yang terselip di antara jari telunjuk dan jari tengah wanita itu. Penampilan wanita itu juga jauh dari kata baik.

"Mama merokok? Sejak kapan?" Callie tidak pernah mengetahui ini. Dia hanya tau, jika Dewi adalah sosok wanita yang tidak akan menyentuh hal-hal seperti itu.

"Kenapa? Memangnya aku tidak boleh merokok?" Dewi menghembuskan asap nikotin itu ke udara, Callie mengipaskan tangannya di depan wajahnya, menghalau asap itu.

"Papa akan dilengserkan dari jabatannya. Dia akan menjadi pegawai biasa di perusahaan keluarganya."

Callie sontak melebarkan matanya. "Apa?!"

"Semua ini karna, Kassa dan wanita murahan itu!"

"Terus, bagaimana dengan nasib kita, Ma?" Callie jelas panik, jika Kassa berhasil kembali dari tempat itu, otomatis posisi Callie akan tergeser lagi. Dia sudah kewalahan untuk menghadapi Kara, dan sekarang dia akan menghadapi Kassa juga.

"Kamu pikir aja sendiri! Mama sudah mengusahakan semuanya untuk kamu, kini giliranmu untuk bertindak." Dewi membuang puntung rokoknya, dan menginjaknya.

"Kamu jangan hanya pikirkan dirimu saja." Dewi berbalik meninggalkan Callie yang hanya menatap punggung Dewi dengan tangan yang terkepal.

Callie kembali ke kamarnya, lalu mengambil ponselnya. Dia menghubungi Shania. Namun, Shania tidak mengangkat.

"Ke mana sih, anak itu?!" geram Callie.

Di sisi lain, Shania sebenarnya sudah melihat layar ponselnya yang menampilkan panggilan dari Callie. Namun, dia mengabaikannya.

"Bagaimana dengan Callie? Mama dengar, pertunangannya akan dibatalkan?"

Shania mengangkat kepalanya, menatap Kaliana yang sedang memotong apel. "Kabarnya seperti itu. Tapi, Callie lagi berusaha supaya pertunangan mereka tidak dibatalkan."

"Percuma sih. Karna, papanya melakukan hal yang memalukan."

Shania mengatupkan bibirnya. Karna, apa yang dikatakan Kaliana benar. Kaliana memberikan Shania potongan ke depannya.

"Kalo bisa, jangan berteman lagi sama dia."

Perkataan Kaliana membuat Shania mengerutkan alisnya. "Bukannya, mama bilang untuk terus berada di sampingnya Callie? Dan, terus membantunya?"

Kaliana terdiam sejenak. "Sebenarnya, tidak apa-apa kalo kamu mau terus berteman dengannya. Tapi, kamu harus siap dengan konsekuensinya. Ingat Vanya? Jika hal yang sama terjadi sama kamu, mama tidak akan membantu."

Tentang Vanya, Kaliana hanya asal menebak saja. Namun, entah kenapa firasatnya mengatakan jika itu ada kaitannya dengan anak angkat Arsenio. Apalagi, setelah dia perhatikan, kekacauan yang menimpa Callie dan, Vanya terjadi, ketika dia muncul.

"Tapi, Ma. Kasihan Callie."

"Shania, main peran jadi teman yang baik, harus segera berakhir. " Kaliana bangkit berdiri. "Callie sudah tidak ada gunanya untuk kamu, jika pertunangannya dengan Axelei."

Sebelum Kaliana beranjak, wanita itu kembali berkata, "dan juga, hati-hati dengan anak angkatnya Arsenio."

Shania hanya diam saja, menatap punggung Kaliana yang meninggalkannya sendirian di pantry. Getaran ponselnya kembali menarik perhatiannya. Shania mengambil ponselnya, dan seperti dugaannya, Callie kembali menghubunginya.

Dia ingin menjawab panggilan itu. Namun, dia teringat dengan perkataan Kaliana. Membuatnya menaruh kembali ponselnya, dengan menghela napas panjang.

...

Setiap gerak-gerik dari keluarga Prawirodirdjo, akan selalu menjadi nontonan dari Arsenio, Seraphina dan, Kara. Mereka akan selalu memutar rekaman CCTV di mansion itu, dan menontonnya secara bersama-sama seperti saat ini.

"Sepertinya, Bastian sudah memakan umpannya," ucap Arsenio sambil meletakkan cangkir yang berisikan kopi di atas meja.

Seraphina dan Kara hanya menyimak. Mereka tau, jika Arsenio sengaja memberikan sedikit informasi tentang Kassa dan Bagas. Tapi, dia tidak menyangka, gara-gara itu, Bastian ingin melengserkan Bambang dari jabatannya.

"Bagaimana dengan Kaliana?" Arsenio bertanya pada Seraphina.

"Kaliana, orangnya sangat berhati-hati. Sejak kami bertemu di restoran itu, dia mulai menjauh dan mencari restoran lain."

Arsenio menganggukkan kepalanya, karna dia sudah menduganya. "Sepertinya, kita harus berhenti dulu. Takutnya, dia sudah curiga." Pria itu beralih menatap Kara. "Bagaimana dengan Shania?"

Kara mengendikan bahunya. "Sama seperti mamanya."

Arsenio terdiam. Dia kembali menatap rekaman CCTV di mana Bambang dan Dewi bertengkar hebat. "Sepertinya, kalian harus menjaga jarak dulu."

"Dan, besok, Bastian akan menemuiku. Dia sudah membuat janji," lanjut Arsenio membuat kedua perempuan beda generasi itu menatapnya dengan alis terangkat satu.

"Sepertinya, dia penasaran dengan Kara."

"Apa aku harus ke kantor juga?" tanya Kara yang dibalas dengan gelengan kepala Arsenio.

"Tidak perlu. Dia palingan datang untuk memastikan kalo kamu berasal dari tempat itu, atau bukan."

Kara manggut-manggut saja. Sedangkan, Seraphina malah tampak khawatir.

"Bagaimana kalo dia tau, siapa Kara sebenarnya?"

Arsenio menatap istrinya. "Tenang saja. Dia tidak akan pernah tau." Pria itu terlihat sangat yakin dengan jawabannya.

...bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!