Zara Adhitama, ia dijodohkan dengan seorang pria bernama Regantara Benedict. Seharusnya perjodohan itu dilakukan oleh saudari tiri Zara, yaitu Selene namun Selene menolak keras dengan alasan takut karena Regantara terkenal kejam. Pada akhirnya mau tak mau Zara lah yang dipilih untuk menikahi pria itu.
"Selamat datang, Nyonya Benedict." ucap Regantara saat itu.
Namun ternyata kehidupan baru tidak membuat Zara menjadi sosok yang lemah, saat Regantara pergi meninggalkannya di altar waktu itu dan tak terlihat di kediaman Benedict karena ia pergi melakukan perjalanan bisnis. Zara langsung memanfaatkan waktu kekosongan itu untuk membalas dendam pada Ibu tirinya dan tentu saja saudari tirinya yang tersayang.
Bagaimana kehidupannya Zara setelah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Romanova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Mobil hitam mewah yang membawa Zara melaju tenang melewati gerbang besi yang menjulang tinggi dan berhenti tepat di depan kediaman megah Benedict.
Begitu pintu mobil dibukakan oleh pengawal, Zara melangkah keluar seraya membetulkan ikatan jas hitam Regantara di pinggangnya.
Namun, baru saja ia melangkah masuk menuju ke dalam, aroma masakan lezat yang menggugah selera memenuhi udara.
Zara menghentikan langkahnya di depan ruang makan utama.
Di sana, duduk sosok pria tua bertubuh tegap.
Jenderal sedang menyesap teh hangatnya.
Begitu mendengar langkah kaki Zara, wajah garang sang pria tua itu seketika berbinar cerah.
"Cucu menantuku!" seru Jenderal dengan suara ramah yang memenuhi seluruh ruangan.
Pria tua itu langsung berdiri dari kursinya dan melambaikan tangan dengan antusias.
"Sini, sini duduk! Kakek sengaja mendahuluimu ke sini untuk memastikan chef menyiapkan sup hangat dan makanan bergizi untukmu!"
Zara membelalakkan matanya, ia terpaku sejenak di tempatnya berdiri.
"K-Kakek...?"
Bukankah tadi pria tua ini pamit untuk pergi makan di restoran privat bersama rombongannya?
Kenapa sekarang beliau justru sudah berada di dalam kediaman Regantara, dan tampak begitu santai seolah-olah ini adalah rumahnya sendiri?
Nakula yang berdiri tak jauh dari meja makan hanya tersenyum tipis, ia menunduk sopan ke arah Zara yang tampak linglung.
"Kakek pikir-pikir, restoran di luar terlalu bising dan kaku untuk orang yang sedang tidak enak badan, ayo duduk. Biarkan para pelayan mengurus jas Regantara itu, dan kamu harus makan yang banyak hari ini!" ucap Jenderal sambil menunjuk kursi empuk di sebelah kanannya.
"Baik, Kakek..." Zara akhirnya duduk.
"Makan yang banyak, Zara. Tubuhmu itu terlalu mungil untuk ukuran Nyonya Muda di keluarga ini." omel Jenderal dengan nada protektif yang tegas namun penuh perhatian.
Tanpa menunggu persetujuan Zara, tangan kekar pria tua itu bergerak lincah mengambil sendok saji.
Dalam sekejap, piring di depan Zara sudah terisi penuh oleh potongan daging sapi lembut bertabur rempah, sup iga hangat yang berasap tipis, hingga sayuran segar pilihan.
Jenderal menumpuk makanan itu seolah-olah Zara tidak makan selama tiga hari.
Zara menatap gunung makanan di piringnya dengan mata membelalak penuh keterkejutan.
"K-Kakek... ini terlalu banyak, aku tidak akan sanggup menghabiskan semuanya." bisik Zara ragu, ia berusaha menghentikan gerakan tangan Jenderal yang baru saja hendak menyendokkan porsi sup tambahan.
"Habiskan sebisa mungkin." potong Jenderal santai, ia menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi sambil melipat tangan di dada dengan raut wajah puas.
"..."
"Regantara itu cuma tahu cara bekerja sampai lupa memberi makan istrinya dengan benar. Mulai hari ini, Kakek yang akan memastikan gizi dan kenyamananmu di rumah ini."
Nakula yang berdiri kaku di sudut ruangan hanya bisa berdehem pelan, ia menahan senyum saat menyaksikan tuannya yang legendaris itu berubah total menjadi kakek yang teramat memanjakan cucu menantunya.
"Terima kasih banyak, Kakek." ucap Zara tulus.
Senyum tipis dan lembut akhirnya terukir di wajahnya yang agak pucat. Ia mulai meraih sendok dan mencicipi sup hangat yang langsung membelai tenggorokannya dengan nyaman.
"Bagaimana Cu, apa sesuai seleramu?"
Zara mengangguk mantap. "Ini enak!"
"Bagus haha! Habiskan ayo."
"Kakek juga makan." ucap Zara.
"Tentu saja, Kakek juga akan makan."
Keduanya makan dengan sesekali melemparkan obrolan santai, Jenderal yang biasanya begitu disiplin soal larangan jangan mengobrol saat makan kini tampak menghempaskan aturan itu di depan cucu menantunya sendiri.
Di saat yang sama, derum mesin mobil bergema keras dari arah pelataran depan, disusul oleh langkah kaki yang bergerak cepat memasuki kediaman.
Regantara tiba di mansion.
Pria itu melangkah lebar memasuki ruang makan dengan raut wajah dingin. Namun, begitu matanya menangkap pemandangan di meja makan, langkah kaki Regantara seketika terhenti.
Alis tebal Regantara menukik tajam, matanya membelalak tak percaya.
"Kakek? Kenapa Kakek masih ada di sini?"
"Kenapa memangnya?!" sembur Jenderal seketika, ia menggebrak meja makan pelan dengan telapak tangannya hingga sendok porselen di samping piring Zara berdenting halus.
"Ini rumah cucuku! Rumah cucu menantuku juga! Apa Kakekmu sendiri tidak boleh menengok cucu menantunya yang sedang sakit?!"
Regantara mengepalkan tangannya di balik saku celana, rahangnya mengeras ketat.
Tatapan matanya yang tajam berganti-ganti menatap kakeknya yang tampak sangat berkuasa di meja makannya sendiri, lalu beralih pada Zara yang duduk tenang dengan piring penuh makanan di samping sang patriak.
"Dia butuh istirahat, Kakek. Bukan diinterogasi atau ditumpuki makanan sebanyak itu." desis Regantara, mencoba mempertahankan sisa-sisa otoritasnya di rumah itu.
"Siapa yang menginterogasi?! Kakek justru datang untuk memastikan dia makan makanan bergizi! Bukan malah ditinggal sendirian dan dibikin stres seperti yang kamu lakukan di kantor tadi!" potong Jenderal sinis, matanya melotot tajam menembus Regantara.
Regantara membisu seketika.
Kata-kata kakeknya menghantam telak egonya, membuatnya mengingat insiden di kantor tadi yang memang murni kesalahannya karena tersulut emosi.
Zara yang menyimak perdebatan dua pria berpengaruh itu hanya mengunyah supnya perlahan, berusaha tidak terlibat.
Namun, sudut bibirnya menyunggingkan senyum tipis, merasa sedikit puas melihat Regantara yang biasanya selalu dominan kini dibuat tak berkutik di hadapan Kakeknya sendiri.
Regantara menyadari senyuman tipis di wajah Zara. Kilatan di matanya makin menggelap, rasa gengsi, dan kejengkelannya makin membakar dada saat menyadari Zara merasa lebih aman di bawah naungan Jenderal daripada dirinya.
"Alaric, bawakan dokumen kerja saya ke ruang baca di atas." panggil Regantara.
Pria itu kemudian melangkah mendekati meja makan, berdiri tepat di belakang kursi Zara.
Tangannya terulur, mendarat mantap di sandaran kursi Zara.
"Makan yang banyak, Zara. Setelah ini, dokter pribadi keluarga akan datang memeriksa keadaanmu." bisik Regantara tepat di atas kepala wanita itu, suaranya terdengar begitu dingin.
"Jangan menakut-nakuti cucu menantuku dengan wajah bengismu itu, Regantara!" sembur Jenderal sambil menunjuk muka cucunya dengan sendok saji.
"Kakek aku tidak–"
"Sudah tahu mukamu kaku seperti tembok batu, malah berdiri tepat di atas kepalanya begitu. Minggir!" lanjut Jenderal.
Regantara tidak bergeming sedikit pun.
Jarinya justru makin mencengkeram erat sandaran kursi Zara, mempertegas keberadaannya.
Matanya menatap sang patriak tanpa rasa gentar sedikitpun, meski aura intimidasi di antara dua generasi Benedict itu membuat para pelayan di sekitar ruang makan menahan napas panik.
"Aku cuma memastikan istriku makan dengan tenang, Kakek." desis Regantara dingin, ia menolak mundur satu inci pun dari wilayah kekuasaannya.
"Makan dengan tenang bagaimana kalau kamu berdiri di belakangnya seperti algojo yang siap mencabut nyawa?! Zara, kalau dia membuatmu tidak nafsu makan, bilang pada Kakek. Biar Kakek suruh Nakula menyeretnya keluar dari rumah ini." balasku Jenderal tak kalah pedas.
Pria tua itu menggeleng-gelengkan kepala, lalu menatap Zara dengan ekspresi yang seketika melunak drastis.
Zara yang berada di tengah-tengah himpitan dua aura dominan itu hanya bisa menghela napas halus.
Rasa hangat dari sup iga di perutnya sejujurnya mulai meredakan rasa kram yang menyiksa, namun ketegangan di sekitarnya terasa jauh lebih menguras tenaga.
Ia melirik Regantara dari sudut mata.
Pria itu tampak begitu menegang, rahangnya terkatup rapat.
"Aku tidak apa-apa, Kakek. Makanan ini sangat enak. Terima kasih sudah menyiapkannya untukku." ujar Zara akhirnya.
Jenderal tersenyum lebar, tampak sangat puas dengan respon lembut cucu menantunya.
"Nah, dengar itu? Itu baru namanya tahu cara menghargai orang tua. Tidak seperti cucu sialanku ini!"
Regantara menggeram rendah, matanya terkunci rapat pada wajah Zara. Rasa cemburu yang membakar, kekesalan pada kakeknya, serta rasa bersalah atas dorongan kasarnya di kantor tadi bergulat hebat di dalam dadanya.
Tepat saat Regantara hendak membungkukkan badan untuk menarik Zara keluar dari situasi itu, langkah kaki cepat terdengar dari arah foyer.
Alaric muncul bersama seorang pria paruh baya berjas dokter yang membawa tas medis.
"Tuan Besar, Tuan. Dokter pribadi keluarga sudah tiba." sapa Alaric menunduk sopan.