"Tenang saja sayang, dia akan buta selama-lamanya..." Arga membiarkan kekasihnya bermain main di pangkuannya. Dalam nafsu yang terbakar suara erangan terdengar.
Kiara yang sudah bisa melihat. Ia mendengar segalanya, meraba bagian bawah matanya sendiri. Wanita yang tidak dapat melihat karena ulah suaminya.
Air matanya mengalir, pria manipulatif yang ingin menguasai hartanya.
Tapi tidak, dalam tangisannya dirinya berucap pelan.
"Aku dapat membuatmu bergelimang harta, maka aku juga dapat menyeretmu ke neraka..."
Sebuah pembalasan dendam dimulai. Semua bagaikan papan catur yang dimainkan oleh sang wanita yang dibuat buta untuk membalas suaminya.
"Satu persatu hutangmu akan aku tagih..." Senyuman menyeringai mengerikan. Perlahan tertawa dibalik tangisannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB — 02
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka. Cahaya lampu kekuningan menyebar lembut menerangi ubin keramik mengkilap. Kirana melangkah masuk, tidak melihat siapa pun di dalam sana—hanya sedikit terlihat kedua kaki Rena berdiri kaku di balik pintu toilet.
"Rena ... Kamu di dalam?" seru Kirana pelan, berjalan mendekat.
Di ruang sempit itu, tubuh Arga mendesak erat menempel pada Rena. Napasnya memburu hangat, terus mengecup leher putih yang begitu jenjang dan hangat itu, membuat Rena sesak dan gemetar ia tidak bisa bergerak leluasa karena dekapan yang begitu erat.
"I-iya! Bu Kirana ... A-ada apa?" jawab Rena dengan suara tertahan dan panik.
"Rena! Kamu tidak apa-apa? Suaramu terdengar berat sekali," tanya Kirana cemas di balik pintu.
"T-tidak apa-apa Bu! Saya hanya sakit perut biasa. Bu Kirana tidak usah khawatir."
Arga tersenyum licik di dalam sana, jari jempolnya dengan lembut menyentuh bibir Rena yang gemetar, lalu ia kembali melumat habis bibir mungil itu dengan lebih dalam dan liar semakin bergairah dan lebih brutal lagi.
"Ya sudah! Aku keluar dulu, tunggu ya di meja makan."
"I-iya Bu ..."
Langkah Kirana menjauh perlahan. Di dalam kamar mandi yang sempit itu, Arga mengangkat paha mulus Rena lebih tinggi ke pinggangnya. Rena menahan gerakannya dengan tangan gemetar, ketakutan mendengar suara langkah yang masih ada di luar.
"Arga! Hentikan, jangan lakukan di sini!" bisiknya nyaris tidak terdengar, mendorong dada bidang itu menjauh. "Kamu keluar dulu. Jangan sampai istrimu curiga, aku tidak ingin kita datang bersamaan."
Arga menatapnya sekilas dengan tatapan tajam, lalu merapikan pakaiannya.
*
*
Kemana suamiku? Aku mencarinya ke mana-mana, tapi dia tidak ada ...
Kirana masih bingung saat melihat Rena berjalan keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat, rambut sedikit berantakan dan napas yang tersengal-sengal.
"Bu Kirana! Maaf sepertinya saya harus segera pulang, ada urusan di rumah." ucap Rena tergesa-gesa dengan cepat ia menyambar tasnya.
"Rena. Kamu mau pulang sekarang? Padahal makananmu belum kamu makan. Kamu serius pulang sekarang? Bagaimana kalau kita pulang bersama," ajak Kirana dengan tulus.
"Tidak usah Bu. Saya pulang sendiri saja." Rena segera membungkuk dalam-dalam. "Saya permisi pulang duluan Bu." Ia berlari tergesa-gesa meninggalkan ruangan.
Saat itu Arga masuk ke dalam ruangan dengan wajah tenang seolah tak terjadi apa-apa, sehingga membuat istrinya tidak curiga sama sekali.
"Sayang. Maaf aku tadi keluar sebentar, aku beli susu hangat untukmu," seru Arga dengan senyum ramah yang dibuat-buat.
"Oh. Pantes aku cari-cari kamu tidak ada, sayang." Kirana menghela napas lega, sama sekali tak menyadari kebohongan itu.
Arga berjalan dan kembali duduk di kursinya. "Oh iya. Kemana Rena?"
"Katanya dia ada urusan jadi pergi duluan. Padahal aku tadi mengajaknya untuk pulang bareng kita," jawab Kirana sedikit kecewa.
"Oh iya. Kita makan saja dulu. Habis ini kita langsung pulang ke rumah," ucap Arga santai.
Saat Arga duduk di sebelahnya, aroma samar yang sangat ia kenal menyergap hidung Kirana. Ia memiringkan kepala, mengendus pelan ke arah bahu suaminya.
"Sayang, kamu pakai parfum?" tanyanya ragu.
Arga terdiam sekejap, lalu kembali tersenyum. "Oh. Tadi saat di luar, kebetulan ada tukang parfum di jalan jadi aku beli, aku taruh di mobil."
"Omong-omong kok mirip sama parfum yang dipakai sama Rena tadi," lirih Kirana, alisnya sedikit berkerut namun ia segera menepis keraguan itu. Pasti hanya perasaanku saja.
"Masa sih, sayang ..." Arga ikut mencium aroma yang menempel di bajunya, lalu tertawa pelan. "Enggak kok. Itu cuma perasaan kamu aja."
"Mungkin, aku salah."
"Kita makan saja dulu," ucap Arga tenang.
Dasar bodoh! Kirana-kirana ... Tunggu saja, setelah aku mendapatkan semuanya. Sebentar lagi, hadiah utama akan aku berikan kepadamu ... batin Arga tersenyum miring, rencana liciknya berjalan persis seperti yang ia susun secara rapi.
*
*
Di luar penginapan, siluet truk besar sudah terparkir diam menunggu di jarak agak jauh, lampu kabutnya menyala redup terlihat samar-samar dengan kabut pagi.
Arga dan Kirana keluar dari penginapan. Wajah Kirana tampak berseri-seri menatap pemandangan sekitar i begitu bahagia.
"Sayang. Kapan-kapan kita ke sini lagi ya," pinta Kirana.
"Iya, nanti kita datang lagi ke sini."
Mobil melaju perlahan meninggalkan tempat itu. Arga mengemudi dengan santai.
"Sayang. Nanti temani aku ke rumah Rena," ujar Kirana tiba-tiba.
"Kenapa tiba-tiba sekali, apa ada sesuatu?" tanya Arga sekilas menoleh.
"Tadi sepertinya dia sedang sakit. Aku khawatir saja sama dia. Selama ini dia sudah banyak membantu aku di kantor," ucap Kirana dengan tulus.
"Iya. Nanti aku antar kamu ke sana. Oh iya, bagaimana kalau kamu istirahat saja di rumah. Biar aku saja yang mengurus perusahaan," ujar Arga, matanya kembali fokus melihat jalan.
"Tidak apa-apa! Aku masih bisa kok. Kamu juga, sayang. Pekerjaanmu sudah banyak, aku tidak ingin menambah pekerjaanmu," tolak Kirana dengan halus.
Arga tersenyum licik, tangan kirinya bergerak lembut mengelus-elus rambut Kirana. "Istriku memang sangat perhatian."
Lampu merah menyala di persimpangan. Arga menghentikan mobilnya pelan, lalu menekan sakelar lampu sen kanan—isyarat rahasia bagi anak buahnya yang sudah menunggu di belakang.
"Oh, iya sayang. Aku mau tanya?" suara Kirana terdengar lembut penuh harapan.
"Mau tanya apa?"
"Kita sudah satu tahun menikah. Apa kamu tidak berencana untuk memiliki anak?" tanyanya menatap suaminya dengan mata berbinar penuh impian.
Wajah Arga mengeras seketika. "Kenapa tiba-tiba sekali kamu bertanya begitu!"
"Apa kamu ingin mempunyai anak tahun ini?" timpal Kirana tidak menyadari perubahan nada itu.
Kirana mengangguk antusias. "He-em ..."
Lampu lalu lintas berubah hijau. Namun mobil mereka tetap diam di tempat. Dari kaca spion, truk besar yang menunggu mulai melaju kencang dengan sorot lampu yang menyilaukan.
GUBRAK!!!
"HAAAAA!!!"
Teriakan ngeri Kirana pecah saat mobil mereka terhempas ke depan. Arga dengan sigap membanting setir ke kiri.
SRESEEET ...
GUBRAK!!!
PRANGGGG!!!
Bodi mobil penyok parah, kaca pecah berhamburan. Arga sudah bersiap dengan posisi aman, hanya mengalami luka ringan.
Sebaliknya Kirana terbentur keras di kepala, darah segar mulai mengalir dari pelipisnya, matanya perlahan mulai tertutup lemah.
'Haaaa ... Akhirnya ... Rencanaku berhasil. Maaf istriku sayang. Kali ini, semua milikmu akan menjadi milikku.'
"S ... Sayang ... Tolong ... Tolong ..." Dengan suara penuh kepura-puraan, Arga berteriak meminta bantuan sambil memeluk tubuh istrinya yang sudah tidak sadarkan diri.
Truk itu mundur perlahan, lalu kembali melaju menghantam sisi mobil mereka untuk kedua kalinya.
GUBRAK!
Selamat tinggal istriku sayang ...
🤭🤭
udh kirana tuk sekarang km mending pura2 buta aj ,,
sambil mencari bukti kejahatan si agar2 ,,