Indonesia
NovelToon NovelToon
Jodoh Dadakanku

Jodoh Dadakanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Romansa Fantasi
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Wulan Antya

Hidup mati seseorang tidak ada yang tahu.
Begitupun dengan jodoh.

Hawa yang memberontak karena dijodohkan dengan kakak kelasnya akhirnya mencoba menerimanya, dengan perjanjian agar di rahasiakan. mengingat mereka masih duduk di bangku sekolah, tapi qodarullah ibu Hawa sakit dan meminta Hasby mengucap ijab kabul secara rahasia di tempat ibu Hawa dirawat. ibunya meninggal dengan tenang karena Hawa tidak sendiri lagi, sudah ada Hasby dan keluarga barunya.

Dengan berat hati Hawa menerima status barunya itu serta mencoba menjalaninya. Entah mampu bertahan atau berhenti ditengah jalan, Hawa tak tahu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wulan Antya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 29

Matahari berubah warna merah muda keunguan, sangat memanjakan mata, udara menyapa lembut, suara hewan malam mulai terdengar. Lampu jalan yang menyala serempak, menerangi jalanan yang mereka lewati. Mereka menepikan kendaraan di masjid yang dilewatinya.

Halaman masjid yang bersih dan rapi beratapkan langit merah muda keunguan yang mulai ditutupi awan hitam di berbagai titik.

Hawa mengambil wudhu dan memasuki masjid menuju tempat sholat wanita, Hasby juga melakukan hal yang sama lantas ke tempat sholat laki-laki.

Mereka mengikuti sholat berjamaah di masjid. Jamaahnya hampir memenuhi seluruh bagian masjid.

Hasby selesai lebih cepat dan menunggu istrinya di mobil. Ketika matanya menemukan istrinya yang tengah melangkahkan kaki pelan menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari bangunan masjid itu. Ada seorang lelaki muda yang tengah mendekati Hawa.

"Assalamu'alaikum dek Hawa," ucapnya ramah dan sopan, matanya sedikit menyipit karena tersenyum.

Sontak Hawa menghentikan langkahnya untuk pergi ke mobil Hasby, netranya sesekali melirik le arah mobil milik suaminya itu.

"Wa'alaikumsalam,,, eeh,, pak Ustad Seno," jawab Hawa lembut, matanya membola, ia tidak menduga kalau bisa bertemu dengan teman bapaknya disini.

"Gimana kabarmu dan Ibumu Wa?" rasa penasaran ketika melihatnya lagi.

"Ibu sudah meninggal ustad," jawabnya pelan terlihat raut sedih di wajahnya.

"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, saya turu berbela sungkawa Wa, maaf tidak hadir karena tidak mendengar kabar duka itu," ustad Seno sedih.

Karena semasa hidupnya dia mengenal beliau dengan baik.

"Iya terima kasih ustad. Tidak apa-apa," Hawa tersenyum ramah.

"Kamu tinggal dimana Wa?"

"Saya tinggal dengan..." Hawa belum menyelesaikan ucapannya karena terpotong oleh suaminya.

"Dia tinggal dengan saya," suara tegas milik Hasby lah yang menjawab. Hawa sontak melebarkan matanya. Ustad Seno mengernyitkan dahinya, penasaran siapa orang yang mendekati Hawa tersebut.

Entah sejak kapan sudah berada di dekat Hawa. Hawa berbicara melalui tatapan matanya kepada Hasby. Jangan kasih tahu tentang kita kak batinnya, tatapannya menatap lurus suaminya sembari menggelengkan kepala.

"Maaf, anda siapa ya?" ustad Seno menatap Hasby dengan tenang.

"Saya Hasby, saudaranya Hawa," Hasby dengan tegas mengulurkan tangan kepada Ustad Seno.

"Kalau saya Seno," menyambut uluran tangan laki-laki yang mengaku saudara dari Hawa.

"Ustad, ada hubungan apa dengan Hawa?" Hasby menyorot datar ustad Seno.

"Saya teman almarhum bapaknya Hawa dan sempat ingin mengkhitbah Hawa kalau sudah lulus SMA," ustad Seno mencoba tenang saja, padahal hatinya tengah gusar ketika melihat dan mendengar suara Hasby. Ada hal tak biasa sepertinya.

"Khitbah?! Kenapa?" tatapan Hasby menjadi dingin, Hawa membolakan matanya, tidak percaya dengan apa yang di bicarakan ustad Seno.

Seingatnya dulu memang bapaknya pernah membahas hal tersebut tapi setelah bapaknya meninggal, ustad dan ibu juga tidak melanjutkan bahasan tersebut. Malah Hasby yang datang untuk meminangnya di saat ia masih duduk di bangku SMA.

"Saya tertarik dengan dek Hawa yang baik dan lembut ini, rasa yang tiba-tiba hadir membuat saya ingin mengkhitbahnya"ustad Seno tersenyum sekilas melirik Hawa yang menutup rapat bibirnya.

"Maaf ustad, apa sekarang rasa itu masih ada?" Hasby menatap ustad Seno semakin dingin.

"Masih, makanya saya senang bisa bertemu dengan Hawa di sini,"

"Maaf ustad, kami pamit terlebih dahulu,, assalamu'alaikum," Sela Hawa cepat dan tegas. Sebelum Hasby berbicara lagi.

Tangannya dengan cepat menggeret tangan Hasby, mau tidak mau Hasby mengikuti istrinya. Dia tersenyum miris, bahkan di usia sedini ini istrinya sudah membuat seorang ustad tertarik padanya.

Jauh sebelum dia di jodohkan dengannya. Hasby menoleh melihat laki-laki yang dulu sempat menginginkan Hawa untuk menjadi istrinya itu.

Seorang laki-laki berusia matang, berdiri dengan aura positif yang menyebar ke sekelilingnya. Berwajah tampan diusia matangnya, kulit kecokelatan menambah manly dan sering berpakaian sopan dan rapi, membuat orang tidak berkedip saat melihatnya.

Seorang ustad yang terlihat teduh,berwibawa,lembut dan berilmu. Tentu saja akhlaknya baik. Perempuan mana yang akan menolaknya. Bathin Hasby miris.

Mungkin kalau Hawa tidak di jodohkan dengannya juga pasti bersama ustad itu.

Tapi siapa yang tahu semua itu. Manusia hanya bisa berencana tetapi pengabul segala rencana hanya milik Allah.

Mereka memasuki mobil dalam diam, Hasby langsung memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hawa membolakan matanya, tangannya mencengkeram kuat pada pegangan pintu hingga buku-buku tanganya memutih. Jantungnya berdetak sangat cepat.

Ia menoleh melihat wajah suaminya memerah, rahangnya terlihat mengeras, tatapannya tajam dan dingin. Seolah ada laser yang keluar dari matanya. Siap menghancurkan apa saja yang didepannya.

"Kak, tolong berhenti!" suara Hawa gemetar, matanya mulai mengembun.

Hasby tidak mempedulikan Hawa, hatinya panas membara mengingat cara ustad Seno mengagumi istrinya itu. Seperti ingin melayangkan tinjunya pada ustad tadi. Tapi akal pikirannya masih bekerja dengan baik. Jadi hal tersebut tidak dia lakukan.

Lengan di cengkeram kuat oleh tangan putih lembut, matanya melihat Hawa terlihat ketakutan di jok sampingnya. Kesadarannya kembali pulih, walaupun hatinya masih membara.

Hasby mengurangi kecepatan kendaraannya, mengingat Hawa yang sudah pucat pasi.

"Maaf kak, tapi tolong jangan seperti ini,, aku juga tidak tahu akan seperti ini," Hawa berbisik pelan tapi Hasby bisa mendengarnya dengan jelas.

"Apa kamu juga mengaguminya?" tanya Hasby datar, matanya memandang lurus kedepan.

"Kak,, kenapa bertanya seperti itu?" Hawa melihat Hasby lekat "aku aja nggak tahu kalau ustad pernah mau meng_khitbah aku nggak kepikiran hal itu kak," lanjutnya berusaha tenang.

"Tapi dia mengagumimu Wa,, memang itu terjadi jauh sebelum perjodohan kita, tapi sampai sekarang rasa dia padamu masih ada Wa," pungkas Hasby dingin.

"Apa kakak cemburu?" Hawa menyembunyikan cengirannya.

"Apa katamu? Aku,,, cemburu? Jangan mimpi!" ketusnya tetap berusaha fokus pada jalanan.

"Lalu kenapa marah-marah?" Hawa mendesak suaminya itu.

Ternyata selain dingin dan datar, suaminya itu juga punya gengsi yang tinggi. Hawa tersenyum geli.

"Aku paling tidak suka milikku di ganggu!" ketusnya berlanjut.

"ok, berarti kakak tidak cemburu, ya sudah," Hawa menjawab dengan ketus, tangannya bersedekap, ia membuang muka keluar jendela.

Hasby hanya meliriknya sekilas. Menghembuskan napas berat, mencengkeram setir mobil dengan kuat.

Padahal tadi berencana akan makan di luar setelah sholat, tapi malah ada orang yang membuat mood anjlok.

Hasby menghubungi Bibik dan memberitahukan kalau mereka akan pulang malam. Hasby melajukan mobilnya kearah berbeda dengan arah ke rumahnya. Hawa yang tersadar karena arahnya berbeda langsung menoleh kepada suaminya.

"Kak, kita salah jalan," ucapnya lembut.

"Tidak," tetap saja Hasby dengan kedatarannya.

"Ini salah, kita kan mau pulang. Tapi arahnya tidak ke sini kam," Hawa meyakinkan Hasby sekali lagi.

"Kita tidak pulang sekarang,"

"Kakak, mau culik aku?" Hawa mulai terlihat pucat, panik. Pasalnya mereka barusan bersitegang dan jalanan yang di lewatinya banyak hutan-hutan dan pepohonan.

"Jangan mikir aneh!"

"Tapi kak, kakak nggak mau buang aku kan?" suara Hawa bergetar, wajahnya menjadi pucat pasi, ia mencengkeram rok sekolahnya kuat.

"Mulutnya yang bener dong kalau ngomong," Hasby mencomot bibir Hawa pelan. Gemas karena Hawa berpikiran terlalu jauh.

"Astaghfirullah kak,,, aku lapor Papa dan Mama nih!" Hawa kesal karena Hasby mencomot bibirnya. Hawa menggeplak tangan suaminya agak kencang.

"Coba bilang aja, nanti siapa yang Mama percaya," Hasby menyeringai tipis.

Tanpa pikir panjang Hawa mengeluarkan ponselnya, tangannya bergerak dengan lincahnya mencari nomor sang mama mertua. Ketika ia menemukannya langsung di hubunginya.

Pada dering ketiga panggilan telepon itu diangkat.

"Assalamu'alaikum Hawa, apa kabar nak?" suara Mama terdengar ceria menyapa dari ujung telepon.

"Wa'alaikumsalam Mah, alhamdulillah baik mah. Papa dan Mama gimana kabarnya?

"Kami baik nak, lagi apa nak?" tanya perempuan paruh baya itu lembut.

"Mah, kak Hasby bawa aku ketempat jauh dan gelap mah, banyak pohon-pohon. Hawa takut di buang di hutan Mah," cerocosnya gemetar.

"Astaghfirullah,, nggak mungkin dia seperti itu Wa,,, mana Hasby, mama mau ngomong sama suami kamu!" Mama tegas. Mama penasaran nggak mungkin seorang Hasby melakukan hal seperti itu.

Hawa menyerahkan ponselnya pada Hasby. Hasby melirik sekilas lalu mengambilnya dan menempelkan telinganya.

"Assalamu'alaikum Mah, ada apa?" ucapnya tenang.

"Wa'alaikumsalam By, kata Hawa kamu bawa dia kehutan yang gelap. Mau kemana By? Jangan macem-macem kamu By!" gertak Mama tegas.

"Mah, Maaf,, tapi Hasby nggak seperti itu," Belanya tenang.

"Istrimu panik By, jangan becanda,,, kalau ada masalah selesaikan dengan baik," nasehat mama lembut.

" Maaf Mah, Hasby hanya ingin mengajaknya main sebentar, malah dia nya heboh," Hasby tersenyum geli.

"Tapi cara kamu yang irit ngomong itu jadi di salah artikan. Ya sudah selesaikan dengan baik dan selamat bermain," mama mengakhiri panggilan telepon itu.

Hawa melotot tidak percaya karena Hasby biasa-biasa saja, apa Mama tidak memarahinya, bathin Hawa sedih.

Hawa mengambil gawainya dan menyimpannya kembali. Menatap ketus suaminya itu.

Mobil tidak berhenti malah semakin melaju ke depan, semakin gelap. Hawa mengatupkan bibirnya rapat. percuma bertanya pada Hasby.

Tidak lama mobil mulai berjalan pelan dan ikut bergabung di parkiran dengan kendaraan lainnya.

"Turun!" Hasby beranjak turun dari mobilnya.

Hawa mengikutinya dan dirinya melihat sekitar, begitu banyak kendaraan terparkir.

Yang lebih membuatnya penasaran adalah dirinya menginjak pasir yang lembut dan kering. Begitu ringan diterbangkan oleh angin.

Terdengar suara deburan ombak yang menghantam tepian pantai. Aroma laut yang terbawa oleh angin kencang menambah mood Hawa yang sempat anjlok karena takut di bawa ke tempat asing.

Dirinya masih berdiri di samping mobil, ia tersentak ketika sebuah tangan meraih jemarinya lantas menariknya beranjak ke arah tangga dan terus berjalan lurus terus ke pantai yang sudah gelap.

Di berbagai sisi terdapat lampu penerangan yang lumayan menyorot kearah pantai. Bulan pun bersinar dengan terangnya.

Hawa dengan antusias yang tinggi langsung melepas gandengan suaminya, berlari menyongsong ombak yang menyapa lembut kakinya di tepian pantai.

Dinginnya air laut membasahi kakinya dan rok seragamnya. Hawa tidak memperdulikannya, ia terus saja bermain ombak. Tertawa bahagia ketika dirinya hampir terjatuh karena terkena ombak yang lumayan kencang.

"Kak, ayo sini!" Hawa senang sekali dan basah kuyub

Senyum sumringah terukir di bibir kecilnya. Hasby mengambil gawainya dan mengambil foto Hawa yang tengah bermain ombak pantai.

Hasby tersenyum lembut melihat istrinya yang terlihat senang dan bebas berekspresi. Membuatnya melupakan sejenak rasa kesal di dadanya yang disebut cemburu.

1
devita yudhayanti
bagus...lanjut
Wulan Antya: terimakasih kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!