Sinopsis
Sabrina, seorang gadis desa yang cerdas, berhasil meraih impiannya berkuliah di kampus elite ibu kota lewat jalur beasiswa.
Namun, kehidupan barunya yang tampak sempurna hancur berantakan ketika sebuah tragedi tak terduga terjadi: Sabrina nekat melompat dari lantai atas gedung kampus dan tewas seketika.
Kematian tragis tersebut menyisakan tanda tanya besar bagi orang-orang di sekitarnya. Apa yang sebenarnya terjadi di balik tembok kampus megah itu hingga mendorong Sabrina mengambil langkah se-ekstrem itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenyataan yang tak bisa di hindari!
Pintu kamar hotel berbunyi bip nyaring saat kartu akses ditempelkan, disusul suara dentam pelan saat Julian menutupnya rapat-rapat.
Seketika, hiruk-pikuk kota dan dinginnya udara luar tergantikan oleh keheningan kaku di dalam ruangan berkarpet tebal itu. Bau pendingin udara dan pengharum ruangan yang khas menyergap indra penciuman mereka, makin mempertegas rasa asing dan terisolasi.
Julian menaruh kunci kartu di atas meja konsol, lalu melemparkan kantong plastik kecil dari apotek ke atas kasur busa yang terampil rapi.
Di dalam kantong itu, terdapat tiga kotak testpack dari merek berbeda, semuanya varian paling mahal yang diklaim memiliki akurasi paling tinggi.
Julian berbalik, menatap Sabrina yang masih berdiri membeku di dekat pintu. Gadis itu tampak begitu kecil dan ringkih.
"Tunggu apa lagi?" suara Julian memecah keheningan. Nadanya tidak lagi membentak, tapi terendap ketegangan yang begitu tajam dan menuntut.
"Masuk ke kamar mandi. Coba semuanya sekarang."
Sabrina mendongak perlahan, menatap mata Julian yang dipenuhi kepanikan tersembunyi.
"Kak... aku..."
"Gak ada tapi-tapi, Sab," potong Julian cepat, melangkah mendekat dan mengambil kantong plastik dari kasur, lalu menyodorkannya tepat di depan dada Sabrina.
"Kita butuh kepastian detik ini juga. Ini aku udah beliin yang paling bagus. Periksa sekarang di dalam. Aku tunggu di sini."
Jemari Sabrina yang dingin bergetar saat menerima kantong plastik tersebut. Plastik itu terasa begitu berat di tangannya, seolah membawa beban penghakiman atas seluruh masa depannya.
Dengan langkah kaki yang berat dan terseok, Sabrina berjalan menuju kamar mandi.
Pintu kamar mandi terkunci dari dalam. Julian menarik napas panjang dan mulai berjalan bolak-balik di atas karpet kamar hotel.
Ia mengacak rambutnya, menatap jam dinding yang berdetak lambat, lalu sesekali membuang pandangan ke luar jendela kaca yang menampilkan deretan gedung tinggi.
Setiap detik terasa bagai siksaan yang memanjangkan keputusasaannya. Otaknya terus merapal doa dan penyangkalan konyol, berharap detik berikutnya Sabrina keluar dan mengatakan semua ini hanya salah paham.
Di dalam kamar mandi, Sabrina duduk di atas kloset yang tertutup. Dengan tangan gemetar hebat, ia membuka satu per satu kemasan kotak alat tes itu.
Air mata kembali menetes tanpa suara, jatuh menimpa petunjuk penggunaan yang tertera di kertas brosur. Ia mengikuti setiap instruksi dengan cermat, membiarkan tiga bilah plastik steril itu menyerap cairan dan menunggu reaksi kimia di atas tempat cuci piring marmer.
Satu menit... dua menit... tiga menit...
Waktu terasa membeku. Sabrina memejamkan mata rapat-rapat, tak sanggup melihat garis-garis yang mulai terbentuk secara bertahap. Dadanya bergemuruh hebat hingga ia kesulitan bernapas.
"Sab! Udah belum?!" panggil Julian dari luar sambil mengetuk pintu kamar mandi beberapa kali dengan tidak sabar.
"Gimana hasilnya?!"
Suara ketukan itu mengejutkan Sabrina. Dengan jantung yang serasa mau melompat keluar, perlahan-lahan ia membuka matanya dan menunduk menatap ketiga bilah alat tes di hadapannya.
Dua garis merah tebal melintang tegas di atas bilah plastik pertama. Sabrina menahan napasnya yang tertahan di tenggorokan.
Dengan jemari yang kian gemetar dan melemas, ia menggeser pandangannya ke alat tes kedua, lalu ke alat tes ketiga.
Keduanya menunjukkan hal yang sama persis, dua garis menyala terang tanpa ragu sedikit pun. Tidak ada garis samar, tidak ada celah untuk berasumsi bahwa alat tersebut rusak atau gagal produksi.
Tiga merek berbeda, tiga mekanisme berbeda, namun memberikan satu jawaban pasti yang sama kejamnya.
Kenyataan itu menghantam Sabrina seperti hantaman godam yang meremukkan dadanya seketika. Kedua lututnya berguncang hebat hingga tak lagi sanggup menopang tubuhnya. Sabrina meluruh, terduduk lemas di atas lantai keramik kamar mandi yang dingin.
Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, berusaha menahan isakan tangis agar suara jeritan keputusasaannya tidak memecah keheningan.
"Sab! Buka pintunya, Sab! Jangan diem aja!" gertak Julian dari luar, kali ini ketukan di pintu kayu itu berubah menjadi gedoran sabar yang kian memburu.
"Gimana hasilnya?! Ngomong, Sab!"
Dengan sisa kekuatan yang terperas habis, Sabrina merangkak pelan mendekati pintu. Tangan kirinya yang dingin menggapai gagang pintu dan memutarnya perlahan.
Pintu kamar mandi terbuka sedikit. Julian langsung mendorongnya sabar dan menerobos masuk.
Pria itu berdiri menjulang di hadapan Sabrina yang masih terduduk layu di lantai. Matanya langsung menyapu seluruh sudut kamar mandi, hingga pandangannya terkunci rapat pada tiga bilah plastik yang tergeletak berjejer di pinggir wastafel marmer.
Julian melangkah cepat mendekat, menyambar ketiga alat tes itu sekaligus dalam genggamannya.
Matanya membelalak lebar, meneliti satu per satu garis merah yang terpampang begitu jelas di sana.
Garis merah itu tetap dua. Tidak peduli seberapa keras Julian memicingkan mata atau mengusap permukaannya, garis itu tidak memudar sedikit pun.
"Nggak... Nggak mungkin..." bisik Julian, suaranya mendadak bergetar hebat.
Wajah pria itu yang tadinya tegang kini mendadak pucat pasi bagai mayat, kehilangan seluruh rona kehidupan.
Jemarinya yang menggenggam alat tes itu melonggar, dan jatuh ke lantai keramik dan menimbulkan suara yang nyaring.
Dunia Julian serasa runtuh dan berputar hebat di sekelilingnya. Seluruh skenario pembelaan diri, teori alat tes rusak, dan rasa percaya diri yang ia bangun sejak di kampus tadi musnah tak berbekas dalam sekejap mata.
Kenyataan pahit itu kini berdiri telanjang di hadapannya, menghancurkan masa depan, reputasi, dan seluruh rencana hidupnya.
"Gimana bisa..." Julian bernapas memburu, menyapu mukanya dengan kedua telapak tangan secara kasar.
Rasa panik tanpa kendali menyergap otaknya, membuatnya merasa tercekik di dalam kamar mandi yang mendadak terasa makin sempit.
Di bawahnya, Sabrina mendongak perlahan. Air matanya terus mengalir membasahi pipinya yang pucat, menatap Julian dengan sorot mata yang hancur dan penuh kepasrahan.
"Hasilnya tetap sama, Kak." Ucap Sabrina di antara isakannya yang memilu.
"Aku... aku beneran hamil."
Kata-kata itu terucap bagai vonis mati yang menggantung berat di udara kamar hotel, mengunci keduanya dalam pusaran ketakutan dan kehancuran yang tak lagi bisa mereka hindari.
Julian mematung di tengah kamar mandi hotel yang terasa makin sempit. Manik matanya menatap kosong ke arah tiga testpack yang tergeletak di lantai.
Udara dingin dari AC hotel menusuk kulitnya, namun keringat dingin tetap membasahi pelipis dan dahi pria itu.
"Bangsat! Bangsat!" maki Julian tiba-tiba.
Ia menendang tempat sampah kecil di sudut kamar mandi hingga terpelanting dan menghantam dinding dengan suara keras.
Sabrina melonjak kaget, merapat ke sudut dinding sambil memeluk kedua lututnya erat-erat. Ketakutannya makin menjadi-jadi melihat emosi Julian yang tak terkendali.
thor semangat yah up nya