Kinara rela meninggalkan status sebagai anak konglomerat demi bisa menikah dengan kekasih hatinya. Ia rela hidup susah, menemani dari nol dan berjuang bersama dengan sang suami hingga sukses. Namun nyatanya semua pengorbanan itu tidak membuat kehidupan rumah tangga Kinara baik-baik saja. Setelah 5 tahun membina rumah tangga bersama, Rashid justru tega mengkhianatinya. Kinara ditalak dan dibuang begitu saja seperti barang yang tak lagi berguna.
Tak terima dikhianati, Kinara bertekad untuk membalas semua perbuatan mantan suami dan juga selingkuhannya. Mampukah Kinara kembali ke keluarga Santoso dan membalaskan dendam sakit hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 — Berkumpul Kembali
Kinara masih berdiri di dekat salah satu meja ketika Karin tiba-tiba berjalan menghampirinya. Sejak memasuki ballroom, perhatian perempuan itu memang beberapa kali tertuju kepada kedua orang tuanya yang sedang menyambut tamu.
Namun, ia tidak pernah menyangka akan mendapatkan kesempatan untuk berbicara dengan mereka malam itu, terlebih karena Galendra sama sekali tidak memberitahunya bahwa Harland dan Karin akan hadir secara langsung.
Awalnya, Kinara mengira kakaknya hanya ingin mengajaknya menghadiri pesta perusahaan sebagai bagian dari keluarga besar Santoso. Ia bahkan sempat bertanya-tanya apakah dirinya akan diperkenalkan secara resmi kepada para tamu atau cukup berdiri di antara anggota keluarga lainnya.
Akan tetapi, ketika melihat Karin berjalan ke arahnya dengan mata berkaca-kaca, semua pertanyaan itu mendadak menghilang.
“Kinara.”
Panggilan itu membuat Kinara spontan menoleh dan sebelum ia sempat mengatakan apa pun, Karin sudah merentangkan kedua tangannya dan memeluknya dengan erat.
Kinara membeku di tempat. Untuk beberapa detik, ia bahkan tidak tahu bagaimana harus bereaksi. Kedua tangannya masih menggantung di sisi tubuh, sementara wajahnya terbenam di bahu sang ibu.
Aroma parfum yang begitu dikenalnya seketika memenuhi indra penciumannya, membawa kembali kenangan tentang rumah, masa kecil, dan malam-malam ketika Karin selalu datang ke kamarnya hanya untuk memastikan putrinya sudah tidur.
“Sayang,” bisik Karin dengan suara bergetar. “Akhirnya kau datang juga.”
Kalimat sederhana itu membuat dada Kinara terasa sesak. Ia perlahan mengangkat kedua tangannya, lalu membalas pelukan sang ibu. Jemarinya mencengkeram lembut punggung Karin, seolah-olah takut perempuan itu akan melepaskannya jika ia tidak berpegangan cukup erat.
“Ibu … maafkan aku,” bisiknya pelan. Suaranya terdengar sarat akan penyesalan.
Karin mengusap punggung putrinya berkali-kali. Ia tidak peduli pada puluhan pasang mata yang kini mulai memperhatikan mereka. Setelah sekian lama hanya bisa menatap foto Kinara dan menahan kerinduan seorang diri, malam ini ia akhirnya dapat memeluk putrinya secara langsung.
“Ibu merindukanmu,” bisiknya lagi. “Sangat, sangat, sangat merindukanmu.”
Mata Kinara terasa seketika memanas. Selama bertahun-tahun, ia membayangkan berbagai kemungkinan tentang pertemuan mereka.
Adakalanya ia membayangkan Karin akan menyambutnya dengan dingin. Ada pula saat-saat ketika ia merasa ibunya mungkin tidak akan mampu menyembunyikan kekecewaan setelah mengetahui semua keputusan yang pernah diambilnya.
Ia bahkan telah mempersiapkan diri untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang menyakitkan. Tapi, ibunya itu justru memeluknya seolah-olah tidak pernah ada jarak yang memisahkan mereka.
“Maaf, Bu,” bisik Kinara lirih, suaranya bergetar menahan tangis. “Maaf karena aku membuat Ibu menunggu selama ini.”
Karin menarik tubuhnya sedikit menjauh, lalu memegang kedua pipi putrinya. Ia memperhatikan wajah Kinara dengan saksama, seakan-akan ingin memastikan bahwa perempuan yang berdiri di hadapannya benar-benar putrinya yang selama ini hanya dapat ia lihat melalui foto.
“Jangan meminta maaf sekarang.” Karin tersenyum di antara air matanya. “Ibu hanya ingin melihatmu. Ibu ingin tahu apakah kau baik-baik saja. Itu saja, sudah lebih dari cukup bagi Ibu.”
Kinara menunduk, berusaha menyembunyikan air mata yang mulai menggenang.Namun Karin justru mengangkat dagunya dengan lembut. “Lihat Ibu.”
Kinara menurut.
“Tidak ada satu malam pun ketika Ibu berhenti memikirkanmu,” lanjut Karin. “Ibu selalu bertanya-tanya apakah kau sudah makan, apakah kau cukup istirahat, apakah kau sedang sakit atau menghadapi masalah yang tidak bisa kau ceritakan kepada siapapun.”
Napas Karin sedikit bergetar. “Kadang-kadang Ibu ingin meneleponmu, tetapi Ibu takut kau belum siap berbicara dengan kami. Ibu tidak ingin membuatmu merasa tertekan. Jadi, Ibu hanya bisa menunggu.”
Kinara tidak sanggup lagi menahan air matanya. “Ibu….” Ia kembali memeluk Karin, kali ini lebih erat. “Aku juga sangat merindukan Ibu.”
Karin memejamkan mata..“Ibu tahu, Sayang. Ibu tahu.”
Tidak jauh dari sana, Harland berdiri memperhatikan keduanya. Wajah pria itu tampak tenang, tetapi sorot matanya menyimpan emosi yang tidak jauh berbeda dari sang istri. Ia mengembuskan napas perlahan sebelum melangkah mendekati mereka.
“Kalau kalian terus berpelukan seperti ini, Ayah harus menunggu sampai pestanya selesai untuk menyapa putri Ayah sendiri.”
Ucapan Harland itu membuat Karin terkekeh kecil di sela tangisnya. Kinara langsung melepaskan pelukan dan menoleh kepada sang ayah. Untuk sesaat, ia kembali merasa gugup.
Berbeda dengan Karin yang sejak awal tidak pernah menyembunyikan kerinduannya, Harland selalu terlihat lebih tenang dan sulit ditebak. Ketika masih tinggal di rumah keluarga Santoso, Kinara sering menganggap ayahnya sebagai sosok yang paling sulit didekati setiap kali ia melakukan kesalahan.
Harland jarang meninggikan suara, tetapi satu tatapan kecewa darinya sudah cukup membuat Kinara merasa bersalah sepanjang hari. Karena itulah, meskipun telah beberapa kali bertemu kembali dengan sang ayah setelah pulang ke rumah, sebagian kecil hatinya masih menyimpan ketakutan yang sama.
“Ayah,” sapanya pelan.
Harland menatapnya beberapa detik, lalu membuka kedua tangannya. “Kemarilah!”
Hanya satu kata, tetapi bagi Kinara, kata itu terasa jauh lebih berarti daripada yang bisa ia jelaskan. Ia lantas melangkah mendekat dan memeluk ayahnya.
Harland merangkul tubuh putrinya dengan erat, kemudian menepuk punggungnya perlahan. “Selamat datang kembali, Nak. Akhirnya kau sadar juga.”
Kinara memejamkan mata sejenak sebelum akhirnya berkata dengan penuh sesal. “Maafkan aku, Yah. Maaf karena tidak mendengarkan perkataan Ayah kala itu.”
Harland menghela napas panjang. Tangannya terhenti sesaat sebelum kembali mengusap punggung putrinya. “Ayah tidak akan mengatakan bahwa kau tidak pernah melakukan kesalahan,” ujarnya pelan. “Kau tahu sendiri bahwa ada banyak hal yang seharusnya bisa kau pertimbangkan dengan lebih baik.”
Kinara menunduk di bahu ayahnya.
“Tetapi,” lanjut Harland, “Kesalahanmu tidak pernah mengubah kenyataan bahwa kau adalah putri Ayah.”
Kinara menggigit bibirnya, merasa menyesal karena sudah meninggalkan keluarganya demi Rashid. Cinta telah benar-benar membuatnya buta. Tapi kali ini tidak lagi, ia tidak akan pernah mengulang kesalahan yang sama.
“Ayah … sudah memaafkanku?” tanya Kinara hati-hati, menatap wajah sang ayah lekat-lekat. Wajah yang dulu ia tentang mati-matian demi bisa bersama Rashid.
“Ayah dan Ibu memang kecewa, Nak. Tetapi kami juga tidak bisa mengabaikan fakta bahwa kau adalah putri kami, kebanggaan kami,” jawabnya sambil mengusap rambut putrinya. “Sebesar apapun kesalahan seorang anak, orangtua akan tetap memiliki ruang untuk memaafkan.”
Air mata Kinara kembali jatuh. Selama bertahun-tahun, ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa keputusan yang diambilnya adalah konsekuensi yang harus ditanggung seorang perempuan dewasa.
Ia meninggalkan kehidupan nyaman dan menanggalkan status putri konglomeratnya demi bisa bersama seseorang yang dicintainya, lalu berusaha membangun kehidupan baru tanpa bergantung kepada keluarganya.
Dan saat pernikahannya hancur, Kinara merasa tidak pantas kembali kepada orang tua yang pernah ia tinggalkan. Namun, malam ini, Harland menghancurkan semua anggapan itu hanya dengan beberapa kalimat sederhana.
“Jadi, bagaimana? Maukah kau kembali pulang?”
tp kl bikin Salah dng istri sah gk pernh minta maaf.
gedek banget semoga karma nya makin menyakit kan buat Rasyid Dan Marisa
cm gitu tok gk seru banget.