Hutang budi membuat Pria setengah baya itu lupa pada gadis belia yang dulu menolongnya saat pingsan dalam melaksanakan tugas. Bertahun-tahun ia mencari, hingga akhirnya ia menemukan gadis itu dan menjodohkannya dengan 'putranya', Letnan Julang Wengkar (Elang), perwira muda yang gagah, berani, dan namanya di kenal kemiliteran.
Namun takdir punya jalan yang tak terduga. Di balik kesediaan gadis itu menerima perjodohan, tersimpan rahasia yang selama ini ia pendam dalam diam.. Hatinya bukan untuk Elang. Ia justru mencintai Letnan Dante, sahabat Elang sendiri.. Juga 'putra' dari mendiang sahabat Pak Riegan semasa muda dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Buaya.
Bang Dante mencoba menatap mata gadis itu, mencari sikap keberanian yang mungkin dimiliki gadis itu.
"Demi Allah, Bian. Saya tidak akan melanggar batas. Saya paham tubuhmu bukan milik saya, dan saya takkan pernah berani melanggar batas yang kau jaga itu. Tapi saat ini, kamu terluka, tak ada orang lain selain saya. Saya seorang prajurit, tak bisa membiarkan lukamu mengancam nyawamu. Ini bukan tentang siapa laki-laki dan siapa perempuan. Ini adalah perkara sesama manusia."
Bian menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya. "Ya sudah. Tapi, apinya sedikit di padamkan..!!" Pinta Bian.
Menuruti keinginan Bian, Bang Dante melepaskan pelukannya, ia berjalan ke api unggun dan sedikit menginjak nyala api unggun tersebut.
Setelah api setengah padam, ia kembali menghampiri Bian. Pelan-pelan penuh perasaan ia merebahkan gadis itu. Sungguh ia merasakan Bian gemetar ketakutan.
"Boleh saya buka?" Bang Dante meminta ijin sekali lagi.
Bian mengangguk pasrah. Ia membiarkan pria itu mendekatinya.
"Saya akan lakukan seperlunya saja. Mata saya tidak akan melihat yang tak perlu. Tangan saya hanya menyentuh luka, tidak akan lebih dari itu. Dan setelah saya selesai membalut lukamu, saya akan berpaling sampai kamu merapikan pakaianmu kembali."
"Sekujur tubuhku rasanya remuk dan patah. Jadi......."
'Pantas, Bian tidak lepas dari pelukanku. Ternyata beralih sedikit saja sudah membuat badannya kesakitan.'
"Saya paham." Bang Dante membuka apa yang seharusnya di buka. Ia menutupi bagian yang tidak pantas ia lihat lalu menyobek sisa kain koyak yang melekat pada tubuh Bian dan mencucinya di sungai dan memerasnya hingga kering sebelum membalut luka gadis itu. "Maaf ya, saya buka."
Hati-hati, telaten, Bang Dante menangani luka terbuka di tubuh Bian. Bian menangis, tidak ada obat pereda nyeri.
Sesekali Bian meringis, menggigit bibir menahan rasa perih saat Bang Dante membersihkan luka itu. Tangannya meremas tumpukan daun yang ia tiduri, tubuhnya gemetar. Tapi ia tak berteriak, karena di setiap sentuhan tangan pria itu, ada kelembutan yang ia rasakan.
Bang Dante bekerja dengan cekatan namun lembut, membalut lukanya dengan kain bersih yang ia ikat erat namun tak pernah menyakitkan. Sepanjang penanganan itu, Bang Dante tak sekalipun mengangkat wajah atau membiarkan matanya sengaja dengan nakal melihat wilayah yang bukan haknya. Ia benar-benar menjaga janjinya.
"Tahan sedikit, ya. Sebentar lagi selesai." Bujuk Bang Dante sambil merapatkan simpul ikatan terakhirnya.
***
Malam ini Bian bisa tidur, tapi tubuhnya demam tinggi. Bang Dante berharap rekan team yang lain bisa segera menemukan mereka.
Sebenarnya bisa saja Bang Dante keluar dari tempat itu dan membawa Bian pergi, tapi keadaan Bian sungguh tidak memungkinkan.
Bian terus meracau, disana Bang Dante terus menemani, mendengarkan hingga tak ada satupun 'cerita' yang terlewat di telinganya.
...
Pagi tiba, seadanya Bang Dante sholat subuh. Usai mengucap salam, terdengar beberapa orang datang. Bang Dante langsung sigap menutupi tubuh Bian dengan seragam luarnya.
"Alhamdulillah, Black. Aman kau rupanya." Kata Bang Jangkar berucap syukur saat bisa bertemu lagi dengan Bang Dante. Ia mengalihkan pandangan pada sosok yang berbaring. "Itu Bian?? Kenapa dia?"
"Terperosok ke jurang, di lilit ular, jatuh ke sungai, tenggelam dan... Di serang buaya muara."
"Astaghfirullah hal adzim." Bang Sabrang ikut kaget mendengarnya.
"Sudahlah, kalian bawa kain atau tidak??" Tanya Bang Dante.
"Ada, kami bawa." Bang Jangkar langsung menyerahkan selimut itu pada sahabatnya.
Mereka semua tau, bisa menebak apa yang terjadi tapi membiarkan Bang Dante sendiri yang menangani Bian, sebab sepanjang malam Bang Dante terus bersama gadis itu dan pastinya paham bagaimana cara menanganinya.
...
Pak Riegan dan Mama Phia menyusul ke rumah sakit usai mendengar insiden tersebut. Bian sudah mendapatkan perawatan terbaik, sedangkan Bang Dante masih mendapat tindakan.
"Pelaan.. Pelaaaan..!!!! Kalian kira tidak sakit." Bentaknya menggelegar.
"Siap, Komandan."
Pak Riegan menggeleng melihat emosi Letnan Dante tak pernah surut.
"Pelaaaaaann..!!!!!!!" Teriaknya lagi.
"Ada apa?? Kenapa ketua team tanam pohon bisa terperosok ke jurang??" Selidik Pak Riegan.
"Panjang ceritanya, Yah." Jawab Bang Dante sambil memercing merasakan sakit. "Bian bagaimana, yah. Apa sudah sadar?"
"Kau bicara saja sama Mama." Kata Pak Riegan kemudian meminta team media keluar dari ruang tindakan usai penanganan luka Bang Dante. "Bian belum sadar. Tulang rusuknya memar, kakinya masih bengkak bekas dislokasi, di serang buaya dan setibanya di sini, Bian...... Kamu nggak macam-macam kan, Dante??" Sambar Pak Riegan.
Bang Dante tersenyum tipis kemudian kembali meringis. "Saya nggak selera dengan perempuan yang hanya cerewet di mulut, apalagi perempuan yang nggak punya tenaga untuk balas melawan."
"Daanteee...." Mama Phia sampai panik mendengarnya. Beliau terduduk lemas kehilangan tenaga.
"Kau bisa jawab yang baik atau tidak?? Jangan nyampah kalau orang tua tanya. Ayah serius, kau apakan saja si Bian??" Tegur Pak Riegan.
"Mau saya apakan sih, yah..!!! Kalau masalah bajunya hilang, bukan salah saya. Saya tadi sudah bilang.. Bian tersangkut di tebing lalu terperosok jatuh ke sungai. Kami di serang buaya. Mungkin saat itu celakanya." Jawab Bang Dante.
"Buaya beneran atau kau buayanya." Omel Pak Riegan.
Mendengar itu, Bang Dante semakin jengkel. "Kalau aku??? Ayah mau bagaimana??"
"Kau harus tanggung jawab, kau merusak anak gadis orang."
"Masalah Sea, aku menikah terburu-buru sampai salah orang. Ayah tau kan, aku nggak mau kenal perempuan, nggak mau nikah." Jawab Bang Dante tegas.
"Tapi, Bian mengigau.. Dia bilang kau yang............. Aduuuhh.. Bagaimana ini yah??" Mama Phia sungguh panik.
"Aku nggak buat apa-apa." Bang Dante masih membela diri karena merasakan dirinya tidak bersalah.
"Ini apa??" Pak Riegan menunjukan rekaman video dari setiap ucapan Bian yang sedang mengigau.
"Ayah dan mama percaya aku atau Bian????" Tantang Bang Dante.
"Bian."
"Bian." Jawab Mama Phia seirama dengan Pak Riegan.
.
.
.
.
lanjut mba Nara
Tokoh ceritanya mba Nara...pria² yg bertanggungjawab👍
lanjut mba nara👍
mba Nara, ngasih bawangnya banyak bgt🥹🥹
huaaa...ga rela klo pada pisah😭
lanjut mba Nara🥰
itu lg si vivian...melu² ngobong blarak....adeeehhh koq yo ora kapok... njaluk dijak gelud ae iki
lanjut mba nara