Mia menikah muda di usia dua puluh satu tahun dengan Edo, pria yang tiga tahun lebih muda darinya. Awalnya, perbedaan usia bukanlah masalah. Satu tahun pertama pernikahan mereka dipenuhi cinta, tawa, dan mimpi sederhana sebagai pasangan muda.
Namun, setelah tiga tahun, semuanya berubah.
Edo yang pemalas mulai menggantungkan seluruh kebutuhan hidup kepada Mia. Sementara Edo menghabiskan uangnya untuk bersenang-senang.
Yang lebih menyakitkan, Edo merasa dirinya lebih berharga hanya karena lebih muda. Ia tak segan menghina Mia, menyebutnya tua, membandingkannya dengan perempuan lain, bahkan berkali-kali melakukan kekerasan. Keluarga Edo juga selalu membela Edo, menyebut Mia beruntung bersuamikan lelaki yang jauh lebih muda.
Mia terpuruk.
Hingga akhirnya ia sadar dan tak lagi menjadi wanita lemah.
"Aku pernah mencintaimu sampai lupa mencintai diriku sendiri. Tapi sekarang, aku memilih mencintai diriku sendiri!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Edo tidak langsung menjawab. Matanya terpaku pada layar ponsel. Sebuah pesan masuk dari pihak leasing motor. Pemberitahuan tentang cicilan motornya yang akan segera jatuh tempo pada tanggal 3 November 2014.
Edo mengembuskan napas kasar. "Cicilan motor gue," jawabnya dengan wajah kusut.
Ohang mendekat dan ikut melihat layar ponsel Edo. Ekspresinya yang semula santai berubah.
"Oh..." gumamnya pelan. "Jatuh temponya tanggal tiga?"
"Iya." Edo memasukkan ponselnya ke saku celana. Rahangnya mengeras. "Masalahnya duit gue cuma ada dua ratus ribu."
Ohang terdiam. Ia tahu betul bagaimana selama ini cicilan motor tersebut bisa tetap berjalan. Mia lah yang membayar cicilannya. Ohang menghela napas panjang. "Gue ikut prihatin, Do." Edo menatap sahabatnya itu. "Selama ini kan Mia yang bayar cicilan motor lo," lanjut Ohang. "Sekarang kalian udah cerai. Mau nggak mau, lo harus mikirin cicilan itu sendiri."
Edo terdiam cukup lama. "Iya, Hang. Mana gede lagi. Delapan ratus lima puluh ribu," tuturnya memijat pelipis.
"Mana gajian masih lama ya, Do." Ohang menyahuti lagi.
"Iya. Kepala gue rasanya mau pecah, Hang." Edo mengeluh. "Gue harus cari uang ke mana? Gue nggak mau motor ini disita. Nggak! Nggak!" Kepalanya menggeleng cepat. Motor ninja ini adalah kebanggaan Edo. Salah satu alat supaya dia terlihat kaya dan keren, sekaligus daya tarik untuk menggaet perempuan dengan mudah.
Ohang menepuk bahu Edo pelan. "Mending sekarang lo pulang dulu. Mana tahu keluarga lo punya uang. Lo bisa meminjam dulu ke mereka. Bukannya kakak pertama lo punya bengkel gede. Pinjam aja sama dia," usulnya.
Edo mengangguk pelan. "Iya, Hang. Nanti deh gue coba ngobrol sama A Damin. Mudah-mudahan aja dia mau meminjamkan uang ke gue."
Giliran Ohang yang mengangguk.
"Gue berangkat dulu ya." Edo mengenakan helm, lalu menaiki motornya.
"Hati-hati, Do!" seru Ohang.
"Iya." Edo menghidupkan mesin, menarik gas dan berlalu dari halaman rumah Ohang.
"Kasihan si Edo." Ohang geleng-geleng kepala.
_________
Setelah selesai mengambil uang di ATM bersama dan berbelanja, Mia dan Udan akhirnya kembali ke rumah.
Begitu sampai di depan rumah, Mia segera membayar ongkos ojek kepada Udan. "Ini, A," ujar Mia sambil menyerahkan uang.
Udan menerimanya. "Makasih, Mia."
"Iya, A. Makasih juga sudah mau mengantarkan aku."
"Siap. Kalau butuh ojek lagi, tinggal telepon."
Mia mengangguk. "Iya."
Setelah Udan pergi, Mia membawa beberapa kantong belanjaan masuk ke dalam rumah.
Belum sempat meletakkan barang-barangnya, terdengar teriakan dari arah ruang tengah. "Teteh!" Seorang anak laki-laki berseragam olahraga berlari menghampirinya.
"Malik!" Senyum Mia mengembang.
Malik langsung memeluk kakaknya erat.
"Asyik Teteh pulang!"
Mia tertawa kecil dan membalas pelukan adiknya. "Iya, Ujang." Malik yang masih berkeringat tidak membuat Mia melepaskan pelukan. Ia justru mengusap kepala adiknya. "Menang nggak main sepak bolanya?"
"Menang, Teh!" seru Malik heboh. "Aku tadi mencetak gol tahu!"
"Wah, hebat!" Mia tersenyum. "Kamu udah setinggi Teteh sekarang, Jang." Ia mengusap kepala Malik. "Nih, Teteh ada sesuatu buat kamu." Mia mengambil satu kantong plastik berisi berbagai jajanan yang tadi dibelinya.
Mata Malik langsung berbinar. "Apaan, Teh?"
"Jajanan."
"Serius?"
"Iya. Nih." Mia menyodorkan kantong plastik itu.
Malik langsung mengambil kantong tersebut dengan wajah sumringah. "Wah! Ada keripik kentang dan singkong! Ada roti, biskuit, permen, ada es krim juga!" serunya heboh sambil mengeluarkan satu per satu jajanan dari dalam kantong. "Makasih, ya, Teh."
Mia tertawa melihat tingkah adiknya. "Sama-sama, Jang. Sudah, jangan dimakan semuanya sekarang. Nanti perutmu sakit."
"Iya, Teh!" jawab Malik cepat, meskipun matanya masih sibuk memperhatikan isi kantong.
Mia kemudian membawa kantong belanjaan lainnya ke dapur. "Bu," panggilnya.
Titin yang sedang membereskan beberapa peralatan dapur menoleh. "Iya, Neng? Kamu sudah pulang?"
"Iya, Bu." Mia menyerahkan dua kantong plastik berisi minyak goreng, gula, telur, pokoknya kebutuhan dapur serta kebutuhan mandi dan mencuci. "Ini buat Ibu."
Titin menerima kantong tersebut dengan kening berkerut. "Neng, kenapa belanjanya banyak sekali?"
Mia tersenyum kecil. "Nggak apa-apa, Bu. Biar Ibu nggak perlu belanja sampai bulan depan."
Titin melihat isi kantong itu satu per satu. Setelah itu, tatapannya beralih kepada Mia. "Padahal uangnya kamu pakai saja untuk memenuhi kebutuhanmu sendiri."
Mia tersenyum. "Nggak apa-apa, Bu. Kan selama ini aku jarang banget membelikan ini dan itu untuk Ibu sama Bapak." Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan. "Uangku selama ini habis dipakai buat membiayai kebutuhan Edo." Titin langsung menatap putrinya. Mia tersenyum tipis, tetapi ada sedikit kepedihan yang terselip di baliknya. "Jadi sekarang aku mau menikmati hasil kerja kerasku. Salah satunya ya beliin kebutuhan Ibu sama Bapak."
Titin menghela napas pelan. Ia kemudian meraih tangan Mia dan mengusapnya lembut. "Makasih ya, Nak. Semoga rezekimu makin melimpah."
"Aamiin." Mia memeluk ibunya. "Oh iya, Bu... Bapak belum pulang?" tanya Mia setelah melepas pelukan.
"Barusan Bapak nelepon ke Ibu, dari Citiisnya sudah pulang. Tapi dia masih mengobrol di rumah Wak Haji Jaenudin," jawab Titin.
Bibir Mia membulat. Ia terdiam sejenak, sebelum tersenyum kecil dan merogoh tasnya. Mia mengambil dompet dan menarik beberapa lembar uang seratus ribuan, "Ini untuk Ibu," katanya.
Titin mengerutkan kening. "Buat Ibu?" ulangnya.
"Iya. Buat jajan atau ah, terserah Ibu sajalah uangnya mau dipakai apa."
Titin menggeleng pelan. "Nggak usah, Neng. Kamu simpan saja uangnya. Ibu masih punya uang kok dari Bapakmu."
"Ihhh... aku masih ada kok. Ini sengaja aku pisahkan untuk Ibu dan Bapak." Mia menaruh uang itu di telapak tangan sang ibu. "Pokoknya Ibu nggak boleh nolak. Dan ini..." Mia kembali menarik beberapa lembar uang dari dompetnya. "Aku nabung di Ibu."
Mata Titin berkaca-kaca. "Alhamdulillah. Ya sudah, Ibu ambil uang ini, tapi uang tabungan kamu dan uang yang kamu kasih ke Ibu... akan Ibu belikan domba. Biar nanti beranak pinak, ya."
Mia mengangguk antusias. "Iya, Bu. Boleh. Belikan saja. Tapi nanti siapa yang mengurusnya?"
"Ya Bapak kamu lah. Dia katanya mau sekali tuh mengurus domba. Tapi kan kemarin-kemarin nggak ada uang untuk membelinya."
Tertawa kecil Mia. "Ya sudah, kalau Bapak mau dan sanggup... silakan pakai saja uang itu untuk membeli domba."
"Iya, Nak." Titin ikut tertawa. "Sudah sana, lebih baik kamu istirahat. Nanti Ibu panggil kalau Bapakmu sudah pulang dari rumah Wak Haji."
"Iya, Bu." Mia berbalik meninggalkan dapur. Di ruang tengah, Mia melihat Malik sedang memakan jajanan yang tadi ia berikan. Menghangat hati Mia melihat semua itu. Teringat selama tiga tahun ini, uangnya selalu habis untuk Edo, Edo dan Edo.
Saat akan memasuki kamar, bapaknya pulang. Mia segera menghampiri dan bertanya, "Pak, bagaimana?"
Ayep menoleh ke arah ruang tengah. Malik masih duduk sambil menikmati jajanan pemberian kakaknya. "Ke dapur saja, Nak," ujar Ayep pelan. "Kita bicara di sana."
Mia mengangguk. Ia mengikuti ayahnya kembali ke dapur.
Titin yang masih berada di sana langsung menatap suaminya dengan penuh perhatian. "Akhirnya Bapak pulang juga. Gimana pembicaraannya, Pak?" tanyanya.
Ayep menjatuhkan tubuh di tikar. Wajahnya tampak lelah. "Alhamdulillah, ada hasilnya."
Mia langsung duduk di samping ibunya.
"Jadi gimana, Pak?" tanyanya lagi.
Ayep mengembuskan napas panjang. "Tadi awalnya cukup sulit, Nak."
Mia terdiam, menunggu kelanjutan cerita ayahnya.
"Bapak sudah menjelaskan semuanya kepada orang tua Edo. Tentang perlakuan Edo kepada kamu, tentang perempuan lain itu, tentang kamu yang selama ini berusaha mempertahankan rumah tangga, sampai akhirnya Edo sendiri yang menjatuhkan talak."
Mia menundukkan wajah.
"Tapi..." Ayep berhenti sejenak. "Nurhan dan Dedah ternyata masih tidak percaya."
Mia mengangkat wajah. "Tidak percaya?" ulangnya.
Ayep mengangguk. "Mereka malah membela Edo. Mereka bilang Edo tidak mungkin melakukan semua itu. Bahkan mereka seperti menganggap kamu yang terlalu membesar-besarkan masalah."
Titin langsung menghela napas kecewa.
"Astagfirullah..."
Mia hanya diam. Ia sebenarnya sudah tidak terlalu terkejut mendengar hal tersebut.
Ayep melanjutkan, "Bapak sudah mencoba menjelaskan lagi. Tapi mereka tetap bersikeras membela anaknya. Bahkan Wak Haji juga ikut berbicara."
"Terus bagaimana, Pak?" tanya Mia.
"Nah, untungnya ada Erma."
"Teh Erma?" Mia memastikan.
"Iya."
Mia sedikit mengangkat alis.
"Dia justru yang paling keras menegur Edo dan orang tuanya. Dia bilang sebagai kakak, dia tidak mau menutup mata terhadap kesalahan adiknya sendiri."
Titin mengangguk pelan. "Baguslah kalau begitu."
"Erma juga meminta Edo pulang untuk menyelesaikan masalah ini. Dia menyuruh Edo memberikan bukti surat talak tertulis kepada kamu dan meminta maaf atas semua yang sudah terjadi."
Mia terdiam. "Dan bagaimana, Pak?" tanyanya lirih.
"Awalnya Edo masih membantah. Tapi setelah Erma mengancam akan melaporkannya ke polisi kalau dia tidak pulang, akhirnya Edo menyerah."
Mata Mia membesar sedikit. "Jadi Edo mau pulang?"
"Iya."
"Dan dia akan memberikan surat talak?"
Ayep mengangguk. "Insya Allah. Erma bilang Edo berjanji akan pulang hari ini juga."
Mia mengembuskan napas panjang. Mendengar kabar itu membuat dadanya terasa sedikit lebih lega. Selama ini, meskipun Edo sudah menjatuhkan talak, masih ada satu hal yang mengganjal pikirannya. Ia ingin semuanya benar-benar diselesaikan dengan jelas agar tidak ada lagi urusan yang mengikatnya dengan lelaki itu. "Alhamdulillah," ucap Mia pelan.
Titin menggenggam tangan putrinya. "Berarti sebentar lagi maslaahmu benar-benar selesai, Nak."
Mia mengangguk. "Iya, Bu."
Ayep kemudian menambahkan, "Tadi Erma juga meminta maaf kepada Bapak atas sikap Edo dan keluarganya."
Mia menatap ayahnya.
"Dia bilang dia malu karena tidak bisa mendidik adiknya dengan baik. Bahkan dia sampai menangis."
Mia terdiam sejenak. "Teh Erma memang baik, Pak."
"Iya." Ayep mengangguk. "Bapak bisa melihat kalau dia memang sungguh-sungguh ingin menyelesaikan masalah ini."
Titin menghela napas lega. "Syukurlah masih ada yang mau berpikir jernih."
Ayep mengangguk. "Yang penting sekarang kita tunggu Edo pulang. Kalau dia benar-benar datang dan memberikan surat talak itu, urusan kalian bisa segera dibereskan."
Mia mengangguk mantap. "Iya, Pak." Senyum tipis terukir di bibirnya. "Setelah masalah ini selesai... aku benar-benar bisa memulai hidup baru."
Ayep menatap putrinya dengan penuh kasih. "Itulah yang Bapak inginkan, Nak. Bapak cuma ingin kamu bisa hidup tenang setelah semua yang kamu lewati."
Mia menundukkan kepala. "Terima kasih, Pak."
Titin meraih tangan Mia dan menggenggamnya. "Sudah, jangan pikirkan yang sudah lewat. Sekarang kamu sudah pulang. Ada Bapak, Ibu, dan Malik."
Mia tersenyum. "Iya, Bu."
Dari ruang tengah, tiba-tiba terdengar suara Malik. "Teteh! Es krimnya boleh aku habiskan nggak?"
Mia dan kedua orang tuanya langsung saling pandang.
Titin terkekeh. "Kayaknya jajanannya langsung habis deh."
Mia tertawa kecil. "Jangan! Nanti kamu sakit perut!"
"Tapi nanti keburu cair, Teh!"
"Ya sudah, makan saja." Mia membalas.
"Yeay!" Suara riang Malik terdengar dari ruang tengah.
Mia ikut tersenyum. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa benar-benar berada di tempat yang seharusnya.
Di rumah.
Bersama keluarganya.
Dan sebentar lagi, lembaran hidupnya bersama Edo benar-benar akan ditutup.
cemen nya amit amit.
nag kya itu ja g da nyali tp menganiaya bisa ae tu..
dasar banci cocok nya pakai rok aja
untung udah cere ...klo blm bisa hbis rontok tulang gigi dan rambut mu mia😅😅😅