Berawal dari sebuah novel fiksi di situs novel online...seorang CEO muda sangat penasaran dengan si penulis cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon merry yend, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jadi aku sebentar saja 3
Tidak pernah terbayangkan oleh wanita cantik ini jika ia harus mengalami hal yang paling menakutkan bagi setiap wanita yaitu berpalingnya hati sang suami. Langkah kaki tak menentu membawa Yani ke sebuah taman bermain, disana ia duduk di tepi area permainan pasir pantai, berulang kali ia menghapus jejak kesedihan yang mengalir tanpa permisi.
"Hey...you remember me?" Tegur Radith dari arah samping kanan Yani.
"Hai...ya..." sahut Yani dengan senyuman seakan dipaksakan.
Radith langsung mendaratkan bokongnya duduk bersebelahan dengan Yani.
"Sedang apa kau disini?" Tanya Radith.
"Merenung..." jawab Yani lirih.
"Apa yang kau renungkan?" Tanya Radith menoleh tepat menatap dua bola mata bulat indah milik Yani.
"Merenungi nasib ku...takdir ku begitu menyedihkan, sudahlah gagal membina rumah tangga yang pertama kini aku harus kembali merasakan pahitnya kegagalan yang sama..." jawab Yani dengan mata berkaca-kaca ia menatap mata abu-abu tua milik Radith.
"Apa kamu ada masalah dengan suamimu?" Tanya Radith lagi.
"Iya...tapi aku tidak bisa mengatakan apa permasalahannya karena bagaimanapun aku harus menjadi pakaian untuk suamiku..." jawab Yani menurunkan pandangan ke arah area permainan pasir.
"Jika memang begitu aku tidak bisa memaksa kamu untuk menceritakannya" kata Radith tersenyum tipis.
Tiba-tiba saja terlintas beberapa kenangan manis antara Yani dan sang suami Zero, ia memejamkan mata sejenak kemudian berdiri tegak.
"Jika kau jadi aku sebentar saja? Apa kau akan menyerah untuk seorang pelakor?" Tanya Yani.
"Tidak akan!!! Aku pasti akan mempertahankan apa yang menjadi hak ku yaitu suamiku!" Jawab Radith.
"Apa kau bisa mengantar ku ke suatu tempat?" Tanya Yani lagi.
"Hm..." Radith menjawab dengan anggukan kepala.
"Okay! Ayo!!!" Ajak Yani kemudian.
Pukul 08:00 malam waktu Singapura...
Klotak Klotak Klotak...
Suara langkah kaki Yani mengalun indah menapaki lobby Hotel bintang lima, ia menggibaskan rambutnya yang ikal dan panjang terurai indah dengan warna hitam pekat dengan sebagian sisi dibiarkan warna uban mewarnainya.
"Sayang..." panggil Yani begitu berada dihadapan Zero.
Zero menoleh terkejut bukan kepalang, pasalnya kini ia tengah menggendong Larissa yang entah bagaimana ceritanya bisa pingsan tak sadarkan diri.
Bruggghhhh...
Tubuh Larissa begitu saja Zero hempaskan ke dinginnya lantai loby Hotel.
"Sayang...aku bisa jelaskan, sungguh..." Zero gelagapan hendak meraih tangan Yani.
Diluar dugaan Zero, Yani justru melangkahi tubuh Larissa lalu merangkul mesra lengannya.
"Sayang..." desis Zero.
"Your mine..." ucap Yani kemudian kembali melangkahi Larissa dengan membawa Zero bersamanya.
"Wah...cantik sekali wanita itu"
"Iya...sangat cantik"
"Beruntung sekali pria yang bersamanya kini"
Begitulah bisik-bisik tetangga para kerumunan orang yang mengelilingi adegan sinetron Yani dan Zero.
Di kamar Hotel...
Brughhh...
Yani mendorong Zero sampai terduduk dengan kaki sebelah kiri terlipat ke tepi sofa panjang, kemudian ia menghimpit tubuh suaminya itu dengan gerakan sedikit erotis.
"Sungguh masih ingin bersama mantan kekasihmu? Sementara aku sudah sesempurna ini???" Bisik Yani.
Glegggg...
Zero menelan slavinanya kasar.
'"Sungguhkah ini istriku???"
"Sayang...aku..."
"Ssttt....aku kasih kamu kesempatan, coba jelaskan? Kenapa bisa kamu berada di kamarnya pelakor itu???" Yani menaruh jari telunjuknya sekilas di bibir tipis suaminya kemudian duduk anggun di sisi kanan sang suami.
"Jadi begini..."
Flasback on...
Setelah mengantarkan Yani ke kamar, Zero mendapatkan panggilan dari Clarissa yang mengancam akan menemui Zero di kamarnya, ia tidak ingin sampai Yani bertemu dengan Larissa oleh karena itu ia sendiri menemui Larissa secara langsung di kamar Hotel yang sama tempat ia menginap dengan sang istri Yani.
"Apa mau lo sih Ris???" Tanya Zero begitu Larissa membukakan pintu untuknya.
"Masuk sayang...aku kangen..." ucap Larissa tanpa tahu malu.
"Jangan coba sentuh gue!" Zero menepis tangan Larissa yang hendak memegang bagian sensitif miliknya.
"Kamu kok gini sih Zee...apa bagusnya wanita kampung itu???" Sentak Larissa marah.
"Dia istri gue! Siapa lo berani menghina dia hahh!!!" Bentak Zero tak kalah geram.
"Sayang...minum dulu ya..." Larissa merendahkan nada suaranya yang sempat meninggi.
Zero meminum wine dari tangan Larissa tanpa rasa curiga.
Flasback off
"Begitu aku sadar, hari sudah pagi, aku langsung keluar dari kamar Larissa setelah memastikan bahwa memang tidak ada yang terjadi, aku yakin tidak ada yang terjadi sayang...karena pakaian ku masih lengkap" kata Zero mengakhiri ceritanya.
"Huffff...anggaplah saya percaya sama bapak! Kalau begitu saya mau pamit kembali ke Hotel" Yani membuang nafas kasar lalu beranjak dari duduknya.
"Kamu mau kemana lagi sayang...tidak bisakah kamu disini?" Zero memeluk Yani dari arah belakang.
"Hukuman buat bapak! Biar nggak bodoh dalam menghadapi pelakor!" Yani menyingkirkan kedua tangan Zero dari perutnya yang masih saja rata meski sudah lima kali melahirkan.
Zero berlutut di kaki Yani dengan tangan menangkup memohon kemudian berkata."Apa saja sayang...akan aku lakukan apa saja, asalkan kamu tidak meninggalkan aku lagi...aku mohon...please..."
"Hufff...hmm...kemasi barang-barang bapak! Saya tunggu 15 menit, kita pindah Hotel" Yani memijat keningnya sekejap seraya memberi perintah.
Zero sigap membereskan barang-barangnya lalu menarik tangan Yani keluar dari kamar Hotel.
Yani menyunggingkan senyum di bibirnya.
"Jadi aku sebentar saja...itu tidak mungkin kan pak??? Karena jika bapak jadi saya pasti bapak akan segera mengajukan gugatan cerai" Kata Yani dalam hati.
Malam hari di Singapura sangat indah karena gemerlapnya cahaya bintang dan terangnya sinar rembulan. Yani berdiri di balkon sembari memandang langit malam. Zero yang baru saja selesai mandi langsung memeluk sang istri dari arah belakang.
"Kamu seksi sekali sayang pakai kemeja ini..." puji Zero mencium tengkuk belakang Yani menghirup aroma parfum Yani yang lembut nan menenangkan.
Yani membalikkan badan kemudian menaruh kedua tangannya pada pundak Zero yang tegap.
"Tinggi banget suami aku...hehe" kekeh Yani.
Zero tersenyum lalu menggendong Yani seakan ia adalah Bridalnya.
"Susah payah ku tahan keinginan itu...kamu membuat ia terbangun sayang..." bisik Zero sensual.
"Apa yang bangun sayang?" Bisik Yani mengigit kecil telinga kanan Zero sampai memerah wajah Zero dibuatnya.
"Kamu membangunkan singa yang tidur sayang...bersiap merasakan cakarnya...muachhh..." Zero menurunkan Yani mengecup keningnya dengan lembut.
To be continue ❤️❤️❤️