Pada tahun 2101 bumi mengalami kehancuran akibat kemunculan energi misterius, 80 tahun lalu sebelum kemunculan energi misterius terdapat seorang pemuda yang meninggal akibat serangan teroris dan akhirnya jiwanya bertransmigrasi ke masa depan yaitu pada tahun 2101, tepat saat dunia akan hancur.
Jiwanya berpindah ke tubuh seorang manusia buatan yang sedang diteliti oleh sekelompok ilmuan gila.
Bagaimanakah nasib dunia serta pemuda itu di masa depan?
Apakah dunia akan berakhir hancur, atau...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rasiele Halliwell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30. Desa Manusia (2)
Setelah permintaan maaf kepala desa, aku pun dibawa ke sebuah gubuk di dalam desa.
Saat berjalan masuk ke dalam desa, tatapan mata terasa sangat intens kepadaku.
Orang-orang di desa menatapku dengan rasa takut dan tatapan yang cukup menghina kepadaku.
Mungkin itu karena tanduk dan rambutku yang berwarna putih.
Ternyata orang-orang yang berkumpul di dekat pintu masuk desa adalah orang-orang yang akan mencari Louis di dalam hutan.
Gubuk tempatku berada sekarang terlihat lebih bagus daripada gubuk-gubuk kayu di sepanjang jalan desa.
Meski aku bilang gubuk karena memang terlihat seperti gubuk, gubuk-gubuk yang aku sebutkan ternyata adalah sebuah rumah bagi penduduk di desa ini.
Maaf jika telah menyebutnya gubuk, aku tidak akan mengetahuinya bahwa ini adalah rumah jika kepala desa tidak mengatakan bahwa ini adalah rumahnya.
Bahkan gua tempatku tinggal rasanya lebih sedikit lebih layak daripada gubu- maksudku rumah di sini.
Ya, ini wajar saja mengingat tingkat peradaban pada manusia saat ini.
Bahkan pakaian yang digunakan oleh orang-orang desa ini hanya berupa bulu dan kulit binatang liar, serta beberapa anyaman rerumputan dan dedaunan.
Saat ini aku sedang duduk di sebuah ruangan di gubu- maksudku rumah kepala desa.
Kami duduk di lantai yang dialasi oleh anyaman dedaunan.
Di depan kami sudah terdapat segelas minuman dengan ekstrak buah ceri.
"Sekali lagi, bukan sebagai seorang kepala desa, tetapi sebagai seorang ayah, saya sangat berterima kasih atas bantuan Anda karena telah menyelamatkan anak bodoh ini."
Memegang kepala Louis dan menundukkan kepalanya kepadaku, kini kepala desa berterima kasih lagi kepadaku.
"Tidak masalah, aku hanya kebetulan lewat pada saat itu."
"Perkenalkan namaku, Lamberk, seorang kepala desa dari desa Venator ini."
"Aku Fanero, tuan dapat memanggilku Nero saja."
Sebagai rasa hormatku, aku memanggilnya dengan sebutan Tuan.
Kepala desa memperlakukanku dengan cukup baik.
Kami mengobrol santai, dan Louis menceritakan bagaimana ia dapat berakhir tersesat di hutan.
Singkatnya, Louis bermain bersama teman-temannya di dekat gerbang desa, dan saat para penjaga sedang beristirahat makan siang, Louis dan teman-temannya memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur.
Tetapi sayangnya, Louis bermain terlalu jauh dan akhirnya tersesat, dan teman-temannya yang panik karena kehilangan Louis pun mulai berlari ke arah desa dan berteriak meminta bantuan.
Ya, cukup wajar untuk anak-anak di usia mereka untuk merasa penasaran akan suatu hal.
Louis juga menceritakan bagaimana aku mengalahkan Big Wild Boar dengan sangat mudah dalam satu tembakan.
Mendengar itu, Lamberk menunjukkan ekspresi wajah tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
Dari apa yang diceritakannya, untuk mengalahkan seekor Big Wild Boar, setidaknya membutuhkan minimal 5 orang dewasa bersenjata lengkap.
Desa ini, merupakan sebuah desa pemburu, yang mekhususkan diri mereka dalam perburuan.
Mereka menangkap hasil buruan mereka untuk mereka makan, intinya mereka hanya di lahirkan untuk berburu.
Hidup dan mati mereka ada di perburuan mereka.
Jika tahu begitu, harusnya aku membawa mayat Big Wild Boar yang telah aku bunuh.
"Ngomong-ngomong Nona, apakah kau ingin pergi ke suatu tempat? Mengingat jarangnya orang yang melalui tempat ini dikarenakan hutan yang berbahaya."
"..."
'Bukankah akan lebih aneh jika ada desa di tempat yang seperti ini?!'
Aku ingin berteriak seperti itu, tetapi aku memendam teriakanku dalam pikiranku saja.
"Aku tidak mempunyai tujuan khusus, aku hanya ingin menjelajahi hutan ini."
'Lebih tepatnya aku ingin menjelajahi dunia ini.'
Aku hanya bosan hidup di daratan es itu, dan ingin pergi keluar melihat apa yang terjadi kepada dunia ini setelah apa yang telah terjadi selama ini.
Mengingat aku diberikan kesempatan kedua untuk hidup dan mengingat sekarang aku cukup kuat, akan sangat di sayangkan jika aku tidak memanfaatkannya bukan?
Tentu saja aku masih ingin hidup santai dan bermalas-malasan di suatu tempat setelah aku sudah bosan menjelajahi dunia ini.
Mungkin nanti aku akan kembali ke gua di benua es tersebut, tempat itu cukup sepi dan nyaman untuk bersantai serta bermalas-malasan.
Siri pernah mengatakannya kepadaku, bahwa aku telah melewati zaman es dan bahkan tertidur selama 500.000 tahun.
Aku bahkan tidak menua sama sekali setelah banyak waktu berlalu, apakah itu karena aku tertidur akibat memakan buah pohon dunia atau apakah ras Celestial yang masih menjadi misteri ini merupakan waktu yang abadi?
Aku benar-benar kekurangan banyak informasi, mungkin saja aku akan mengetahuinya suatu saat seiring berjalannya waktu, untuk saat ini aku hanya perlu menikmati hal-hal yang telah aku dapatkan.
"Mengingat hari sudah gelap, alangkah baiknya Nona Fanero tidak menjelajahi hutan ini saat malam hari dikarenakan itu cukup berbahaya. Jika mau, Nona dapat beristirahat di rumah ini, ada ruangan yang tidak terpakai yang bisa ditempati oleh Nona untuk bermalam di sini."
Lamberk, menawariku tempat untuk bermalam di sini.
"Hmm, mungkin ada benarnya juga, cukup berbahaya menjelajah hutan sendirian di malam hari."
Hari ini aku juga sudah cukup lelah, jadi aku akan menerima tawaran Lamberk untuk menginap.
"Baiklah, dengan senang hati aku menerimanya, maaf jika merepotkanmu Tuan."
"Tidak-tidak, ini bukan apa-apa untuk berbuat seperti ini kepada penyelamat putraku."
Setelah itu dia menunjukkan kamar yang akan aku tempati kepadaku.
Kamar yang diberikan kepadaku ternyata cukup terawat, aku mengira aku akan diberikan ruangan yang berupa gudang. Maaf jika saya berburuk sangka.
"Ini kamar peninggalan istri saya, mohon di maafkan jika sedikit kotor."
"Tidak, ini telah lebih dari cukup, terima kasih."
Pantas saja ini cukup terawat ternyata ini merupakan kamar peninggalan istrinya.
Sejak datang ke sini aku bertanya-tanya ke manakah istrinya, ternyata istrinya sudah tiada, aku memutuskan untuk tidak menanyakan detailnya, itu terasa tidak sopan.
"Kami akan menyiapkan makan malam sekarang, jika berkenan Nona dapat bergabung dengan kami nanti, aku akan menyuruh Louis memanggil Nona ketika makanan tersebut telah siap."
'Menyiapkan makan malam? jika begitu maka...'
"Bolehkah aku ikut membantu untuk menyiapkannya?"
Walaupun terlihat seperti ini, aku dahulu cukup pandai dalam memasak, meskipun aku memasaknya karena terpaksa untuk makan, itu jauh lebih murah.
"Eh? A-anda tidak perlu repot-repot Nona, Anda adalah tamu di rumah kami."
"Jangan khawatir, aku juga tidak ingin terlalu merepotkan Tuan, anggap saja ini balasan dariku juga."
"T-tetapi..."
Tanpa menghiraukan perkataannya aku pun berjalan ke arah belakang rumah, dan di sana terdapat sebuah ruangan yang mungkin di sebut dapur? Aku rasa begitu, melihat banyaknya alat-alat memasak dan keranjang di sini.
'Mengapa aku tahu letak dapurnya?'
Ya, bukankah biasanya dapur pada umumnya berada di bagian belakang rumah? Aku rasa saat ini juga sama.
Di sana terlihat Louis yang sedang menyiapkan makanan terkejut melihatku.
"E-eh? K-kak Nero? m-mengapa kau ada di sini?"
"Hmm? apakah aku tidak boleh kesini? Padahal aku berniat membantumu menyiapkan makan malam."
Louis menatap ke arah Lamberk yang berada belakangku.
"B-baiklah jika begitu, s-silahkan jika Kak Nero ingin membantuku."
"Hehe... dengan senang hati."