Warning!!!!
GAK USAH DIBACA!! NOVEL HIATUS!!
Lima belas tahun berpisah, kini Alvaro dan Bunga dipertemukan lagi dalam satu universitas yang sama. Meskipun telah berpisah lama, tetapi tak membuat rasa benci yang dimiliki oleh Alvaro luntur. Pria itu masih menyimpan rasa benci yang tinggi. Namun, suatu saat Alvaro dibuat menyesal dengan sikapnya yang selama ini acuh kepada Bunga. Dan penyesalan selalu datang dikemudian hari.
Bagaimana kisah mereka berdua? Ikuti ceritanya ya. Borahae 💜
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teh ijo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30 ~ Bertemu Sinta
Sinta tidak menyangka jika dia bisa bertemu kembali dengan Varo. Rasanya seperti mimpi bisa menatap kembali teman semasa kecilnya.
“Astaga ... ternyata kamu ini benar-benar Varo? Aku pikir kamu udah .... ” Sinta tidak berani untuk melanjutkan ucapannya, karena sorot mata Varo sangat menusuk.
“Bunga ... mengapa kamu tidak bercerita padaku jika Varo telah kembali? Padahal kita sering jalan bersama loh! Kamu jahat, Bunga!”
Bunga hanya tersenyum tipis. Sebenarnya bukan tidak ingin bercerita pada sahabatnya, tetapi akhir-akhir ini Bunga sangat sibuk dengan kegiatannya sehingga tidak mempunyai waktu untuk jalan berama. Begitu juga dengan Sinta yang sedang magang di salah satu perusahaan ternama. Mereka berdua sama-sama sibuk dengan kegiatannya.
“Maaf, aku sibuk. Jadi enggak ingat untuk bercerita padamu.”
Varo menghela napas panjang saat Bunga lebih asik bercerita dengan Sinta ketimbang dirinya. Padahal saat ini mereka bertiga telah berada di sebuah sekolah lama dengan bangunan baru. Varo sama sekali tidak bisa mengenali jika bangunan yang ada di depannya adalah bangunan sekolahnya dulu.
Sinta yang sejak tadi memperhatikan Varo merasa terhipnotis dengan ketampanannya. Meskipun terlihat cuek, tetapi tak melunturkan ketampanan pria itu.
Astaga ... Varo ganteng banget sih? Tapi sayangnya masih aja dingin dan cuek. Kayaknya gak ada harapan deh bisa dapatin dia.
Sinta masih terkesima dengan wajah Varo yang dianggap sangat tampan. Beruntung saja Sinta belum memiliki kekasih, jadi dia masih bisa berjuang untuk mendapatkan Varo.
Sadar akan tatapan Sinta, Varo segera menegurnya. “Kamu ngapain lihatin aku kayak gitu?”
Seketika Sinta langsung membuang pandangannya dengan rasa gugup. Ternyata meskipun sudah dewasa, tetap saja tak merubah sifat Varo yang dingin. Mungkin itu adalah sifat bawaan dari orok, pikir Sinta.
“Varo ... jangan galak-galak, napa? Kamu nakutin Sinta tau!” protes Bunga.
Varo mendengkus dengan kasar. Meskipun baru pertama pertama kali bertemu dengan teman lama, tetapi Varo sudah merasa tidak suka pada Sinta
“Enggak apa-apa kok, Bunga! Aku udah kenal bagaimana sifat Varo, jadi aku baik-baik aja,” ucap Sinta yang berusaha untuk menarik garis bibirnya. “Oh oya Varo ... apakah kamu masih mengingat saat kamu sering menjahili Bunga? Dulu tuh kamu adalah satu-satunya orang yang sangat membenci Bunga. Tapi aku bersyukur saat ini kamu bisa berteman baik dengan Bunga.”
“Sinta kayaknya nggak perlu lagi deh untuk membahas masa lalu! Biarkanlah masa lalu itu pada tempatnya dan sekarang fokus berjalan untuk menuju masa depan. Kami berdua sudah sepakat untuk melupakan masa lalu kami, jadi nggak perlu ada yang kita ingat-ingat lagi,” jelas Bunga.
Sinta mengangguk dengan pelan. “Baiklah. maaf jika aku telah membahas masa lalu itu,” sesal Sinta
Hampir 1 jam mereka bertiga mengelilingi setiap sudut bangunan yang sekarang sudah berbeda jauh dengan bangunan aslinya. Setiap sudut yang mempunyai banyak kenangan yang tak akan bisa terlupakan begitu saja, karena pada saat itu Varo terus-menerus membully dan menjahili Bunga karena dia sangat membenci Bunga.
Sebenarnya Varo merasa tidak nyaman dengan kehadiran Sinta, tetapi karena Bunga terus memohon, Varo tak bisa menolaknya.
“Bunga ... ayo pulang!”
Bunga yang masih asyik berbincang dengan Sinta langsung mendongak ketika Varo mengajaknya untuk pulang.
“Sekarang?”
“Enggak! Tahun depan!”
Bunga merasa jawaban Varo mengisyaratkan bahwa saat ini mood Varo sedang tidak baik. Entah mengapa mood Varo naik turun dalam hitungan menit. Namun, karena Bunga tak ingin membuat moodnya bertambah buruk, Bunga mengiyakan ajakan Varo.
“Oke, ayo pulang!”
Mendengar Varo yang mengajak pulang Bunga terlalu cepat, membuat Sinta merasa kecewa karena dia masih ingin menatap Varo.
“Varo .... tunggu!” Dengan penuh keberanian, Sinta menghentikan langkah Varo.
“Apa?” ketus Varo.
Sinta merasa gugup saat ditatap oleh Varo. Dadanya berdebar terlalu kencang. Seketika bibirnya terasa kelu untuk bersuara. “Em ... bisakah aku meminta nomor ponselmu?”
“Untuk apa? Apakah kita seakrab itu sehingga kamu ingin meminta nomer ponselku? Tidak segampang itu, Sinta! Aku tidak melayani orang-orang gabut yang suka ngirim pesan tanpa ada urusan yang lebih penting. Jadi, jangan berharap bisa berteman denganku?”
Kali ini Sinta benar-benar dibuat kalah telak. Ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan ketika harus menghadapi Varo. Mungkin Bunga adalah satu-satunya wanita yang bisa sabar untuk menghadapi Varo.
“Aku tidak gabut, Varo! Aku hanya ingin menyimpan nomor teleponmu agar suatu saat jika aku membutuhkanmu, aku bisa langsung menghubungimu,” jelas Bunga
"Tapi sayangnya aku tidak tertarik. Jikapun kamu membutuhkanku, aku tidak akan membantumu. Bunga .... ayo pulang!”
Bunga merasa tidak enak pada Sinta yang mendapatkan perlakuan dingin dari Varo. Namun, Bunga sendiri tidak bisa membantu Sinta jika tidak memiliki izin dari Varo.
“Sinta, kamu jangan ambil hati dengan kata-kata Varo, ya! Kamu kan udah tahu bagaimana sifatnya sejak dulu,” bisik Bunga pada Sinta.
“Iya, gak apa-apa. Aku paham kok. Tapi lain kali ajak dia jalan lagi ya! Kalau bisa malam weekend, kita jalan ke mall. Gimana?” tawar Sinta.
“Oke, gak masalah!”
Dilain sisi, seorang Angel benar-benar sangat mudah karena tak sedikitpun dianggap oleh Varo. Bahkan Angel juga sempat marah kepada mommy Lusi saat mendengar jika Varo telah pergi sejak pagi. Padahal tadi malam Angel sudah dikecewakan karena Varo yang mengabaikan dirinya. Lalu sekarang Varo memilih untuk pergi tanpa diketahui kemana perginya.
“Astaga Tan ... sebenarnya Varo tuh peduli enggak sih sama Angel. Belum tunangan aja Varo gak bisa menghargai Angel, lalu bagaimana jika sudah bertunangan nanti? Tan ... apa yang harus Angel lakukan agar Varo itu peduli sama Angel?” Angel benar-benar merasa kesal pada Varo yang selalu mengacuhkannya protes Angel pada Varo.
“Angel, kamu yang sabar ya. Mungkin Varo ada urusan penting sehingga dia harus pergi. Ya udah gimana kalau Tante ajak kamu shopping? Kebetulan Tante juga ingin membelikan sesuatu untuk kamu?” bujuk mommy Lusi agar Angel tidak terlalu kecewa.
Mendengar kata shopping, bibir Angel langsung diangkat tinggi. “Boleh juga, Tan. Itung-itung untuk melepaskan rasa kesal. Ya udah ayo!”