Kisah seorang Gadis perantau yang terpaksa pulang kampung karena mendapatkan kabar bahwa ayahnya meninggal dunia.
Air matanya yang mengalir selama perjalanan, mengingat semua kenangan bersama ayah tercintanya.
Sesampainya di kampung halaman, seorang pria bersama rombongan nya sudah menunggunya.
Ternyata kepulangan hanya untuk bisa di nikahkan dengan pria pilihan ayahnya.
Syok dan emosi, dan tidak bisa berbuat apapun. sebab kedua orangtuanya sudah menerima mahar dari keluarga mempelai pria dan tidak akan sanggup untuk mengembalikan mahar tersebut.
Merantau bagi nya hanya untuk menghindari perjodohan dengan pria yang tidak berprikemanusiaan itu.
tipu daya orang tuanya, telah menjebaknya dalam kehidupan yang suram.
Inilah kisah pernikahan suram yang tidak bisa di hindari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jayapn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingin Berdamai.
POV Tiopan.*
Sidang berikutnya adalah panggilan saksi, mantan istri memanggil tetangga yaitu pak Bima dan istrinya dan kemudian pak Sinta dan istrinya.
Hal yang mengejutkan adalah bahwa bapak Sere hadir sebagai saksi dan membawa pemangku adat serta penatua marga.
Semua saksi membela mantan istri, sementara Tiopan tidak mampu menghadirkan saksi.
Sebab dirinya tidak pernah bersosialisasi dengan warga sekitar, hal tentunya menguntungkan bagi Sere.
Sidang di tunda hingga minggu depan dan seperti biasa Tiopan pulang dan kali pulang bersama bapaknya Sere serta saksi yang dibawa bapaknya Sere.
"Kamu lihat sendiri kan kalau Sere sudah mulai hamil besar, dan dia tidak mengungkitnya.
Sere adalah boru ku. hanya Sere yang mampu membuat ku bahagia.
tapi aku menghancurkan keluarga dan juga masa depan putriku sendiri, putriku menjadi janda anak satu dan sedang hamil.
sekarang harus berurusan ke pangadilan karena gugatan mantan suaminya. anakku yang kedua harus masuk penjara, karena menebas dua tangan sekaligus.
aku benar-benar bapak yang payah dan tidak bisa melindungi keluarga.
aku tidak sanggup melihat istriku sendiri dan juga wajah putriku dengan segala penderitaannya."
Bapaknya Sere mengatakannya kepada Tiopan yang duduk bersamanya saat ini di dalam bus.
Walaupun tidak berharap mantan menantunya itu akan meresponnya.
"Menurut tulang, apa yang harus aku lakukan?"
Bapaknya Sere akhirnya melirik Tiopan, karena ucapannya direspon.
"Menurutku lebih baik kalian membuat perdamaian dan tidak saling menggangu dan itupun kalau kau mau mendengarkannya.
Pastinya mamak mu tidak akan setuju, karena aku tau mamak mu sekeras batu."
Tiba-tiba saja Tiopan meminta berhenti, lalu meminta bapaknya Sere untuk bertemu dengan Sere saat ini juga.
Hal itu disetujui oleh bapaknya Sere, dan mereka berdua turun dari bus.
Sebelum turun dari bus, bapaknya Sere memberikan sejumlah uang kepada pemangku adat dan juga penatua marga karena sudah bersedia menjadi saksi di pengadilan.
Mereka belum terlalu jauh, sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama untuk pergi ke rumah Sere.
Betapa terkejutnya Sere melihat kedatangan bapaknya serta mantan suaminya.
Lasma putri mereka sudah mulai bisa tengkurap, dan sangat-sangat mirip dengan Tiopan.
Sang mantan istri ternyata sudah membuka toko kosmetik dan telah memiliki empat pegawai.
Seketika itu juga langsung membawa tamu yang datang ke rumah utama mereka tepat dibelakang toko.
"Boleh aku menggendong Lasma?"
Sere hanya mengganguk dan memberikan Lasma ke pangkuan bapaknya, dan terlihat mamaknya Sere sudah datang menghampiri mereka.
"Apa maksud kedatangan kalian kemari?"
Mamaknya Sere bertanya tanpa basa-basi, dan Tiopan langsung menyerahkan Lasma ke kakak asuhnya.
Seorang gadis muda yang menjadi kakak asuh bagi Lasma atau baby sister.
"Tiopan ingin berdamai dengan mak Lasma, karena sudah lelah dengan semua ini."
Sere dan Mamaknya saling menoleh karena ucapan Tiopan barusan.
"Berdamai gimana maksudnya?"
"Aku capek mak Lasma, semua ini ide dari mamak untuk menggugat harta gono-gini. ingin segera mengakhirnya karena menghambat pekerjaan ku.
aku yang akan mengalah, dan akan menjual rumah yang kita tempati dan membagi seperempat penghasilan untuk biaya Lasma."
"Okey...
tapi kenapa baru sekarang? ongkos dan biaya mu bolak-balik ke medan sudah lebih dari cukup untuk membeli susu formula untuk Lasma."
"Maafkan aku mak Lasma, aku benar-benar menyesal melakukan ini semua.
Tolong lah dan mari akhiri semua ini, dengan kesepakatan bersama."
"Apa aku bisa mempercayai ucapan mu? bagaimana caranya aku mempercayainya?"
Pertanyaan demi pertanyaan dari Sere, dan hal itu membuat Tiopan berpikir sejenak lalu menatap wajah mantan istrinya.
"Semua hutang di bank sudah lunas, jadi jaminan itu sudah lepas dan saat ini aku pegang.
Berikan aku waktu untuk menjual rumah itu, nantinya semua aku kirimkan untukmu."
"Tidak perlu, cukup kau cabut aja gugatan mu itu dan bayar pengacara ku.
karena kau yang menggugatnya terlebih dahulu sehingga aku harus mengeluarkan uang untuk membayar pengacara.
Aku tidak pernah percaya lagi sama mu, cukup cabut gugatan mu dan buat pernyataan kalau kau dan mamak mu tidak akan pernah mengganggu lagi serta ganti rugi akan biaya pengacara."
"Kirimkan tagihan pengacara mu itu, dan segera aku akan membayarnya.
sesegera mungkin aku akan mencabut gugatan itu setalah mengganti rugi pengacara mu itu.
Kebetulan sekali pak Bima ingin membeli rumah itu, katanya mau dijadikan lahan ternak babi."
"Baik kalau begitu, sekarang kalian pulang dan tepati janjimu."
Ucapan Sere barusan seolah-olah mengusir Tiopan serta bapaknya, tapi Tiopan masih fokus ke perut Sere yang sudah sangat besar.
"Itu anakku?"
"Iya, tapi aku tidak menuntut mu untuk bertanggungjawab. karena itu hanya membuang waktu dan tenaga.
tidak masalah bagiku jika kau tidak mengakuinya, karena sudah biasa bagiku."
Jawab Sere dengan tegas, Tiopan hanya tersenyum menanggapinya sementara bapaknya Sere masih terus-menerus menatap istrinya yang duduk disebelah Sere.
"Renhat di penjara, karena menebas tangan mak Tiopan dan juga Donna hingga putus."
Sere tidak menanggapi ucapan bapaknya, begitu juga dengan mamaknya.
"Kebun kopi dan sawah yang dulu diwariskan untuk kita, kini sudah aku ambil alih.
kebetulan kebun kopi kita dibeli oleh Telkomsel, dan sudah aku belikan rumah baru untuk kita.
sisanya aku simpan di bank, untuk biaya hidup kita nantinya sebelum ada penghasilan lain.
mak Sere, ayo pulang ke kampung. kita mulai hidup yang baru.
aku mintak maaf atas kesalahan yang pernah ku buat dan aku berjanji tidak mengulanginya lagi."
Ucapan itu membuat mamaknya Sere menolehnya, dengan air matanya yang berlinang.
"Untuk kesekian kalinya kau berjanji dan tidak pernah kau tepati, aku sudah muak dengan janji-janji mu.
selama kakak mu masih hidup, selama itu juga kau akan selalu berjanji.
kau sudah mati di hati ku, sekarang aku sudah janda. aku berkhianat pada pendirian ku yang teguh, jika menerima mu lagi.
Bersama mu itu artinya masuk ke lubang neraka untuk kesekian kalinya.
seperti kata kakak mu itu, bahwa kau bisa mendapatkan perempuan yang jauh lebih dari aku dan juga berhubungan kau punya banyak uang sekarang.
carilah perempuan lain yang jauh lebih dariku, karena kau itu sudah mati di hatiku."
"Lalu bagaimana dengan Renhat?"
"Terserah dia mau ngapain, toh juga Renhat tidak pernah menganggap ku sebagai mamaknya."
Jawabnya dengan tegas walaupun berlinang air matanya, dan pada akhirnya Tiopan dan bapaknya Sere pulang.
Tiopan bersama bapaknya Sere terlebih dahulu singgah ke kantor lembaga bantuan hukum Anton.
Akan tetapi Anton meminta sejumlah bayaran karena sudah mengingkari perjanjian.
Berhubung Tiopan tidak memiliki uang dan meminta tenggang waktu sebelum masa peradilan berikutnya.
semoga berjodoh dan bahagia
thanks you thor sudah buat karya bagus.
semangat
jumpa imbang.