Rose tidak menyangka jika selama sepuluh tahun ia telah menikah dengan mahluk gaib dan memiliki anak dari pernikahan mereka.
Mungkinkah itu yang membuat Rose Akhirnya susah mendapatkan jodoh di dunia nyata???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Teror
Perjalanan menuju ke rumah kali ini terasa begitu lama, entah gara-gara Gibran melajukan motornya sangat lambat bak siput, entah karena aku terpaksa pulang bareng lelaki itu.
Senyumku langsung mengembang ketika sudah tiba depan di rumahku.
"Makasih ya Pak," pamitku buru-buru karena ingin segera beristirahat dan menjauh dari laki-laki itu.
"Sama-sama Ros, besok kamu ada acara tidak?" tanyanya serius
"Gak ada, memangnya kenapa?" jawabku dingin
"Besok aku mau main boleh ya?" tanya Gibran malu-malu
"Eeh, besok aku harus jaga kafe karena Ibu pergi pengajian, jadi maaf takutnya kafe rame terus aku gak bisa nemenim Mas," jawabku mencari alasan
"Katanya gak ada acara, kok malah jagain kafe," sahut Gibran kesal
"Maaf ya Mas, kan memang aku gak kemana-mana, cuma dirumah saja," jawabku membela diri
"Iya, tapi boleh gak aku main?" tanyanya lagi membuat aku tidak enak hati menolaknya
"Silahkan saja,"
"Yaudah, Mas pamit ya," aku hanya mengangguk dan Gibran langsung pergi meninggalkan rumahku.
*********
Di Kediaman Aida.
Malam-malam Aida terbangun dari tidurnya karena merasa kehausan setelah mimpi buruk. Gadis itu berjalan menuju ke dapur untuk mengambil air minum.
Selesai mengambil air minum ia melihat gorden ruang tamu bergerak-gerak, seperti ada yang menggerakkan.
Aida memberanikan diri mendekati jendela rumahnya karena penasaran siapa yang menggerak-gerakkan gorden rumahnya. Hembusan angin tiba-tiba memasuki ruangan itu, ditambah bau busuk yang mulai menyeruak, menyelimuti seisi ruang tamu. Gadis itu semakin penasaran dan langsung menyibak gorden itu.
Ia langsung menjerit histeris ketika melihat penampakan pocong dengan wajah menghitam tanpa bola mata, mulut ataupun hidung.
Aida segera berlari menuju ke kamar ibunya yang ada didekat kamar tamu.
"Ana apa sih Nok, kok bengi-bengi playon, (ada apa sih nak, kok malam-malam lari-larian)" tanya Ibu Aida
"Ada pocong Mak," jawab Aida ketakutan
"Dimana?"
"Di kaca depan Mak," jawab Aida
Sulastri segera membangunkan suaminya untuk mengecek, benar tidaknya yang dikatakan Aida.
Mereka bertiga segera beranjak menuju ruang tamu, dan ketika Ayah Aida membuka gordennya, ternyata mahluk itu masih ada disana. Ketiganya langsung berlari ke kamar Salman kakak Aida yang merupakan seorang Ustadz.
Ternyata dikamar dikamar Salman juga mereka menemukan Pocong di balik jendela kamarnya, bahkan kali ini pocongnya lebih seram dari yang ada di ruang tamu. Pocong itu berbadan besar dengan tengkorak tanpa bola mata, bahkan mahluk itu mengeluarkan suara mengeram yang menambah kesan mengerikan.
Salaman kemudian mengajak Ibu, bapak dan juga Aida untuk berkumpul di ruang tamu kembali untuk membaca Alqur'an agar mahluk halus itu segera pergi dari rumah mereka. Setelah mereka membacakan Ayat kursi tiba-tiba pocong-pocong itu langsung lenyap dari pandangan mereka.
"Alhamdulillah," ucap mereka serentak
Ketika mereka akan kembali ke kamar masing-masing tiba-tiba mahluk itu datang lagi dan dan kali ini bergantungan diatas lemari kaca yang ada di ruang tamu. Lastri langsung berlari ke dapur untuk mengambil air garam dan menyiramkannya ke mahluk itu.
*Byuur!!
Sekejap mahluk itu langsung menghilang, dan Lastri meminta bantuan Aida dan suaminya untuk menabur garam disetiap sudut rumah.
Salman kemudian kembali membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an untuk mengusir mahluk gaib itu.
Malam terasa begitu lama, mereka terus membaca Alqur'an dan juga berdoa semoga teror yang menimpa keluarga mereka cepat selesai.
Suasana malam yang mencekam membuat Aida tidak berani ke kamar mandi sendirian, walaupun ia sudah berusaha menahan pipis, namun ia akhirnya tidak kuat dan meminta Lastri untuk mengantarnya ke toilet.
Ternyata mahluk itu belum juga pergi dari rumah itu, bahkan pocong itu mengikuti Aida ke toilet, bukan hanya mengikuti mereka bahkan mahluk tak kasat mata itu sampai meludahi Aida.
Gadis itu semakin ketakutan dan terus menggandeng lengan ibunya.
"Ini bukan pocong biasa Mak, sepertinya mereka ada yang mengendalikan, karena sejatinya untuk menampakkan wujud mereka saja mereka takut apalagi marah pada kita itu tidak mungkin. Salman yakin ada seseorang yang sengaja mengirim mereka untuk meneror keluarga kita," tutur Salman
"Kamu benar Man, tapi siapa yang melakukan teror ini, dan kenapa mereka meneror keluarga kita," jawab Lastri
"Entahlah Mak, yang jelas dalam keadaan genting dan panik seperti ini kita hanya bisa berdoa dan meminta perlindungan dari Gusti Allah," tambah Salman yang langsung memimpin doa
Suara kumandang Adzan Subu, membuat makhluk-makhluk itu segera menghilang dan lenyap dari rumah Aida.
Salman mengajak keluarganya untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat Subuh berjamaah.
*******
"Kamu kenapa Da, kok sepertinya ngantuk banget?" tanyaku penasaran karena dari tadi ku perhatikan Aida terus saja tertidur di meja kerjanya.
"Aku ngantuk banget Ros, semalaman aku gak bisa tidur, karena ada yang mengirim pocong kerumahku, dan mereka terus meneror keluargaku sampai pagi," jawab Aida sambil menguap
"Serem banget, emangnya siapa yang ngirim?" tanyaku penasaran
"Entahlah, yang jelas hari ini Ka Salman akan mencari tahu siapa orangnya yang sudah mengirim mahluk-mahluk astral itu ke rumah kami," jawab Aida yang membereskan meja kerjanya dan bersiap-siap untuk pulang.
"Aku boleh ikut ke rumah kamu?"
"Boleh Ros, tapi kita naik angkot ya, soalnya aku gak dijemput hari ini,"
"Iya gak papa Da," aku menggandeng lengan Aida keluar meninggalkan ruang guru.
Ku lihat tatapan mata Pak Gibran seperti marah melihat aku dekat dengan Aida.
"Bu Rosma, ban motornya sudah saya ganti, jadi kalau mau dibawa pulang silahkan," ucap Tono sang penjaga sekolah
"Oh iya Mas, makasih ya sudah membantu menggantikan ban motor saya, kalau boleh tahu berapa saya harus mengganti uang Mas Tono,"
"Gak usah diganti bu Ros, karena Pak Gibran yang sudah membayar semuanya," jawab Tono
"Oh, terima kasih Mas Tono," jawabku ramah
"Tuh, dia berusaha mengambil hati kamu dengan menjadi pahlawan kesiangan, hati-hati Ros, jangan tersihir dengan kebaikan ataupun ketampanannya parasnya Ros, karena semua itu fake. Ia melakukan semua itu karena ada udang dibalik bakwan, dia ingin membuat kamu tertarik dengannya, so selalu waspada," Aida menasihati aku
"Iya , bu guru!" jawabku sambil terkekeh
Aku segera melesatkan motorku menuju ke rumah Aida.
Setibanya disana aku lihat Mas Salman sedang naik keatas genting untuk mencari petunjuk teror yang menimpa keluarganya.
Dan benar saja, aku lihat dia turun membawa potongan kain kafan yang diikat lonjong dan berisi tanah kuburan.
"Astaghfirullah, jadi benar ada yang sengaja meneror keluarga kita," ucap Lastri sedih
rindu kok sama genderuwo