" kak....ayo kita bercerai" cut Nasyifa.
Empat kata itu berhasil menghentikan langkah tegap dan tegas seorang pria tampan, tubuhnya sempat menegang sesaat,namun secepatnya ia berhasil menyembunyikan rasa terkejut, perlahan ia berbalik, menatap dengan tenang wajah wanita cantik yang kini berhadapan dengan nya.
Tatapan nya tak tertebak,wajah nya dingin,seakan ia tak pernah tertarik dengan wanita cantik nan anggun di hadapannya, yang di matanya hanyalah seorang wanita manja dan cengeng,dan itu adalah istrinya.
" Kenapa? apakah kamu sudah bosan main-main nya? apakah gelar nyonya muda Harvey masih belum cukup untuk mu Hem?Alvaro Harvey.
Tak ada jawaban yang keluar dari mulut wanita cantik di hadapannya, yang ada hanyalah wajah yang semakin menunduk dalam, dengan bahu sedikit bergetar.
" Berhenti membuat ulah,dan jangan lagi aku mendapatkan laporan kamu mengobrak-abrik dapur" ucap nya tegas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arisha Langsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1
" Kak...ayo kita bercerai" Nasyifa, mengucapkan semua itu dengan suara bergetar,namun tekad nya sudah bulat,ia merasa pilihan nya kali ini benar-benar tepat, bahkan sangat tepat.
Ucapan nya yang terdengar begitu tegas,namun terselip keraguan jika di perhatikan, bahkan nada bicaranya bergetar,namun ..berhasil menghentikan langkah tegap dan tegas seorang pria tampan yang terlihat berpenampilan begitu rapi dan elegan.
Tak ada yang membantah pria yang berstatus suami Nasyifa itu memiliki wajah yang nyaris sempurna,tampan,mapan, dengan tubuh yang begitu atletis, terlahir dari keluarga kaya raya,idaman setiap wanita,ia memang pantas di juluki good looking good rekening.
" Kenapa? Apakah kamu sudah bosan main-main nya? apakah gelar nyonya muda Harvey masih belum cukup Hem?" nada bicara Alvaro selalu mendominasi.
Nasyifa tak pernah berani membantah nya,selama pernikahan mereka,belum sekalipun Syifa merasakan kasih sayang dan perhatian seorang suami yang Alvaro tunjukkan padanya,hanya tanggung jawab yang pria itu lakukan, dengan memberinya nafkah lahir,berupa sebuah kartu tanpa batas.
Syifa mengakui selama pernikahan mereka,ia tak pernah kekurangan uang, fasiltas yang keluarga Alvaro berikan tak main-main,mulai dari pakaian,mobil,supir pribadi bahkan sampai makan pun di mansion itu tersedia koki khusus keluarga.
Hanya sebuah gelengan pelan dengan wajah yang justru semakin menunduk dalam, Nasyifa benar-benar sangat lemah saat di hadapannya.
Alvaro menaikkan sebelah alisnya, menatap wajah cantik Nasyifa yang bahkan tak berani menatap nya, biasanya istrinya itu akan merengek meminta nya untuk sarapan bersama,atau memintanya agar memberi sebuah kecupan di kening saat akan meninggalkan rumah,atau setidaknya ia akan memaksa untuk memberikan tangan nya untuk di salami, walaupun Alvaro hampir selalu menolaknya.
" Berhenti membuat ulah,dan jangan pernah aku mendapatkan laporan kamu mengobrak-abrik dapur" ucapan nya tegas, dominan dan jelas tak ingin di bantah.
Cup...
Untuk pertama kalinya, Alvaro mengecup puncak kepala sang istri tanpa di minta,namun hal tiba-tiba itu tak lagi membuat hati sang istri menghangat, justru hatinya miris,seakan ia ditertawakan oleh dirinya sendiri.
" Penerbangan ku ke Eropa, mungkin akan beberapa hari ponsel ku tidak aktif,jangan pernah keluar rumah tanpa pengawalan" itu...itu juga pertama kalinya Alvaro memberitahukan kemana tujuannya pada Nasyifa, memberitahukan tentang pekerjaan nya,namun hal itu seakan tak lagi Syifa inginkan.
" Aku sudah hampir terlambat " ucap Alvaro sebelum akhirnya benar-benar melangkah meninggalkan Syifa yang masih diam mematung,tanpa menatap kepergian nya.
Setelah beberapa detik kemudian, barulah Syifa mengangkat wajahnya, menatap punggung yang hilang di balik pintu besar mansion mewah keluarga Harvey.
Wajahnya mendongak, menatap sekeliling ruangan yang tampak megah,penuh dengan berbagai furniture berkelas dan elegan,jelas menunjukkan siapa pemiliknya.
Matanya mengembun dengan bulir bening yang secara perlahan mengalir dari mata indah nya.
" Ma...pa...Syifa udah ga sanggup,Syifa menyerah...." ucap nya lirih dengan suara bergetar dan tertahan, sehingga yang terdengar hanya seperti sebuah bisikan halus.
Tangan nya bergerak mencari pegangan,ia terlihat seolah tak mampu lagi menopang tubuhnya sendiri,dua tahun sudah pernikahan nya dengan Alvaro,tak pernah sekalipun pria itu menatap nya sebagai seorang istri, bahkan Alvaro terlihat begitu tak ingin menatap nya.
Mereka tidur terpisah,meski terkadang berada di kamar yang sama,namun Alvaro hampir selalu menghabiskan malam nya di ruang kerjanya jika saat berada di rumah, Alvaro jelas-jelas memberinya batasan,bahkan sesaat setelah mengucapkan ijab Kabul, dengan tegas Alvaro mengatakan bahwa jangan pernah Nasyifa berharap apapun dari pernikahan mereka.
" Jangan pernah bermimpi untuk menjadi pasangan seperti orang-orang,dan jangan pernah mengharapkan apapun dari pernikahan ini,aku tak mengizinkan mu melepas hijab mu di hadapan ku, apalagi menggunakan pakaian tak senonoh" itu adalah pesan yang Alvaro ucapkan tepat saat Syifa menyalami nya setelah ijab Kabul.
Dan sampai saat ini,tepat dua tahun pernikahan mereka, Alvaro benar-benar tak pernah memberikan Syifa kesempatan untuk merasakan indahnya pernikahan, bahkan Alvaro tak pernah bersedia memenuhi permintaan Syifa untuk sekedar makan malam di hari jadi pernikahan mereka, apalagi hari ulangtahun nya.
Pagi ini,Syifa tepat berusia 19 tahun,tapi Alvaro tak mengucapkan satu kata pun untuk mengucapkan selamat ulang tahun untuk nya,hanya sang papa,mama dan kedua mertuanya serta para teman-teman nya dan sahabatnya yang mengucapkan selamat ulang tahun untuk nya.
" Non yang sabar ya,semua ucapan tuan muda jangan di masukin ke hati ya,tuan muda kan memang kaku gitu,tapi tuan muda selalu perhatian kok sama non Syifa, khawatir juga kalau terjadi sesuatu sama non" .
Seorang pelayan paruh baya menghampiri, mengusap lembut punggung Syifa, tatapan nya begitu mengiba pada sang nona muda,beliau adalah saksi se dingin apa rumah tangga putra majikan nya itu.
Syifa menggeleng seraya tersenyum tipis,bukan senyum kebahagiaan, justru senyuman yang terlihat begitu menyedihkan.
" Syifa sudah memutuskan bik,semua ini harus berakhir,Syifa yang terlalu naif,sampai merusak kebahagiaan orang lain,merusak impian wanita lain dan mengekang kak Al dalam pernikahan ini,Syifa menyerah bik" ucap Syifa lirih,namun masih jelas terdengar oleh bik Marni.
Dengan cepat wanita paruh baya yang telah mengabdi puluhan tahun di keluarga Harvey itu menggeleng,beliau sangat mengenal Syifa sejak gadis cantik itu kecil,siapa keluarga nya dan seperti apa mereka mendidiknya, karena memang sepupu beliau bekerja di keluarga Syifa bahkan sejak sebelum gadis cantik itu di lahirkan.
" Ga non,non Syifa jangan bicara seperti itu,non ga boleh nyerah,tuan muda sayang banget sama non" bik Marni begitu yakin saat mengucapkan semua itu.
Bagaimana beliau tak yakin,baru satu bulan yang lalu,beliau melihat sendiri kemarahan Alvaro saat mengetahui tangan Syifa melepuh karena tersiram air panas saat wanita cantik itu memaksa untuk belajar memasak.
Saat itu Alvaro baru pulang dari perjalanan nya,di depan gerbang mobilnya berpapasan dengan mobil dokter pribadi keluarga nya,saat tiba di dalam ia langsung bertanya siapa yang sakit sehingga sang dokter datang.
Tak mungkin menyembunyikan nya,bim Mirna menjawab jujur,dan detik itu juga, wajahnya berubah panik bercampur marah, dengan langkah lebar ia menaiki tangga menuju kamar nya dan Syifa,entah apa yang terjadi, sehingga beberapa menit kemudian ia kembali ke lantai bawah dan langsung mengumpulkan semua pelayan,ia bahkan sampai mengancam akan memecat semuanya jika sampai hal itu terulang lagi.
Syifa tersenyum seraya menggeleng mendengar ucapan bik Marni yang terdengar begitu yakin mengatakan bahwa Alvaro menyayangi nya.
" Dalam rumah tangga bukan hanya sayang yang seorang istri inginkan bik,tapi juga cinta dari suaminya,semua istri mengharapkan cinta yang besar dari suaminya bik,dan kak Al tidak memberikan itu untuk Syifa,cintanya hanya untuk dia bik,kak Al mencintai wanita lain,dan Syifa harus mengalah, merelakan melepaskan nya agar cinta mereka bisa bersatu, mereka juga berhak bahagia bik,disini Syifa lah yang menjadi orang ketiga dalam cinta mereka" .
Terkadang memang perbedaan antara anak muda dan orang tua berbeda,jika orang tua memikirkan bahwa rumah tangga itu tak harus saling mencintai, asalkan bisa saling menghargai dan tak adanya KDRT itu sudah lebih dari cukup untuk di pertahankan.
Tapi bagi para anak muda yang baru menikah,saling mencintai itu penting, mereka menginginkan adanya keromantisan dalam rumah mereka, adanya suami yang memberikan ucapan manis atau mungkin hadih kecil untuk sang istri,walaupun hanya sesekali,dan Syifa menginginkan itu.
Terlebih ia masih sangat muda, bahkan terlalu muda untuk ukuran seorang wanita yang telah menyandang gelar sebagai seorang istri,di usia nya yang baru 17 tahun,ia menikah dengan Alvaro,pria yang saat itu telah berusia 21 tahun, mereka sama-sama masih muda untuk membina rumah tangga,tapi,semua itu adalah keputusan keluarga.
jadi sikapnya masih dingin pada bininya sendiri, padahal dia bakalan bucin abis kl tau wanita itu adalah bininya sendiri.
btw..tengkiyu banget ya thor, setelah sejuta purnama akhirnya cerita ini lanjut lagi.
sayang othor banyak2 😘😘
ken bilang " akhirnya aku menemukanmu " ,
Ternyata aku salah 😁
ceritanya makin seru kak
sehat dan semangat selalu ya thor