Indonesia
NovelToon NovelToon
Diary Zia

Diary Zia

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Pengkhianatan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Emma Alhabsyi

Zia Clarissa Humaira, seorang santriwati cerdas dan cantik, setia pada janji perjodohan yang diatur oleh sang kiai dengan seorang santri senior kepercayaan pesantren. Zia percaya perjodohan ini akan berakhir indah. Namun, janji itu runtuh saat ia mendapati sang lelaki diam-diam mencintai wanita lain yang ternyata sahabat dekatnya sendiri. Tanpa pernah ada kata selesai, Zia dibuang dalam keheningan dan digantung tanpa kepastian.

Saat ia mengira dunianya telah usai, takdir menuntunnya pada sosok yang tak pernah ia perhitungkan sebelumnya. Seorang lelaki yang selama ini memendam rasa dalam senyap, kini maju memasang badan untuk membalut luka Zia.

Akankah kehadiran lelaki misterius ini mampu meruntuhkan trauma masa lalu Zia dan mengembalikan senyumnya yang sempat hilang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Alhabsyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DZ~30

Malam sudah sangat larut ketika urusan Salsa dengan Zia selesai. Salsa segera berjalan kembali ke kamarnya. Sambil lewat, ia memastikan sakelar lampu di ruangan-ruangan lain sudah dimatikan. Suasana sepi sekali. Salsa mengira semua orang sudah tidur karena waktu sudah lewat tengah malam.

Namun, dugaan Salsa meleset. Tepat di depan pintu kamarnya, Sinta masih duduk. Di depannya ada kitab yang terbuka dan secangkir kopi yang sudah dingin.

Sinta duduk sambil bergerak naik-turun karena menahan kantuk yang luar biasa. Salsa merasa kasihan melihat sahabatnya itu mengantuk dan kedinginan di depan kamar, apalagi hanya beralaskan sajadah yang tipis.

Salsa pun berniat menegurnya."Sin," panggil Salsa sambil menepuk pelan bahu Sinta.

Sinta langsung terkejut dan membuka mata lebar-lebar. "Astaghfirullahalazim. Maaf, Mbak. Aku ketiduran," kata Sinta panik. Ia segera mengusap wajahnya dengan telapak tangan untuk menghilangkan rasa kantuk.

"Masuk kamar saja. Udaranya dingin di luar, sudah malam juga," pesan Salsa. Tanpa menunggu Sinta benar-benar berdiri, Salsa langsung melangkah masuk ke dalam kamar.

Sinta cepat-cepat merapikan kitabnya. "Iya, Mbak. Eh, Mbak, ngomong-ngomong Zia di mana?" tanya Sinta sebelum Salsa menutup pintu.

Salsa menghentikan gerakannya. Wajahnya berubah datar. "Zia masih di sana, belum mau pulang. Sudah aku ajak tadi," jawab Salsa pendek. Ia berjalan mengambil selimut dan langsung merebahkan diri di atas karpet.

Sinta terdiam di tempatnya. Perasaannya mendadak tidak enak dan khawatir. Tanpa bicara lagi, ia langsung berjalan cepat menyusul Zia ke koridor atas. Sinta ingin memastikan sendiri bahwa sahabatnya itu baik-baik saja.

Begitu sampai di koridor atas tempat Salsa dan Zia mengobrol serius tadi.

Sinta melihat Zia sedang berdiri membelakanginya. Zia menatap ke arah langit sambil menangis sesenggukan. Suara tangisnya terdengar sangat sedih dan terpukul.

Melihat hal itu, Sinta tidak berpikir panjang. Ia langsung berlari dan memeluk Zia dari belakang. Pelukan itu malah membuat tangis Zia semakin pecah.

"Ya Allah, siapa lagi yang bisa aku percaya kalau sahabat dekatku sendiri ternyata membohongiku?" batin Zia dalam hati. Ia terus menangis tanpa menoleh ke belakang, dan sama sekali tidak membalas pelukan Sinta. Tubuhnya kaku.

"Zia, kamu kenapa? Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Sinta cemas.

Zia yang merasa sangat kecewa langsung memegang tangan Sinta dan menepisnya dengan kasar hingga pelukan mereka terlepas.

"Aku nggak apa-apa, Sin," jawab Zia dengan nada suara yang sangat datar dan dingin.

"Aku nggak percaya kalau kamu bilang tidak apa-apa. Kondisi kamu sekarang sudah menjawab semuanya, Zi," kata Sinta. Ia menggeser posisi duduknya ke sebelah Zia agar bisa berhadapan. Sinta lalu memegang pundak Zia dan sedikit menariknya agar mau menoleh.

Namun, Zia tetap enggan menoleh. Ia mencoba menahan emosinya yang sudah memuncak karena merasa dikhianati oleh sahabat yang paling ia percayai.

"Zi," panggil Sinta lirih dengan tatapan khawatir.

Zia menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya sebelum berbicara menuntut kejelasan.

"Hadap sini, Zi," pinta Sinta sekali lagi.

Zia mengusap air matanya yang terus mengalir, lalu memutar tubuhnya dan menatap mata Sinta dengan tajam. "Aku sudah cukup sakit hati karena harapanku sendiri ke Mas Charis, Sin," kata Zia dengan nada bicara yang penuh penekanan.

"Tapi kenapa ternyata kamu juga ikut membohongi aku?"Sinta langsung kebingungan.

"Hah? Membohongi kamu? Maksud kamu apa, Zi? Aku benar-benar nggak paham."

"Aku masih tidak menyangka, Sin. Sahabat dekatku sendiri ternyata bisa membohongiku. Bagaimana dengan orang lain?" kata Zia sambil mengalihkan pandangannya kembali ke langit.

"Pantas saja aku mudah kecewa karena harapanku sendiri. Ternyata aku memang mudah dibohongi."

"Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kamu maksud, Zia. Tolong jelasin ke aku, bagian mana yang bohong?" pinta Sinta yang mulai ikut panik dan bingung.

"Kamu yang lebih tahu, Sin. Aku permisi." Zia langsung bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan Sinta begitu saja.

"Zi, Zia! Tunggu dulu!" panggil Sinta.

Zia tetap berjalan cepat tanpa memedulikan panggilan Sinta dari belakang.

Sinta hanya bisa terpaku melihat kepergian sahabatnya itu. Kepalanya dipenuhi teka-teki yang membingungkan.

"Apa maksud ucapan Zia tadi?" batin Sinta penasaran.

"Apa yang sudah Mbak Salsa katakan ke Zia sampai dia semarah itu sama aku?" Sinta mengepalkan tangannya, merasa bingung sekaligus kesal karena tidak tahu apa-apa.

***

Pagi hari Abah memanggil Zia dan Zizan ke ndalem untuk menyampaikan informasi terkait lomba.

Kali ini Zizan datang lebih dulu daripada Zia. Karena jam panggilan Abah bertepatan dengan jadwal mengajar, Zia datang sedikit terlambat.

Zizan masih terdiam dan menunduk di ruang tengah tanpa berani menoleh. Sementara itu, Abah masih mengajar di aula. Zizan menunggu sambil terus berzikir basmalah dalam hati.

Lima belas menit berlalu, tetapi Zia belum juga datang. Zizan menatap jam tangan dan jam dinding di ruangan tersebut untuk mencocokkan waktu. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 07.45.

"Zia kok lama banget, sih," batin Zizan cemas sambil mengusap jam tangannya.

Dua puluh menit Zizan termangu sendirian di ruangan itu. Akhirnya, sosok yang ditunggu muncul dari balik tirai belakang. Zia datang lewat jalur dapur karena terburu-buru mencari jalan pintas.

Begitu selesai mengajar, ia langsung keluar dari kamar, melewati dapur, dan bergegas menuju ruang tengah.

Zizan sempat memperhatikan langkah kaki wanita di hadapannya itu.

Zia langsung duduk tidak jauh dari tempat Zizan berada. Jarak mereka hanya terpaut beberapa sentimeter.

Melihat hal itu, Zizan segera menggeser tubuhnya agar jarak mereka menjadi lebih jauh. Kini keduanya duduk di ruangan yang sama. Suasana menjadi canggung. Selama beberapa menit, tidak ada satu pun dari mereka yang berani bersuara sambil menunggu kehadiran Abah.

"Ayo, Zan, tanya sesuatu," batin Zizan menyemangati diri sendiri.

Zizan menarik napas panjang untuk menenangkan hatinya yang gelisah.

"Ya Allah, kenapa rasanya beda sekali dengan pertemuan-pertemuan sebelumnya," batin Zizan sambil memegang dadanya yang terasa sesak.

"Zizan, tenang. Ingat, dia masih calonnya Mas Charis. Entah kapan hubungan mereka putus," batin Zizan makin melantur.

Zizan terus berusaha mengendalikan perasaannya yang karut-marut. Tepat pukul 08.00, Abah belum juga datang. Zizan kembali melihat jam tangannya dengan perasaan cemas.

Zia juga ikut memandangi jam dinding yang jarumnya terus berputar cepat.

Setelah beberapa menit saling terdiam, Zizan akhirnya memberanikan diri untuk membuka suara. Ia berbicara sambil tetap menunduk menatap karpet.

"Kenapa tadi malam tidak belajar?" tanya Zizan ragu-ragu.Zia tersenyum kecil.

"Aku ada urusan," jawab Zia singkat.

"Tanya apa lagi, ya?" batin Zizan bingung.

"Kenapa aku tiba-tiba jadi gugup begini di depan Zia? Aneh sekali." Zizan mencoba mencairkan suasana lagi.

"Nanti malam belajar lagi nggak? Atau masih sibuk?"

"Insyaallah bisa nanti malam," sahut Zia.

Perasaan lega langsung menyelimuti hati Zizan tanpa disangka-sangka.

"Alhamdulillah, akhirnya," batin Zizan dengan senyum yang mulai mengembang di bibirnya.

"Oke, Zia. Semangat, ya. Waktu kita tinggal lima hari lagi," kata Zizan penuh semangat.

Zia tersenyum geli hingga suara kekehannya terdengar oleh Zizan.

"Iya, Zizan. Insyaallah, bismillah kita pasti bisa," timpal Zia tidak kalah semangat.

Mendengar ucapan Zia, Zizan menjadi makin bersemangat. Keduanya sama-sama tersenyum lebar meskipun pandangan mereka tetap tertuju ke lantai.

1
ken darsihk
Aq mampir
Ini buku pertama author Emma Alhabsy yng aq baca
Emma Alhabsyi
ih boleh banget kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!