Arya Sena adalah seorang anak yang tidak diketahui publik dari pasangan Tunggul ametung dan seorang wanita yang merawatnya ketika dia mengalami luka parah akibat perintah penguasa Kediri yang memerintahkannya untuk menumpas pemberontakan disuatu daerah, setelah terluka Tunggul Ametung dirawat oleh seorang perempuan didesa bersama beberapa orang setianya, dan disaat itu mereka tidak sengaja jatuh cinta, ketika sudah benar-benar pulih, Tunggul Ametung menyuruh gadis itu untuk melupakannya, ditambah dihatinya hanya ada istrinya Dedes, lalu tanpa diketahui perempuan itu mengandung, setelah kurang lebih sembilan bulan lahirnya anak di kandungnya seorang laki-laki, tapi tak lama bayi itu kemudian meninggal tak kuasa menahan kesedihan tanpa suami sekarang ditinggal anak yang baru dilahirkan, perempuan itu kemudian juga meninggal, lalu jiwa dari timeline modern merasuki tubuh bayi itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon subspace_illusion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DEBUT CALON RAJA
Rombongan pasukan Singhasari melangkah masuk melewati gerbang keraton membawa Tohjaya yang kini terantai rapat. Di balairung utama, Raja Anusapati telah menunggu bersama Raden Mahisa, Panji, serta para pejabat tinggi kerajaan.
Tohjaya diseret dan dipaksa berlutut di tengah ruangan. Meski tubuhnya memar-memar dan tak berdaya akibat kuncian Bharadasura, matanya masih memancarkan api kebencian yang berkilat tajam.
Anusapati menatap saudaranya itu dengan tatapan dingin penuh kekecewaan. Ia melangkah turun beberapa pakan dari tahtanya, berdiri tepat di hadapan Tohjaya.
"Kenapa kau melakukan semua ini, Tohjaya?" tanya Anusapati dengan suara rendah bergema. "Aku membagi wilayah dengan adil, membiarkanmu memimpin Kediri, dan menjaga keutuhan keluarga kita. Mengapa kau memilih jalan makar dan mengorbankan rakyatmu sendiri?"
Mendengar pertanyaan itu, Tohjaya justru tertawa terbahak-bahak, suara tawa yang hampa dan penuh kegilaan.
"Adil?!" teriak Tohjaya histeris, menyemburkan ludah bercampur darah ke lantai. "Dasar penguasa busuk! Kau pura-pura suci di atas tahta itu! Kau pikir aku tidak tahu siapa yang membunuh ayahku, Ken Arok?! Kau tak lebih dari seorang pembunuh berdarah dingin yang bertopeng anak penurut!"
Tohjaya terus melontarkan makian, sumpah serapah, dan kata-kata kasar yang merendahkan Anusapati serta mendiang Ken Dedes. Seluruh balairung hening mencekam. Para menteri dan pejabat menunduk tak berani bersuara, sementara Mahisa dan Panji memalingkan wajah, tak sanggup melihat keretakan tragis di antara saudara mereka sendiri.
Aku yang berdiri bersedekah tangan di samping tahta hanya diam menatap Tohjaya, membiarkan sang pengkhianat meluapkan sisa-sisa kegilaannya sebelum takdir menjemput.
Anusapati memejamkan mata sejenak, menghirup napas panjang untuk menguasai emosinya. Begitu ia membuka mata kembali, tidak ada lagi keraguan di sana—yang tersisa hanyalah ketegasan seorang Raja.
"Cukup," potong Anusapati tenang namun penuh penekanan, menghentikan igauan Tohjaya seketika.
Anusapati menatap para panglima dan pengawal kerajaan.
"Kejahatanmu melakukan makar, memeras rakyat, mencoba membunuh raja, dan menumpahkan darah prajurit Singhasari tidak lagi bisa diampuni oleh hukum mana pun," tegas Anusapati. "Aku memutuskan: hukuman mati akan dilaksanakan esok hari saat matahari tepat di atas kepala."
Anusapati lalu memutar badan, memberikan perintah terakhir, "Sekarang, kurung dia di penjara bawah tanah bersama ibunya, Ken Umang. Jaga sel mereka dengan ketat! Jangan biarkan siapa pun mendekat tanpa izin langsung dariku atau Sena!"
"Baik, Yang Mulia!" seru para perwira pengawal.
Para prajurit langsung menarik rantai Tohjaya secara paksa, menyeretnya keluar dari balairung menuju sel tahanan bawah tanah untuk menghabiskan malam terakhirnya bersama sang ibu, di bawah penjagaan berlapis pasukan elit Singhasari.
Malam kian larut, namun pelita di dalam ruang peraduan Anusapati masih menyala redup. Sang Raja duduk sendirian di tepi peraduannya, menatap kosong ke lantai kayu. Wajahnya diliputi keraguan dan beban moral yang amat berat. Bagaimanapun kerasnya Tohjaya, darah yang mengalir di tubuh mereka tetaplah darah yang sama.
Aku melangkah pelan memasuki ruangan, langkah kakiku tak bersuara.
"Sena..." bisik Anusapati mendongak, matanya menyiratkan kerapuhan. "Apakah tindakanku ini benar? Membunuh saudaraku sendiri di hadapan umum besok... Hatinya rasanya tak tega, Sena."
Aku berdiri tegak di sampingnya, menatap lurus ke arah jendela yang menembus kegelapan malam Singhasari.
"Kalau kau memang tidak tega melakukannya dengan tanganmu sendiri..." ujarku tenang dengan nada dingin, "...suruh saja anakmu, Ranggawuni, untuk mengeksekusinya."
Anusapati terperanjat, matanya membelalak menatapku tak percaya. "Apa?! Ranggawuni?! Bagaimana bisa anak sekecil itu membunuh pamannya sendiri, Sena?!"
Aku membalikkan badan, menatap mata Anusapati dengan raut wajah tajam tanpa kompromi.
"Harus dilakukan seperti itu," balasku mantap. "Dia adalah calon penerus tahta Singhasari. Ranggawuni harus dilatih sejak kecil untuk menjadi seorang penguasa sejati. Dia harus belajar secara langsung bahwa dalam gelanggang politik dan takhta, bahkan keluarga sendiri pun bisa menusuk dari belakang jika ada kesempatan."
Aku mengikis jarak, menepuk pundak Anusapati yang gemetar.
"Pelajaran ini akan menempa jiwanya agar tidak naif seperti dirimu. Menghabisi Tohjaya dengan tangannya sendiri akan menanamkan keberanian, ketegasan, sekaligus kewaspadaan mutlak dalam dirinya sebagai calon raja masa depan."
Anusapati terdiam seribu bahasa. Kata-kataku menghantam kesadarannya dengan keras, memaksanya menimbang antara rasa iba seorang ayah dan pelajaran pahit yang harus diserap oleh calon pewaris Singhasari.
Anusapati terhenyak. Ia memegang pelipisnya, tampak makin terbeban oleh pilihan sulit yang terbentang di hadapannya.
Melihat krisis batin yang dialaminya, aku melangkah lebih dekat dan memutus keraguan itu dengan fakta sejarah yang selama ini mengikat dirinya.
"Kenapa kau harus merasa ragu dan dibayangi rasa bersalah akan darah darah yang sama?" bisikku tajam, menatap lurus ke matanya. "Ingat kembali siapa dirimu, Anusapati. Kau dan Tohjaya sama sekali tidak memiliki hubungan darah!"
Anusapati mendongak, matanya bergetar menatapku.
"Tohjaya adalah anak kandung Ken Arok dari Ken Umang," lanjutku dengan nada dingin yang menembus malam. "Sementara di dalam tubuhmu mengalir penuh darah dari ayah kandungmu, Akuwu Tunggul Ametung. Kebaikanmu selama ini merawatnya sebagai saudara hanyalah bentuk keluhuran hatimu, bukan ikatan nasab."
Aku meremas pundaknya lebih kuat, memantapkan tekad sang Raja.
"Kau tidak sedang membunuh saudaramu sendiri. Kau sedang menumpas putra dari pria yang dulu merebut tahta dan menghabisi ayah kandungmu. Dan menyerahkan tugas ini kepada Ranggawuni bukan bentuk kekejaman, melainkan penegakan keadilan sejarah sekaligus tempaan pertama bagi calon penerus Singhasari."
Anusapati menghela napas panjang, memejamkan mata rapat-rapat. Perlahan, keraguan di wajahnya meluruh, berganti dengan kilatan ketegasan yang dingin.
"Panggil Ranggawuni kemari " ucap Anusapati dengan suara mantap.
Tak lama kemudian, Ranggawuni melangkah masuk ke dalam ruangan. Di usianya yang bahkan belum genap sepuluh tahun, langkah kakinya masih polos, tetapi ia membawa sorot mata yang jernih dan penuh rasa ingin tahu.
Aku melangkah mendekatinya, memangkas jarak, lalu berlutut hingga posisi mataku sejajar dengan matanya. Aku menatap lurus ke dalam manik matanya yang belum tersentuh kerasnya dunia politik.
"Kau tahu ayahmu beberapa hari lalu baru selamat dari percobaan pembunuhan?" tanyaku lembut namun menusuk. "Saat ini pembunuhnya sudah ditangkap. Dan saat ini... ayahmu sedang tidak tega untuk mengeksekusinya. Sebagai anak dari orang yang nyaris dibunuh, tidakkah kau merasa marah dan ingin membalasnya, Keponakan?"
Mendengar hal itu, darah muda Ranggawuni mendidih. Bayangan ayahnya yang nyaris tewas membakar dadanya. Kepalan tangan kecilnya mengencang, dan naluri perlindungannya meledak seketika menjadi amarah.
Ranggawuni mengangguk cepat. "Lalu apa yang harus aku lakukan, Paman?"
Aku menyunggingkan senyum tipis, menepuk bahu kecilnya yang tegak.
"Besok, di hadapan semua orang, kau harus menjadi ksatria sejati. Seorang calon raja yang mengeksekusi pengkhianat," tegasku. "Kau siap? Kalau belum, tidak apa-apa... Tapi mungkin besok atau lusa, orang itu akan mencoba membunuh ayahmu lagi. Atau mungkin... ibumu."
Ranggawuni seketika terdiam. Kata 'ibu' dan 'pembunuhan' yang kusandingkan membekukan aliran darahnya. Matanya bergetar membayangkan bahaya yang mengintai keluarganya jika sang pengkhianat dibiarkan hidup.
Aku menatapnya makin dalam, menyalurkan ketegasan ke dalam jiwanya. "Sekarang kau harus memutuskannya sebagai raja selanjutnya. Tunjukkan kalau kau adalah calon raja yang hebat di hadapan semua orang."
Ranggawuni menghembuskan napas berat, amarah dan tekad bulat kini menyatu di wajah kecilnya. Ia mengangguk mantap tanpa ragu sedikit pun. "Aku siap, Paman."
"Bagus," balasku sambil berdiri mengelus kepalanya. "Sekarang tidurlah, istirahat. Siapkan dirimu untuk esok hari."
Ranggawuni membungkuk hormat pada Anusapati dan padaku, lalu berbalik melangkah keluar kamar dengan pijakan kaki yang kini jauh lebih mantap dari sebelumnya.
Anusapati menatap punggung putra kecilnya yang menghilang di balik pintu, lalu mengalihkan pandangan padaku dengan perasaan campur aduk.
Panggung eksekusi esok hari tidak hanya akan menjadi akhir perjalanan Tohjaya, tetapi juga awal dari berdirinya seorang calon penguasa Singhasari yang dingin dan tak terkalahkan.
Terima kasih banyak atas dukungannya!
Support dari kamu berarti banget buat cerita ini. Enjoy the next chapters!